Forum Lingkar Pena dan Spirit Persaudaraan

Forum Lingkar Pena Wilayah Gorontalo Bersama pelajar Insan Cindekia dan Mahasiswa IAIN Sultan Amai Gorontalo


Bermula dari kesialan di kampus. Ketika mengambil mata kuliah menulis saya malah dapat nilai 2 dari skala nilai 4. Sakitnya tuh minta ampun. Meski dosennya teman baik, amat baik malah, tapi tetap  tidak menjadi jaminan nilai menulis saya baik.

Malah dosennya bilang ke saya.
"Drus, di luar kampus kita adalah teman. Tapi di kampus kau adalah mahasiswa, dan saya adalah dosen kamu. Nilai tidak berpengaruh dalam pertemanan."

Saya mendengar itu amat terpukul. Betapa jeleknya esai ilmiah saya di mata dosen. Padahal saya sudah buat bermalam-malam dan harus lari-lari ngejar batas waktu pengumpulan.

Kejadian itu yang membuat saya harus mengulang mata kuliah menulis di semester selanjutnya, sambil saya bertekad untuk ikut kursus menulis.

Lalu, beberapa teman menyarankan menulis dengan Forum Lingkar Pena. Katanya organisasi non profit ini sering mengadakan pelatihan menulis, bahkan gratis dibimbing sampai bisa.

Saya ikut kelas menulisnya. Setiap pekan biasanya ada bedah cerpen. Karya penulis pemula sama-sama dikaji dan diperbaiki agar berkualitas. Itu terus berlanjut sampai mahir.

Dari situ kemudian saya berlatih menulis cerpen dulu. Meskipun awalnya saya mau belajar nulis esai akademik. Waktu berlalu hingga Forum Lingkar Pena, tak terasa sudah menjadi bagian dari hidup saya.

Dari awalnya hanya pasukan pengikut, lambat laun malah jadi pasukan penggerak. Ketika itu Forum Lingkar Pena Provinsi Gorontalo  memberi  saya amanah sebagai penanggungjawab kelas menulis di kampus.Waktu itu bersama teman Saya Muthmainnah Nasaru. Peremuan ini yang dulu jadi nahkodanya dan saya bagian administrasi.

Dari proses yang panjang itu kemudian saya menemukan 5 alasan penting mengapa  saya  jatuh suka dengan Forum Lingkar Pena.

  • Spirit Menulis untuk Kebaikan



Kalau dilihat dari banyak organisasi kepenulisan, orientasi menulisnya banyak yang hanya sebatas senang-senang saja. Orientasi kepenulisan hanya sekadar euforia belaka.

Ada  juga yang ikut kelas menulis hanya ingin terkenal kritis kepada pihak tertentu, ada juga yang hanya ingin mengejar popularitas dan tidak peduli esensi dari tulisannya. Tentu hal ini sah saja. Tapi bagi anggota FLP, ada hal jauh lebih penting dari itu semua.

FLP punya spirit menulis untuk kebaikan. Baik itu kebaiakan untuk agama, masyarakat dan negara. Lihatlah tema besar yang selalu diusung oleh organisasi kepenulisan ini.  Temanya tidak akan jauh dari isu moralitas, keagamaan dan humanisme. Karena Bagi FLP menulis adalah kerja untuk menginspirasi manusia agar selalu berbuat baik.

Nah, spirit ini kemudian jadi pondasi awal mengapa saya jatuh cinta pertama kali di Forum Lingkar Pena.

  • Spirit Persaudaraan


Mungkin organisasi lain juga punya prinsip ini. Yang membedakan Forum Lingkar Pena adalah spirit persaudaraannya tidak hanya sebatas di ruang kelas menulis. Tapi juga berimbas pada relasi sosial. Maka dari itu persaudaraan wajib terus dijaga tanpa peduli apakah anggota itu masih aktif atau tidak.

Orang-orang yang dulu pernah gabung di Forum Lingkar Pena,  biasanya akan senantiasa terkoneksi satu sama lain. Hubungan sosialnya semakin kuat dan banyak orang menjadi nyaman akan hal itu.

Saya yang dulu yang niat awalnya cuman mau kursus nulis, eh tanpa terasa saya sudah bersama Forum kepenulisan ini selama 8 tahun. Sampai hari ini masih jadi pengurus wilayah. Hal ini tentu menjadi bukti bahwa kuatnya spirit persaudaraan.

Kalau sekiranya bukan karena spirit persaudaraan tidak mungkin bagi saya bisa selama itu. Karena kalau niatnya hanya belajar nulis, setelah pandai nulis kan bisa pamit pergi. Tapi itu tidak terjadi. Spirit persaudaraan ini yang mengingat saya untuk selalu bersama.
  • Spirit Berbagi dengan Sesama

Jadi, kalau dipikir-pikir organisasi kepenulisan ngapain harus mengurus bencana segala. Kan banyak organisasi lain yang mengurusi hal itu. Tapi nyatanya Forum Lingkar Pena ikut dalam agenda kegiatan kemanusiaan. Semisal donasi bareng, ikut membantu jadi relawan, atau misalnya mengadakan pelatihan kepenulisan gratis skala nasional.

Bagi Forum Lingkar Pena, spirit berbagi ini yang menjadi modal utama. Tidak peduli harus menguras kantong pribadi. Asalkan maksud berbagi bisa terlaksana.

Coba diperhatikan berbagai kegiatan FLP. Banyak kegiatan seminar malah gratis untuk umum. Padahal pematerinya didatangkan dari luar daerah. Tentu menggunakan biaya besar. Tapi oleh FLP kadang digratiskan saja demi menebar spirit kebaiakan.

Itulah FLP. kadang wujudnya tidak hanya sekadar organisasi, tapi sebuah rumah kebaikan bagi siapa saja. Nah, spirit itu yang hingga kini menempel dalam diri setiap anggotanya.
  • Spirit Keagamaan

Hal menarik bagi saya adalah spirit keagamaan. Yang tentu tidak semua organisasi kepenulisan punya. Bagi anggota, wajib taat pada Tuhan. Anggota menjunjung tinggi nilai islam. Karena bakat menulis harus dibarengi dengan spirit keagamaan yang kuat. Karena kalau tidak, nulisnya pasti nyeleneh.

Makanya, Forum lingkar Pena berupaya membuat kadernya taat pada pencipta. Agar tulisannya lebih banyak menginspirasi umat manusia dibanding memproduksi tulisan kebencian.

Spirit keagamaan bagi anggota FLP adalah pondasi kuat dalam berkarya. Karena niat yang dibangun adalah setiap tulisan adalah ibadah dan setiap ibadah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Itulah mengapa sering ditemui tulisan kader FLP bernuansa religius. Ya karena itu memang basis ideologi kepenulisannya. Agama menjadi sumber inspirasi tulisan. Bagi FLP menerjemahakan bahasa Alquran dalam medium sastra sudah menjadi biasa. Karena memang itu ruh perjuangannya.

Jadi, agama dan sastra selalu menjadi paket pemikiran yang tidak bisa dibelah dari penulis-penulis Forum Lingkar Pena. Kalau memisahkan itu, maka sama dengan memisahkan ikan dari air.

Spirit agama ini juga yang membuat saya tetap eksis membersamai Forum Lingkar Pena. Ya mau bagaimana lagi, namanya juga terlajur cinta.
  • Spirit Kreativitas

Saya paling suka bagian kreativitas Forum Lingkar Pena. Meski forum ini cirinya adalah kepenulisan, tapi ada juga pelatihan talenta grafis yang menjadi kebutuhan umum. Misalnya pelatihan memotret, pelatihan membuat video animasi, membuat musikalisasi puisi dan desain grafis.

Hal ini tentu menjadi titik pembeda antara Forum Lingkar Pena dengan yang lainnya. Banyak organisasi kepenulisan lain yang hanya fokus nulis, nulis dan nulis. Akibatnya susah bertahan di era teknogi.

Maka FLP teris berbenah, mengikuti ritme zaman. Salah satu  upayanya adalah membentuk komunitas bloggerFLP. Dari komunitas itu tumbuh varian talenta baru yang dilatih. Mulai dari dunia fotografi sampai produksi media visual yang kreatif. Organisasi ini hanya ingin memastikan anggotanya eksis terus meski zaman berganti-ganti.

Nah, itulah lima poin penting mengapa saya jatuh suka dengan Forum Lingkar Pena. Mungkin setiap orang berbeda. Tapi bagi saya itu alasan utama mengapa selama 8 tahun ini saya masih memilih bersama Forum Lingkar Pena.