Seribupena.com

Kanal Informasi Pendidikan, Kesehatan, Teknologi dan Bisnis

Terbaru
  • Memuat berita terbaru...
[Iklan Khusus Postingan]

10 Tips Agar Blog Kamu Diterima Google AdSense

10 Tips Agar Blog Kamu Diterima Google AdSense

Email itu akhirnya masuk.

Saya membukanya dengan perasaan yang sebenarnya sudah cukup optimistis.

Blog sudah punya artikel.

Template terlihat rapi.

Domain sudah aktif.

Menu sudah dibuat.

Beberapa artikel bahkan sudah muncul di Google.

Saya berpikir proses berikutnya hanya formalitas.

Ternyata tidak.

Permohonan AdSense belum dapat disetujui.

Saya membaca keterangannya beberapa kali, berharap menemukan satu tombol atau satu pengaturan yang lupa diaktifkan.

Tidak ada.

Yang muncul justru istilah yang membuat banyak blogger mulai membuka Google dan mencari jawaban ke mana-mana.

Konten.

Kualitas.

Navigasi.

Kepatuhan kebijakan.

Pada saat seperti itu, kita biasanya mulai mencari rumus.

“Minimal berapa artikel agar diterima AdSense?”

“Harus punya 1.000 pengunjung dulu?”

“Apakah domain harus berumur enam bulan?”

“Artikel harus 1.000 kata?”

“Harus punya halaman About, Contact, Disclaimer, dan Privacy Policy?”

Saya juga pernah mencari jawaban yang sama.

Semakin banyak membaca forum, semakin banyak angka yang muncul.

Ada yang mengatakan minimal 20 artikel.

Ada yang mengatakan 30.

Ada yang mengatakan 50.

Ada pula yang mengatakan blog harus memiliki 10.000 pageview.

Masalahnya, ketika saya kembali membaca dokumentasi resmi Google, saya tidak menemukan formula sesederhana itu.

Google saat ini menekankan bahwa situs yang diajukan ke AdSense perlu mempunyai konten milik sendiri yang berkualitas, original, menarik bagi audiens, mematuhi kebijakan program, serta memberikan pengalaman pengguna yang baik. Google juga meninjau situs secara keseluruhan ketika melakukan proses persetujuan.

Sejak itu cara saya memandang AdSense berubah.

Saya tidak lagi bertanya:

“Bagaimana cara membuat Google menerima blog saya?”

Saya lebih suka bertanya:

“Kalau saya menjadi pengunjung, apakah blog ini sudah layak dipasangi iklan?”

Pertanyaan kedua ternyata jauh lebih membantu.

Berikut sepuluh hal yang menurut saya perlu diperiksa sebelum mengirim blog ke Google AdSense.

1. Jangan Mendaftar Ketika Blog Masih Terlihat Kosong

Ini kesalahan yang sangat mudah dilakukan.

Blog baru selesai dibuat.

Template sudah dipasang.

Ada lima artikel.

Logo terlihat bagus.

Kita menjadi tidak sabar.

Tombol AdSense mulai terlihat menggoda.

Saya pernah berada di fase itu.

Masalahnya, dari sudut pandang pemilik, lima artikel terasa banyak karena kita sendiri yang menulisnya.

Dari sudut pandang pembaca, blog tersebut mungkin masih terlihat seperti bangunan yang belum selesai.

Google secara resmi menjelaskan bahwa salah satu masalah yang dapat menyebabkan situs belum siap menampilkan iklan adalah konten yang terlalu sedikit atau situs yang masih tampak dalam proses pembangunan. Google meminta halaman memiliki teks yang cukup, kalimat dan paragraf yang lengkap, serta situs yang sudah selesai dibangun dan dapat digunakan.

Namun, jangan menerjemahkannya menjadi aturan:

“Harus tepat 30 artikel.”

Google tidak memberikan angka baku jumlah posting pada halaman persyaratan kelayakannya. Yang ditekankan adalah kualitas, originalitas, kepatuhan kebijakan, dan pengalaman pengguna.

Karena itu saya lebih memilih melihat kedalaman blog.

Misalnya blog membahas Blogger.

Jangan hanya mempunyai artikel:

Cara membuat blog.

Tambahkan artikel yang benar-benar membangun topik tersebut.

Cara memilih template.

Cara memasang domain.

Cara backup blog.

Cara membuat navigasi.

Cara menggunakan Search Console.

Cara mengoptimalkan gambar.

Cara mengatasi halaman tidak terindeks.

Sekarang blog mulai terasa seperti sumber informasi.

Bukan sekadar situs yang dibuat agar bisa mendaftar AdSense.

2. Buat Konten yang Benar-Benar Milik Kamu

Ini bagian yang menurut saya paling menentukan.

Google secara langsung mengatakan bahwa konten untuk AdSense harus unik, original, relevan, serta memberikan alasan kepada pengguna untuk datang ke situs tersebut.

Masalahnya, kata “original” sering disalahartikan.

Ada orang yang mengambil artikel dari website lain, kemudian mengganti beberapa kata.

“Cepat” diganti “singkat”.

“Mudah” menjadi “praktis”.

“Terbaik” menjadi “bagus”.

Secara kalimat mungkin berubah.

Secara informasi sebenarnya sama.

Google Publisher Policies menjelaskan bahwa konten yang menyalin, mengambil, menulis ulang sumber lain tanpa memberikan nilai tambahan, atau dihasilkan secara otomatis tanpa peninjauan dan kurasi yang memadai dapat dianggap sebagai replicated content yang tidak layak untuk iklan Google.

Ini menjadi semakin relevan di era AI.

Saya tidak melihat masalah ketika AI membantu membuat kerangka.

Membantu memperbaiki grammar.

Membantu mencari variasi judul.

Atau membantu merapikan struktur.

Namun, jangan mempublikasikan sesuatu hanya karena mesin selesai menulisnya.

Masukkan sesuatu yang memang berasal dari kamu.

Pengalaman.

Pengamatan.

Screenshot.

Pengujian.

Perbandingan.

Pendapat berdasarkan fakta.

Contoh.

Data.

Penelitian Baye et al. (2016) menunjukkan bahwa kualitas website mempunyai hubungan dengan performa organik dan perilaku klik pengguna. Temuan ini memang membahas SEO, bukan proses persetujuan AdSense secara khusus. Namun, pesannya relevan.

Kualitas tetap terlihat.

Blog yang mempunyai nilai tidak harus terdengar seperti ensiklopedia.

Ia hanya perlu mempunyai alasan mengapa orang memilih membacanya.

3. Jangan Sibuk Mengejar Panjang Artikel

Pernah ada masa ketika saya mempunyai aturan sendiri.

Artikel minimal 1.000 kata.

Kalau belum 1.000, tulisan belum boleh diterbitkan.

Akibatnya cukup lucu.

Topik yang sebenarnya selesai dalam 600 kata saya paksa menjadi 1.200.

Definisi diperpanjang.

Kesimpulan diulang.

Paragraf baru dibuat hanya untuk menambah jumlah.

Tulisan menjadi panjang.

Tidak otomatis menjadi lebih berguna.

Google tidak menetapkan jumlah kata tertentu dalam persyaratan kelayakan AdSense. Yang diminta adalah konten yang berkualitas, original, relevan, dan mampu memberikan pengalaman yang bermakna kepada pengguna. Google juga menyebut situs dengan terlalu sedikit teks sebagai salah satu masalah yang bisa membuat situs belum siap, tetapi itu tidak sama dengan menetapkan angka kata tertentu untuk setiap artikel.

Jadi, biarkan kebutuhan topik menentukan panjang tulisan.

Tutorial sederhana mungkin selesai dalam 700 kata.

Panduan lengkap dapat membutuhkan 2.000 kata.

Artikel analisis bisa lebih panjang lagi.

Saya sekarang lebih suka bertanya:

“Apakah pembaca sudah mendapatkan jawabannya?”

Bukan:

“Apakah Word Counter sudah menunjukkan angka 1.000?”

4. Rapikan Navigasi Sebelum Mengirim Permohonan

Coba lakukan sesuatu yang sederhana.

Buka blog kamu seolah-olah kamu baru pertama kali datang.

Jangan menggunakan dashboard.

Mulai dari homepage.

Bisakah kamu menemukan kategori?

Bisakah menemukan artikel terbaru?

Apakah tombol menu bekerja?

Bagaimana kalau ingin kembali ke halaman utama?

Bagaimana mencari artikel lain?

Google secara khusus menyebut navigasi yang jelas dan mudah digunakan sebagai bagian penting dari kesiapan situs untuk AdSense. Google meminta pemilik situs memperhatikan alignment, keterbacaan, dan fungsi menu agar pengunjung mudah memahami cara berinteraksi dengan situs.

Ini sering terlihat sepele.

Namun, navigasi adalah salah satu tanda bahwa blog sudah benar-benar selesai dibangun.

Saya lebih menyukai menu sederhana:

Home

Kategori

Tentang

Kontak

Privacy Policy

Daripada menu dengan 15 item yang setengahnya tidak bekerja.

Seckler et al. (2015) menemukan bahwa karakteristik desain dan struktur website ikut membentuk rasa percaya atau tidak percaya pengguna. Struktur yang membingungkan dapat memberi kesan negatif bahkan sebelum pengguna menilai isi secara mendalam.

AdSense membutuhkan website yang akan dikunjungi manusia.

Maka desainlah navigasi untuk manusia.

5. Buat Halaman Identitas yang Masuk Akal

Ada banyak perdebatan mengenai halaman seperti About, Contact, Disclaimer, dan Privacy Policy.

Saya akan membedakan dua hal.

Tidak semua halaman tersebut dinyatakan Google sebagai “syarat wajib persetujuan dengan nama halaman tertentu”.

Namun, beberapa di antaranya mempunyai fungsi yang sangat masuk akal.

Halaman About memberi tahu siapa yang mengelola website.

Contact memberi jalan bagi pembaca untuk menghubungi pemilik.

Privacy Policy jauh lebih serius ketika menyangkut penggunaan produk periklanan Google.

Google Publisher Policies mewajibkan publisher memiliki kebijakan privasi yang secara jelas mengungkapkan pengumpulan, pembagian, dan penggunaan data akibat penggunaan produk Google, termasuk teknologi seperti cookies, web beacon, alamat IP, atau identifier lain.

Google juga menjelaskan bahwa publisher AdSense harus memberitahu pengguna mengenai penggunaan cookie melalui privacy policy.

Jadi saya tidak membuat halaman Privacy Policy sekadar karena tutorial mengatakan:

“Buat ini supaya diterima.”

Saya membuatnya karena website yang menggunakan teknologi iklan dan data memang perlu transparan kepada pengunjung.

Halaman-halaman tersebut juga membuat blog terasa mempunyai pemilik.

Bukan website anonim yang muncul kemarin lalu menghilang besok.

6. Audit Topik Sebelum Mengajukan AdSense

Tidak semua konten dapat dimonetisasi dengan cara yang sama.

Google Publisher Policies mempunyai kategori konten yang tidak dapat dimonetisasi, termasuk beberapa jenis konten ilegal, pelanggaran kekayaan intelektual, konten berbahaya, praktik penipuan, software berbahaya, konten seksual eksplisit, serta kategori lainnya. Google juga mempunyai Publisher Restrictions untuk tema yang tidak sepenuhnya dilarang tetapi mungkin mendapatkan permintaan iklan yang lebih terbatas.

Ini perlu diperiksa sebelum daftar.

Jangan hanya melihat artikel terakhir.

Lihat seluruh blog.

Mungkin ada artikel lama tentang download software crack.

Mungkin ada link menuju streaming ilegal.

Mungkin ada artikel yang memfasilitasi hacking tanpa izin.

Mungkin ada konten yang menipu pengguna.

Google secara eksplisit melarang monetisasi pada konten yang membantu perilaku tidak jujur seperti cracking atau akses tanpa izin ke perangkat dan software.

Jangan berpikir:

“Artikel itu cuma satu.”

Google menjelaskan bahwa proses site review memeriksa situs, bukan hanya satu halaman yang kamu pilih.

Sebelum mendaftar, saya akan melakukan audit sederhana.

Buka artikel lama.

Periksa label.

Periksa halaman download.

Periksa link eksternal.

Periksa gambar.

Hapus atau perbaiki bagian yang memang bermasalah.

Lebih baik membersihkannya sebelum review daripada memperbaikinya setelah ditolak.

7. Jangan Mengambil Foto dan Artikel Sembarangan

Ini sering dianggap masalah terpisah dari AdSense.

Sebenarnya tidak.

Google Publisher Policies melarang monetisasi konten yang melanggar hak kekayaan intelektual. Google juga mengatakan ads tidak boleh ditempatkan pada situs yang berisi scraped atau copyrighted content yang melanggar kebijakan.

Kalau menggunakan gambar dari internet, pastikan hak penggunaannya jelas.

Kalau mengutip artikel, jangan menyalin sebagian besar isinya.

Kalau membahas berita, buat pembahasan sendiri.

Kalau menggunakan data penelitian, berikan sumber.

Kita tidak harus membuat semua foto sendiri.

Namun, kita harus tahu apakah kita berhak menggunakannya.

Saya mulai membiasakan diri menyimpan sumber gambar.

Ini pekerjaan kecil.

Tetapi jauh lebih mudah daripada beberapa bulan kemudian harus mencari:

“Gambar ini dulu saya ambil dari mana?”

Blog yang ingin menghasilkan uang harus mulai diperlakukan seperti aset bisnis.

Hak cipta menjadi bagian dari tanggung jawab tersebut.

8. Pastikan Blog Nyaman Dibaca di Smartphone

Kalau saya membuat blog hari ini, smartphone menjadi perangkat pertama yang saya gunakan untuk mengeceknya.

Bukan laptop.

Saya akan melihat:

Apakah font cukup besar?

Apakah menu bekerja?

Apakah gambar keluar dari layar?

Apakah tombol mudah ditekan?

Apakah ada popup yang menutupi artikel?

Apakah halaman bergerak-gerak ketika loading?

Pengalaman pengguna mendapat perhatian langsung dalam panduan kesiapan AdSense. Google menyatakan bahwa konten perlu relevan bagi pengunjung dan memberikan pengalaman pengguna yang baik.

Brajnik dan Gabrielli (2010) dalam kajiannya mengenai iklan online juga menunjukkan bahwa karakteristik iklan dan cara iklan ditempatkan dapat memengaruhi usability serta pengalaman pengguna.

Pelajarannya berlaku bahkan sebelum kita diterima AdSense.

Jangan membuat halaman yang sejak awal sudah sesak.

Sisakan ruang.

Gunakan font nyaman.

Jangan memasang terlalu banyak widget.

Perbaiki layout.

Ketika nanti iklan mulai muncul, halaman masih mempunyai ruang untuk bernapas.

9. Jangan Mengejar Trafik Palsu Agar Terlihat Ramai

Ada kekhawatiran klasik.

“Blog saya baru 50 pengunjung sehari. Apa bisa diterima?”

Dokumentasi resmi Google yang menjelaskan persyaratan kelayakan tidak memberikan angka minimum pageview tertentu. Google menekankan konten original, kepatuhan kebijakan, usia pemohon, kepemilikan situs, dan kesiapan halaman.

Jadi jangan membeli trafik hanya agar dashboard terlihat ramai.

Jangan menggunakan bot.

Jangan membuka artikel sendiri ratusan kali.

Jangan menggunakan layanan pertukaran klik.

Hal seperti itu tidak memperbaiki kualitas website.

Bahkan setelah menjadi publisher, kualitas trafik akan menjadi sangat serius karena sistem periklanan harus melindungi pengiklan dari aktivitas tidak valid.

Saya lebih memilih 100 pengunjung manusia yang memang mencari isi artikel daripada 20.000 sesi yang datang dari bot.

Angka besar terlihat menyenangkan.

Pengunjung nyata jauh lebih bernilai.

10. Daftar Ketika Blog Sudah Terasa Selesai, Bukan Ketika Kamu Sudah Tidak Sabar

Ini mungkin tips yang paling sulit.

Menunggu.

Setelah bekerja beberapa minggu membangun blog, kita ingin segera melihat iklan.

Saya memahami perasaan itu.

Namun, sebelum mendaftar, lakukan satu audit terakhir.

Buka homepage.

Buka lima artikel acak.

Coba semua menu.

Periksa Privacy Policy.

Periksa About dan Contact jika digunakan.

Periksa versi mobile.

Cari halaman kosong.

Cari link mati.

Periksa artikel yang terlalu tipis.

Periksa artikel hasil copy.

Periksa halaman dengan video embed tetapi hampir tanpa penjelasan.

Periksa apakah situs benar-benar dapat diakses.

Google menjelaskan bahwa saat situs belum siap menampilkan iklan, penyebab yang umum dapat mencakup kode yang belum benar, situs tidak dapat dijangkau, konten unik yang belum memadai, pengalaman pengguna yang kurang baik, atau pelanggaran kebijakan.

Setelah semuanya terasa siap, barulah kirim untuk review.

Google menyatakan proses review biasanya selesai dalam beberapa hari, tetapi pada kasus tertentu dapat berlangsung sekitar dua sampai empat minggu.

Jangan mengubah seluruh struktur blog setiap hari selama proses tersebut hanya karena merasa gugup.

Pastikan situs tetap aktif dan dapat diakses.

Kemudian lanjutkan pekerjaan normal.

Menulis.

Memperbaiki artikel.

Melayani pembaca.

Apakah Harus Punya Domain .com Agar Diterima AdSense?

Tidak.

Ini salah satu mitos yang masih sering saya temui.

Blogger merupakan salah satu partner host AdSense. Google sendiri menyebut Blogger sebagai platform yang dapat digunakan untuk mendaftar AdSense melalui mekanisme partner host.

Artinya, penggunaan subdomain Blogspot tidak dengan sendirinya membuat sebuah blog otomatis tidak layak.

Custom domain tetap memiliki keuntungan.

Nama lebih mudah diingat.

Brand terasa lebih mandiri.

Alamat lebih pendek.

Kita juga mempunyai fleksibilitas jika suatu hari ingin berpindah platform.

Namun, jangan membeli domain hanya karena percaya:

“Kalau pakai .com pasti diterima.”

AdSense tidak bekerja seperti itu.

Domain bagus tidak dapat menyelamatkan konten yang buruk.

Apakah Harus Punya 50 Artikel?

Google tidak menetapkan angka tersebut dalam persyaratan resminya.

Ini perlu ditegaskan karena banyak blogger terlalu fokus pada jumlah.

Bayangkan dua blog.

Blog pertama mempunyai 50 artikel.

Masing-masing hanya 300 kata.

Isinya hampir sama.

Tidak ada pengalaman.

Tidak ada navigasi yang jelas.

Blog kedua mempunyai 20 artikel yang sangat lengkap.

Setiap artikel menjawab pertanyaan berbeda.

Navigasi rapi.

Sumber jelas.

Halaman berfungsi.

Mana yang terlihat lebih matang?

Jumlah tetap mempunyai arti karena website yang sangat kosong dapat dianggap belum mempunyai konten yang cukup. Namun, jangan mengubah jumlah artikel menjadi angka magis.

Google meminta sufficient high-quality content, bukan sekadar banyak URL.

Bagi saya, lebih baik mendaftar ketika blog sudah terasa seperti website yang benar-benar digunakan.

Bukan website yang dibangun khusus agar lolos review.

Jangan Membuat Blog untuk AdSense, Buat Blog untuk Pembaca

Ini terdengar seperti kalimat motivasi.

Namun, justru bagian ini yang paling praktis.

Kalau blog dibuat hanya untuk AdSense, keputusan kita mulai aneh.

Artikel dibuat agar jumlahnya banyak.

Judul dibuat agar CTR tinggi.

Halaman dibuat hanya supaya ada.

Gambar dipasang sekadar memenuhi template.

Kita mulai bertanya:

“Google suka apa?”

Ketika blog dibuat untuk pembaca, pertanyaannya berubah.

“Pembaca butuh apa?”

Google sendiri mengatakan bahwa konten original dan bernilai membantu membangun basis pengguna yang kuat dan loyal.

Siagian dan Cahyono (2014) juga menemukan bahwa kualitas website berhubungan dengan kepercayaan pengguna, sedangkan kepercayaan kemudian berkaitan dengan loyalitas pengguna.

Inilah bagian yang sering terlewat ketika membahas monetisasi.

Sebelum menghasilkan uang dari pengunjung, kita harus mempunyai alasan mengapa pengunjung datang.

Kalau Ditolak, Jangan Langsung Membuat Akun Baru

Penolakan pertama bukan akhir.

Justru sering menjadi audit gratis.

Google memberikan kategori masalah yang dapat membantu publisher memahami mengapa sebuah situs belum siap, seperti insufficient content, content quality, pelanggaran kebijakan, navigasi, sumber trafik, atau bahasa yang tidak didukung.

Baca alasannya.

Jangan sekadar menekan submit lagi lima menit kemudian.

Kalau masalahnya kualitas konten, perbaiki konten.

Kalau navigasi, perbaiki navigasi.

Kalau situs belum selesai, selesaikan.

Kalau ada pelanggaran, bersihkan.

Kemudian periksa ulang.

Saya lebih suka memperlakukan penolakan seperti komentar editor.

Mungkin menyebalkan.

Tetapi ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Saat Iklan Pertama Akhirnya Muncul

Ada perasaan yang cukup sulit dijelaskan ketika iklan AdSense pertama kali benar-benar muncul di blog.

Bukan karena penghasilannya langsung besar.

Biasanya tidak.

Hari pertama mungkin bahkan belum cukup untuk membeli segelas kopi.

Namun, ada rasa bahwa blog yang dahulu hanya merupakan halaman kosong sekarang mulai menjadi aset.

Artikel mulai ditemukan.

Orang mulai membaca.

Website mulai mempunyai sejarah.

Dan sekarang ada peluang monetisasi.

Tetapi persetujuan AdSense sebenarnya bukan garis akhir.

Justru setelah diterima, tanggung jawab menjadi lebih besar.

Konten harus tetap mematuhi kebijakan.

Trafik harus tetap sehat.

Privacy policy harus tetap sesuai.

Iklan tidak boleh ditempatkan dengan cara menipu pengguna.

Konten lama juga tetap perlu diperiksa.

Google Publisher Policies berlaku selama kita menggunakan produk monetisasi Google, bukan hanya pada hari ketika aplikasi diperiksa.

Jadi tujuan sebenarnya bukan hanya:

“Diterima AdSense.”

Tujuan yang lebih sehat adalah:

“Membangun blog yang tetap layak menggunakan AdSense dalam jangka panjang.”

Kesimpulan

Kalau saya harus mendaftar Google AdSense lagi dari nol, saya tidak akan mencari angka rahasia.

Saya tidak akan menunggu tepat 30 artikel.

Saya tidak akan membeli 10.000 pengunjung.

Saya juga tidak akan memperpanjang semua tulisan secara paksa menjadi 2.000 kata.

Saya akan melakukan hal yang jauh lebih sederhana.

Membangun blog sampai terasa selesai.

Mengisi dengan konten original.

Membuat navigasi yang jelas.

Memastikan halaman dapat digunakan di smartphone.

Membuat identitas dan informasi privasi yang transparan.

Menghapus konten bermasalah.

Memeriksa hak cipta.

Menggunakan trafik yang natural.

Kemudian baru mengirimkannya untuk review.

Tidak ada satu pun tips dalam artikel ini yang menjamin persetujuan.

Google tetap melakukan penilaian sendiri terhadap situs yang diajukan.

Namun, setidaknya kita tidak lagi mencoba menebak-nebak sistem.

Kita membangun sesuatu yang memang pantas memiliki pembaca.

Dan ketika sebuah blog sudah mempunyai alasan untuk dibaca, peluang monetisasi biasanya mulai terasa lebih masuk akal.

AdSense kemudian bukan lagi tujuan utama dari blog.

Ia menjadi hasil samping dari blog yang sudah dikerjakan dengan serius.

Daftar Pustaka

Baye, M. R., De los Santos, B., & Wildenbeest, M. R. (2016). Search engine optimization: What drives organic traffic to retail sites? Journal of Economics & Management Strategy, 25(1), 6–31. https://doi.org/10.1111/jems.12141

Brajnik, G., & Gabrielli, S. (2010). A review of online advertising effects on the user experience. International Journal of Human–Computer Interaction, 26(10), 971–997. https://doi.org/10.1080/10447318.2010.502100

Seckler, M., Heinz, S., Forde, S., Tuch, A. N., & Opwis, K. (2015). Trust and distrust on the web: User experiences and website characteristics. Computers in Human Behavior, 45, 39–50. https://doi.org/10.1016/j.chb.2014.11.064

Siagian, H., & Cahyono, E. (2014). Analisis website quality, trust dan loyalty pelanggan online shop. Jurnal Manajemen Pemasaran, 8(2), 55–61. https://doi.org/10.9744/pemasaran.8.2.55-61

Google AdSense Help. (2026). Eligibility requirements for AdSense. Google.

Google AdSense Help. (2026). Make sure your site's pages are ready for AdSense. Google.

Google AdSense Help. (2026). What to do when your site is not ready to show ads. Google.

Google Publisher Policies. (2026). Overview of Google Publisher Policies and Restrictions. Google.

Diskusi Artikel

Komentar
Mitra Bisnis KamiPasang Iklan
[2]
[3]
[4]

© Seribupena.com. All Rights Reserved. Designed with by Tinelo Blogger Theme

× Tunggu Sebentar!
Terima kasih sudah berkunjung! Jangan lupa bookmark blog ini dan bagikan artikel menarik ke teman-temanmu.
8
9
×
settia