Sepotong Cerita di Bawah Kaki Menara Keagungan Limboto



Malam telah menggantung ketika seorang teman baru saja menghubungi saya lewat gawai cerdasnya. Suaranya rendah dan sedikit berdana harapan.

"Drus, sibuk malam ini?" kata gadis itu.
Setelah 4 bulan tak ada kabar, gadis itu tiba-tiba menelpon.

"Kalau tidak capek, kitorang mo silaturahim pa ti bunda wua." katanya, lalu percakapan putus dengan sebuah jawaban singkat dari saya.
"Iya, siap. Saya meluncur sekarang, tapi salat isyanya di dekat rumahmu saja. Biar, sehabis itu bisa langsung berangkat."

***

Malam itu, tepat di bawah kaki menara, kami kembali membuka lembaran masa-masa kuliah. Betapa, perpisahan kami telah menumpuk cerita yang banyak. Barangkali, semalam adalah waktu yang teramat singkat bila saya ceritakan padamu kisah tentang malam ini.

Kami memilih duduk di sebuah di taman sambil menikmati lampu berkedip ramai, membingkai tubuh menara Limboto. Saya begitu takjub melihatnya. Konon, kata orang-orang, menara ini adalah menara kebanggaan suku Gorontalo. Bentuknya seumpa Eiffel generasi kedua di atas bumi, tinggih dan indah menawan.

Kau akan temui orang ramai menghibur di menara ini. Sepasang muda-muda yang dilanda asmara, sekelompok keluarga yang menimati secangkir Saraba di taman, dan sekumpulan wahana kecil yang ada di taman.

Disinilah, di kaki menara, saya Rino, dan Bunda Hasna kembali meramu cerita. Kami berseru-seru, sambil meningkahi setiap nada musik yang terdengar dari sudut taman. Lagunya, nyaris menyeret kami ke masa yang sudah-sudah. Semua tentang perjalanan saya yang dinggap pikun, kesialan kami di sesi bazar yang kehabisan sendok, dan harus bolak-bali ke tokoh di saat mendesak, saya yang suka melupakan lembaran foto copy dan kembali lagi hanya mengambil uang kembalian, sedang lembar copy-nya saya tinggalkan. Lalu mencarinya ketika tiba di kampus. Dan ada lagi, tentang pertemuan yang menyebalkan dengan Rino pertama kali, sosok yang susah sekali tersenyum. Semua perjalanan itu indah ternyata, saya tidak menyangka kesialan itu menjadi berkah sehingga persahabatan kecil di antara kami lahir dan mengabadi.

Tetapi, malam ini saya ingin bercerita sesuatu yang berbeda. Kali ini tentang wanita yang dilema dengan sebuah pernikahan. Gadis pemilik nama Olin Harus, alias Rino itu sudah berulang kali dilamar. Tapi selalu saja belum menemukan kekuatan hati untuk memilih hidup dan bersuamikan lelaki yang datang melamarnya.

Saya sendiri bingung dengan jalan pikirannya. Lambat laun, setelah dijelaskan, barulah saya pahami apa yang menjadi titik silang hatinya.

"Ini soal cinta Drus. Buat apa harus buru-buru. Meskipun yang datang bergelimang harta, menjanjikan saya rumah yang megah. Kalau hati saya tidak merasakan cinta, sampai kapanpun, saya akan berdiri sendiri dengan pendirian itu. Meskipun puluhan senjata menghadang di depan, dan siap melepas peluru agar saya mati saja. Saya lebih memilih mati. Saya bahkan lebih siap dari itu. Ini soal pilihan hidup. Lebih baik sendiri daripada menikah dengan sosok yang tidak diharapkan." Kata Rino, gadis kecil berhati cahaya ini.

Rino memanglah orang yang terbuka. Tak ada perasaan ragu bilamana dia bercerita tentang sisi hidupnya yang pelik. Hal ini yang membuat saya begitu menyukai gadis ini. Hal yang seharusnya, oleh kebanyakan orang ditutup-tutupi, dia malah membukanya ke publik. Malah dia berharap, dari keping cerita hidupnya, ada juga ditemukan manfaat, walau sedikit.

Awalnya, saya juga takut membuat catatan ini. Tapi, setelah ditanyakan kalau dia keberatan, eh malah dia yang meminta untuk dituliskan.

'Baru anti pe nama ana motulis dalam cerita nanti?"
"Terserah kau." Ia menanggapi, santai dan sepertinya tanpa beban sama sekali.

Sejak Kecil Rino hidup di lingkungan berbahaya. Tempat yang dia tinggali adalah lingkaran prositusi. Banyak ditemukan pelanggaran asusila di sana. Tak jarang polisi sering menggelah rumah-rumah yang tak jauh dari rumahnya. Tak hanya itu, juga pembunuhan rutin terjadi di sini. Nyawa manusia telah sama dengan anak tikus, yang kapan saja boleh dibunuh. Kadang, kalau konflik sedang memanas, gedung-gedung kafe kecil di sana sudah bermandikan api.

Pernah suatu waktu, cerita Rino. Sepulang dari kuliah, seorang abang bentor menghadangnya. Pasalnya, dia dikira sejenis dengan wanita lainnya di kompleks itu. Abang bentor itu menariknya, layaknya seorang pacar. Entah kekuatan dari mana, gadis ini kuat juga nyalinya. Dia melawan dan akhirnya bisa meloloskan diri. Allah ternyata memberinya kesempatan untuk menjaga diri. Sejak kejadian itu, lalu Rino pun bercerita banyak tentang sisi hidupnya yang selalu dihantui rasa was-was.

Cerita Rino mengalir tanpa bisa dibendung. Katanya, dia sedikit risih dimana dia tinggal sekarang. Barangkali, di lingkungannya, dialah gadis yang memakai jilbab besar dan taat beragama. Ini bukan soal dia merasa saleh atau tidak. Tapi dia ingin mengungkap, bahwa hidupnya seperti tinggal dalam kubangan lumpur hitam. Yang sekali waktu bisa saja mencelupkan dirinya hingga ke dasar bumi. Saya hanya bisa menikmati kisah petualangannya. Yang jelas itu semua masa lalu.

Saat malam mulai menua, kini Rino mulai berkisah tentang lamaran dari seorang lelaki kaya. Dia dijanjikan rumah mewah, bahkan warisan, yang sekalipun dia tak bekerja semasa hidup, bisa mencukupi hidupnya. Tapi dia menolak kemewahan itu. Dia menolak kekayaan yang sudah di depan mata. Entah apa alasannya.

Sampai saya menanyakan, "Kenapa tidak trima saja?"
" Ana (Saya) sudah berusaha untuk Istikharah. Tapi, entah mengapa. Dalam setiap selesai salat, hal buruk yang terbayang. Saat itu, air mata jatuh terurai, tak bisa ditahan. Betapa hati ini belum bisa menerima bayang-bayang buruk yang nampak. Seolah Tuhan sedang menyampaikan bahwa dia yang datang itu bukan jodoh yang tepat."

Gadis itu terseyum. Tapi, saya sudah paham. Senyum tipis itu menyimpan tekanan batin yang dahsyat. Maka, malam ini, saya pun bersedia menjadi gelas kosong baginya. Menanti kepingan cerita lain yang keluar bait demi bait. Sungguh gadis ini punya banyak cerita yang membuat saya haus akan kisahnya.

Sejenak kami tinggalkan cerita masa lalu. Kami beralih kisah tentang masa depan. Karena kami tahu, lembaran masa depan itu masih kosong. Kami siap membubuhkan kerangka cerita di sana. Ini soal dengan siapa nanti kita akan menikah, apakah sudah ada persiapan tentang itu, bagaimana nanti kehidupan keluarga, dan lain-lain. Di saat pertanyaan itu muncul, saya jadi sasaran tembak.

"Kau kapan monikah?"
Pertanyaan itu langsung mencegat nafas saya beberapa saat. Itu seolah sebutir peluru yang meleset tak sengaja dari moncong senjata. Sesak nampaknya untuk menanggapi. Tapi saya kuatkan hati untuk menanggapi juga. 'Inyaa Allah umur 27 tahun saya akan menikah." suara saya agak berat.

"Dengan siapa?" serobot mereka berdua secara bersamaan.
"Entahlah. Saya tak tahu. Dengan siapa dan dimana. Yang jelas, saya yakin Allah telah mempersiapkan cara terbaik untuk bertemu dengan jodoh itu. Dan siapa tahu dia adalah salah satu di antara kalian."

Wajah kedua sahabat saya ini memberi isyarat geli. Dan ternyata benar. Dalam beberapa detik kemudian mereka langsung tertawa terpingkal-pingkal. Tangan mereka meremasi perut yang nyaris meledak gara-gara gelak tawa lepas tanpa batas, bahkan mengisi ruang kosong malam itu. Bahkan suara lantunan musik yang menerobos di ujung lapangan kalah dibuatnya. Ah, malam ini kami sungguh terbuai dengan cerita kami sendiri. Kami yang menulisnya, kami pula yang membacanya. Seolah cerita ini hanya untuk kami bertiga.

"Kamu boleh menikah dengan kami berdua. Asal, saya mau jadi istri pertama. Tak mau jadi yang kedua." Kata Rino.
Tak mau ketinggaalan, Bunda pun menanggapi, "Saya juga tak mau yang kedua".

Pernyataan ini seolah ultimatum. Atau sebuah pasal kehidupan yang tak terbantahkan hukumnya. Terpaksa saya harus mengulang kembali materi pelajaran tentang mendua. Yang dalam bahasa keren masa kini adalah "Poligami". Barulah saya menanggapi santai.
"Bagaimana nama kalian berdua disingkat saja, Rihana. Kepanjangan dari Rino Hasna. Jadi, sekali sebut dalam satu akad."

Spontan, Hasna langsung menolak. Katanya, Nama Rino menjadi huruf terdepan, jadi dia istri pertama. Dan itu melanggar aturan. Komentar mereka memanas. Suasana semakin kacau.Tapi....., kawan..., tak usah kau tanggapi serius soal ini. Karena ini hanyalah guyonan para pemuda yang sedang dilema dengan pilihan-pilihan semu. Tentang jodoh yang belum terbaca. Tentang masa depan yang masih diraba-raba. Jadi penasaran, entah siapa nanti yang akan lebih dulu memegang buku nikah di antara kami bertiga.

Pertemanan kami sungguh unik. Ada aturan yang harus dijalani. Terlebih lagi soal hubungan personal. Sejak awal pertemanan, kami telah berjanji. Tak ada istilah pacaran di antara kami. Sebab, kami tahu persis, pertemanan yang diselipi pacaran hanya akan menghacurkan ikatan yang ada. Dan Alhamdulillah kami bisa tuntaskan dengan baik. Selama 5 tahun berjalan. tak kami temui walau sedikit pun, goresan yang nampak d dalam bingkai persahabatan kami. Langgeng kelihatannya. Tapi itulah cara kami mencari rasa nyaman, berteman tanpa harus dirusak oleh perasaan semu yang tak beralamat pasti.

Saat pikiran saya memikirkan umur dari persahabatan itu. Rino kembali menarik alur cerita. Dia berceloteh tentang lelaki yang dia impikan. lelaki itu sederhana dan sangat penyanyang, katanya. Namun, seperti khayalan, lelaki itu nampaknya bersikap acuh. Sampai Rino pun memutuskan untuk mengubur harapan tentang lelaki itu selama-lamanya.

"Ini bukan kegundahan tentang wanita yang menunggu Drus. Tapi ini sebuah dilema yang panjang, tentang sebuah pilihan yang datang. Tapi, belum juga menemukan kecocokan hati. Yang sederhana, seperti dia adalah lelaki yang menjadi harapan. Yang datang selalu memperlihatkan sisi buruk. Jadi, ini membuat saya dilema. Ini soal masa depan, dengan siapa nanti memutuskan hidup bersama. Kalau pun mendapatkan pasangan hidup yang buruk, setidaknya itu adalah pilihan sendiri. Dan Ane ( saya) siap menjalaninya sampai mati." tutur wanita ini.

Saya merasakan rona keteguhan yang dalam dari sosok wanita ini. Selayaknya Fatimah yang rela menanti sang pujaan hati. Sosok yang tabah menyimpan perasaannya hingga iblis pun tak tahu. Tapi begitulah. malam ini saya hanya bisa menjadi kaset perekam semua cerita tentang gadis ramah ini. Biar bagaimana pun, sahabat ini telah banyak makan asam garam kehidupan dibanding saya. Meskipun, umur saya lebih tua darinya, tapi soal pengalaman hidup, nampaknya saya harus berguru banyak padanya. Kematangan jiwanya lahir dari petualangan hidupnya yang hebat. Saya salut dengan cerita-ceritanya.

Malam semakin pekat membungkus kehidupan kota. Kami bertiga mulai letih dan mata mulai lemah sedikit demi sedikit. Sampai kami pun berpisah di bawah kaki menara Limboto, melepas pergi satu sama lain. Dan masing-masing membawa bingkisan cerita malam ini sebagai pengantar tidur. Semoga kami bertiga dipertemukan dalam satu adegan mimpi yang sama, lalu tertawa menceritakan adegan mimpi itu di dunia nyata.

Cerita Tiga Serangkai : Rino--Hasna,--Idrus