Seribupena.com

Kanal Informasi Pendidikan, Kesehatan, Teknologi dan Bisnis

Terbaru
  • Memuat berita terbaru...
[Iklan Khusus Postingan]

10 Manfaat Susu Kambing Etawa bagi Usia Lansia

10 Manfaat Susu Kambing Etawa bagi Usia Lansia

Pagi itu, segelas susu masih utuh di atas meja.

Uapnya sudah lama hilang. Nenek hanya memandangnya sambil sesekali mengaduk permukaan susu dengan sendok kecil. Ketika ditanya mengapa belum diminum, jawabannya sederhana.

“Belum ingin makan apa-apa.”

Kalimat seperti itu sering terdengar biasa. Namun, bagi keluarga yang merawat orang lanjut usia, berkurangnya selera makan bukan perkara kecil. Satu kali melewatkan sarapan mungkin tidak langsung menimbulkan masalah. Jika terjadi berulang, tubuh dapat kehilangan energi, protein, dan zat gizi yang dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas harian.

Usia mengubah banyak hal. Kemampuan mengunyah bisa menurun. Pencernaan terasa lebih sensitif. Porsi makan menjadi lebih kecil. Makanan yang dahulu terasa nikmat kadang tidak lagi menarik. Tubuh juga tidak selalu memberi sinyal lapar sekuat saat masih muda.

Dalam keadaan seperti ini, makanan berbentuk cair dapat membantu melengkapi asupan harian. Salah satu pilihan yang mulai banyak digunakan keluarga di Indonesia adalah susu kambing Peranakan Etawa.

Susu kambing Etawa tidak memiliki kemampuan ajaib untuk menyembuhkan semua penyakit. Klaim semacam itu justru perlu dihindari. Namun, susu ini mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral yang dapat menjadi bagian dari pola makan lansia.

Komposisinya tidak selalu sama. Jenis pakan, fase laktasi, lingkungan peternakan, proses pemanasan, penyimpanan, dan formulasi produk dapat memengaruhi kadar zat gizinya. Penelitian terhadap susu kambing juga menunjukkan bahwa komposisi lemak dan protein dapat berbeda menurut lokasi produksi serta tahap laktasi. Karena itu, manfaatnya perlu dilihat dari produk yang benar-benar dikonsumsi, bukan hanya dari tulisan besar pada kemasan.

Lalu, apa saja manfaat susu kambing Etawa bagi lansia?

1. Membantu Memenuhi Energi Saat Selera Makan Menurun

Ada hari-hari ketika sepiring nasi terasa terlalu banyak bagi lansia. Baru beberapa suap, perut sudah terasa penuh. Namun, tubuh tetap membutuhkan energi untuk berjalan, mandi, berpakaian, berbicara, berpikir, dan mempertahankan suhu tubuh.

Susu kambing mengandung karbohidrat, protein, dan lemak. Kombinasi tersebut menjadikannya minuman yang memiliki energi sekaligus zat gizi. Bagi lansia yang sulit menghabiskan makanan padat, segelas susu dapat menjadi pelengkap di antara waktu makan.

Kata kuncinya adalah pelengkap.

Susu tidak seharusnya menggantikan seluruh menu utama. Lansia tetap membutuhkan sayuran, buah, sumber serat, lauk berprotein, serta makanan pokok dalam jumlah yang sesuai. Namun, ketika porsi makan mulai menyusut, minuman bernutrisi dapat membantu mengisi sebagian kekosongan tersebut.

Susu juga relatif mudah disajikan. Keluarga tidak perlu menyiapkan hidangan rumit. Susu dapat diberikan dalam keadaan hangat, dicampurkan ke bubur, atau digunakan sebagai bahan puding tanpa tambahan gula berlebihan.

Hal sederhana seperti ini sering lebih berguna daripada menu yang sangat lengkap tetapi tidak disentuh.

2. Menyumbang Protein untuk Mempertahankan Massa Otot

Salah satu perubahan yang perlu diperhatikan pada usia lanjut adalah berkurangnya massa dan kekuatan otot. Keadaan ini dapat membuat lansia lebih cepat lelah, sulit berdiri dari kursi, berjalan lebih lambat, atau kehilangan keseimbangan.

Protein membantu tubuh memelihara jaringan otot. Susu dan produk olahan susu termasuk sumber protein berkualitas karena menyediakan asam amino yang dibutuhkan tubuh.

Kajian Hanach dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa protein dari produk susu dapat mendukung massa dan fungsi otot pada kelompok usia menengah hingga lanjut. Namun, hasilnya dipengaruhi oleh jumlah protein, kondisi kesehatan, pola makan, dan aktivitas fisik masing-masing orang.

Artinya, meminum susu kambing Etawa saja tidak otomatis membuat otot menjadi kuat. Lansia tetap perlu bergerak sesuai kemampuan. Berjalan kaki, latihan berdiri dari kursi, latihan keseimbangan, atau latihan beban ringan dapat membantu tubuh menggunakan protein secara lebih efektif.

Granic dan rekan-rekannya juga mengingatkan bahwa bukti mengenai suplementasi susu dan kesehatan otot pada lansia belum selalu konsisten. Susu lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari strategi yang lebih lengkap, yaitu asupan protein yang cukup, aktivitas fisik, tidur, dan penanganan penyakit yang mendasari.

3. Mendukung Pemeliharaan Tulang

Ketika membicarakan lansia, tulang tidak dapat dipisahkan dari pembahasan tentang jatuh dan patah tulang.

Tulang tidak hanya membutuhkan kalsium. Tubuh juga memerlukan protein, fosfor, vitamin D, aktivitas fisik, dan paparan sinar matahari yang aman. Susu kambing dapat menyumbang protein serta beberapa mineral yang terlibat dalam pemeliharaan tulang.

Penelitian perbandingan nutrisi menunjukkan bahwa susu kambing mengandung berbagai mineral, termasuk kalsium, fosfor, magnesium, dan kalium. Jumlahnya dapat berbeda menurut peternakan, musim, pakan, dan pengolahan produk. Susu kambing juga tidak selalu mengandung kalsium lebih tinggi daripada susu sapi. Karena itu, label nilai gizi tetap perlu diperiksa.

Sebuah uji terkontrol pada penghuni fasilitas lansia menemukan bahwa peningkatan konsumsi makanan berbasis susu yang kaya protein dan kalsium berkaitan dengan penurunan kejadian jatuh dan patah tulang. Penelitian tersebut menggunakan beragam produk susu dan tidak secara khusus menguji susu kambing Etawa. Meski demikian, hasilnya memberi gambaran bahwa protein dan kalsium dari makanan dapat menjadi bagian dari pemeliharaan tulang pada lansia.

Tentu, satu gelas susu tidak dapat menggantikan pemeriksaan kepadatan tulang, terapi osteoporosis, atau obat yang telah diberikan dokter.

4. Mungkin Terasa Lebih Nyaman Dicerna oleh Sebagian Orang

Salah satu alasan orang memilih susu kambing adalah anggapan bahwa susu ini terasa lebih ringan di perut.

Susu kambing memiliki karakteristik lemak dan protein yang tidak sepenuhnya sama dengan susu sapi. Sejumlah kajian menjelaskan bahwa ukuran globula lemaknya cenderung lebih kecil dan kandungan asam lemak rantai pendek serta menengahnya relatif menonjol. Karakteristik ini berpotensi memengaruhi proses pencernaan.

Namun, kata “berpotensi” perlu dipertahankan.

Respons pencernaan setiap lansia berbeda. Ada yang merasa lebih nyaman setelah beralih ke susu kambing. Ada pula yang tetap mengalami kembung, mual, banyak gas, atau diare.

Susu kambing tetap mengandung laktosa. Kandungannya mungkin sedikit berbeda dari susu sapi, tetapi perbedaan tersebut tidak membuat susu kambing menjadi bebas laktosa. Penelitian profil nutrisi bahkan menunjukkan bahwa kedua jenis susu tetap memiliki komposisi yang cukup berdekatan pada beberapa komponen dasarnya.

Bagi lansia dengan intoleransi laktosa, susu kambing biasa masih dapat memicu keluhan. Mulailah dengan porsi kecil dan amati respons tubuh. Hentikan konsumsi ketika muncul diare berulang, nyeri perut, atau keluhan lain yang mengganggu.

5. Memberikan Zat Gizi dalam Porsi yang Relatif Praktis

Pada usia lanjut, masalahnya tidak selalu terletak pada ketersediaan makanan. Kadang makanan tersedia, tetapi kemampuan untuk menghabiskannya menurun.

Satu mangkuk nasi, sayur, dan lauk mungkin tampak biasa bagi anggota keluarga lain. Bagi lansia yang mudah kenyang, porsi tersebut bisa terasa sangat besar.

Susu menawarkan bentuk yang lebih ringkas. Dalam satu minuman, lansia dapat memperoleh cairan, energi, protein, lemak, serta beberapa vitamin dan mineral. Hal ini membuat susu cukup praktis sebagai makanan selingan.

Susu dapat diminum setelah aktivitas pagi, menjelang tidur, atau di antara dua waktu makan utama. Waktu pemberiannya perlu diatur agar tidak membuat lansia terlalu kenyang sebelum makan.

Perhatikan pula bentuk produknya. Tidak semua minuman berlabel susu kambing memiliki komposisi yang sama. Beberapa produk bubuk mengandung gula, krimer, perisa, atau bahan pengisi dalam jumlah cukup besar. Susu kambing mungkin hanya menjadi salah satu dari beberapa bahan.

Balik kemasan dan baca daftar komposisinya. Bahan yang tercantum paling awal biasanya digunakan dalam jumlah lebih besar. Periksa juga jumlah protein, gula, lemak, natrium, dan ukuran sajinya.

Nama produk yang meyakinkan tidak selalu mencerminkan isi yang lebih baik.

6. Menyumbang Mineral yang Dibutuhkan Otot dan Saraf

Tubuh menggunakan mineral untuk banyak pekerjaan kecil yang sering tidak kita sadari. Kalium, magnesium, fosfor, dan kalsium terlibat dalam kontraksi otot, penghantaran sinyal saraf, metabolisme energi, serta keseimbangan cairan.

Susu kambing dapat menjadi salah satu sumber mineral tersebut. Penelitian terhadap susu kambing yang dijual di pasaran menemukan adanya sejumlah mineral, termasuk magnesium, fosfor, kalium, tembaga, dan iodin. Kadarnya dipengaruhi oleh musim dan sistem pemeliharaan ternak.

Bagi lansia sehat, variasi sumber mineral dari makanan dapat membantu membangun pola makan yang lebih beragam. Namun, keadaan berubah jika lansia mengalami penyakit ginjal kronis.

Ginjal yang menurun fungsinya mungkin tidak dapat mengatur kalium dan fosfor dengan baik. Dalam kondisi tersebut, makanan yang tampak sehat bagi orang lain belum tentu sesuai. Jumlah cairan dan protein juga mungkin perlu disesuaikan.

Karena itu, lansia dengan penyakit ginjal, gagal jantung, pembengkakan, atau gangguan elektrolit sebaiknya tidak menjadikan susu kambing sebagai minuman rutin tanpa arahan dokter atau ahli gizi klinis.

Manfaat makanan selalu bergantung pada siapa yang mengonsumsinya.

7. Menambah Variasi Sumber Vitamin dan Lemak Pangan

Menu lansia sering menjadi monoton. Bubur yang sama. Lauk yang sama. Minuman yang sama.

Pengulangan seperti ini dapat menurunkan minat makan. Susu kambing Etawa dapat memberi pilihan rasa dan tekstur yang berbeda. Di sisi lain, susu ini juga membawa beberapa vitamin dan profil asam lemak yang khas.

Kajian mengenai protein susu kambing menunjukkan bahwa susu tersebut mengandung protein fungsional dan peptida yang sedang diteliti karena aktivitas biologisnya. Sebagian temuan berasal dari pengujian laboratorium atau model hewan. Bukti tersebut menarik, tetapi belum cukup untuk menyatakan bahwa susu kambing dapat mengobati peradangan, kanker, atau penyakit kronis tertentu pada manusia.

Sikap yang paling aman adalah mengambil manfaat dasarnya sebagai pangan bergizi.

Jangan membeli susu kambing karena dijanjikan mampu menyembuhkan semua keluhan. Pilih karena produknya aman, rasanya dapat diterima, kandungan gizinya sesuai, dan dapat melengkapi menu harian.

Klaim yang terlalu besar sering membuat manfaat yang nyata justru terlihat kabur.

8. Produk Fermentasinya Dapat Menambah Pilihan bagi Pencernaan

Tidak semua susu kambing harus dikonsumsi sebagai susu cair biasa. Susu dapat diolah menjadi yoghurt, kefir, atau produk fermentasi lainnya.

Fermentasi mengubah sebagian komponen susu, termasuk laktosa dan protein. Produk fermentasi tertentu juga mengandung mikroorganisme hidup, bergantung pada jenis kultur, proses produksi, penyimpanan, dan kondisi produk saat dikonsumsi.

Sebuah penelitian laboratorium menggunakan metode pencernaan terstandar menemukan bahwa susu kambing dan kefir kambing mengalami pemecahan protein selama proses simulasi pencernaan. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi aktivitas biologis pada peptida hasil pencernaan. Karena dilakukan secara in vitro, hasilnya belum dapat langsung dianggap sebagai manfaat klinis pada lansia.

Meski begitu, yoghurt atau kefir kambing dapat menjadi alternatif bagi lansia yang kurang menyukai susu cair. Teksturnya juga dapat dipadukan dengan buah lunak atau oatmeal.

Pilih produk tanpa gula tambahan berlebihan. Periksa tanggal kedaluwarsa dan cara penyimpanannya. Produk fermentasi tetap dapat rusak jika rantai dinginnya tidak terjaga.

9. Mudah Dipadukan dengan Menu Bertekstur Lembut

Banyak lansia menghadapi masalah gigi, gusi, mulut kering, atau kesulitan menelan. Kondisi tersebut membuat makanan keras sulit dinikmati.

Susu kambing dapat digunakan untuk memperkaya menu bertekstur lembut. Misalnya, dicampurkan ke dalam bubur oat, kentang lumat, sup krim, puding, smoothie tanpa gula tambahan, atau telur kukus.

Cara ini dapat membantu menambah energi dan protein tanpa memperbesar volume makanan secara drastis.

Namun, keluarga perlu berhati-hati jika lansia sering batuk saat makan, tersedak, suaranya menjadi basah setelah minum, atau mengalami infeksi paru berulang. Gejala tersebut dapat mengarah pada gangguan menelan.

Dalam keadaan itu, minuman yang encer tidak selalu lebih aman. Beberapa pasien justru membutuhkan cairan dengan kekentalan tertentu berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.

Jangan memaksa lansia menghabiskan susu ketika ia tampak kesulitan menelan. Hentikan pemberian dan minta evaluasi dokter, ahli gizi, atau terapis wicara yang menangani gangguan menelan.

Makanan yang bergizi tetap harus diberikan dengan cara yang aman.

10. Membantu Membangun Rutinitas Asupan yang Konsisten

Manfaat terakhir tidak hanya datang dari kandungan susu. Manfaatnya juga dapat muncul dari kebiasaan yang terbentuk.

Segelas susu hangat pada waktu yang sama setiap hari dapat menjadi penanda. Pagi dimulai setelah minum. Obat diminum setelah sarapan. Sore diisi dengan duduk bersama keluarga. Malam ditutup dengan minuman hangat sebelum beristirahat.

Rutinitas membuat asupan lebih mudah dipantau. Keluarga dapat mengetahui apakah susu benar-benar diminum, apakah muncul keluhan pencernaan, dan apakah lansia masih mampu menghabiskan porsinya.

Momen minum susu juga dapat membuka percakapan.

“Tidurnya bagaimana?”

“Hari ini lutut masih sakit?”

“Besok ingin sarapan apa?”

Pertanyaan sederhana sering memberi informasi yang tidak muncul dalam pemeriksaan singkat. Lansia mungkin tidak langsung mengeluhkan rasa mual, sulit menelan, sembelit, atau kehilangan selera makan. Namun, perubahan kebiasaan di meja makan dapat menjadi tanda awal.

Pada akhirnya, segelas susu tidak hanya berbicara tentang protein dan kalsium. Ia juga dapat menjadi bagian dari perhatian yang dilakukan secara teratur.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memberikan Susu Kambing Etawa

Susu kambing Etawa dapat melengkapi pola makan lansia, tetapi tidak cocok untuk semua orang.

Pertama, pilih produk yang sudah dipasteurisasi. Lansia berusia 65 tahun ke atas menghadapi risiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius akibat penyakit yang ditularkan melalui makanan. Susu mentah dapat membawa bakteri seperti Salmonella, Listeria, Campylobacter, dan E. coli. Pasteurisasi mengurangi risiko tersebut tanpa menghilangkan manfaat gizi dasar susu.

Kedua, jangan menganggap susu kambing aman untuk orang yang alergi terhadap protein susu sapi. Protein susu dari hewan ruminansia memiliki kemiripan yang dapat memicu reaksi silang. Kajian alergi terbaru menegaskan bahwa susu kambing tidak direkomendasikan sebagai pengganti otomatis bagi orang dengan alergi protein susu sapi.

Ketiga, perhatikan kandungan gula. Produk yang sangat manis perlu dibatasi, terutama pada lansia dengan diabetes, obesitas, trigliserida tinggi, atau masalah gigi.

Keempat, sesuaikan dengan penyakit yang dimiliki. Lansia dengan gangguan ginjal, gagal jantung, penyakit hati, alergi susu, intoleransi laktosa, atau pembatasan cairan membutuhkan pertimbangan khusus.

Kelima, jangan mengganti obat dengan susu. Susu kambing bukan terapi utama untuk osteoporosis, anemia, hipertensi, diabetes, penyakit paru, gangguan lambung, atau kanker.

Segelas Susu dan Sebuah Cara Merawat

Kembali ke meja makan pagi itu, susu yang mulai dingin akhirnya dipanaskan kembali. Bukan satu gelas penuh. Hanya setengah gelas, disajikan bersama sepotong pisang yang sudah dilumatkan.

Nenek meminumnya perlahan.

Tidak ada perubahan besar dalam satu pagi. Ia tidak tiba-tiba menjadi lebih kuat. Lututnya tetap terasa kaku. Langkahnya masih pendek.

Namun, setengah gelas itu habis.

Merawat lansia memang sering berjalan melalui pencapaian kecil. Satu porsi yang berhasil dihabiskan. Satu hari tanpa keluhan kembung. Satu minggu dengan berat badan yang stabil. Satu kebiasaan baik yang terus dilakukan.

Susu kambing Etawa dapat menjadi bagian dari proses tersebut. Ia dapat menyumbang energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Ia juga dapat menjadi pilihan ketika makanan padat terasa berat.

Tetapi manfaat terbaiknya muncul saat keluarga menggunakannya secara masuk akal. Pilih produk yang aman. Baca komposisinya. Sesuaikan porsinya. Perhatikan respons tubuh. Padukan dengan makanan seimbang dan aktivitas fisik.

Pada usia lanjut, tujuan makan bukan mengejar satu bahan yang dianggap paling hebat.

Tujuannya adalah membantu tubuh menerima cukup zat gizi, dengan cara yang aman, nyaman, dan masih dapat dinikmati.

Referensi Jurnal

ALKaisy, Q. H., Al-Saadi, J. S., AL-Rikabi, A. K. J., Altemimi, A. B., Hesarinejad, M. A., & Abedelmaksoud, T. G. (2023). Exploring the health benefits and functional properties of goat milk proteins. Food Science & Nutrition, 11(10), 5641–5656. DOI: 10.1002/fsn3.3531.

Akshit, F. N. U., Mao, T., Kaushik, R., Poswal, V., & Deshwal, G. K. (2024). Global comprehensive review and meta-analysis of goat milk composition by location, publication year and lactation stage. Journal of Food Composition and Analysis, 127, 105973. DOI: 10.1016/j.jfca.2024.105973.

El, S. N., Karakaya, S., Simsek, S., Dupont, D., Menfaatli, E., & Eker, A. T. (2015). In vitro digestibility of goat milk and kefir with a new standardised static digestion method and bioactivities of the resultant peptides. Food & Function, 6, 2322–2330. DOI: 10.1039/C5FO00357A.

Granic, A., Hurst, C., Dismore, L., Aspray, T., Stevenson, E., Witham, M., Sayer, A. A., & Robinson, S. (2020). Milk for skeletal muscle health and sarcopenia in older adults. Clinical Interventions in Aging, 15, 695–714. DOI: 10.2147/CIA.S245595.

Hanach, N. I., McCullough, F., & Avery, A. (2019). The impact of dairy protein intake on muscle mass, muscle strength, and physical performance in middle-aged to older adults with or without existing sarcopenia. Advances in Nutrition, 10(1), 59–69. DOI: 10.1093/advances/nmy065.

Iuliano, S., Poon, S., Robbins, J., Bui, M., Wang, X., De Groot, L., Van Loan, M., Zadeh, A. G., Nguyen, T., Seeman, E., & others. (2021). Effect of dietary sources of calcium and protein on hip fractures and falls in older adults in residential care. BMJ, 375, n2364. DOI: 10.1136/bmj.n2364.

Nayik, G. A., Jagdale, Y. D., Gaikwad, S. A., Devkatte, A. N., Dar, A. H., Ansari, M. J., & others. (2022). Nutritional profile, processing and potential products: A comparative review of goat milk. Dairy, 3(3), 622–647. DOI: 10.3390/dairy3030044.

Stergiadis, S., Nørskov, N. P., Purup, S., Givens, I., & Lee, M. R. F. (2019). Comparative nutrient profiling of retail goat and cow milk. Nutrients, 11(10), 2282. DOI: 10.3390/nu11102282.

Diskusi Artikel

Komentar
Mitra Bisnis KamiPasang Iklan
[2]
[3]
[4]

© Seribupena.com. All Rights Reserved. Designed with by Tinelo Blogger Theme

× Tunggu Sebentar!
Terima kasih sudah berkunjung! Jangan lupa bookmark blog ini dan bagikan artikel menarik ke teman-temanmu.
8
9
×
settia