Contoh Resensi Buku Non Fiksi Gaya Penulisan Bebas



Contoh Review Buku Non Fiksi

Resensi Buku - Dalam tulisan ini, Admin hanya ingin berbagi pengalaman tentang contoh Resensi Buku Non Fiksi. Penulisan Resensi / Review ini tidak seperti resensi umumnya yang terlalu kaku dengan struktur. Model penulisan ini lepas dan bebas. Murni tanggapan pribadi atas isi sebuah buku.
 
Berikut kami sajikan, contoh Resensi Buku Non Fiksi

Resensi Buku Titik Nol : Sebuah Perjalanan Menemukan Hakikat Kehidupan

Jauh adalah kata yang mengawali perjalanan
Jauh menawarkan misteri Keterasingan
Jauh menebarkan aroma bahaya
Jauh Memproduksi desir petualangan menggoda
Jauh adalah sebuah pertanyaan sekaligus jawaban
Jauh adalah sebuah titik tujuan yang penuh teka teki
Kata jauh itulah yang menyeret Agustinus Wibowo bertualang mencari makna hidup. Kata itu pula yang menguatkan hatinya untuk merangkul rangsel, lalu melayangkan kaki hingga melewati garis batas dunia. 

Kata itu pula yang menjadi pemicu Agustinus kecil melawan ganasnya hidup di perjalanan India dan Tibet, propinsi Republik Tiongkok atau diberi nama china Xizang. Mendaki gunung tertinggi, mencicipi penderitaan di kashmir dan menciumi aroma busuk di gang sempit perkotaan sambil disambut dengan kencingnya orang India.

Perjalanan ini bukan semata Perjalanan seorang diri. Namun, perjalanannya adalah untuk umat manusia. Dia berusaha membagi kisah perjalanan dalam buku ini, biar orang di seluruh penjuru dunia tahu, bahwa kemiskinan dan kemelaratan tersebar di tanah India. 

Juga untuk menceritakan kepada dunia, bahwa di India masih ada cinta di tengah penderitaan dan keterbelakangan hidup. Agustinus bekerja keras, siang malam, tidur di losmen murah hanya untuk merasakan bagaimana kerasnya hidup yang dirasakan masyarakat India.

Selain itu, dalam perjalanannya, ia mengisahkan bagaimana sulitnya air di Tibet. Bahkan mereka rela tidak mandi berminggu-minggu. Air di daerah ini lebih mahal dari emas, jauh lebih berharga dari Zamrub berlian. 

Agustinus berpikir, di Indonesia air tumpah dan melimpah ruah. Bahkan, air bisa membanjiri di sana-sini. Tapi disini, di daerah Tibet, menurut kisah yang didengungkan Agustinus berbeda. 

Tibet yang kehausan, Tibet yang penuh kemiskinan, Tibet yang dijual keindahan kepada Turis, ternyata hidup lebih melarat ketimbang daerah lain di belahan dunia ini.

Kengerian yang dia temukan di di perjalanan, ternyata mengantarkannya pada khayalan tentang incaran bahaya yang menghantuinya, waktu tinggal di Lumajang, Jawa Timur. 

Di sana, tertancap gunung ganas di pulau Jawa. Ya itulah Gunung Semeru, gunung yang siap melumat isi kota hingga lunak. 

Di waktu kecil, Agustinus sering bertanya kepada ibunya perihal gunung itu. Ketika telunjuknya mengarah ke gunung itu, sang ibu langsung menepisnya.

"Jangan ditunjuk, nanti meletus" Begitu kata sang ibu.

Lalu si kecil Agustinus langsung berdo'a.

"Ya Tuhan lindungi kami, jangan sampai Semeru meletus. Atau kalau meletus jangan keras-keras. Aku mau tidur dulu ya tuhan" Pintanya.

Do'a ini cukup membuat saya tertawa lepas. Betapa tulusnya Agustinus berdo'a. Kocak abis. Ko tuhan pake ditawar-tawar, kalau meletus ya jangan keras-keras ya tuhan. aku mau tidur. hehe...!! Polos sekali...!! Two Thumbs for you bro..!!

Dalam petualangannya menelusri lorong Tibet, ia tidak hanya menemukan kebiasaan orang Tibet menghargai tamu. 

Dia juga menemukan bagaimana orang Tibet memperlakukan wanita. Jika telah datang waktu nikah, seorang wanita hanya mampu pasrah terhadap pilihan orang tua. Dia akan dinikahkan dengan orang yang sama sekali tidak pernah dikenal sebelumnya.

Di atas sebuah bus, Agustinus berdebat alot dengan seorang backpaker wanita dari Paking University. Gadis ini mengutuk perilaku orang Tibet yang menjadikan perempuan sebagai objek sex semata.

Mereka bahkan dinikahkan kepada beberapa lelaki. Oh sungguh satu budaya yang bisa mengundang pertikaian jika terlaksana di Indonesia.
"Orang Tibet itu primitif. Satu gadis dinikahkan dengan tiga lelaki, kakak beradik sekaligus. Satu istri banyak suami, dan satu suami banyak istri. Kamu bilang itu beradab? budaya? Agama? itu keterbelakangan!" Umpat gadis itu kesal ( Titik Nol : Halaman : 96)

Perjalanan Agustinus bukan mengejar kebahagian. Namun dia berusaha memungut kisah sedih dan bahagia biar bisa dibukukan. 

Dia sudah lama bersahabat dengan tangis, tak pernah jauh dari kata sial. Bahkan, dia harus dijadikan objek sex oleh penjaga hotel. Hidupnya cukup ganas, sepanas bara api. Tapi itu semua dijalaninya. 

Agustinus hanya pasrah kepada tuhan, bahwa semua akan berlalu dan bisa lewati hingga lintasan waktu selanjutnya.
"Hidup itu tidak seperti lembaran buku, ketika kita menemukan bab yang membosankan, lalu kita loncati begitu saja. Dalam hidup, semua bab itu harus dibaca, dijalani dan dinikmati ( Titik Nol : Halaman : 126 )

Dalam menempuh perjalanan panjang tentu harus dibayar mahal. Uang selalu menjadi amunisi pertama untuk melakukan perjalanan. Karena di luar sana, manusia sudah terbiasa dengan uang. Bahkan, untuk memotret anak-anak sedang bermain harus dimintai bayar. 

Inilah yang membuat Agustinus berkesimpulan, pada intinya hidup akan terikat dalam satu aturan, Give and take, memberi dan menerima. Tapi aturan itu berbenturan dengan prinsip hidup Agustinus. 

Dia menganggap, bahwa meminta dengan cara seperti itu adalah sampah. Karena apapun bentuknya meminta, esensinya adalah mengemis.
"Meminta itu sampah, merendahkan harkat dan martabat manusia untuk tidak malu lagi mengemis" ( Titik Nol, Halaman : 181 )

Dalam sebuah perjalanan kita akan bertemu dan pergi meninggalkan orang-orang bersama kenangannya sendiri. Semua itu dipahami sebagai kodrat yang dikenal dengan jodoh. 

Ya! Agustinus percaya bahwa pertemuan dan perpisahan pada intinya adalah produk dari sebuah perjodohan. Itulah mengapa, manusia di belahan dunia mana pun, jika telah berjodoh, pasti akan bertemu juga.

Karena Jodoh itu pula yang membuat Agustinus bertemu dengan dua gadis kakak beradik dalam dua perjalanan yang berbeda. Gadis itu bernama Lam Li. 

Gadis inilah yang berhasil meluluhkan hati Agustinus, ah singkatnya di Agustinus jatuh cinta. hehhe..!! maaf kalau berlebihan...
Hubungan suami dan istri
Hubungan guru dan murid
Hubungan kawan dan sahabat
Hubungan kekasih dan musuh
Semua produk dari perjodohan ( Titik Nol, Halaman : 235 )
Setibanya di India, Ia menemukan sikap orang India yang sangat malu ketika melahirkan anak perempuan. 

Bagi rakyat India, lahirnya seorang anak perempuan adalah sebuah kesialan. Itulah mengapa, jutaan janin diaborsi hanya karena jenis kelamin perempuan. 

Dalam pemahaman rakyat India, anak perempuan itu strata sosialnya di bawah. Tambah akan membawa penderitaan bagi keluarga, karena anak perempuan harus punya mas kawin yang mahal untuk pernikahannya. Ya! karena di India,wanita akan menikahi bukan dinikahi.
Demi untuk menghindari penderitaan manusia akan melakukan apapun, bahkan membunuh. begitu pun untuk membeli segenggam senyum. Manusia akan mati-matian berjuang. Memang kebahagian itu memabukkan. Sekali kita mencicipinya, maka kita akan mati-matian mencarinya (Titik Nol, Halaman : 316)
Hidup adalah perjalanan. Jika kamu tidak melakukan perjalanan, maka lebih baik memilih mati saja. Sebab, tak akan ada perubahan. Semua akan diam di tempat tanpa ada satu goresan sejarah yang akan tercipta. Di saat itu, mati adalah pilihan yang pantas.

Sungguh kisah yang dinukilkan dalam buku ini begitu memperkaya cakrawala kita dalam berpikir. Jadi sangat direkomenasikan untuk dibaca. 

Demikian contoh Resensi Buku Non Fiksi dengan Gaya Menulis Bebas. Semoga bermanfaat. 
Contoh Resensi Buku Non Fiksi