Pagi di kandang tidak selalu dimulai dengan suara kambing yang ramai meminta makan.
Kadang, justru keheningan yang memberi tanda.
Seekor kambing berdiri di sudut. Kepalanya sedikit menunduk. Daun yang biasanya langsung disambar hanya dicium, lalu dibiarkan jatuh. Tidak ada luka yang terlihat. Tidak ada suara mengembik yang terdengar aneh. Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Peternak yang terbiasa datang hanya untuk menuangkan pakan mungkin akan melewatkan perubahan kecil itu. Ia baru menyadari masalah ketika kambing mulai kurus, diare, pincang, atau produksi susunya menurun.
Sebaliknya, peternak yang mengenal kebiasaan setiap ternaknya akan berhenti sejenak.
Mengapa ia tidak ikut makan?
Mengapa bulunya tampak kusam?
Mengapa ia lebih banyak diam?
Perawatan kambing Etawa yang baik sering dimulai dari pertanyaan sederhana seperti itu.
Di Indonesia, sebutan kambing Etawa juga sering digunakan untuk kambing Peranakan Etawa atau PE. Kambing ini dipelihara untuk menghasilkan susu, bibit, daging, maupun sebagai ternak kontes. Tubuhnya relatif besar. Telinganya panjang. Sebagian kambing memiliki profil wajah yang cembung dan postur yang menarik.
Penampilan tersebut membuat orang mudah terpikat. Namun, membeli kambing berkualitas hanya langkah awal. Produktivitasnya sangat bergantung pada pakan, kandang, kesehatan, reproduksi, kebersihan, serta ketelitian peternak dalam mencatat perubahan.
Berikut sepuluh tips perawatan kambing Etawa yang dapat diterapkan secara bertahap.
1. Kenali Setiap Kambing, Bukan Hanya Jumlahnya
Kesalahan pertama dalam beternak sering muncul ketika kambing hanya dilihat sebagai kelompok.
Ada sepuluh ekor di kandang. Semua sudah diberi makan. Tempat minum sudah terisi. Pintu sudah dikunci. Pekerjaan dianggap selesai.
Padahal, setiap kambing memiliki kebiasaan yang berbeda.
Ada kambing yang selalu datang paling depan saat pakan dibawa. Ada yang makan perlahan. Ada yang mudah berebut. Ada pula yang cenderung mengalah dan baru mendekati tempat pakan setelah kambing lain menjauh.
Karena itu, luangkan beberapa menit setiap pagi dan sore untuk mengamati ternak sebelum melakukan pekerjaan lain.
Periksa apakah semua kambing berdiri dengan seimbang. Lihat gerakannya saat berjalan. Amati nafsu makan, bentuk kotoran, kondisi bulu, mata, hidung, perut, ambing, dan kukunya. Dengarkan apakah ada batuk atau suara napas yang tidak biasa.
Perubahan kecil perlu dicatat. Seekor kambing yang tiba-tiba menjauh dari kelompok mungkin sedang sakit, stres, kalah bersaing, atau mendekati waktu melahirkan.
Pengamatan harian tidak membutuhkan alat mahal. Peternak hanya perlu hadir dengan perhatian penuh.
Semakin cepat perubahan ditemukan, semakin cepat pula penyebabnya dapat ditelusuri. Biaya penanganan biasanya juga lebih ringan daripada menunggu penyakit berkembang.
2. Susun Pakan Berdasarkan Kebutuhan, Bukan Kebiasaan
Satu ikat daun tidak selalu memiliki nilai gizi yang sama dengan satu ikat daun lainnya.
Daun yang masih muda berbeda dengan daun yang terlalu tua. Rumput segar berbeda dengan rumput yang lama disimpan. Hijauan pada musim hujan juga dapat memiliki kadar air lebih tinggi dibandingkan hijauan pada musim kemarau.
Kambing membutuhkan serat dari hijauan agar fungsi rumennya berjalan dengan baik. Namun, kambing yang sedang tumbuh, bunting, menyusui, atau menghasilkan susu juga membutuhkan energi, protein, mineral, dan vitamin dalam jumlah yang sesuai.
Karena itu, hindari memberikan satu jenis pakan terus-menerus hanya karena mudah ditemukan.
Gunakan kombinasi hijauan yang aman dan tersedia di daerah setempat. Pakan tambahan atau konsentrat dapat diberikan sesuai tujuan pemeliharaan. Jumlahnya perlu disesuaikan dengan bobot badan, umur, kondisi tubuh, tahap kebuntingan, dan produksi susu.
Penelitian pada kambing PE muda menunjukkan bahwa bentuk serta komposisi pakan dapat memengaruhi perilaku makan, proses mengunyah, dan pemanfaatan zat gizi. Hasil ini mengingatkan bahwa pakan tidak cukup dinilai dari banyaknya bahan yang masuk ke palung. Peternak juga perlu melihat apakah pakan tersebut benar-benar dimakan dan dimanfaatkan oleh ternak (Astuti et al., 2024).
Perubahan pakan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Pergantian mendadak dari hijauan ke konsentrat dalam jumlah tinggi dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme rumen. Kambing dapat kehilangan nafsu makan, mengalami kembung, atau menunjukkan gangguan pencernaan.
Perhatikan pula sisa pakan. Sisa yang terus menumpuk mungkin menunjukkan bahan tersebut tidak disukai, terlalu keras, berjamur, atau diberikan terlalu banyak.
Pakan terbaik bukan pakan yang paling mahal. Pakan terbaik adalah pakan yang aman, seimbang, tersedia secara konsisten, dan sesuai dengan kebutuhan kambing.
3. Pantau Kondisi Tubuh Secara Berkala
Bulu yang tebal dapat menipu mata.
Seekor kambing mungkin terlihat besar dari kejauhan, tetapi tulang punggung dan pinggulnya terasa sangat menonjol ketika disentuh. Kambing lain mungkin terlihat sehat, padahal tubuhnya mulai terlalu gemuk.
Karena itu, jangan menilai kondisi ternak hanya dari penampilan luar. Gunakan penilaian kondisi tubuh atau body condition score sebagai bagian dari pemeriksaan rutin.
Raba daerah punggung, pinggang, tulang rusuk, dan sekitar pangkal ekor. Catat apakah tubuh kambing terlalu kurus, sedang, atau terlalu gemuk. Penilaian perlu dilakukan oleh orang yang sama agar hasilnya lebih konsisten.
Kondisi tubuh yang buruk dapat berkaitan dengan kekurangan asupan, parasit, gangguan gigi, penyakit kronis, persaingan mendapatkan pakan, atau kebutuhan nutrisi yang meningkat. Kondisi tubuh yang terlalu gemuk juga tidak selalu menguntungkan karena dapat mengganggu kebugaran dan reproduksi.
Widiyono et al. (2020) menemukan bahwa kambing betina dengan kondisi tubuh rendah menunjukkan gangguan pada aktivitas ovarium. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa cadangan energi tubuh berkaitan dengan fungsi reproduksi, bukan sekadar dengan penampilan fisik.
Timbang kambing secara berkala jika timbangan tersedia. Jika tidak, lingkar dada dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memantau perubahan, walaupun hasilnya tidak seakurat penimbangan langsung.
Hal terpenting adalah konsistensi. Gunakan metode yang sama dan catat hasilnya dari waktu ke waktu.
4. Pastikan Air Minum Bersih Selalu Tersedia
Tempat air sering dianggap sebagai bagian kandang yang paling sederhana.
Diisi pagi hari, lalu baru diperiksa kembali keesokan harinya.
Padahal, air mudah tercemar oleh sisa pakan, debu, kotoran, lumut, serangga, atau pijakan kaki kambing. Air yang tampak penuh belum tentu layak diminum.
Kambing membutuhkan air untuk mempertahankan suhu tubuh, mencerna pakan, mengangkut zat gizi, membuang sisa metabolisme, dan menghasilkan susu. Kebutuhannya dapat meningkat saat cuaca panas, setelah melahirkan, selama menyusui, atau ketika banyak mengonsumsi pakan kering.
Tempat minum sebaiknya mudah dijangkau, tetapi tidak mudah diinjak. Bersihkan wadah secara rutin. Gosok bagian yang berlendir. Buang air yang berbau atau berubah warna.
Jangan menunggu kambing terlihat sangat haus.
Periksa aliran air lebih sering pada siang hari, terutama saat suhu meningkat. Jika menggunakan wadah otomatis, pastikan pelampung dan salurannya bekerja dengan baik. Kebocoran dapat membuat lantai kandang lembap, sedangkan saluran yang tersumbat dapat membuat kambing kekurangan air tanpa diketahui.
Air bersih mungkin tidak terlihat sebagai teknologi peternakan yang canggih. Namun, banyak masalah produksi berawal dari kebutuhan dasar yang tidak dipenuhi secara konsisten.
5. Buat Kandang yang Kering, Teduh, dan Memiliki Sirkulasi Udara
Kandang yang bersih tidak harus terlihat mengilap.
Hal utama adalah lantainya tidak terus-menerus basah, udara dapat bergerak, kotoran mudah dibuang, dan kambing terlindung dari panas, hujan, serta angin langsung yang berlebihan.
Pada kandang panggung, jarak antarbilah lantai perlu aman. Celah yang terlalu lebar dapat menjepit kaki. Celah yang terlalu sempit membuat kotoran sulit jatuh. Permukaan yang licin juga meningkatkan risiko kambing terpeleset.
Atap perlu cukup tinggi agar panas tidak terperangkap. Namun, kandang tetap harus melindungi ternak dari tampias hujan. Sinar matahari pagi dapat membantu menjaga area kandang lebih kering, tetapi kambing tetap membutuhkan tempat berteduh pada siang hari.
Jangan mengisi kandang melebihi kapasitasnya. Kepadatan yang terlalu tinggi membuat kambing sulit beristirahat, memperbesar persaingan pakan, dan meningkatkan kontak dengan kotoran.
Bau amonia yang tajam menjadi tanda bahwa pembuangan kotoran dan ventilasi perlu diperbaiki. Jika mata manusia terasa perih saat memasuki kandang, saluran pernapasan kambing juga menerima paparan yang sama setiap hari.
Kandang yang baik tidak dinilai hanya saat baru dibangun. Kandang dinilai dari kemudahan membersihkan dan merawatnya selama bertahun-tahun.
6. Lindungi Kambing dari Stres Panas
Menjelang tengah hari, perubahan perilaku kambing dapat terlihat jelas.
Mereka mulai mencari bagian kandang yang paling teduh. Napas menjadi lebih cepat. Aktivitas makan menurun. Sebagian kambing berdiri dengan mulut terbuka ketika panas sudah terasa berat.
Kambing memang dikenal cukup adaptif. Namun, kemampuan beradaptasi bukan berarti kambing kebal terhadap suhu tinggi dan kelembapan.
Stres panas dapat mengubah pola makan, suhu tubuh, laju pernapasan, produksi, serta fungsi reproduksi. Penelitian Adjassin et al. (2022) pada kambing perah di lingkungan tropis menunjukkan bahwa tingkat panas dan kelembapan berhubungan dengan perubahan kinerja reproduksi.
Untuk menguranginya, sediakan naungan yang cukup. Perbaiki sirkulasi udara. Pastikan air minum selalu tersedia. Pakan dalam jumlah lebih besar dapat diberikan pada pagi dan sore ketika suhu lebih rendah.
Hindari memindahkan, mengawinkan, memandikan, atau melakukan tindakan yang membuat kambing banyak bergerak pada tengah hari. Penanganan dapat dilakukan pada pagi atau sore.
Perhatikan kambing bunting, kambing yang sedang menyusui, anak kambing, dan ternak yang sakit. Kelompok ini dapat membutuhkan pengawasan lebih ketat.
Kipas dapat membantu pada kandang tertentu. Namun, kipas bukan pengganti ventilasi yang buruk. Udara panas yang hanya diputar di dalam ruang tertutup tetap membuat kandang tidak nyaman.
7. Jaga Kebersihan Ambing dan Proses Pemerahan
Sebelum diperah, kambing tampak tenang. Setelah pakan diletakkan, tangannya mulai bekerja. Susu mengalir ke dalam wadah.
Pekerjaan itu terlihat sederhana. Namun, banyak risiko tersembunyi di antara tangan, puting, wadah, kain lap, lantai, dan air pencuci.
Peternak perlu mencuci tangan sebelum memerah. Ambing dan puting diperiksa lebih dahulu. Kotoran yang menempel harus dibersihkan dengan bahan yang bersih. Puting kemudian dikeringkan sebelum pemerahan.
Jangan menggunakan satu kain kotor untuk seluruh kambing. Kain dapat menjadi media perpindahan mikroorganisme dari satu ambing ke ambing lain.
Periksa pancaran awal susu. Amati apakah terdapat gumpalan, perubahan warna, darah, atau cairan yang tidak biasa. Raba ambing untuk mengetahui adanya panas, pembengkakan, pengerasan, atau rasa sakit.
Kambing yang dicurigai mengalami mastitis perlu dipisahkan proses pemerahannya. Susunya tidak boleh langsung dicampur dengan susu dari kambing sehat. Hubungi dokter hewan untuk pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Survei Gökdai et al. (2020) pada peternakan kambing perah menemukan bahwa masalah ambing dan mastitis menjadi salah satu gangguan yang sering dilaporkan. Penelitian tersebut menekankan hubungan antara pelatihan peternak, kebersihan pemerahan, pencatatan penyakit, dan keberlanjutan usaha.
Setelah diperah, susu harus segera disaring dengan alat bersih dan didinginkan jika tidak langsung dikonsumsi atau diolah. Kebersihan kandang saja tidak cukup jika ember, saringan, botol, dan tangan pemerah masih tercemar.
8. Periksa dan Rapikan Kuku Sebelum Menjadi Masalah
Kuku kambing tumbuh terus.
Di lingkungan berbatu, sebagian kuku dapat terkikis secara alami. Pada kandang intensif dengan lantai kayu atau permukaan yang lunak, pertumbuhan kuku sering lebih cepat daripada pengikisannya.
Awalnya, kuku hanya terlihat sedikit panjang. Beberapa minggu kemudian, ujungnya mulai melengkung. Telapak berubah bentuk. Kambing berdiri dengan posisi kaki yang tidak seimbang.
Jika dibiarkan, kambing dapat berjalan pincang, malas mendekati pakan, dan lebih sering berbaring.
Periksa kuku secara berkala. Jangan menunggu sampai bentuknya sangat panjang. Frekuensi pemotongan tidak harus sama untuk semua kambing karena laju pertumbuhan kuku dipengaruhi umur, permukaan lantai, aktivitas, kelembapan, dan bentuk kuku.
Penelitian Deeming et al. (2024) menemukan bahwa pemotongan kuku mengurangi proporsi kuku yang terlalu panjang dan memperbaiki beberapa masalah bentuk kuku. Namun, pemotongan yang terlambat tidak selalu dapat langsung mengembalikan semua bagian ke posisi anatomis yang baik.
Gunakan alat yang tajam dan bersih. Potong sedikit demi sedikit. Jangan memotong terlalu dalam karena dapat mengenai jaringan hidup dan menyebabkan perdarahan.
Peternak yang belum terbiasa sebaiknya belajar langsung dari dokter hewan, paramedik veteriner, atau peternak berpengalaman. Video dapat memberi gambaran, tetapi latihan dengan pendamping tetap lebih aman.
9. Kendalikan Parasit Berdasarkan Pemeriksaan
Kambing yang kurus tidak selalu kekurangan pakan.
Kadang palungnya penuh. Ia terlihat makan. Namun, berat badannya terus turun. Bulu menjadi kasar. Kelopak mata bagian dalam tampak pucat. Rahang bawah membengkak. Kotoran dapat tetap normal atau berubah menjadi encer.
Parasit saluran pencernaan perlu dicurigai.
Masalahnya, sebagian peternak memberikan obat cacing dengan pola yang sama kepada seluruh kambing, pada tanggal yang sama, menggunakan obat yang sama berulang kali. Cara tersebut terlihat praktis, tetapi dapat mendorong munculnya resistansi obat.
Pemeriksaan telur cacing dalam feses dapat membantu menilai tingkat infeksi dan menentukan strategi pengobatan. Skor FAMACHA juga dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menilai warna selaput mata, terutama pada infeksi cacing pengisap darah. Namun, penggunaannya membutuhkan pelatihan.
Ndlela et al. (2023) menemukan hubungan antara jumlah telur cacing, skor
FAMACHA, kondisi tubuh, dan nilai hematologi pada kambing. Tingkat infeksi
juga berubah menurut kelas umur dan musim. Temuan ini menunjukkan bahwa
pengendalian parasit lebih baik dilakukan melalui pemantauan daripada sekadar
pemberian obat secara rutin tanpa pemeriksaan.
Jaga kebersihan tempat
pakan dan minum. Hindari meletakkan hijauan langsung di lantai yang tercemar
kotoran. Kelola kepadatan kandang. Pisahkan kambing yang sangat lemah dan
mintalah saran dokter hewan mengenai obat, dosis, serta waktu pemberiannya.
Jangan menggunakan obat cacing hanya berdasarkan perkiraan berat badan. Dosis yang terlalu rendah dapat gagal mengatasi infeksi dan mempercepat resistansi.
10. Catat Semua Hal yang Sering Terlupakan
Ingatan peternak biasanya terasa kuat sampai jumlah kambing bertambah.
Kambing mana yang dikawinkan bulan lalu?
Induk mana yang pernah mengalami kesulitan melahirkan?
Kapan obat cacing terakhir diberikan?
Berapa produksi susu induk sebelum menurun?
Pertanyaan itu sulit dijawab jika seluruh informasi hanya disimpan dalam kepala.
Buat catatan sederhana untuk setiap kambing. Gunakan nomor telinga, nama, atau identitas lain yang tidak mudah tertukar. Catat tanggal lahir, asal induk dan pejantan, bobot badan, perkawinan, kebuntingan, kelahiran, jumlah anak, produksi susu, vaksinasi, pengobatan, penyakit, serta kematian.
Catatan membantu peternak menemukan pola.
Jika produksi susu turun setiap kali pakan tertentu digunakan, catatan akan menunjukkannya. Jika seekor induk selalu mengalami gangguan setelah melahirkan, riwayatnya dapat diperiksa. Jika anak dari pejantan tertentu tumbuh lebih baik, informasi tersebut dapat digunakan dalam seleksi bibit.
Catatan juga membantu dokter hewan. Diagnosis menjadi lebih terarah ketika riwayat gejala, obat, dosis, dan perubahan kondisi tersedia.
Tidak perlu menunggu memiliki aplikasi peternakan. Buku tulis yang dijaga dengan baik sudah cukup untuk memulai.
Namun, catatan harus diisi saat kejadian berlangsung. Catatan yang baru dibuat beberapa bulan kemudian biasanya sudah bercampur dengan perkiraan.
Perawatan Terbaik Dibangun dari Rutinitas Kecil
Sore hari, kambing yang sempat berdiri di sudut tadi mulai mendekati tempat pakan.
Peternak belum merasa tenang sepenuhnya. Ia mencatat bahwa nafsu makannya sempat turun. Suhu tubuh diperiksa. Kotorannya diamati. Kambing itu dipisahkan sementara agar mudah dipantau.
Belum tentu ia mengalami penyakit berat. Namun, peternak memilih untuk tidak menunggu.
Di situlah kualitas perawatan terlihat.
Bukan saat kandang sedang dikunjungi orang. Bukan saat kambing akan dijual. Bukan pula ketika foto ternak akan diunggah ke media sosial.
Perawatan terlihat pada air yang diganti meski masih tersisa. Pada kuku yang diperiksa sebelum kambing pincang. Pada wadah susu yang dicuci meski tampak bersih. Pada catatan yang tetap diisi setelah hari terasa panjang.
Kambing Etawa yang sehat tidak lahir dari satu tindakan besar. Kondisinya dibentuk oleh keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.
Pakan yang seimbang.
Kandang yang kering.
Udara yang bergerak.
Air yang bersih.
Ambing yang diperiksa.
Parasit yang dikendalikan berdasarkan pemeriksaan.
Kondisi tubuh yang dipantau.
Catatan yang tidak dibiarkan kosong.
Peternakan yang baik bukan peternakan yang tidak pernah menghadapi penyakit. Penyakit tetap dapat muncul. Cuaca dapat berubah. Harga pakan dapat meningkat. Persalinan dapat berjalan tidak sesuai harapan.
Peternakan yang baik adalah peternakan yang mampu menemukan masalah lebih awal, mengambil keputusan berdasarkan data, dan meminta bantuan profesional ketika keadaan berada di luar kemampuan peternak.
Pada akhirnya, merawat kambing Etawa bukan sekadar menjaga ternak tetap hidup.
Perawatan bertujuan memberi kesempatan kepada kambing untuk makan dengan nyaman, bergerak tanpa rasa sakit, beristirahat dengan tenang, berkembang biak secara sehat, serta menghasilkan susu atau anak sesuai potensi biologisnya.
Daftar Pustaka
Adjassin, J. S., Assani, A. S., Bani, A. A., Sanni Worogo, H. S., Adégbeïga Alabi, C. D., Comlan Assogba, B. G., Azando, E. V., & Alkoiret, I. T. (2022). Impact of heat stress on reproductive performances in dairy goats under tropical sub-humid environment. Heliyon, 8(2), e08971. DOI: 10.1016/j.heliyon.2022.e08971.
Astuti, D. A., Permana, A. T., Stevani, R., & Ramadhania, T. (2024). Performance, feeding behavior, and nutrient utilization of different goat breeds fed creep feed. Journal of Veterinary Physiology and Pathology, 3(3), 24–29. DOI: 10.58803/jvpp.v3i3.43.
Deeming, L. E., Beausoleil, N. J., Stafford, K. J., Webster, J. R., Cox, N., & Zobel, G. (2024). Evaluating the immediate effects of hoof trimming on dairy goat hoof conformation and joint positions. Veterinary Research Communications, 48(2), 1073–1082. DOI: 10.1007/s11259-023-10273-0.
Gökdai, A., Sakarya, E., Contiero, B., & Gottardo, F. (2020). Milking characteristics, hygiene and management practices in Saanen goat farms: A case of Canakkale province, Turkey. Italian Journal of Animal Science, 19(1), 213–221. DOI: 10.1080/1828051X.2020.1718006.
Ndlela, S. Z., Mkwanazi, M. V., & Chimonyo, M. (2023). Relationship between faecal egg count and health status in Nguni goats reared on semi-arid rangelands. Tropical Animal Health and Production, 55(2), 138. DOI: 10.1007/s11250-023-03483-w.
Widiyono, I., Sarmin, S., & Yanuartono, Y. (2020). Influence of body condition score on the metabolic and reproductive status of adult female Kacang goats. Journal of Applied Animal Research, 48(1), 201–206. DOI: 10.1080/09712119.2020.1764361.

