Puisi Tentang Alam Untuk Inspirasi Hidup + Contoh

Puisi Tentang Alam

Contoh Puisi - Dalam tulisan ini saya menyajikan beberapa puisi tentang Alam. Puisi ini menggambarkan beberapa kondisi; mulai dari bencana alam, Keindahan Alam, dan Tuhan Pencipta Alam. 
***

Dengan harapan, puisi pendek tema tentang Alam yang dibagikan ini akan menginspirasi banyak orang untuk peduli tentang Alam.

Berikut puisi tema Alam yang saya buat di sela-sela waktu istirahat dari kesibukan mencari nafkah di kampus. Selamat membaca dan memaknainya. 

Puisi Tentang Alam : Mata Merapi

Debu mengepung langit
Memeluk setiap atap rumah
Nafasku terhimpit-himpit
Dalam amukan Merapi
Alamat nasib tak bertepi
Jalanan masih dimanja sepi
Debu enggan menepi

Sunyi menyayat hati
Di kota yang telah mati
Dari merapi
Aku di sini

Tangis meledak di banyak gang
Anak kehilangan Ibu
Suami kehilangan Istri

Istri kehilangan harapan
Meratap-ratap dengan bahu yang layu
Mata mereka berduka
Mata mereka merah
Mata mereka dikepung butiran debu

Oh, bumi.
Beginilah amarahmu pada kami?
Kutahu aku merusakmu
Kucangkul emasmu
Kuhabisi jantung tanahmu
Kujual demi perut yang lapar

Aku mengemis kasih padamu
Tak ada yang bisa kunyanyikan
Selain duka dan maaf
Duka pada yang telah lenyap
Maaf kepada sang pemilik senyap
Aku manusia fana
Makan dan merusak

Hai bumi
Tegurlah merapi
Sebelum bola mata berapi
Di tanah terakhir

Idrus, Yogyakarta, 14 Maret 2020

Puisi Tentang Alam : Nyanyian Purnama

Telah Purnama lima belas
Ibu melipat kenangan di kamar tua
Dengan mata yang lembab
Bibirnya semakin lusuh

Purnama lima belas
Wanita itu puasa dalam kata
Linang air mata untuk hati hancur tak ditata
Semakin terang purnama
Semakin dalam luka menganga

Purnama lima belas
Kilaunya menembus dinding rumah
Batang cahayanya menyentuh tepian dada
Purnama tahu, setiap hati yang telah redup
Oleh duka yang meraja

Purnama lima belas
Awan berbaris-baris
Menutupi gerombolan cahaya
Menyapa bumi
Sedikit redup
Lekas pula benderang kemudian
Tapi ibu tak mau memeluk sinarnya
Dia setia dalam gulita
Bersama kenangan yang telah menua

Purnama lima belas
Cintanya masih utuh dan membekas
Tak mudah cinta akan lepas
Meski batang lehernya ditebas
Lepas

Purnama lima belas
Ibu menabung rindu di kursi tua
Duduk bergoyang kecil di kala rindu
Tidur hingga tersungkur

Purnama telah pamit
Ibu duduk setia dalam diam
Menunggu purnama lagi
Hingga kakinya dingin
Matanya telah beku

Purnama pamit
Ibu menuju langit
mengawal rindu yang terakhir

Puisi Tentang Alam : Anak-anak Senja

Anak-anak senja berlari riang
Sahut menyahut mengejar bola
Angin timur mengibaskan sayapnya
pasir pantai bersujud maaf
Tetap jua terhempas lepas
Bertabur menghambur

Anak-anak senja tak gentar
Dada mereka terbuka lebar
Hidup mereka teramat tegar
Ada senyum begitu mekar

Anak-anak senja
Hidup makan angin
Minum dari serpihan badai
Hidup mereka kokoh dari amukan duka
Sedih tak berani bertamu
Meski duduk di samping mereka

Anak-anak senja
Bermain di akar mangrove
Memburu ikan merah
Memanah
Berlari
Mengejar
Hingga senja berbunyi
Di ujung langit

Anak-anak senja
Bangun sebelum matahari
Pulang sesudah matahari
Tak pernah berpikir duka
Tak ada uang
Tak ada gawai
Tak ada bunyi motor
Hidupnya dalam pelukan alam

Anak-anak senja
Mencinta mata pancing
Daripada mata pelajaran
Mencinta tali senar
Daripada ujung pena
Sekolah adalah lawakan paling garing

Di sini, di ujung pulau
Paguyaman pantai
Datanglah ke sini
Jemput bahagiamu
Di bumi pesisir yang alpa kesedihan

Datanglah...
Sapalah anak-anak senja
Aku menantimu
Di sini

Puisi Tentang Alam : Permata Hijau Bumi

Permata Hijau Bumi
Siang telah meraja
Puncak cahaya berdiri di atas ubun-ubun
Keringat diperas lepas
Mata berbinar bak permata
Menatap lamat jantung negeriku

Lahan tani bak permata hijau
Di sini, di kebun ayah yang hijau
Negera tak pernah lapar
Berton-ton dihasilkan
Memberi makan penduduk negeri
Tak pernah berkeluh
Meski banting tulang berpeluh
Beginilah pertama hijau alam

Permata Hijau Bumi
Mengabarkan tentang sunyi yang hidup
Sepoi angin yang berlari kecil
Menepuk-nepuk pundak petani
Mengusir butiran keringat yang berguguran

Permata Hijau Bumi
Merindukan langit yang cerah
Hujan kecil yang malu-malu
Lalu jatuh perlahan di perut bumi
Hingga menghijau segala yang tumbuh

Permata Hijau Bumi
Memastikan umat manusia tetap hidup
Dengan buahnya yang melimpah
Dengan kandungan emasnya yang tumpah
Dengan keindahannya yang mempesona

Membuat Puisi Tentang Alam

Dulu, dalam pembuatan puisi, alam selalu menjadi inspirasi manusia untuk menuliskan apapun. Metafora Alam cukup bagus dijadikan refleksi menggambarkan kondisi manusia.

Misalnya saja puisi Hujan di Bulan Juni. Puisi ini mengambil metafora Alam untuk menunjukan kecintaan dan kesetiaan. Penulisnya, Sapardi Joko Damono sangat piawai dalam menulis puisi dari diksi alam.

Puisi tentang Alam tidak harus bercerita tentang romantis. Bisa jadi puisi alam juga bercerita tentang politik, keserakahan manusia, bencana alam dan berbagai kondisi lainnya. Diksi Alam dalam puisi hanya untuk pengandaian saja.

Untuk menulis puisi bertema Alam, kamu bisa memulainya dengan memperhatikan kondisi di sekitarmu dan reflesikan dengan kondisi sosial. Tema alam paling dekat misalnya sampah. Kamu bisa kembangkan ide tentang sampah menjadi puisi.

Mungkin terlihat sepele ya. Tetapi jika didalami maknanya akan cukup menginspirasi manusia di sekitar.

Tertarik menulis puisi tentang Alam? Yuk Bagikan di blog ini.
Sumber foto : https://image.freepik.com/free-photo/river-surrounded-by-forests-cloudy-sky-thuringia-germany_181624-30863.jpg