Jalan-jalan Bersama Gadis Metropolitan

Sail Raja AMpat - Sail Tomini 2015
Upacara perpisahan Sail raja Ampat selesai. Saya melihat teman-teman pada sibuk sendiri, satu persatu menyeret kopernya ke mobil taksi. 

Sebagian lagi ada yang masih sibuk menunggu tumpangan, ada yang bereuforia dengan kisahnya, lalu kemudian "Say Good Bye"dan ada pula yang langsung berangkat tanpa mau menghabiskan waktu terpanggang di pelabuhan.

Sementara kami, perwakilan Gorontalo, duduk khusuk memikirkan nasib. Kemana kami akan melanjutkan perjalanan. 

Apakah kami harus memilih pulang besoknya, atau jalan-jalan dulu di kota metropolitan yang maha kejam, Jakarta? Pertanyaan itu menyesakkan hati. 

Kami berempat; saya, Nurhuda Lagarusu, Miftah, Musfirah mulai berdisukusi apa yang hendak dibuat setelah ini. 

Panjang nian kami berdiskusi, tapi tidak berhujung pada kesepakatan. Adik-adikku, Musfira dan Miftah pengen cepat balik ke Gorontalo. 

Sementara saya dan  Nurhuda  masih mau bertahan sekadar memanfaatkan waktu beberapa hari ke depan. 

Diskusi makin lama makin tidak menemukan titik solusi. Akhirnya, sore itu kami putuskan untuk menginap dulu di rumah teman, Ratih Cahaya Puspita, salah satu teman yang ikut serta dalam Sail Raja Ampat. 

Rencananya, di rumah Ratih nanti kami akan sepakati soal jadwal kembali ke kampung halaman, Gorontalo.

Cerita sedikit soal Ratih Cahaya Puspita. Dia adalah gadis sederhana yang kokoh pendiriannya dalam menjaga hijabnya selama pelayaran. 

Ratih berkawan dekat dengan Musfira, Miftah dan Nurhuda Lagarusu. Mereka  sering jalan bareng jika ada project di daratan. Sehingga, ikatan emosional diantara mereka sudah terbangun sejak awal. 

Sementara saya baru akrab dengan gadis Mungil nan imut ini setelah hari-hari terakhir perpisahan. Persahabatn kami bermula pada acara malam terakhir di Waisai, kami nyanyi bareng di lantai atas kapal sambil menyaksikan letupan petasan. 

Kami jalani malam itu dengan iringan lagu se nusantara. Tak terasa, momen ini jadi titik awal persahabatan kami.

Ratih adalah anak cengkareng, Jakarta Barat. Gadis imut kelahiran Jakarta 7 Juli 1991 ini sedang menempuh studi di Universitas Negeri Jakarta, jurusan bahasa Inggris. 

Dia ikut Sail raja Ampat sebagai delegasi Kementrian Pemuda dan Olahraga. 

Pada sesi perpisahan, dia melihat kami yang belum punya rencana balik ke Gorontalo. Lalu dia menawari kami untuk tinggal sementara waktu di rumahnya. 

Tapi hanya untuk perempuan. Sementara kami laki-laki ngak boleh ikut. Alasannya, takut ada fitnah menyerang. 

Saya mahfum betul persoalan ini. Namun, karena darurat binti emergensi, Ratih akhirnya setuju, Ayah Ratih juga sama, sepakat. Keluarga ini kemudian menyambut kami penuh bahagia. 

Setelah berkenalan dengan ayah Ratih, kami baru tahu, ternyata Ayah Ratih pernah bekerja di Gorontalo Utara. Namun tidak bertahan lama. 

Karena merasa dicurangi perusahaan, Ayah Ratih kemudian memutuskan untuk balik ke Jakarta. Kami pun mulai kenal keluarga ini lebih dekat.

Malam pertama di kota Metropolitan. Kami berdiskusi di ruangan depan. Rumah ini cukup sederhana, namun isinya padat berisi. Sebuah televisi dan sejumlah buku dan kaset film tumpah di ruangan ini. Bahkan, sambil menonton kami disediakan buah jeruk banyak sekali. 

Sepertinya full service; mulai dari makan  sampai perlengkapan lainnya yang kami butuhkan diseiakan. Setelah semua berkumpul ramai di ruang depan, kami berempat kemudian melanjutkan diskusi yang sempat tertunda di pelabuhan. 

Kami niatkan, malam ini harus ada keputusan, balik bersama atau adik-adik akan diantarkan pulang.

Alasan demi alasan dikumpulkan dan menghasilkan satu kesepakatan. Adik-adik memutuskan untuk kembali lebih awal. Pertimbangan karena amanah studi telah menumpuk dan harus diselesaikan tepat waktu. 

Saya tidak bisa membantah. Karena masalah studi adalah kewajiban, Fardu ain  malah.  Kami berdua, Nurhuda dan saya memilih bertahan untuk beberapa hari. 

Adik-adiknya meminta agar kepulangan mereka diurus  sampai di Bandara saja. Bagi mereka itu sudah cukup sebagai bentuk pertanggungjawaban kami  sebagai tetuah mereka.


Kapal Pemuda Nusantara
(Dok.Pribadi : Asrama Tentara Kolamil Jakarta)
Hari pertama jalan-jalan di Jakarta diawali dengan agenda kabur. Semalam sempat janji kalau pagi hari, setelah subuh akan jalan-jalan ke Monas. 

Tapi karena Nurhuda dan si Ratih masih tiduran, ya sudah, saya dengan Bang Elmawan, calon Suami si Ratih, amin... itu kabur di pagi hari pakai motor. 

Kami menyisir kota Jakarta sebelum kendaraan tumpah di jalanan dan  memacetkan kota.
"Kalau pagi asyik, ngak ada macet" Seru bang Elmawan sambil mengendarai motor Jupiter Mx kesayangannya.

Destinasi pertama adalah toko buku. Saya berniat untuk belanja buku sebanyak-banyaknya. Mupung di sini banyak yang murah dan berkualitas. 

Setelah puas menjamah buku-buku di sudut kota ini, barulah kami menuju Monas. Sesampainya di Monas, kami berfoto ria. Anehnya, Bang Elmawan orangnya pemalu. Setiap kamera mau menangkap wajahnya, dia selalu menghindar.

"Saya orang Jakarta, ngak usahlah!" Lelaki tampan itu berkilah. Saya hanya senyum-senyum saja menanggapinya. 

Sebenarnya, foto saya di Monas ini sudah ada. Sebab, di Tahun 2008 saya sudah pernah kesini. Waktu itu saya mewakili Gorontalo dalam Raimuna Nasional Cibubur. 

Jadi sempat membuat jejak di menara yang penuh sejarah ini. Tapi agar bisa dapat gambar kenang-kenangan, saya tetap menyempatkan foto-foto, apalagi pakaian dinas Sail raja Ampat.

Karena Monas berdekatan dengan Masjid Istiqlal, saya meminta bang Elmawan mampir sebentar untuk sholat duha.  Saya ingin melihat aktivitas di masjid raya Indonesia. 

Konon, kata beberapa sumber, masjid megah ini merupakan salah Masjid yang terbesar di Asia Tenggara. 

Kami masuk dan menaiki lantai. Baru saja sampai di depan, saya langsung terkesimak. Masjid ini begitu ramai dengan pelajar. Ternyata di dalam masjid ini ada pusat pembelajaran. 

Santri muslim imut-imut sedang asyik belajar. Masuk ke dalamnya, saya banyak kotak amal untuk Palestina. 

"Nih pasti kerjaannya teman Lembaga Dakwah Kampus" tebak saya.

Usah sholat duha, kami lanjutkan perjalanan membeli suvernir, gantungan kunci dan kaos buat teman-teman Gorontalo. Siangnya, kami sudah pada kelaparan. Karena itu, kami putuskan untuk bergegas pulang. 

Sampai di rumah, kami belanja keperluan masak dan meramu  makanan nan lezat. Ratih bagian rempah dan menyulap makanan enak. Ternyata dia punya bakat memasak. Bahan sederhana tapi bisa menjadi sesuatu yang "wah" bagi kami saat itu. Ternyata Gadis Metro "Polutan" ini punya bakat untuk ikutan lomba memasak. 


Kota Tua dan Agenda Car Free Day
Saat jalan-jalan di Kota tua, pasukan hanya berjumlah enam orang. Saya, Elmawan, Nurhuda lagarusu, Ikon, Gabhie dan Ratih. Di Kota tua ini kami menyaksikan museum, Cafe Batavia, sepeda ontel bersejarah, patung-patung hidup, dan mendengarkan pengamen jalanan pedagang kaki lima. 

Perjalanan ini sungguh menyenangkan. Kami makan dan minum es di dekat gedung Kota tua sambil dihibur oleh penyanyi cilik. Suaranya merdu dan sedih. Melihat anak ini, saya jadi ingat Tegar Septian, si cilik yang sudah menjadi orang hebat dan kaya gara-gara ngamen. 

Sayangnya, video dokumentasi engamen cilik itu ada di handphone teman saya. Saya sudah tidak memiliki arsip video itu lagi.

Kota Tua Jakarta
Tak terasa malam telah merenkuh cahaya. Jubah hitam menutup langit dan saya harus keliling mencari Musholla untuk sholat Magrib. Susahnya minta ampun, keliling-keliling tapi ngak dapat masjid dan akhirnya kami putuskan sholat Jama' di  Istiqlal saja. Di sini kami masih istrirahat sejenak sekaligus mengobati betis yang sudah pegal. Andai betis ini terbuat dari balon, pasti sudah meledak. 

Meski demikian, kami tetap semagat. Karena ini adalah malam-malam terakhir, jadi kami harus habiskan sepenuhnya dengan jalan-jalan. 

Usai Sholat kami bergegas menuju Monas. Di sini kami berharap bisa menyaksikan Monas dengan cahaya kemegahannya. Setibanya di sana, ternyata tidak sesuai harapan. Lampu Monas  dimatikan. 

Kami harus menahan kecewa. Tapi, kami tetap menikmati perjalanan ini. Matinya lampu di Monas bukan berarti hati kami ikut mati kan? keep semangkakakakak!!.. itu nasehat saya, biar tidak terbawa kecewa pada si "Monas".

Gagal melihat cahaya gemerlap Monas, kami putuskan untuk baring-baring di taman Monas saja. Dari halaman luas ini melihat menatap gemerlapnya kota Metropolitan. Sungguh satu mahakarya manusia yang hebat. 

Bangunan yang tinggi menjulang menopang langit, menara-menara yang runcing menjadi mercusuar peradaban informasi, dan padatnya  penduduk yang mendiami kota super sibuk ini. Oh sungguh mengagumkan. Sungguh apa yang dibuat manusia ini bagian dari cara Allah memperlihatkan kekuasaannya. 

"Memang Jakarta adalah kota yang tak pernah tidur" kata-kata itu adalah kesimpulan dari kekaguman saya. Ngak-apa jujur dikit. Lagian di kampung saya mana ada gendung yang tinggi nan indah. Jangankan gedung tinggi, listrik saja tak punya. Hehhe...Maaf curhat...

Saat kami sedang baring-baring di taman Monas, datanglah pengamen bergerombol. Mungkin sekeluarga, soalnya saya melihat lengkap, anak kecil, perempuan dan satu lelaki. Memegang gitar dan satunya membawa kotak untuk mengisi uang.

Kami ucaupkan terima kasih, meski hati menggerutu. Belum nyanyi, sudah minta uang. Itupun maksa, aduh kacau. Pengamennya sedikit rewel dan suka maksa. Karena tidak mau berbutut pada konflik, kami mengucapkan maaf sebanyak-banyaknya bahwa kami sedang sibuk dengan acara kami. 

Cacian dan sumpah serapah meluap-luap keluar dari mulutnya. Saya sedikit menegang melihat wajah pengamen itu.

"Jangan bo gara-gara ini dia mobunuh naku!" bisik saya dalam hati.
"Mereka mah begitu, ngamen maksa!" Keluh Elmawan.

Saya melihat Ratih tidak terbawa suasana. Dia sepertinya menikmati malam ini. Peduli amat dengan pengamen ngambek, mungkin begitu pikirannya. 

Di taman Menara Emas ini kami menyaksikan langit yang mendung. Berharap ada bintang, nyatanya kota metropolitan ini ditutupi polusi. Saya awalnya berpikir, kalau selama ini melihat Jakarta berkabut itu adalah real  awan. Ternyata...

"Itu bukan awan, itu polusi!" Bang Elmo menjelaskan.
"Oh,,, "Hanya itu yang keluar dari mulut saya, disusul anggukan tanda paham.

Menyaksikan Jakarta, sepertinya saya ingin cepat pulang. Kampung halaman saya ternyata jauh lebih nyaman daripada hidup di kota ini. Selain manusianya yang sudah hilang nilai sosial, juga tanah Jakarta ini akan tenggelam dalam pusaran sampah. Masyarakatnya terlalu banyak hingga banyak yang tiduran di jalanan karena ngak kebaikan tanah kali ya.

"Kami malah mau pindah dari Jakarta, mau mencari penghidupan di laur Jawa" Keluh Elmawan melihat kondisi Jakarta yang kini cukup "Mengerikan".

Wisata Makanan Khas Jakarta Kerang Telur

Esok kami akan pulang. Pada malam perpisahan itu, akhirnya Ayah Ratih kembali ke rumah. Kami berkumpul ramai. Kakak perempuan Ratih juga hadir, tak lupa si Eva Nurmala, dan dua kawan sejoli yang sedang bertunangan. 


Malam itu kami makan sepuasnya. Tapi makanan itu bukan untuk saya. Makanan disediakan ala Jakarta, sementara perut saya tidak mampu memproses makanan kotaan ini. Ya, paling makan nasi dan lauknya ikan saja. Itu sudah cukup. 

Lebih parah lagi, saya dibully dengan anak gadis, sahabatnya Ratih, Eva. Pokoknya malam itu jadi ajang jodoh-jodohan. Saya jadi malu sendiri, beruntung kulit hitam kecoklatan, jadi pipi merona ngak kelihatan. Suhu tubuh naik beberapa derajat. 


Andai ada lampu ditempelkan ke tubuh saya, pasti akan menyala. Saking malunya saya malam itu keringat dingin menyelinap di wajah. Tapi, it's okay, ini malam perpisahan. Apapun yang terjadi harus dinikmati.

Rumah serasa syurga. Canda dan tawa berhimpun di ruangan tamu. Kami benar-benar menikmati perpisahan di rumah Ratih. Dan, besoknya kami berangkat. 


Air mata saya sulit keluar. Alasanya dua; pertama malu dikatai lelaki cengeng, kedua saya tidak ingin dikatai lelaki melankolis lagi. Pokoknya, saat mobil mau berangkat, saya hanya melambaikan tangan kepada Bang Elmawan dan Ratih dengan ekspresi datar. 

Dalam hati saya berbisik, " Ya Allah, berkahi cinta Bang Elmawan dan Ratih. Biar kenangan kami akan tetap utuh jika suatu saat nanti kami bertemu." Doa itu melangit dengan segala harapan bisa menjadi kenyataan. 


Terima kasih atas segala kebaikanmu ya Ratih, Gadis Metro "Polutan" yang hatinya tulus menyangi kami. Terakhir, berjanjilah untuk selalu mengenang kisah kita ya... Semoga kisah yang kutuliskan ini bisa "menggoda" imajinasimu untuk kembali ke hari-hari yang kita Lewati.
=======================================
* Refleksi perjalanan wisata di Jakarta bersama teman-teman