Cerpen | Tuhan Pinjamkan Kami Sepotong Bumi - SERIBUPENA.COM

Cerpen | Tuhan Pinjamkan Kami Sepotong Bumi


Tanah perbatasan Rakhine tiba-tiba mencair. Tanah yang awalnya kokoh itu seketika melunak, hancur karena hentakan ribuan kaki manusia yang berlomba merebut garis batas negara tetangga, Bangladesh. Tanah keras itu hancur, dilebur oleh keringat yang mengalir dari kaki-kaki yang melangkah penuh ketakutan. Penuh rasa was-was yang tidak bisa lagi ditakar dengan angka.

Seorang anak perempuan, berwajah gelap, dengan kerudung hitam yang telah dilumuri bercak lumpur, terlihat begitu antusias. Dia seolah memimpin rombongan untuk menemukan rute perjalanan paling cepat menuju negara tetangga, Bangladesh.

Beberapa menit kemudian, anak perempuan itu menepi di sebuah pohon yang begitu tinggi. Di sana dia melabuhkan bahunya. Lalu, memperkuat ikat perutnya yang sudah beberapa hari belum diisi apapun selain air. Anak itu merintih sakit, bagian pahanya sobek oleh timah panas yang melesat dari moncong senjata. Anak kecil itu terus berlari menuju rerumputan demi mengindari anak peluru yang dilepas brutal oleh orang dari negerinya sendiri.

Timah panas itu bersarang empuk di betis kananya. Darah yang merembes segera dihentikan dengan sobekan kerudungnya yang kusam. Dalam benaknya, dia selalu berharap, negara tujuannya akan sudi meminjamkan sepotong tanah untuk mereka berteduh. Sekadar menghapus air mata yang terus merembes tak ada henti-hentinya.

Fatimah, begitu gadis berusia 12 tahun itu disapa. Dia tampak begitu dewasa. Dia bahkan menjadi barisan terdepan memandu perjalanan. Seolah Tuhan telah memberinya peta rahasia menuju negeri yang akan menjadi tujuan hidup. Dalam keyakinannya, bahwa selama negeri sebelah masih salat, hidupnya bisa tertolong.

Perjuangan Fatimah bukan perkara mudah. Malam yang mencekam, dingin yang mengigit, aroma tubuh yang telah membusuk, darah yang terkucur, dan jerit tangis keluarga yang melihat keluarga lainnya mati lantaran dicekik lapar, sudah dialami Fatimah dalam beberapa hari perjalanan. Namun, Fatimah tetap bersinar, menapaki jalan yang begitu terjal.

Fatimah anak perempuan yatim piatu. Ayahnya dibakar hidup-hidup. Dia sendiri menyaksikan bagaimana ayahnya lari pontang-panting memohon bantuan dalam keadaan tubuhnya bermandikan api yang mengamuk. Sedikit demi sedikit kulitnya melepuh. Lalu berasab, dan jadilah ayahnya seonggok arang hitam, dengan sisa-sisa tulang yang hancur. Api telah menelan ayahnya untuk selama-lamanya. Sedang beberapa orang dengan pakaian seragam pasukan lengkap, senjata di bahu kanan, tertawa lepas melihat ayahnya yang kepayahan hingga tewas.

Mata Fatimah memerah ketika itu. Dia ingin menonjok habis bala tentara yang membakar ayahnya. Namun, tangan mungilnya tak kuasa melawan kekar tangan yang dipersenjatai. Alhasil, matanya hanya bisa merekam semua kejadian kala itu.

Lain lagi dengan ibunya yang sedang mengandung. Juga adik laki-lakinya yang masih belajar berlari. Keduanya mati dengan cara paling biadab. Ibunya yang sedang hamil disetubuhi. Kaki ibunya dikangkangi, lalu secara bergantian mereka menikmati tangis ibu. Adiknya yang menjerit di samping seketika dipisahkan kelapanya dari badan. Darah menyemprot, lalu adiknya tak lagi menjerit untuk selama-lamanya.  Pedih tiada tarah. Hati Fatimah bak karang yang dihantam ombak. Hancur-sehancur-hancurnya.

Fatimah merekam betul kejadian itu. Dia berhasil lari ketika para tentara itu sibuk menangkapi penduduk lainnya. Dia ikut bersama rombongan yang lari ke hutan. Dia berkawan dengan penduduk yang kabur bersamanya. Menolong para wanita yang kepayahan dalam berjalan, hingga mencarikan sumber-sumber air paling dekat bagi kaum ibu.

Fatimah kecil rela menahan lapar berhari-hari. Hanya dengan meminum air beberapa teguk, kaki dan tangannya seolah menemukan gairah hidup lagi.  Dia bertekad akan kembali lagi suatu hari. Dia hanya ingin menjemput jasad kedua orangtunya, lalu membawanya ke negeri yang lebih aman.  Sekalipun yang tersisa dari jasad itu adalah sebutir debu.

Fatimah sendiri pernah mendengar percakapan ketika pembataian kaumnya sedang berlangsung. Bala tentara mereka tak segan membunuh dan melontarkan kata-kata, “You are terorist, you must be killed.”

Fatimah paham betul arti tersebut. Di umurnya yang begitu dini, Fatimah sudah dididik ayahnya tentang islam. Ayahnya bahkan mengatakan, “Terorist is not islam.”  Pelajaran itu yang diyakini Fatimah. Dia sendiri heran, mengapa orang-orang  itu begitu bringas membunuh kaumnya. Padahal tak ada yang namanya islam teroris. Yang ada adalah islam rahmatalil alamin. Hanya itu.

Fatimah pernah mendengar kasus yang sama dari ayahnya. Mereka dihancurkan pasti karena unsur politik. Dia teringat kasus Osama bin Laden. Tokoh yang diangggap teroris kelas atas. Tetapi apa yang terjadi. Bukan Osama yang ditanggap, malah negaranya yang dibakar habis-habisan. Dengan dalih membunuh teroris. Sama halnya dengan mengejar tikus dalam rumah. Yang dicari tikus, yang dibakar rumah. Alasanya membunuh tikus, ternyata niat ingin membakar rumah.

Apa yang terjadi pada negerinya, Fatimah sudah paham. Dia tahu, nasibnya akan sama dengan kisah yang dia dengar dari ayahnya.

Dari gejolak masalah itu,  Fatimah tumbuh dewasa dalam berpikir, bahkan di usinya yang begitu muda. Apakah mungkin masalah akan membuat satu manusia tumbuh dewasa lebih cepat? Entalah. Fatimah sudah melewatinya.

Anak perempuan itu terus melaju, menuju tanah seberang. Lehernya yang kering seketika dilembabkan oleh keringat yang mengalir dari dahi.

Ketika Magrib tiba, Fatimah mengajak rombongan untuk istirahat. Semuanya mencari pohon-pohon besar untuk berteduh. Rinai hujan terasa begitu lembut. Titik demi titik jatuh di atas ubun-ubun. Fatimah menunduk. Kemudian terbayanglah ayahnya, ibunya, adiknya dan orang-orang yang telah terbunuh.

Mungkinkah Tuhan sedang menangis melihat kami?
Fatimah seolah telah tiba di puncak kesabaran. Hatinya membaja. Sebentar kemudian, dia salat berjamah di tengah hutan yang kian meredup.

Gadis kecil itu merebahkan tubuhnya di sebuah pohon. Lalu, menutup matanya sejenak, dan berdoa semoga esok dia masih bisa melihat matahari.  Setiap kali matanya terpejam, seolah ratusan ribu suara menyalak-nyalak di telinganya. Suara orang-orang yang dibantai di depan matanya.

Azan Subuh berkumandang. Fatimah bersama Rombongan segera salat. Di pagi buta seperti itu,  rombongan melanjutkan perjalanan. Perbatasan masih jauh dari pandangan. Mereka harus menakulukan empat puluh gunung lagi. Menyusuri sungai yang begitu dingin. Fatimah membesarkan jiwa.

Pada hari ke delapan, Fatimah dan rombongan tiba di sebuah pagar perbatasan. Pagar yang dikuatkan dengan lilitat kawat berduri. Beberapa laki-laki menerbos masuk. Menghancurkan pagar, dan membuat ruang masuk bagi rombongan. Baru sekitar 100 meter perjalanan, bala tentara negeri yang tetangga mengepung. Fatimah berlari ke depan.

“I am Muslim. Are you muslim?”
Tentara hanya tersenyum, “yes, I am Muslim.”

Serentak, rombongan berteriak, “Allahu Akbar! We are brother!”

Semua berpelukan. Tentara itu pun bahagia menyambut saudaranya. Rombongan dibawa ke perkotaan demi mendapatkan beberapa makanan dan obat-obatan. Mereka telah mendengar kejadian yang telah menimpa saudara mereka yang datang itu. 

Beberapa utusan tentara menghadap presiden. Semua sia-sia. Diputuskan mereka harus mengembalikan rakyat Rohingya. Namun, tentara muslim yang lainnya tak kuasa melihat saudara dikembalikan. Pilihan pahit harus tetap diambil. Rakyat Rohingnya harus dikembalikan ke negaranya, Myanmar.

Ribuan masa itu diboyong ke pesisir laut. Puluhan kapal telah disiapkan. Semua dikumpulkan di sana. Sambil berurai air mata, seorang prajurit muslim berterik, “ Ya muslimun! You are my brother, but I can help you all now. My contry has not a authority to save you.”

Fatimah kecewa mendengar pernyataan bahwa mereka tak bisa ditolong. Perempuan cilik itu pun berlari ke ujung kapal. Dia meneriaki tentara-tentara itu.

“ Kalau kalian muslim? Lalu mengama menolak kami?” Suara Fatimah lantang membelah riuhnya suara tangis dari rombongan.

Seorang tentara menangis, lalu membalas teriakan gadis mungil itu dengan penuh kesedihan.

“Negaramu adalah rumahmu. Negaraku ada rumahku. Kami, tak boleh ikut campur dengan urusan negaramu. Karena itu sama mencampuri urusan rumah tangga orang!” lantang sang tentara berteriak.

Fatimah tertunduk lesu. Tangisnya meledak. Hujan pun segera turun. Angin pun bertiup begitu kencang. Kapal-kapal itu menjauh meninggalkan tanah Bangladesh. Mereka terapung, tak jelas ke mana arah yang dituju. Kemana arah angin bertiup, di sanalah harapan mereka menurut.  Mereka hanya terus berdoa, semoga ada negeri yang siap menampung mereka.

Fatimah menguatkan kakinya. Berdiri lalu berteriakk sekuat-kuatnya. Persis seperti anak yang telah dirasuki ribuan iblis. Amarahnya meledak-ledak sambil berteriak.
“Ya Allah, pinjamkan kami sepotong bumi!”

Fatimah lalu terjun ke laut, dan menghilang di tengah amukan ombak. Rombongan histeris melihat anak itu mengakhiri hidupnya. 😂😂😂

IDRUS DAMA | GORONTALO 5 SEPTEMBER 2017 
ISLAM ADALAH DUNIA TANPA BATAS NEGARA

Posting Komentar

0 Komentar