Mengejar Matahari di Pulau Saronde

Cahaya langit mulai redup, yang tersisa hanyalah semburan cahaya di ufuk barat. Bulat, besar dan cahayanya kuning keemasan. Sepertinya sedikit lagi matahari akan ditelan oleh lautan lepas.

Saya dan teman-teman berlarian untuk bisa menyaksikan fenomena alam yang mahal ini. Semuanya seperti dikejar hantu, lari sempoyongan karena kelelahan.

Walau akhirnya hanya bisa melihat sepenggal cahaya yang tersisa. Segera kami abadikan sisa cahaya itu dengan kamera seadanya.

"Sunset" itulah spot alam yang membuat kami harus ngos-ngosan  mengejarnya. Kami ketinggalan momen itu disebakan terlalu lama mandi di bibir pantai, bagian depan dari pulau Saronde.

Saking terlena dengan dinginnya air di sore hari, kami lupa kalau matahari akan terbenam. Beruntung, di saat itu salah seorang teman berteriak, "Woy ada Sunset, Gaga skali capat, somo tenggelam" Pekiknya keras sambil melambaikan tangan

Secepat mungkin, kami berhamburan mengejar mataharinya. Disela-sela pohon pinus yang kami lewati, cahaya seperti dinding dan lainnya seperti benang-benang menembus gelap.

Hati berdetup kencang. Khawatir kalau sampai tidak bisa mengejar Sunset-nya. Satu,dua, tiga, ah ternyata matahari sudah separuh ditelan air. Parahnya lagi, si pembawa kamera belum juga sampai.

"Waduh, mana kamera ini!" Desah salah seorang dari kami. Padahal matahari akan segera lenyap dari peredarannya menuju belahan bumi yang lainnya. Ya, hasilnya, kami hanya bisa menikmati seluit merah saga yang tersisa. Kecewa? Emang sih.

Tapi apa boleh buat, kita juga yang salah. Bagaimana mandi sesuka hati di balik pulau, sehingga lupa kalau ada pemandangan mahal di sore hari yang harus diabadikan.


Gagalnya kami mengejar matahari bukan masalah keasyikan mandi saja. Kami juga terbawa arus cerita yang kami buat sendiri.

Di pesisir pantai, saat matahari masih terang benderang, kami berlomba membuat sebuah istana pasir. Saat itu, kami diharuskan membuat tempat dibelahan dunia dan masing-masing harus mendeskripsikan tempat itu.

Imaginasi saya liar melayang ke mesir, jadilah bangunan Piramida. Thirto, sahabat saya, ternyata membuat Institut Teknologi tercanggih,yang bangunannya dipahat dengan gelas air mineral.

Sementara Imam, kakak senir saya ini, orangnya cinta tanah air, jadinya dia membuat jembatan Gorontalo. Terakhir, Dosen saya, yang mirip mahasiswa, Mam Tia, begitulah kami menyapanya, Ia membangun Negara Israel.

Wow, tahukah kamu? Saking rakusnya  Israel atas kekuasaan, semua kapling pantai diuasainya. Benar-benar melambangkan keserakahan Israel dalam merebut tanah milik negara tetangga.

Sampai-sampai kapling tanah mesir yang saat itu baru saja saya bangun susah payah, juga ikut diembatnya.

Mulailah kami berbantah-bantahan, bahwa milik siapa yang terbaik, dan dipertunjukanlah kelebihan masing-masing bangunan negaranya. Yang asik adalah presentasi dari negara Israel.

"Negara kami ada radar pendeteksi Bom, jadi teroris tidak bisa menembus kami" Kata, Ibu Tia meremehkan bangunan kami.

Wajar memang, hampir separuh pasir kami menjadi kaplingnya, tak jarang bangunan kami diakusisi secara cuma-cuma. Melihat hal ini,  Thirto, si pemilik Institut teknologi tercanggih melawan.

"Eh, jangan salah, radar kamu yang canggih itu kami yang buat, lalu kenapa sombong" Thirto Menimpali

"Ha..haha...haha...!" Tawa kami lepas, kebanggaan Israel ternyata buatan musuhnya juga. Gara-gara permainan inilah penyebab sunset sampai terlupakan.

Menyadari hal ini, kami berniat akan menuntaskan pengejaran matahari pada misi besok. Suka atau tidak, kamera kami akan menanggap matahari itu nanti.

Beberapa menit kemudian, terang lenyap di permukaaan, dan jubah gelap membentang luas menutupi bagian bumi yang kami pijaki.

Kami semua pergi meninggalkan genangan laut yang tenang itu, dan menyegerakan diri untuk bersih-bersih sambil persiapan makan malam.

Kami merayakan pesta makan malam ini  di bibir pantai. Sungguh tempat ini begitu romantis. Posisi pantainya yang melengkung menghadap daratan pelabuhan Kwandang membuat kita seakan berada di istana sendiri.

Bibir pantai Saronde ini dihiasi dengan pohon yang indah, ada pohon pinus dengan daunnya yang seperti benang dan juga pohon ketapang yang rindang.

Yang membuat suasana terasa nikmat lagi, malam ini hanya  disinari dua lentera kecil. Boleh dikata, kembali ke zaman doloe.

Sebagian dari kami ada yang masih sibuk mengganti pakain. Ya meskipun dengan menggunakan cahaya seadanya. Tapi It’s Okay, menurut kami inilah seni yang tidak bisa kami temukan di belahan dunia manapun, kecuali di pulau mungil bernama, Soronde ini.

Beberapa saat kemudian kami berkumpul di depan tenda. Di halaman pantai, dengan pasir putih nan halus, kami bentangkan sebuah terpal putih ukuran 3 x 4 meter.

Kami duduk berkumpul sambil bersenda gurau. Sesekali kami melihat kilau cahaya dari perahu neyalan yang berada dekat dengan pulau yang kami huni ini. Terdengar riak gelombang yang mengalun merdu, tapi tidak ribut seperti halnya pesisir pantai lainnya.


Di belakang dari tempat duduk kami, sebuah meja bundar dan dua buah bangku memanjang yang terbuat dari papan sederhana. Sepertinya sudah lapuk, tapi cukuplah untuk diduduki dua atau tiga orang saja.

Di samping kiri kami, Imam, si otaknya perjalanan kami kali sedang asyik membakar ikan cakalang yang kami beli saat di pelabuhan kwandang.

Ikan ini tidak dibakar secara tradisional, menggunkan kayu seadanya dan diguling-guling di pasir sebagaimana biasanya. Alhamdulillah pihak pengelola wisata telah menyediakan alat pembakaran ikan yang moderen.

Saat itu, saya hanya keasyikan dengan film India yang super sedih. Lagu-lagu Shreya Goshal merdu membelah angin sepoi-sepoi yang bertiup dari arah utara.

Saya terpaut oleh sosok yang memiliki suara merdu  dari Bollywood ini, gadis ini memang hampir tidak kelihatan di layar film. Tapi siapa yang menyangka, playback singer yang punya suara merdu itu adalah Shreya Goshal.

Melihat ulah saya ini, sebagian teman tertawa cekikikan. Mungkin meledek, mungkin juga karena terasa aneh, di pulau malah dengar lagu India. Humzz,,! Tanpa terasa, ikan telah siap disantap, nasih sudah disajikan.

Saat membuka tempat nasinya, langsung uap itu mengudara mengenai wajah saya. Ya sesaat mengursir hawa dingin yang mengelimuti tubuh.

Di meja sederhana itu, tersedia dua ekor ikan bakar besar, sepiring dabu-dabu iris dengan tomat yang mendominasi, dan tak lupa ditemani sepiring besar sayur kangkung.

Melihat itu, seketika teman-teman lainnya bergegas mengambil piring dan mengambil bagian makannya. Semua tampaknya kelaparan, sampai yang lainnya lupa pakai sendok. Maklum, siang sebelum sampai di pulau ini, kami hanya sarapan nasi kuning.

Apalagi tenaga sudah terkuras setelah bermain, berlari riang dan membuat kerajaan pasir di sore hari, tentu membuat kami langsung merasa lapar.

Tiba-tiba, diantara kami ada yang berhenti makan. Mukanya ada yang merah, sambil menghirup udara lewat mulut. Oh, ternyata pedas, ditambah lagi air tak cukup.

Beruntung, salah seorang dari kami segera membeli air mineral di sebuah warung sederhana yang ada di pulau ini. Airpun segera datang. Makan pun akhirnya bisa dilanjutkan. Jika pulau ini masih seperti dulu, mungkin kami akan menderita di pulau ini.

Saya benar-benar menikmati perjalanan kali ini. Sebelumnya, saya juga pernah ke pulau ini, ya walau hanya sehari, tapi wisata kali ini berbeda dengan sebelumnya, sebab ada acara nginapnya.

Tuhan memberi saya kesempatan untuk menikmati pulau ini bukan hanya di saat terang sambil ditemani sang surya, tapi juga di saat gelap ditemani jutaan bintang yang berhamburan di langit sana.

Malam semakin tua, satu per satu diantara kami sudah mulai mengantuk. Saya melihat, waktu telah menunjukkan pukul 20.00 WITA.

Beberapa teman saya sudah mulai mengmbil posisi tidur, tepat di bibir pantai dengan alas tidur seadanya. Tahukah kamu? Kami tidur tanpa batas antara langit dan tanah. Tidur lepas dengan mata bebas menerawang ke belahan langit mana saja.

“Eh, bagimana kalau main domino?” Sahut Imam, salah satu personil jalan-jalan kami.

“Oke, mantap itu” Sahut saya semengat. “Baru di pulau bagini mo dapa domino dimana?” Jawabku ragu

“Ada dijual di situ!” kilah Imam sambil berlalu.

Saya lupa, kalau di pulau ini sudah lengkap. Jangankan Domino  kebutuhan makanan baik snack ataupun makanan berat telah disediakan. Bahkan, yang ingin karaokean juga ada. Sebuah Rumah makan bensar terbuka di dekat pintu gerbang masuk pulau ini.

Bagi pelancong yang datang menempati Cottage, biasanya sarapan pagi telah disediakan di rumah makan.

Rumah makan di pulau ini memang diatur se natural mungkin. Semua terbuat dari kayu, meja pun dibuat dari irisan kayu besar. Namun, tetap indah, meja itu dipoles dengan cat kayu yang kinclong.

Di sudut rumah makan, ada perahu karet berwarna kuning yang bersandar, di sebelahnya lagi ada perlatan snorkeling. Bagi yang suka melihat kerajaan karang di bawah laut, mungkin peralatan snorkeling bisa jadi alternatif.

Tempat ini memang sudah mulai bagus dan menjadi objek wisata andalan Gorontalo. Maklum, investor Jepang telah mengadakan “Memorandum of Understanding” dengan pemerintah selama 30 tahun.

Semua fasilitas sedang dibenahi. Jadi, bagi kita yang berniat ingin liburan keluarga, tak perlu ragu lagi, kebutuhan makanan sampai tidur sudah tersedia.

Meskipun dikelola asing, namun tidak terlalu membawa kerugian bagi daerah ini. Investor ini, Alhamdulillah berbaik hati menggunakan tenaga kerja dari warga asli Gorontalo. Sehingga, sedikit atau banyak, rakyat Gorontalo bisa mendapatkan penghasilan dari kekayaan alam yang dimilikinya.

“Maluwo Domino, he’o sapa yang mau barmain”

Kamipun menunggu mata ini terkatup sambil bermain domino. Sampai akhirnya malam makin larut dan lainnya pamit satu-satu untuk berlayar ke dunia impian masing-masing.

Yang tersisa tinggalah saya, kakak senior saya, Diki Setyawan Abas, dan Flora mahasiswa Jurusan Pariwisata. Kami bertiga masih kuat untuk berpetualang melewati dinginnya angin yang berhembus.

“Bagimana kalau mau jalan-jalan ke dermaga? Ajak kak Diki, Senior yang cukup menguasai arena pulau Saronde ini. Kami pun sepakat dan pergi ke dermaga kayu yang memanjang ke laut itu.

Saya mengira, kamilah makhluk-makhluk yang berkeliaran di dermaga nantinya, ternyata di dermaga banyak muda-mudi yang sedang menghibur diri. Meriahnya lagi, lampu kedip layaknya diskotik melingkar panjang di pegangan dermaga.

Cahaya lampu bersinar terang di sepanjang dermaga. Di sana, kami asyik menikmati ikan-ikan yang sedang menari kesana kemari. Ada ikan yang bentuknya seperti layar perahu, ada ikan hias kecil-kecil yang berkejaran, dan ada pula bintang laut yang berhamburan bebas di ke dalaman air sekitar 1,5 meter.

Kami berusaha untuk menelpon teman-teman untuk datang. Sayang, mereka benar-benar kecapean.

Terpaksa, hanya kami bertiga yang bisa menikmati indahnya dermaga dengan ikan-ikannya. Kami juga bercerita banyak hal, mulai dari kesan kedatangan di pulai ini sampai dengan kebiasaan muda-mudi yang sering datang ke tempat ini.

Hingga tak terasa, jarum jam berputar lebih cepat. Mata mulai berat dan menarik kami untuk segera kembali ke tenda.

Kami merebahkan tubuh hanya di sebuah terpal putih. Mata kami melayang tinggi mengangkasa. Hati terasa puas, dan mata ingin sekali mencomot bintang-bintang di langit.

Sebelum tidur, kami berniat bangun sebelum matahari terbit, sebab besok akan mengejar matahari lagi, jangan sampai matahari keburu melambung tinggi di atas ubun-ubun.

Mata tertutup dan semua merangkai mimpi indah masing-masing.
***

Esoknya, tepat di wajah kami, cahaya mulai terlihat. Seketika teman-teman yang tidur seperti dikejar serigala. Mereka buang selimut sembarangan, dan berlari ke pesisir pantai sambil  membawa kamera. Jika Sunset telah menorehkan kecewa, kali ini dibayar tuntas oleh Sunrise.

Semua riang gembira. Ada yang berfoto sambil melompat, ada yang gayanya bak artis, bahkan ada yang mengikuti Nyi Roro Kidul di batang pohon besar yang terhampar di bibir pantai. Apapun gayanya, yang penting happy. Mungkin itu kalimat singkat yang mewakili perasaan kami.

Entah mengapa, setiap kali berdekatan dengan air, tubuh seperti diseret untuk terjun ke dalamnya. Teman-teman lainnya telah terjun mandi. Padahal, dinginnya laut di pagi hari bukan kepalang. Yang tersisa tinggallah saya, dan Flora.

Bukan kami tidak mau mandi, hanya saja kami tidak membawa pakaian lebih banyak untuk dipakai lagi.  Akhirnya kami hanya jadi tukang foto saja. Tapi, menjadi tukang foto juga menyenangkan. Kami lebih banyak menjadi penikmat lewat kamera. Setiap sudut dari pulau ini tak lupa kami abadikan.

Sampai sore tiba, kami duduk di dermaga bersiap-siap kembali. Semua berkisah tentang persaannya. Ada yang bercita-cita akan kembali lagi ke pulau ini. Ada pula yang ingin mengajak teman-teman kampusnya untuk berlibur ke sini.

Sesaat kemudian, perahu yang akan mengantarkan kami telah siap. Hanya ada satu kata yang bisa kami tinggalkan di pulau ini, “ I Miss You Saronde, one day, I will go back  here again!”