Kelahiran Anak Kedua, Duka dan Suka Membaur Dalam Diri

Malam itu saya harus menyelesaian tugas kuliah, ada 3 makalah dalam semalam. Usai salat Isa hingga jam 6 pagi saya belum tidur.

Mata saya begitu layu untuk sekadar terbuka memandangi layar laptop. Sedangkan limit waktu juga menipis dan banyak yang belum selesai.

Saat yang sama, video call dari kejauhan berdering menghentikan jemari saya yang sejak tadi mengetik.

Antara sadar dan tidak, video call tersambung. Saya memerhatikan betul, benar ada wajah yang tampak berkerut kesakitan. Wajah itu sedang memerah. Wanita itu menarik nafas yang dalam, lalu mengembuskannya dengan desahan tidak berdaya.

Dia adalah wanita yang saya nikahi beberapa tahun silam. Istri terkasih.

Tepat di hadapan layar kecil, saya saksikan sendiri bahwa jiwanya kepayahan mendorong bayi itu keluar. Semakin dia mendorong keluar, usaha tetap sia-sia. Belum ada tanda bayi itu akan meloncat keluar.

Mata istri saya tertutup berkali-kali dalam satu tarikan nafas. Desahannya tidak beraturan dan menyisakan suara yang meregangkan nyawa.

"Istirahat dulu suster." Keluhnya tak kuasa lagi. Wajahnya seolah telah layu. Alis matanya sungguh telah berantakan sebab menahan sakit.

Lalu, Wanita itu mengambil jeda, mengatur nafas dalam-dalam sekedar memastikan kalau dia masih bisa hidup dengan posisinya seperti itu.

"Anak laki-laki sayang. Depe saki bukan main. Lebih sakit dari anak perempuan." Begitu keluhnya. Saya bermenung lama mendengar itu.

Saya yang berada jauh hanya bisa memantau terus lewat video call.Terlihat jelas, air muka wanita itu telah kalah. Dia tak sanggup lagi mendorong bayi itu keluar. Badan anak itu terlalu besar. Katanya.

Dia yang mengejan, saya ikut merasakan ngilu sakitnya luka. Lebih sakit lagi karena tidak bisa berdiri di sampingnya, memegangi jemarinya, mengelus dahinya yang bekeringat, atau sekedar mengecup keningnya agar kuat menjalani semua.

Saya tidak bisa lakukan itu. Bukan karena tanpa alasan. Saya harus balik karena jatah izin kuliah tengah melewati batas toleransi.

Kampus saya, hanya bisa memberi ruang waktu 3 kali tidak hadir dalam perkualihan. Jika lebih, maka pasti tidak berkenan masuk ujian akhir semester. Itu sama dengan mengulang satu semester, semua mata kuliah.

Persoalan tidak berhenti di sana. Dari pihak beasiswa pun terancam disetop karena telah melakukan pelanggaran. Jika satu semester tidak membuat laporan studi, maka beasiawa pun terancam putus.

Semua serba salah. Keputusan yang ada, adalah kembali ke kampus di saat istri saya sedang hamil tua. Nambah libur sudah tidak mungkin. Hampir sebulan saya tidak kuliah.

Menurut cerita teman, beberapa dosan bahkan harus bolak balik ke bagian administrasi fakultas untuk memperkarakan perihal kehadiran saya. Sempat bersitegang antara fakultas dengan dosen. Soal izin kuliah tanpa administrasi.

Alasan-alasan itulah kemudian membuat saya harus saling bertukar kabar hanya lewat video call. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain salat dan mengaji ketika wanita itu kepayahan.

Sementara anak pertama saya, Azizah, keluar masuk ruang bersalin dengan wajah yang agak datar. Tidak paham betul apa yang sedang dilakukan orang dewasa dalam ruangan.

Kata istri, anak perempuan saya itu sebentar saja mengintip, lalu pergi keluar ruangan untuk bermain. Begitulah mungkin dunia anak. Tidak pernah ada beban hidup yang harus dia pikirkan.

Sekitar pukul 7 pagi, tanpa suara tangisan keras, tiba-tiba saja bayi itu meluncur keluar.

"So keluar suster?" Tanya istri spontan.
"Iya,"
"Alahmdulillah. Makasih suster."

Seketiga gema syukur membentur langit ruangan. Lalu, beberapa menit kemudian anak kedua kami meraung sekeras-kerasnya. Sekadar mengumumkan pada dunia bahwa dia telah resmi menjadi penghuni bumi ini.

Saat itulah, dengan nada suara yang agak serak, saya arahkan wajah pada layar kecil di hadapan saya. Saya tegakan badan, da melafazkan doa, serta lantunan azan via video call. Dan ini pertama kali dalam hidup saya, mengazankan bayi via online.

Di situlah antara duka dan suka membaur menjadi satu. Dan saya hanya bisa berucap.

"Selamat datang di bumi nak." 
Luqmanul Hakim Dama