Novel Orang - orang Biasa Karya Andrea Hirata

Seribupena.com - Saya adalah orang yang paling suka karya Adrea Hirata. Karyanya saya bisa hatamkan dalam waktu singkat, apalagi kalau lagi liburan. Semua terasa menyenangkan membaca semua karyanya.

Nah, tahun 2019 ini bang Andrea Hirata kembali merilis novel terbarunya. Novel ini bertemakan pendidikan dan seperti biasa, Bang Andrea Hirata tidak lepas dengan ciri khas penulisannya. Dia tetap menggunakan gaya melayu klasik, dengan jenaka membuatmu tak tahan menahan tawa.

Jika kamu pernah membaca kelucuan yang dibuatnya di novel lain, kurang lebih sama persis. Akan tetapi, petualangan di novel terbarunya ini lebih mengarah kepada perjuangan anak-anak tentang pendidikan. Kali ini isu besarya perjuangan anak meraih pendidikan kedokteran.

Saya tidak ingin ngasih spoiler ceritanya ya, ngak asyik. Silakan aja beli karyanya.

Dan kalau kamu mau tahu komentar orang lain yang sudah pernah mereview ini tanggapannya beragam. Ada yang suka ada juga yang ngak suka. Tentu masing-masing pembaca punya standar sendiri.

Tapi bagi saya karya terbaru ini unik dan jenaka, karena sisi humoris dan humanisme begitu kental menghiasi lika liku perjuangan anak-anak yang susah sampai jadi bandit.

Keseruan mereka jadi bandit hanya demi cita-cita pendidikan. Pokoknya seru sekali petualangannya. Kamu bakal menikmati banyak bagian yang membuatmu pengen tertawa terpingkal-pingkal.

Quote Dalam Buku Orang-orang Biasa


“… tiga serangkai persekongkolan pengusaha, politisi, dan birokrat. Itulah segitiga emas kejahatan”.
“Kiranya benar bahwa hari paling penting dan paling bahagia dalam hidup manusia adalah hari ketika dia tahu untuk alasan apa dia dilahirkan ke muka bumi ini”.
“Tangkap! Tangkaplah orang miskin yang berjuang agar anaknya bisa sekolah! Kita ini bukan merampok Dinah! Kita ini melawan ketidakadilan! Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tak dipedulikan pemerintah! Tengoklah jurusan tertentu yang hanya dapat dimasuki orang-orang kaya! Tengoklah langkanya anak orang miskin jadi dokter!
“Mereka yang berada di belakang senjata belum tentu sekubu dengan hukum! Mereka yang berada di depan senjata, segaris dengan maut!”
- “Kopi gampang dingin di depan orang yang plinplan”.
- “Hanya orang bodoh yang menuntut respek dari orang-orang bodoh”
“Kejahatan meninggalkan sidik jarinya di setiap kota, khas satu sama lain, yang akhirnya membentuk watak kota itu”.
“… pada zaman internet ketika semua orang adalah wartawan, yang bahkan salah mengancingkan baju dilaporkan pada dunia, dan semua mendadak gandrung dengan kenangan sehingga tak ada yang luput dari bidikan kamera hape, makanan sebelum dimakan adalah kenangan manis yang ingin dikenang, awan yang berbentuk macam kuntilanak adalah berita besar, apa saja, tak ada yang luput…”