Mengenal Goropa, Gorontalo Perupa di tanah Serambi Madinah



Sekompok Pemuda yang menamakan diri sebagai "Goropa", Gorontalo peruba melakukan demonstrasi di acara tadarus puisi, Dulohupa, Kota Gorontalo pada jumat malam, 7 juni 2014.


Mereka membuat sketsa wajah seorang wanita yang dijadikan objek hanya dalam 30 menit. Tangan-tangan mereka telaten untuk menyerupai sosok wanita yang sedang jadi model untuk bahan demonstrasi tersebut

Fandhy Rais, selaku senior dalam komunitas ini mengaku kalau kominitas Gorontalo Perupa ini baru terbentuk 8 bulan yang lalu. Sehingga, untuk markas mereka belum menetap. Masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Meskipun demikian, lanjut Fandhy, Ia berserta teman-teman pegiat lainnya akan terus berupaya menyebarkan virus seni di masyarakat Gorontalo walau harus memperknalkannya dari tempat ke tempat lainnya.

"Biar mereka tahu, bahwa Anak-anak Gorotanlo Bisa olo" Jelas Fandhy Rais

Perjuangan komunitas ini memang tidak mudah. Terlebih lagi harus bersaing dengan modernitas yang semua harus menunut serba digital. Yang dalam hitungan detik bisa saja mencetak wajah manusia tanpa ada bercak salah sedikitpun.

Masing-masing angoota Goropa memang memiliki minat melukis yang berbeda-beda. Seperti halnya, Yayat, salah anggota Gorontalo yang lebih cenderung pada lukisan kartunis dam sketsa. Ia bahkan bisa menyesaikan lukisan dalam semalam.

"Kalau hanya jenis sketsa dari kertas, hanya butuh 30 menit saja selesai" terang Yayat.

Demi merancang rasa cinta terhadap lukisan, Yayat berusaha keras menampilkan karya yang seimbang dengan perkembangan zaman. Tak segan dia mengambil ikon kartun Mionion dengan berpakain adat Gorontalo sebagai propoganda budaya. Ia berharap, masyarakat atau anak-anak bisa mengambil nilai edukasi dari lukisannya.

"Bisa jadi anak-anak tertarik belajar budaya dari lukisan kartun seperti ini" Ujar Yayat sambil berdiri di depan lukisan mionion karyanya.

Yayat sengaja mengankat tema kartun Mionion ini dengan tujuan untuk mendapatkan effect lucunya. Sehingga pesan budaya pun akan bisa cepat terterima.

Mendengarkan keterangan ini, saya pun tertarik untuk membuat sktesa buat diri saya sendiri. Khusus mahasiswa, satu sketsa biayanya hanya 30 ribu. Sementara untuk sketsa yang sudah berbentuk dan menyamai lukisan, harganya 150 ribu. 


Sedangkan Drawing Black and white harganya bisa sampai 200 ribu per orang. Nah jika berminat yang lebih lagi, juga ada namanya Drawing Colour harganya 250 ribu.





Perbandingan :
Tahukah kita berapa harga karya lukisan dari Pablo Picaso tentang Doora Maar Au Chat? harganya mencapai 95,2 juta Dolar, atau setara 1,1 triliun. Lukisan itu tentang pacarnya yang dibut pada tahun 1941. Jika sepintas dari lukisan mungkin orang akan mengatai, "Wah bodoh amat lukisan seperti itu bisa miliaran!" but that's tha fact.


Pablo Picaso tentang Doora Maar Au Chat

Itulah nilai sebuah karya. Tidak dilihat dari siapa yang membuat tapi lebih pada apa pesan yang hendak ingin disampaikan. Begitulah seni, ia terkadang berbicara dalam kebisuan dan memberi makna dalam coretan warna. Hanyalah orang yang paham senilah yang akan tahu makna dari sebuah karya seni.

Sekarang saya mau tanya. Sudah siap dilukis oleh teman-teman Goropa?