Bolihutuo dan Sekeping Kenangan Tentang Kebersamaan dan Persaudaraan

Bolihutuo
Siang itu suasana tampak kaku. Dua kubu mahasiswa yang saling silang pendapat mengadu. 

"Masalahnya, senior so ambil kegiatan pak. Pertemuan saja mereka sudah bikin sendiri. Kami semester 3 seolah jadi dayang-dayang saja!" curhat salah satu mahasiswa. 

Wajah mahasiswa itu tampak menyimpan emosi yang meluap-luap. Nafasnya kian tak teratur. Ada aura wajah tak enak dipandang.  Itu semua tergambar sempurna di ujung matanya. 

Saya yang tak nyaman dengan itu, ikut tersulut emosi. Bagaimana mungkin mahasiswa yang selama ini di bawah doktrin solidaritas saya, tampak terpecah belah.

Saya menghela nafas panjang. Ada ruang merenung di tengah ketidaknyamanan itu.

"Kalau hanya karena kegiatan begini membuat kalian terpecah belah, lebih baik bubar kegiatan ini!" Suara saya meninggi, memenuhi ruangan.

Dalam perseteruan mereka, semester 3 ingin mengambil alih kegiatan secara totalitas. Tak ingin ada lagi intervensi dari senior. Semester 5 dianggap tidak percaya atas kemampuan adik-adiknya. 

"Kami hanya ingin membantu pak. Tidak ada maksud mengambil alih kegiatan. Kami hanya ingin kegiatan ini bisa sukses. Itu saja. Ini kan acara bersama." Terang Nevita, salah satu perwakilan senior. 

"Bahkan kami mengundang mereka untuk rapat dengan adek-adek." Tambah Nevita. 

"Cukup. Saya minta semua berdamai. Silakan semester 3 jalankan rencana kegiatan dan biarkan semester 5 menjadi lingkaran luar yang akan melengkapi pelaksanaan." 

Solusi itu tidak lantas membawa kesepakatan. Besoknya saya tidak mengindahkan rencana kegiatan mereka lagi. Saya tidak hadir dalam rapat persiapan. Saya bahkan tidak mengajak mereka bicara. 

Kekecewaan saya memuncak saat hari kedua dari pertemuan, dua kubu mahasiswa itu belum juga berdamai. Bahkan jadwal acara sampai H-2 belum juga tergambarkan secara rinci. 

"Mana jadwal kegiatan Nindi." Tagih saya menekan. 

"Ada pak. Sudah siap." Ini surat bapak sebagai pemateri. 

Ada harapan yang terpancar di sana. Nindi meyakinkan bahwa semua berjalan baik-baik saja. 

"Kami sudah rapat dengan semester 5 juga pak. Sudah rapat angkatan. Semua sudah siap. Tempat lokasi sudah dibayar. Perlengkapan sudah." Nindi penuh energi saat meyakinkan. 

Saya kembali menghela nafas. Saya melihat ada secercah harapan untuk menyatukan mereka kembali. 

Secara pribadi, Nindi adalah anak yang manja awalnya. Boleh dikata anak yang terbiasa dengan fasilitas orang tuanya. Tetapi Nindi yang muncul di hadapan saya malam itu adalah anak didik yang berbeda. 

Nindi telah berproses menjadi anak yang mandiri. Mau menyibukkan diri dengan urusan yang bahkan tidak ada imbalan finansial. Itu bagi saya adalah proses yang mahal dalam pembentukan karakternya. Dia tampil terdepan memimpin organisasi kecil di satuan program studi. Berlelah-lelah menampung luapan emosi di setiap angkatan. Begitu pula dengan sosok Dwi, panitia yang begitu sabar dan tetap tenang meski masalah datang menerpa kepanitiaan. 

"Sudah pak. Saya sudah nasehati teman-teman untuk menurunkan egonya. Sekarang sudah berjalan baik." Tutur Nindi pelan. Suaranya lemah karena beberapa hari terakhir energinya terkuras untuk urusan kuliah dan organisasi. 

Pada momentum yang lain, sekitar setengah 10 malam saya selesai mengisi perkuliahan. Mahasiswa senior PGSD terlihat kelimpungan dengan rencananya. Wajah mereka tampak membawa beban begitu berat. Mata mereka memberi isyarat rasa capek yang luar biasa. 

Saat saya menghidupkan motor, satu di antara mereka menyapa. Saya akhirnya mendekat dan menanyakan kesiapan kegiatan. 

"Pak ada masalah pak. Dinas Pariwisata minta biaya  mahal pak. Itu juga membuat teman organisasi ekstra kampus bereaksi. Memprotes kebijakan mereka. So terjadi salah paham pak. Dinas Pariwisata mengira kita melapor ke LSM sampai kadis merasa tidak nyaman. Baru bagaimana pak?" 

Sesaat saya berpikir. "Begini. kalian datang audiensi dengan kadis pariwisata. Sampaikan kemampuan dana kalian.  Minta kadis-nya membantu kegiatan kita. Bisa dapat gratis kalau komunikasinya bagus." Tegas saya meyakinkan. 

Kira-kira besoknya Nevita dan kawannya menemui kadis. Kesepakatan pun terjadi dengan hasil potongan harga yang terjangkau. Fasilitas tempat, listrik, kamar mandi bebas dipakai dengan dana seadanya. 

Saya turut senang mendengar kabar itu. Namun, lebih bangga lagi, anak-anak didik kami, para mahasiswa bertumbuh dan berproses memecahkan segala masalah mereka. Itu jauh lebih mahal dari kegiatan yang akan dilaksanakan. Target saya kedewasaan dalam mengambil keputusan. Itu jauh lebih utama bagi saya.

Saatnya Menikmati Manisnya Persaudaraan di Bolihutuo

PGSD Boalemo, Bolihutuo

Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Kegiatan telah dimulai sejak jumat. Panitia telah datang sehari sebelum pembukaan. Mereka menyiapkan tempat dan fasilitas yang akan digunakan. 

Sayangnya, saya tidak menghadiri acara pembukaan. Sebab harus mengurusi tiga bocah di rumah. Memandikan mereka hingga menyiapkan bekal makan nanti saat di Bolihuto. Istri saya juga berhasil dibujuk untuk ikut. Karena kalau dia tak mau ikut, itu juga adalah jawaban bagi saya agar tidak boleh pergi. Artinya saya tak bisa ikut kegiatan. 

Hmmmm....Bagi sebagian orang negosiasi suami istri begitu dianggap suami adalah golongan suami takut istri. Tetapi bagi saya pribadi,  justru negosiasi seperti itulah  yang disebut seni dalam berumah tangga. Bagaimana mungkin saya tampil bagus di dalam organisasi sementara mengurusi negosiasi keluarga kecil saya tidak becus. Iya kan? 

Satu keluarga berangkat ke Bolihutuo. Matahari sedikit lagi tegak lurus di atas kepala, barulah saya tiba di lokasi acara. 

Bolihutuo

Hamparan tenda berjejer rapi. Sebuah Penataan yang rapi dan apik telah tersedia. Di sanalah saya berbisik di dalam hati. 

" Inilah karya mereka. Karya anak-anak yang bertengkar dan berakhir perdamaian. Karya anak-anak yang rela belajar menekan ego sentris di antara mereka. Alhamdulillah mereka melalui polemik itu dengan paripurna. Mereka kembali bersatu di bawah payung persaudaraan." 

Saya turun dari motor dan beberapa mahasiswa membantu menurunkan barang dan menyiapkan tenda. 

" Selamat datang pak Idrus dan keluarga." Suara itu terdengar ceria di ujung sana. Ibu Winda, yang bertugas mengisi materi saat itu menyapa. Saya turut bahagia atas sambutan itu. 

PGSD Boalemo

Sore telah tiba. Dua jam lebih saya duduk menikmati rangkaian acara. Canda dan tawa tak pernah alpa di ruang acara. Hari itu saya merasa seperti menemukan keluarga baru. 

Saya bangga dengan mahasiswa saya. Bangga saat bertemu dengan mahasiswa yang amat sopan. Mahasiswa yang begitu ramah. Setiap kali berpapasan mereka mengutarakan perasaan mereka. Tentang keceriaan yang mereka jalani setelah hari kedua. 

Dalam pertengkaran ide di kalangan mahasiswa, justru saya menemukan kembali simpul pertemanan. Jujur saja, saya dan beberapa dosen sering mengalami kebekuan dalam komunikasi. Kami jarang bertemu dan bertegur sapa lagi. Seolah berjalan masing-masing. Tetapi, kegiatan ini telah menjadikan kami kembali utuh. 

Kami bisa kembali berdiskusi sesantai-santainya. Menikmati secangkir kopi bersama. Duduk membicarakan kegiatan mahasiswa. Berbagi gagasan dan saling mengungkapkan ide masing-masing. 

Persis di tengah keriuhan mahasiswa bermain, saya menikmati senja yang tampak di Bolihuto. Secangkir kopi menambah romantisme pertemanan kami sesama dosen.

Bolihutuo dan Unipo Boalemo

Bagi saya, kegiatan ini adalah cara kami menemukan kembali cinta yang hilang. Cinta untuk tetap berkawan. Cinta untuk tetap bersatu. Cinta untuk tetap menjadi yang terdepan mengawal proses pembentukan karakter anak didik kami. 

Untuk kalian para mahasiswa. Selamat atas acara kalian. Semoga suatu hari kita bertemu di puncak kesuksesan. Sampai kalian memakai toga sarjana dan kami para dosen, dari kejauhan menunjuk kalian dengan bangga. Itu mahasiswa saya!

Dokumentasi Kegiatan PGSD Boalemo 

PGSD Boalemo Bolihutuo

PGSD Boalemo Bolihutuo

PGSD Boalemo Bolihutuo
Boalemo Bolihutuo

Boalemo Bolihutuo