Aku, Karya Kang Abik dan Perjalanan Literasi di Gorontalo


Awalnya, saya tak pernah tahu kalau Habiburahman El Syirazi adalah pejuang literasi yang ada dalam barisan Forum Lingkar Pena. Juga tak pernah tahu bahwa Asma Nadia adalah tokoh perempuan yang merupakan adik kandung dari Helvi Tiana Rosa.

Perkenalan dengan mereka tidak bersumber dari informasi berita. Tapi datang dari ketertarikan saya atas karya mereka yang begitu menyentuh titik nadir kesadaran saya.

Karya kang Abik misalnya, Pudarnya Pesona Cleopatra, adalah buku kedua yang saya hatamkan sejak Madrasah Aliyah. Buku Sastra pertama kali saya baca dalam hidup saya adalah karya Hamka, Tenggelamnya Kapak Van Der Wijck.

Itupun dulu dipaksa hatamkan oleh guru bahasa Indonesia. Kemudian barulah disusul karya kang Abik.

Novel Pudarnya Pesona cleopatra itu dipinjamkan teman. Sebuah buku berwarna dominan coklat, dan potret seorang yang dengan wajah menyamping. Di sana saya menemukan 2 penggalan cerita.

Kata teman, ini bukan novel, tapi novellet. Karena dalam satu buku ini ada dua cerita panjang serupa cerpen. Tapi lebih panjang sedikit. Untuk kategori novel juga terlampau pendek.

Maka disebutlah novellet, katanya. Saya yang tak paham soal itu hanya bisa menikmati saja jalan ceritanya.

Tokoh Raihana yang penyabar yang terpapar dalam buku benar-benar membuat saya merasa iba. Karya ini mengajak saya untuk ikut mengasihani tokoh perempuan. Dan secara otomatis juga mendidik saya untuk tidak berperilaku semisal tokoh lelakinya.

Hingga terbentuklah sebuah pemikiran dalam diri saya, bahwa kelak saya akan mencintai istri saya melebihi dari harapan karya yang saya baca. 

Membaca Novellet itu membuat saya jauh lebih dewasa. Saya merasa jauh lebih tahu soal rumah tangga dibanding orang lain yang seumuran saya.

Padahal kenyataannya umur saya masih belasan tahun. Tapi bisa dipastikan, karya kang Abik ini membuat saya berpikir lebih maju dalam mempersiapkan rumah tangga. Termasuk belajar bagaimana sikap sebagai lelaki atau kepala rumah tangga kepada istri.

Buku ini serupa jadi panduan singkat dalam berkeluarga.

Karya kang Abik itu kemudian menjadi titik tumpu pengembaraan saya atas karya-karya yang positif dan membangun jiwa. Yang tidak hanya mengandung nilai edukasi secara umum, tapi juga syarat dengan dengan muatan religiusitas.



Maka, setibanya masa kuliah, pada semester tiga saya bertemu dengan beberapa orang yang suka berkumpul dan mengkaji rubrik sastra. Saya pun ikut, dan mencelupkan diri dalam kubangan ilmu pegiat sastra itu.

Dari giat sastra di kampus, mulailah saya menemukan penulis-penulis yang hebat. Dari karya mereka kemudian menyeret saya menjadi barisan inti dari perjuangan literasi yang diusung oleh Forum Lingkar Pena.

Hingga datang satu masa, saya dan seorang kawan akhwat yang tersisa di kampus. Sebagian kader Forum Lingkar Pena pergi melanjutkan studi. Kaderiasi hampir saja punah ketika itu. Saya akhirnya bertekad mau membuat kaderisasi dengan langkah seminar nasional.

Saya dan teman saya, Muthmainnah, kemudian menggagas seminar Nasional dengan menghadirkan Helvy Tiana Rosa. Operasional kegiatan mula-mula dari donatur teman-teman sejawat. Juga ada yang dari para relawan pendidikan.

Hingga, dalam waktu yang cukup singkat, seminar pun bisa di laksanakan. Hasilnya peserta yang hadir jumlahnya di luar perkiraan. Jumlahnya berlebih dan memadati ruang serba guna kampus. Beberapa dosen bahkan ikut dalam seminar tersebut.

Dari sinilah jumlah kader FLP bertambah. Semangat literasi yang ditularkan bunda Helvy berhasil membuat mahasiwa tertarik bergabung di Forum Lingkar Pena. Beberapa orang bahkan terpilih menjadi kader inti, penggerak FLP.

Setiap pekannya saya dan teman-teman lainnya berusaha berbagi ilmu di kelas menulis. Saling membimbing satu sama lain.

Dalam beberapa bulan berikutnya, kader binaan  kami menjadi ikon dalam surat kabar. Media cetak di daerah selalu memuat tulisan-tulisan para kader FLP. Rubrik sastra dalam koran nyaris tak pernah alpa dari nama besar pengurus Forum Lingkar Pena.

Atas prestasi itu kemudian media cetak lokal merekomendasikan setiap jurnalis pemula ikut kelas menulis di Forum Lingkar Pena. Di sinilah lahir kepercayaan bahwa Forum Lingkar Pena bisa menjadi mitra media dalam memperbaiki kualitas tulisan pada wartawan.

Kaderisasi terus berjalan, hingga akhirnya saya dan kawan FLP kemudian menggagas kedatangan Habiburahman dalam Sebuah Seminar.

Di sisi lain, saya dan kawan FLP membuat lomba menulis cerpen. Peserta yang datang juga cukup banyak. Hingga gedung yang begitu besar terasa sempit. Branding penulis Ayat-ayat cinta mampu membius orang-orang untuk hadir dalam seminar menulis sehari bersama kang Abik.

Usai seminar, berkah kian dekat dengan FLP. Beberapa instansi mulai menjadikan FLP sebagai mitra dalam kerja-kerja literasi di daerah.

Seperti halnya Kantor Bahasa Wilayah Gorontalo dan Perpustakaan daerah Provinsi Gorontalo. Hingga akhirnya kegiatan literasi di Gorontalo kian benderang hingga saat ini.

Apa yang saya lakukan selama ini dalam giat sastra, sebetulnya bukan karena kebetulan. Tapi memang terinspirasi dari sebuah karya kang Abik juga. Yang kemudian menggerakkan saya untuk ikut dalam barisan anak-anak pegiat sastra.

Timbullah niat, saya ingin menjadi penulis, seperti halnya kang Abik. Kelak saya bisa menulis kisah yang akan mendidik manusia dengan cara paling soft. Yang tanpa sadar orang -orang akan tercerahkan dengan karya-karya.

Hati saya semakin menguat lagi ketika berkesempatan duduk bersama Bunda Helvy Tiana Rosa. Beliau menasehati bahwa, sejatinya sastra adalah jalan mendidik umat. Dia berjalan perlahan tapi pasti. Oleh sebab itu, tujuan utama lahirnya sastra adalah melembutkan hati manusia.


Petuah itu kemudian menjadikan hati saya semakin bulat untuk menjadi pegiat sastra di tanah serambi Madinah, Gorontalo. Maka di Sekolah tempat saya mengajar saya memberikan kelas menulis pada anak-anak hingga bisa menelurkan satu karya bersama dalam satu buku, Rinai Rindu.
 Dari mana semua bermula?
Alhamdulillah, dari membaca karya kang Abik.
Hingga akhirnya bisa menulis berbagai penggalan cerita.
Alhamdulillah....