Azizah, Biarkan Ayah Berkisah Padamu Tentang Persahabatan


Waktu itu kau baru saja lahir Nak. Usiamu masih dua minggu saat ayah harus pergi melanjutkan cita-cita. Pergi ke pulau Jawa untuk sebuah agenda proses mewujudkan impian.

Ini bukan karena ayah tidak sayang padamu nak. Ayah sayang. Teramat sayang. Bahkan ketika itu ayah putuskan tidak akan melanjutkan beasiswa, tapi ibumu menasehati.

“Kau berjuang bukan untuk dirimu sendiri, tapi untuk anak kita, untuk masa depan keluarga kecil kita. Berangkatlah.” Kata Ibumu.

Ayah tak bisa berbuat apa-apa nak. Hati ayah benar-benar terbelah dua. Serupa lautan yang dibelah Musa. Jarak perpisahan yang membuat hati ini jadi mendung untuk kurun waktu yang cukup lama.

Malam itu ayah mendapatkan amanah untuk mewakili teman-teman se indonesia sebagai perwakilan. Itu artinya ayah harus berangkat seminggu lebih awal dari teman-teman penerima beasiswa lainnya.

Itulah awal mula ayah meninggalkanmu nak.

Tapi, ayah pergi tidak dengan sia-sia. Ayah punya banyak cerita heroik yang ayah ingin sekali bagikan padamu.

Kelak suatu waktu kau tumbuh dan menjadi gadis salehah, dan kau akan mengerti bagaimana hakikat pertemanan yang ayah perjuangkan di tanah rantau nak.

Cerita yang mungkin tidak akan kau temui di lembar buku fiksi manapun. Karena dia berbeda nak. Berbeda.

Sepulang dari persiapan keberangkatan 113, angkatan beasiswa, ayah langsung menuju tanah daeng, Makassar. Ayah tidak bisa pulang ke Gorontalo karena harus menjalani pendidikan kursus bahasa selama enam bulan.

Dan selama itu artinya ayah tidak bisa menggendongmu, serupa beberapa hari yang dulu pernah ayah lakukan ketika kamu baru saja menghirup udara di dunia ini.

Ayah bertemu dengan orang-orang yang begitu bersih jiwanya. Punya kepedulian yang tiada berbilang.

Dan kadang ayah bekelahi dengan mereka, tapi seketika besoknya hati merasa baik-baik saja. Karena semua masalah kembali ke titik ikhlas, dan berusaha ceria meski sebelumnya harus bergumul dengan masalah sebelumnya.

Nama pertama yang ayah kenal di tanah bugis adalah bang Ikram. Jauh sebelum bertemu, dia sudah membangun komunikasi. Dia ajak ayah bekerja sama.

Dia bantu ayah ketika tiba di Makassar. Dia sediakan keperluan yang ayah butuhkan. Bagi ayah, ini adalah teman baik nak.

Ketika tiba di Makassar, bang Ikram ini yang berusaha memperkenalkan ayah dengan keluarganya. Dia ajak yang ke rumah sewa yang dia tempati.

Dia kenalkan ayah dengan keluarganya hingga terasa ayah punya saudara baru. Bahkan, malam itu ayah diajak makan bersama untuk bisa mengikat persaudaraan.

Seiring waktu Bang Ikram ini juga yang menemani dan membantu ayah ketika terjepit dalam masalah. Dia hadir sebagai kakak yang memayungi ketika ayahmu ini punya perasaan gundah yang berlebih.

Itulah bang Ikram Nak. Suatu hari, ketika kau besar nanti, ingatlah nama itu. Bahwa kau punya paman yang baik di tanah Makassar.

Setelah itu, di tanah Bugis ini, ayah juga punya sahabat yang berasal dari Maros. Bang Indra namanya. Seorang pelajar yang punya kebiasaan menolong juga.

Dia yang mencarikan ayah pondokan. Dia tidak senang kalau ada tamunya di tanah rantau terkatung-katung entah mau tinggal di mana. Tak peduli hujan, basah-basahan dia terus berusaha bagaimana bisa mendapatkan tempat tinggal. Dia bilang ke ayah.

“Saya belajar dari salah satu dosenku bang. Dia selalu menasehati bahwa, pastikan tamu kamu yang datang itu mendapatkan tempat tinggal. Dan kalau perlu jemput dia, carikan dia tempat tinggal. Setelah itu baru kau tenang.”

Nasihat itu begitu tertanam di hati ayah nak. Kelak kau tumbuh, ingatlah bahwa kau harus belajar tentang arti memuliakan tamu. Sebab dengan begitu, kau akan dirindukan surga. Sungguh beruntung ketika kau mampu mengamalkan sifat yang satu ini.

Sahabat lainnya, namanya Bang Djahyid. Kalau abang satu ini nak, orangnya biasa saja. Biasa bahagia. Biasa bercanda, biasa memancing, biasa main kartu, biasa nonton bola, biasa berkebun, biasa tidur, dan biasa membahagian teman.

Tentu sifat yang harus kau kagumi dari dari bang Djahid ini adalah sifat terakhir. Sebab ayah tak mau kau main kartu dan sederet aktivitas lainnya. Itu agenda laki-laki bukan perempuan.

Nak, hal yang ayah kagumi dari anak mantri dari sinjai ini adalah karakternya yang suka bercanda dan selalu ceria. Tidak pernah ayah menemukan satu titik kesedihan di matanya selama menjalani pelatihan di Pusat bahasa Univesitas Hasanuddin.

Dia selalu punya cara untuk membuat orang bahagia. Mulai dari cerita di warung kopi hingga cerita ruang gelap kamar yang tentu begitu lucunya.

Bahkan ayah pernah jalan-jalan ke tempat makan dan pantai Losari bareng dia dan kawan-kawan lainnya pakai mobil ambulance. Ayah sampai terkekeh sekaligus ngeri di dalam mobil.

Ayah bayangkan bagaimana tempat yang ayah duduki adalah bagian kepala beberapa mayat yang pernah dimuat di mobil itu. Bulu roma ayah sempat tegang berdiri. Tapi kemudian aroma ketakutan melesap pergi dengan canda tawa dan guyonan selama perjalanan.

Dan itu pengalaman paling “gila” bagi ayah. Berwisata pakai mobil Ambulance. Kapan waktu, jangan kau tiru aktivitas ini nak.

Ayah tidak ingin kau menjadi seperti Bang Djahyid. Tapi sifatnya tentu perlu kau teladani, tentu yang baik-baik.

Semisal sikap sebagai manusia yang selalu menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain. Menjadi sahabat yang mampu dikenang dengan hal-hal baik. Itulah sifat yang mesti kamu jiwai darinya.

Bang Djahid ini pernah bilang ke ayah, “Sahabat itu bisa jadi menjadi aset di masa depan. Karena sahabat itulah yang akan membantu kita sukses.

Kakak saya bang, kak Hayat, yang sekarang sukses itu juga karena sahabatnya. Sahabatnya itu kerja di perusahaan, lalu punya jaringan bisnis, dan akhirnya kak Hayat yang dia kenal sejak dulu menjadi pathner bisnis di perusahaan. Hingga sukses.”

Nasihat ini perlu kamu pahami nak. Bahwa persahabatan itu tidak hanya tertawa bersama, tapi juga mendatangkan keberkahan di masa depan.

Maka itulah abang ini pernah menulis catatan dan berpesan dengan kalimat singkat, “Mari merawat persahabatan.” Cukup keren bukan?

Ya, kalau sekiranya kau tumbuh, temukanlah sahabat yang mau merawat persahabatan seperti ini. Sebab di masa depan, kau akan bisa bersinergi membangun bangsa dan negara ini. Terlebih-lebih membangun agamamu, nak.

Selain itu ayah juga punya teman kelompok. Ayah menyebutnya anak-anak sahabat. Karena memang ayah tinggal di jalan sahabat, dan pondokan tempat kami tinggal hanya terpisah beberapa batas ruas jalan. Cukuplah dijangkau dengan jalan kaki.

Sahabat-sahabat itu adalah Bang Dahri, Mbak Asri, dan Mbak Nurhalidah. Tiga sahabat ini punya agenda sendiri ketika menjalani kursus nak. Ayah sering sekali bersama mereka.

Bang Dahri itu anak yang berasal dari Sulawesi Tengah. Dia sama seperti ayah. Dari keluarga yang sederhana. Tapi selalu merasa peka terhadap kesulitan orang lain. Dia bahkan tak tanggung-tanggung membantu ayah ketika kehabisan bekal di tanah rantau.

Ketika itu beasiswa ayah terlambat karena hal teknis yang ayah sendiri tidak memahami apa penyebabnya. Abang satu ini rela merogok isi ATM-nya untuk membantu ayah menjalani hari-hari kritis. Ayah bahkan harus jalan kaki bersama dia dalam beberapa bulan.

Dalam berteman, berusahalah meneladari bang Dahri ini nak. Jadilah kau sahabat yang selalu jadi pemutus rantai kesulitan bagi orang lain. Sifat seperti ini tentu sebuah keharusan untuk kau miliki nak.

Selanjutnya. Mbak Nurhalida dan Mbak Asri. Dua perempuan ini tinggal bersama. Mereka berdua adalah gadis asal Bone dan termasuk remaja yang cukup ceria. Suka sekali membuat acara makan-makan. Ketika berkesempatan, ayah selalu mendapatkan undangan makan tiba-tiba.

Hingga ayah selalu menemukan malam tanpa berkutat dengan ricecooker. Artinya ayah harus menggantung jatah makan. Kadang ayah dan dua gadis ini harus “Ceka-ceka” untuk membeli sesuatu untuk dimasak dan makan bersama.

Dua perempuan Bone ini dikenal cukup pendiam dan suka sekali bercanda seperlunya. Tapi, pada hakikatnya mereka adalah perempuan yang lembut hatinya. Bahkan untuk mengekspresikan marahnya serupa membaca puisi.

Seorang bapak di Sinjai pernah bertutur, “Lebih baik dimarahi oleh orang Bone daripada dirayu sama Sidrap!”

Pernyataan itu menggambarkan bahwa orang-orang Bone itu nak, mereka punya bahasa paling halus. Bahkan untuk urusan marah tidak akan ada suara lantang. Yang ada suara mendayu-dayu yang membuat siapa saja merasa adem di antara mereka.

Sebagai perempuan tentu kelebutan dalam bertutur kata itu teramat perlu. Jangan sampai kau menjadi perempuan yang suka sekali menebar kata-kata kasar dan kebencian. Teladanilah 2 remaja teman ayah ini.

Selanjutnya, teman ayah yang beken namanya, Mas Bimo , mas Wayan dan mas Adnan Putra. Tiga pria ini adalah tipe pekerja dan serius. Bercanda seperlunya. Jarang memang berkumpul walau sekadar ngopi. Tapi mereka selalu peduli dengan teman.

Seperti mas Wayan. Hampir 4 bulan lamanya dia menjadi agen makan siang ayah. Dia bentuk komunitas 2,5 K untuk menopang isi perut di siang hari. Kadang kalau ayah tidak membawa nasi, dia mencarikan nasi liar, alias gratis. Dengan begitu dia bisa berbagi.

Wajar jika kemudian hasil nilainya saat ujian selalu tinggi nak. Dia tipe pelajar aktif. Dan tentu kau harus meniru semangat belajarnya yang keren ini. Teman sekamarnya bahkan pernah berkata, setiap malam pria ini menjadi kutu buku. Rupanya belajar adalah kesukaannya.

Suatu hari nanti nak, ketika kau jadi pelajar juga, jangan kau terlena. Jadikan studimu tetap prioritas dari segalanya, tentu setelah urusan agamamu. Itu hal yang bisa kau pelajari dari Mas Wayan.

Kalau soal mas Adnan Putra, ayah lebih banyak berdiskusi tentang agama. Kadang ada hal yang ayah ragu putuskan terhadap satu perkara, ayah selalu bertanya padanya. Dia salah satu sarjana di bidang pertanian yang punya wawasan keagamaan yang cukup baik.

Selanjutnya yang perlu ayah kenalkan adalah  geng ular kacili. Personilnya adalah Uni Febrina dan Nona Debora. Uni Febrina itu adalah produk dua budaya nak. Ayahnya Bugis, Ibunya suku minang. Pantaslah dia menjadi anak cerdas nak.

Hasil asimilasi kadang membuat anak jauh lebih cerdas. Dan barangkali kau bisa ikut jejak Uni Febrina ini nak. Sebab kau juga adalah perpaduan dua suku. Ayahmu ini suku Gorontalo sedang ibumu adalah suku bugis. Semoga bisa secerdas Uni Febrina ya nak.

Kalau Nona Debora adalah orang Manado. Dia pejuang beasiswa dari daerah sulawesi Utara. Kalau kau besar nanti, kau barangkali bisa tahu dan berkunjung ke daerahnya.

Sebagaimana orang Manado, Nona Debora adalah gadis yang bisa mematik simpati banyak orang nak. Dia menjadi representasi kecantikan keturunan China. Kulitnya bersih.

Hal yang baik yang ayah tahu dari dia, adalah kebiasaanya bercanda. Dia punya selera humor yang baik kalau sedang bercanda.

Teman ayah selanjutnya adalah geng Manis Manja Group. Ini adalah group paling legenda nak. Mereka sangat kompak untuk urusan perempuan.

Grup ini digawangi Mbak Desi dan Mbak Misrawati. Keduanya adalah dua perempuan yang selalu aktif di kelas. Kadang menjadi penguasa di grup chatting. Mereka selalu punya cara untuk bahagia.

Kalau yang ayah tahu, mereka adalah dua perempuan yang selalu ceria. Kalau pun bersedih, barangkali hanya kesedihan palsu. Tapi pada hakikatnya mereka selalu merawat keceriaan tanpa harus terganggu dengan relasi yang tak pasti.

Ayah ingin kau punya prinsip yang sama Nak. Berbahagialah sesuka hati tanpa harus peduli dengan sikap miring orang lain. Ciptakan kebahagiaanmu tanpa harus diwarnai oleh sikap orang lain. Bahkan untuk urusan menjaga hati, dua gadis itu cukup tegar untuk dijadikan contoh nak.

Selanjutnya dua sosok unik di kelas kursus Nak. Namanya Mas Sulis dan Prof. Juhari. Keduanya adalah 2 tokoh yang selalu bertikai masalah jawaban di structure TOEFL.

Tapi, ketika mereka bercanda, tak seorang pun bisa menahan tawa karena ulahnya yang super kece. Apalagi mas Sulis, kalau joget nyaris pinggulnya mengalahkan artis. Tapi pun begitu, keduanya adalah anak-anak pandai.

Mas Sulis jebolan sekolah ternama Nak, dia Alumni Insan Cendekia Gorontalo dan Menamatkan studi S1 di Universiras Brawijaya. Sedang Prof. Juharni adalah wanita aktif, senang belajar dan meraih gelar profesornya sebelum tamat kursus bahasa Inggris. Bukankah itu keren?

Baikah. Kelompok Gadis terakhir yang ayah akan perkenalkan adalah tipe perempuan serius dan hebat. Kak Muthe, Kak Yani, dan Kak Eva. Ketiga gadis ini cukup mirip sikapnya. Kak Muthe adalah tipe perempuan yang suka sekali membaca.

Bahkan di beberapa kesempatan dia menawari ayah tentang buku-buku berkualitas. Salah satunya adalah serial Kisah Muhammad dalam buku, “Para Penggenggam Hujan”. Hingga saat ini buku itu jadi impian. Dan suatu hari insya Allah kau bisa membacanya Nak.

Kak Yani dan Kak Eva adalah dua gadis tipe pembelajar yang hebat. Di kelas mereka tampak diam. Bahkan jarang sekali ngomong. Tapi, siapa sangka, mereka adalah perempuan pembelajar aktif.

Nilai mereka di luar sangkaan. Bahkan mereka bisa lulus jauh sebelum ayah mendaftar kuliah ke Universitas Gadjah Mada. Bukankah itu hebat?

Anakku, Azizah. Dalam fase hidupmu nanti, kau akan menemui banyak sahabat. Dan ayah selalu berharap dan berdoa, kelak kau akan menemukan sahabat yang bisa mengajakmu ke hal-hal baik.

Bahkan di saat kau masih berusia beberapa minggu, ayah dan ibu sempat melintaskan mimpi bahwa kelak kau bisa belajar di Gontor. Itupun kalau ayahmu mampu. Juga ibumu kalau siap ditingal jauh.

Salah satu alasan ayah dan ibu berani memimpikan itu, karena ayah ingin kau menemukan sahabat-sahabat yang mewarisi hati yang bening. Sebab  hidup di antara sahabat yang baik adalah rejeki yang tak ternilai harganya.

Dan ayah menjalani fase itu Nak. Bersama mereka, para pemimpi nomor wahid di dunia. Suatu hari nanti, semoga kau bisa bertemu mereka nak, teman-teman terhebat ayah. Semoga. Semoga. Ya semoga nak.

Ujung Pandang, 28 April 2018 [ 11.36 pm ]

Dokumen Pribadi