Walimah, Pesta Cinta Sang Nabi Tercinta

Walimah, Pesta Cinta Sang Nabi Tercinta

 

Langit mulai terang dan lantutan dzikir di masjid-masjid belum juga berhenti. Sebuah arak-arakan kue menuju masjid makin ramai. Semua berpakain putih. Seperti laskar jihad saja. Setiap tahun, momen ini berulang-ulang dan menghabiskan uang miliaran rupiah. Tapi, rasa ingin merayakannya tidak pernah pudar.

Saya kira di berbagai daerah di Indonesia pun sama. Semua merayakan yang namanya, Walimah, pesta perayaan kelahiran sang nabi Muhammad SAW. hanya saja, bentuk dana penamaan saja yang berbeda. kalau di daerah Gorontalo, lebih dikenal dengan acara walimah. Sementara momennya dalam bahasa Gorontalo disebut dengan "mauludu" yang berarti kelahiran.

Bentuk perayaan Maulid di Gorontalo sangat identik dengan walimah. Dimana didatangkanlah para pedzikir yang terbiasa dengan seremonial ini, lalau mereka menghabiskan waktu di masjid semalam suntuk dan tidak tidur hanya untuk mengulas kisah kelahiran sang Nabi dari sejak lahir hingga wafat.  Tentu dalam alunan nada dzikir yang tidak semua orang mampu encernanya.  Jika yang mendengarkan dzikir itu dari luar Gorontalo, maka yang akan dipahamai hanya beberapa huruf saja, A..I..U...O...

Iya, hanya huruf itu yang akan terdengar. Namun, jika ditelusuri dan dipahami, lembaran dzikir yag dibabaca adalah kitab dzikir yang bertuliskan arab tapi dibaca dalam bahasa Gorontalo? Tertarik untuk melihatnya? Nah datang ke Gorontalo...Heheh...!! *Promosi dikit ya..!!

Dari beberapa tempat perayaan Walimah di Gorontalo, tempat yang paling populer adalah desa Bubohu, desa yang dijuluki desa Religi. Di Desa ini, perayaan walimah bisa menghabiskan dana miliaran rupiah. Bahkan ada ribuan kue yang disajikan pada saat pagi ketika dzikir di Masjid akan berakhir. Nah, kue yang dibagi-bagi itu sudah ada dalam bentuk tolangga, atau sebuah rangka yang berbentuk kuba memanjang ke atas, trus dililit pakai kue. Di dalamnya berisi makanan berupa "Bilindi", nasi Kuning, dan ayam yang tekah masak.

Secara etimoligis, kata "Walimah" berasal dari bahasa Arab yang berarti pesta. Meskipun makna Walimah adalah pesta. Dalam pandangan masyarakat Gorontalo, Sesuatu yang disebut Walimah lebih identik pada perayaan kelahiran sang nabi tercinta, Muhammad SAW. Sehinga ketiaak disebut Walimah, maka yang terbayang adalah pesta kelahiran sang Nabi SAW.

Setelah dzikir berakhir, orang-orang ramai berbagi kue yang dibawakan masyarakat untuk para pedzikir. Satu sama lain saling bercengkrama dan saling menyalai. Ada yang menangis bahagia, ada pula yang tertawa karena melihat kelucuan yang terjadi saat saling berbagi kue. Pokonya, asyik dan ramai dah...!! Apalagi kalau menyaksikan Tolangga, atau tempat kue raksasa yang disiapkan. Wuih...semua orang berebutan mengambil jatah kue yang menurut masyarakat penuh berkah. Terlepas ini mengundang kontroversi di kalangan Masyarakat, tapi saya lebih menyarankan untuk menilai hal ini dari perspektif budaya. Biar tidak akan merusak nilai Agama. Okay...? Sip...dah kalau begitu...Lanjut...

Tolangga dan Jenis Kue Tradisional Gorontalo

Ada banyak jenis kua yang disajikan di acara Walimah ini, antara lain; Kue kolombengi, sukade dan paria. Kolombengi adalah kue yang terbuat dari adonan terigu, gula dan mentega. Sementara Sukade terbuat dari adonan terigu yang sudah dicampur dengan gula merah. Proses pembuatannya sama seperti kolombengi. Yang berbeda adalah Paria. Paria memang komposisinya dari adonan terigu, gula dan gula merah, tetapi kue Paria khusus untuk digoreng.

Selain kue tradisional, di dalam Tolangga sering diisi dengan Toyopo atau sebuah mangkuk yang terbuat dari janur kuning yang disulam. Toyopo itu berisi Bilindi ( Nasi Beras pilihan) dan dicampur daging ayam atau ikan laut.

Besaran Tolangga, biasanya sesuai kemampuan masyarakat. Jika keluarga besar, maka Tolangga yang dibuat pun besar. Kalau berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, biasanya ukurannya sedang. Ukuran paling besar biasanya partisipasi dari pemerintah.

Untuk Jenis Tolangga biasa bervariasi. Ada yang yang berbentuk perahu dengan tiang penyangga. Dan ada pula yang berbentuk seperti pisang menjulang, dan ada yang berbentuk kotak segi empat dengan ujung meruncing.

Desa Religi Pusat Walimah Gorontalo

Desa religi Bubohi, kecamatan Bongo, Kabupaten Gorontalo menjadi mercusuar perayaan walimah di Gorontalo. Pasalnya, daerah ini paling besar pendanaaannya dan paling banyak kue yang disajikan dibandingkan daerah lainnya. Bahkan menurut keterangan Roshid Azhar, seorang budayawan dan pengembang wisata religi, biaya untuk perayaan Walimah di desa bubohu ini  mencapai 1 miliar.

"Perayaan Walima di bubohu capai 1 milar dengan ribuan kue Kolombengi" Ungkap Rosyid.

Saat kita memasuki desa religi, kita akan disambut dengan dua gapura walimah. tak lupa, udara segar pun akan menerpa wajah. pastilah kita akan merasa sejuk, sebab di bawahdi desa sini masih alami, daun pohon masih rindang rindang.  Lebih asyik lagi ketika menyaksikan pemandangan pantai yang membentang luas. Mata kita akan terpesona dengan lekukan gundung dari puncak desa religi tersebut. Di bawahnya pun, terletak sebuah masjib kuba berwana emas. Masjid itu adalah masjid yang satu-satunya yang ada di Gorontalo yang letaknya di puncak Gunung yang tinggi.

Setelah itu, kita juga bisa jalan menikmati bangunan budaya di desa religi ini. Ada deretan bangunan kebudayaan dan sebuah kolam di depannya. Kita akan benar-benar terpesona menikmati ketenangan dan nikmati menjulurkan kaki di air kolamnya.

Sungguh satu warisan ciptaan tuhan yang patut untuk dinikmati oleh semua orang. Jika hendak ke Gorontalo, sempatkanlah menikmati sejuknya kehidupan desa Religi Gorontalo. Ingat! desa ini adalah sala satu daerah yang mampu memecahkan rekor pesta rakyat dengan ribuan kue.

Selamat Datang di Gorontalo..
LihatTutupKomentar