Hati yang Kembali Merindukan Majelis Ilmu

Benar, dunia seperti halnya lautan. Semakin airnya diminum, 
semakin dia membuat manusia haus. ~ Anonim

Dulu, sebelum meninggalkan lingkaran partai, saya masih begitu rajin ke majelis ilmu. Tetapi, setelah disibukkan dengan urusan pekerjaan, juga urusan masa depan, saya akhirnya berhenti dan memutuskan untuk pulang kampung. Saat itulah saya jauh dari majelis Agama.
Dan malam ini, Indrawirawan, sahabat saya; aktivis dakwah kampus, kembali menyeret saya ke jalan yang sama; majelis ilmu agama.

Masih melekat persis dalam ingatan, ketika sore telah paripurna, saat matahari kuning dan agak meredup, saya sempat berkeluh kesah kepada bang Indra tentang hari sabtu yang terus dipadati jadwal kursus.

“Saya harap, kelas sabtu tidak akan ada lagi. Biar ada waktu saya sisihkan untuk mendengar nasihat di majelis atau seminar. Cukup saya luangkan waktu untuk wawasan dunia. Ada saatnya saya harus mengisi ruhiah dengan nasihat para pemuka agama.”Pinta saya ketika itu.

“Kalau begitu, nanti kalau ada kegiatan saya akan ajak. Yang penting Antum tidak capek. Banyak sekali kegiatan. Insya Allah saya akan kabari terus.” Janji bang Indra.

Lalu, kami berpisah. Lelaki yang sederhana ini pun berlalu bersama cahaya yang kian melemah di waktu sore.
Sampai suatu hari terdengar kabar bahwa aka ada perhelatan dakwah akbar di sebuah masjid China, yang diselenggaran oleh perkumpulan Muallaf Tionghoa.

Dan saya ikut terpanggil untuk ikut. Apalagi, kabarnya yang akan mengisi majelis dari muallaf Muda, ustad Felix.

Bang Indra menawarkan, “Kalau mau ikut, sore jam 5 saya jemput?”
Kami bersepakat menuju Masjid Tionghoa, Muhammad Cheng Ho.




Matahari mulai menguning sempurna ketika Bang Indra datang dengan motor matic kesayangannya.
Saya yang tengah menunggu di depan kantor bahasa segera bangkit; menyambutnya. Dari jauh sang pemuda ini tersenyum. Terlihat ada keletihan di bola matanya. Tapi, dia berusaha untuk tetap tampil prima. Sekalipun saya sendiri tahu dia tengah sibuk dengan kajian majelis juga sebelumnya.

Kami berangkat di saat Magrib nyaris sempurna. Bang Indra memacu kuda besi yang kami tumpangi ini dengan kecepatan lebih dari rata-rata. Tapi pun demikian, harus juga tersentak dan memelan lantaran berjubelnya kendaraan di jalanan.
“Emang kalau sudah sore macet bang. Sudah padat-padatnya orang pulang dari bekerja.” Terang bang Indra kemudian.

Saya tersenyum mendengar penjelasannya. Sampai teringat betapa luas jalanan Gorontalo dan tidak pernah macet kecuali di satu musim. Yakni, muslim hari raya ketupan. Perayaan yang membudaya di masyarakat Jawa yang hidup di Gorontalo.

Lamunan tentang Gorontalo memudar tatkala kami tiba di sebuah gapura besar.
“Sedikit lagi sampai. Nanti kita magrib sekalian saja di sana.” Pinta bang Indra.

Sebagai personil belakang, saya harus patuh. Pun melihat kondisi daerah yang sedang kami lewati masih cukup sulit menemukan masjid di pinggir jalan. Yang kemudian membuat kami harus memacu kendaraan secepat mungkin untuk bisa memburu magrib yang kian hilang dilenyapkan gelap.

Dalam perjalanan, percakapan dengan bang Indra cukup menarik. Tidak hanya membahasa soal agama, tapi juga soal isu sosial yang begitu sederhana. Tetapi juga masih luput dari pantauan pemerintah. Di antaranya adalah isu macet yang tak pernah khatam menerjang kota besar.
Kata bang Indra, “Orang-orang di sini akan menua di jalanan gara-gara macet.”

Magrib sudah tiba dan kami baru saja tiba di lokasi. Turun dari motor langsung bergegas memburu keran air dan wudhu, dan bergegas salat berjamaah.

Melihat ke dalam masjid, rasanya tak cukup ruang lagi untuk salat. Pelataran dan juga beberapa kapling halaman sudah  jejali masyarakat yang akan mendengarkan petuah agama. Dari kalangan anak muda. Terlebih lagi kalangan mahasiswa. Saya sempat menemukan jaket yang bertuliskan Gema Pembebasan. Dan saya yakin mereka itulah para aktivis dakwah.

Kembali saya kibaskan pandangan di sekitar masjid. Setidaknya ada ruang kosong yang bisa digunakan untuk salat. Dan tak ada ruang yang bisa ditemukan selain persis harus melaksanakan salat di halaman parkiran.
 

Usai salat saya merasakan kesejukan di hati. Bahwa malam ini saya menyaksikan sendiri semangat berislam semakin memuncak. Orang-orang di daerah kian mencintai agama sebagaimana mencintai diri sendiri. Tua-muda, kecil-besar, semua kini berkumpul untuk sebuah majelis agama.

Mungkin benar apa kata orang. Bahwa bersatunya umat islam hari ini juga karena faktor penistaan Agama. Ada salah satu kepala daerah menista isi Alquran karena isi kandungan Alquran melarang memilih pemimpin non muslim.  Hingga dengan semangatnya dia mengatakan ayat itu sebagai alat untuk membohongi masyarakat.Yang pada ujung-ujung kepala daerah itu harus menikmati setiap detik hidupnya di ruang tahanan.
Lamunan hilang ketika pelantang suara mulai difungsikan. Panitia mempersialakan para jamaah untuk mengambil tempat yang disediakan. Sedangkan lainnya harus mengambil alas dari koran dan bekas baliho untuk diduduki.

Beberapa menit setelahnya, barulah sang Mualaf, Felix angkat bicara.
Tausiah dimulai dari prosesnya menemukan islam. Tentang ujian dari keluarganya yang menolaknya berislam. Tentang prosesnya menemukan Tuhan dengan kajian mendalam dari sudut pandang ilmu pengetahuan.

Sampai kemudian dia putuskan, “I am muslim”. Sebuah pilihan yang tidak gampang. Berdiri di dalam satu agama di antara keluarganya yang menolak.

Felix kemudian menceritakan kisah tentang seorang pemuda yang dicintai Rasul, Muhammad Saw. Seorang pemuda yang rela menghadapi keluarganya dengan bijak tatkala mereka membenci agama baru bernama islam.

Dalam ungkapan, sebagaimana dituturkan Felix, pemuda itu menjelaskan pada ibunya.
“Seandainya ibu memuliki seribu nyawa, dan dicabut satu per satu, maka aku tak akan melepaskan islam.”

Satu ungkapan yang kemudian menghentak nurani ibunya. Tidak pernah disangka, pemuda itu bisa sedalam itu imannya. Hingga berani meninggalkan titah keluarga demi panggilan keimanan. Alhasil, ibu itu harus merelakan anaknya menjadi barisan muslim.

Cerita itu, persis sama dengan kondisi yang dialami Felix. Ketika pertama kali menerima islam Felix harus duel batin dengan keluarganya, wabil khusus dengan ibu.

 “Biasanya, kalau kita memilih pindah agama itu, yang paling merasakan adalah ibu. Biasalah lah, ibu itu memang takdirnya cepat sekali baper.” Terang ustad yang mendalami agamanya lewat sejarah dan nalar sains ini.

“Bahkan, ada ibu yang tidak mau makan sama sekali. Dia mau anaknya kembali kepada agama semula dan hidup normal sebagaimana mereka.”


Saya yang sejak tadi berdiri di pintu masuk hanya bisa menerima penjelasannya dari pelantang suara yang menggantung di salah satu sudut masjid. Mata dan kepala tidak bisa bersitatap dengan tokoh islam muda dan cerdas ini.

Tetapi setiap petuh hikmah yang meluncur dari pengeras suara cukup cepat menghentak nurani kesadaran. Bahwa masih banyak orang di luar sana yang begitu gigih mengimani islam. Meskipun harus meninggalkan keluarga, harta bahkan anak. Lalu bagaimana dengan saya yang sudah islam? Adakah hati sekuat mereka?

Saya sendiri malu dengan kisah perjuangan mereka yang baru saja memeluk islam. Saya yang sudah tumbuh menjadi islam kurang lebih 28 tahun, tingkat keimanan tidak jauh lebih baik dari mereka para muallaf. Bahkan, ada di antara mereka menjadi hafiz quran.

Saya bagaimana?
Sepulang dari majelis, kisah-kisah keimanan yang diungkap ustad Felix mengisi ruang pikir. Hingga lahirlah perdebatan dalam jiwa, akankah saya habiskan hidup ini dengan sedikit ilmu agama?
Wallahua’lam bissawab…