Putri Azizah Dama, Hadiah Pertama Tuhan Dalam Keluarga

Kelahiran Anak

Memiliki anak adalah hal yang paling membahagian bagi setiap orang. Terutama pengantin yang sudah lama menikah. Pasti sangat merindukan buah hati yang akan menghiasi rumah tangga.

Menantikan buah hati adalah hal yang wajar. Selain sebagai simbol kesuksesan dalam berkeluarga, kehadiran anak juga akan menjadi motivasi bagi orangtua bekerja. Orang-orang menceritakan bahwa ketika mereka lelah, hanya dengan melihat anaknya tersenyum bahagia, terasa segala rasa capek di tubuh hilang seketika. Tawa anak di rumah seperti obat ajaib yang mampu mengusir lelah.

Sekarang kebahagiaan itu sudah saya rasakan.

Setelah sepuluh bulan usia pernikahan, akhirnya istri saya hamil. saya awalnya memang belum yakin sepenuhnya. Karena belum diperiksa secara pasti oleh dokter.

Maka malam harinya saya dan istri langsung ke dokter. Ya, sekadar memastikan.

Istri saya diminta untuk menampung urin di sebuah wadah. Kemudian dokter meletakkan tester kehamilan di dalamnya. Kurang lebih satu menit, hasilnya keluar. Dua garis merah tanda kehamilan telah sempurna.

Saya bersyukur kepada Allah ketika itu. Karena banyak orang meminta punya anak tapi tidak diberi. Saya yang baru saja menikah, Alhamdulillah langsung diberi. Oleh sebab itu, karunia ini harus saya syukuri. Berarti Allah memberikan kepercayaan kepada saya dan istri untuk mendidik hambanya.

Sejak tahu istri hamil, saya tidak mengizinkanya lagi naik motor. Apalagi kalau sudah menempuh perjalanan jauh. Kalau sekadar keliling ke pasar, ke mini market, atau ke Mall, saya kira masih boleh saja. Saya masih memperbolehkannya. Tapi kalau sudah menempuh perjalanan berjam-jam lamanya, saya lebih merekomendasikannya naik mobil. Sebab saya tidak ingin mengambil resiko dia keguguran.

Seiring bulan berganti, istri saya semakin menunjukan tanda-tanda hamil mudanya. Salah satunya dia mulai muntah-muntah. Biasanya setelah selesai subuh dia langsung ke kamar mandi untuk muntah. Meskipun muntahnya hanya air. Selain itu, terkadang dia juga dia muntah saat sedang di sekolah. Kalau sudah merasa tidak enak perut, dia langsung mencari saya sekedar menemani dan menyediakan air minum untuknya.

Anehnya lagi, perasaan ingin muntah itu tidak hanya dialami istri. Dalam beberapa kesempatan, saya juga merasakan pengen muntah. Seperti halnya orang yang mengidam. Orang-orang beranggapan, kalau ayahnya juga muntah, itu kemungkinan anak laki-laki yang akan lahir.

Soal jenis kelamin apa yang akan dilahirkan saya tidak begitu berambisi harus anak laki-laki. Bagi saya, apakah dia anak perempuan atau lelaki, itu sama saja. Toh keduanya juga manusia dan merupakan karunia Allah. Tetap harus dicintai dan dididik dengan baik.

Tujuh bulan sudah berjalan. Janin dalam kandungan istri saya semakin aktif bergerak. Sekali janin itu bergerak, langsung bisa kelihatan di permukaan perut istri. Saya sendiri baru pertama kali merasakan gerakan bayi di dalam perut. Sungguh menakjubkan. Makluk Allah itu hidup selama berbulan-bulan di dalam perut dan berada dalam tabung air ketuban.

Ketika janin itu bergerak sudah pasti istri saya akan merasakan sakit tiada terperih. Tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalani dan menikmati sakitnya. Mau mengeluh su dah pasti salah. Karena sakitnya orang hamil itu sudah dijelaskan Allah dalam Alquran. Sehingga tidak boleh mengeluh. Nanti kurang berkahnya saat hamil.

Kalau saya tidak salah dalam mengutip, gambaran sakitnya saat mengandung dan melahirkan itu Allah jelaskan dalam Alquran, surah Luqman ayat 14.

Hamalathu wahnan ala wahin
Ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah di atas lemah.

Dalam ayat itu digambarkan bahwa betapa perempuan hamil akan merasakan sakit yang berlipat-lipat. Kata Wahnan ala wahin, yang berati lemah di atas lemah. Sebuah ungkapan sakit yang mencapai puncak sakit.

Kamu pasti bisa membayangkan. Ketika buang air besar saja, kalau kotorannya keras, bisa-bisa kamu menangis karenanya. Bahkan ada sebagian orang mengeluarkan darah. Itu baru hal kecil. Tentu saat melahirkan jauh lebih sakit.

Tapi saya selalu mengingatkan istri soal melahirkan. Bahwa sakit yang dirasakan saat melahirkan itu akan mendatangkan keberkahan. Allah sudah menjamin surga bagi setiap perempuan yang akan melahirkan. Saat kemungkinan terburuk pun terjadi, jangan khawatir. Allah menyiapkan surga terbaik tanpa melalui hisab. Karena ibu yang melahirkan adalah mati syahid sama seperti para syuhada yang mati di medan perang. keberkahannya sama persis.

Istri saya semakin tegar mendengar nasihat itu. Sehingga setiap waktu saya terus mengulang-ngulang agar dia paham betul kasih sayang Allah padanya.

TANDA KELAHIRAN

Sampai suatu malam istri mulai merasakan hal aneh. Saat dia berjalan, tiba-tiba saja segumpal darah merembes keluar melumuri lantai. Saya yang melihat itu seketika panik. Karena saya takut terjadi hal buruk padanya. Atau bayangan saya dia bakal melahirkan di rumah.

Merespon tanda kelahiran itu saya langsung siapkan semuanya. Saya masukan beberapa potong pakaian ganti istri, paket pakaian bayi dan beberapa sarung yang akan dipakai menyerap darah ketika melahirkan.

Malam hari sekitar jam 10 saya berburu bentor di jalanan. Saya menemukan sebuah bentor tua yang terparkir di pinggir jalan. Saya menawarkan tumpangan dan beliau setuju. Malam itu bentor segera memboyong kami salah satu rumah sakit swasta. Tapi tiba di sana ruangan malah penuh. Saya pun segera mengalihkan perjalanan ke rumah sakit swasta lainnya.

Saya melihat istri saya semakin pucat dan lemah ketika berjalan. Sementara darah mulai membasahi sarung yang dikenakannya.

Di rumah sakit Swasta yang kedua ini istri saya langsung diterima. Dia langsung dibawa ke ruang pemeriksaan untuk memprediksi jam kelahiran. Sambil menunggu reaksi kelahiran selanjutnya, istri saya kemudian ditempatkan di ruang kelas satu. Di sana istri saya berseblahan dengan satu ibu hamil yang berasal dari Paguyaman.

Kata dokter istri saya harus menunggu sampai pembukaan jalan lahir mencapat tujuh centimeter. Untuk sementara waktu istri saya harus menginap dulu. Prediksi dokter jam enam sore besoknya baru akan lahir. Ternyata sedikit tertunda. Besoknya setelah subuh barulah istri saya menjalani proses melahirkan.

Istri saya mulai mengalami kontraksi sekitar jam 10 malam. Hingga pada jam 3.20 menit anak saya lahir. Seorang perempuan. Rambutnya amat tebal dan bertubuh kecil ukuran 29 cm meter dengan bobot berat 2,9 Kg.

Dokter dan perawat segera membersihkan tubuh anak saya. Suster memakaikan baju dan menhangatkan tubuhnya dengan minyak telon bayi. Dalam beberapa menit, tubuh anak saya yang awalnya pucat saat keluar, akhirnya mulai memerah.


Saat itulah saya segera mengambil bagian. Sebagai ayahnya saya harus mengazankannya di telinga kanan. Karena saya tidak ingin jin jahat yang akan lebih dulu membisikan keburukan di telinga kirinya.

Beruntung tak berselang lama suara azan subuh dari berbagai masjid terdengar begitu nyaring dari berbagai menara. Seolah azan-azan itu juga memberi sambutan kepada anak saya yang baru lahir.

Azan selesai, anak saya mulai menangis. Suaranya begitu nyaring hingga memenuhi ruangan. Menurut para orangtua, tangisnya bayi saat melahirkan itu berdampak positif. Dengan begitu pita suaranya akan berfungsi bagus. Selain itu, suaranya yang nyaring adalah respon terhadap apa yang dia rasakan pertama kali di alam dunia. Jadi wajar-wajar saja!

MENENTUKAN SEBUAH NAMA

Setiap orangtua pasti mencarikan nama terbaik untuk anaknya. Tidak hanya bagus dalam pengucapan, juga bagus dalam pandangan agama. Kalau menurut islam, nama itu adalah doa. Sehingga dalam memberikan nama tentu akan ada pertimbangan baik buruknya.

Ada beberapa nama yang sempat diajukan ketika itu. Ada saran dari saudara, orangtua, maupun keluarga pada umumnya. Hingga saya bersepakat menentukan beberapa nama.

1. Azizah Azzahra Dama
2. Azizah Zahratunnisa Dama
3. Azizah Fitratunnisa Dama
4. Azizah Jannatulfirdaus Dama
5. Putri Azizah Dama

Waktu itu saya memilih untuk nama yang berada di urutan yang ke empat. Karena dari segi makna nama Jannatulfirdaus adalah surga yang sangat dirindukan manusia. Kelak, saya berharap dan berdoa, anak ini adalah jalan kami sebagai orang tua untuk menemukan jalan surga. Anak ini adalah jalan kami beramal dan berbaki kepada Allah.

Saya menamakanya Azizah Jannatul Firdaus. Akan tetapi, ada beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan. Hingga nama itu dibatalkan dan digantilah nama yang lain. Tetapi masih melekat nama utamanya. Azizah. Tak mau berlama-lama saya langsung memutuskan namanya adalah Putri Azizah Dama. Mudah dalam pengucapan dan indah dalam pemaknaan doa.

Oleh sebab itu, saya menyebut Putri Azizah Dama adalah hadiah Tuhan pertama dalam keluarga saya. Karena karunia anak ini adalah puncak kesuksesan bagi sebuah keluarga. Kalau kesuksesan harta itu bisa didapat seiring waktu. Tapi kalau anak itu tidak bisa diprediksi. Dan hanya Allah yang berkehendak kepada siapa anak itu akan dititipkan.

Hal yang paling berat ketika itu adalah perpisahan. Ketika Azizah baru berumur 2 minggu, saya harus berangkat ke Depok demi memenuhi panggilan Beasiswa LPDP. Karena Saya baru saja lulus dan dipersiapkan menuju pendidikan Magister Ilmu Sastra di Universitas gadjah Mada.

Kembali dari Persiapan Keberangkatan, saya harus melanjutkan perjuangan pada program bahasa untuk persiapan Toefl di Universitas Hasanuddin. Waktunya pun lumayan lama. selama enam bulan saya harus menjalani kursus Toefl gratis yang dibiayai pemerintah. Setiap bulannya saya diberi biaya hidup oleh pemerintah 3,3 juta per bulan. Lumayan untuk dikirim ke anak dan istri di kampung.

Baru beberapa minggu pengikuti kursus, saya teringat anak dan istri di kampung. Saya rindu mereka. Nah, untuk mengobati rindu saya berusaha menghubungi istri via Video Call WhatsApp. Dengan begitu, saya bisa melihat langsung perkembangan Azizah dari waktu ke waktu. Kalau sudah melihat Azizah tertidur, barulah saya juga pamit tidur.

Istri saya hanya tersenyum.
Dalam hati saya bergumam, semoga jarak akan mengajarkan itu hakikat rindu yang sesungguhnya.

Sahabat...
Sampai tulisan ini selesai dibuat, saya masih sedang berjuang belajar Toefl di UNHAS.
Ujung Pandang, 23 November 2017
Ayah Melankolis | Idrus Dama