Senandung Impian untuk Rumah Cahaya


Kamu mungkin akan tertawa. Jika saja suatu hari kau dan aku duduk di sebuah warung kopi, lalu berbicara tentang impianku ini. Tentang sebuah rumah cahaya: tempat berkumpulnya anak-anak kampung mengasah kreatifitas tanpa batas. Rumah yang akan menjadi bengkel masa depan dalam pendidikan moral anak.

Di sana, akan lahir talenta-talenta baru, impian-impian yang cerah, spirit yang selalu bergelora. Di sana pula, akan lahir  senyum merekah anak-anak negeri, yang selama ini telah direnggut oleh kemalangan. Tempat itu, sudah tertanam di hatiku sejak lama. Namanya rumah cahaya. Orang-orang mengenalnya sebagai sekolah inspirasi anak kampung.

Dalam gambaran impianku, rumah cahaya itu tak perlu megah. Sederhana saja. Yang terpenting cukup untuk duduk lesehan, ada beberapa meja kecil tersedia, sebuah papan untuk menuliskan poin hasil diskusi, dan mungkin warung kopi kecil di sampingnya. Bagiku itu sudah lumayan. Siapa tahu, dari rumah sederhana itu kau dan aku bisa menelurkan banyak ide-ide brilian, dan menetaskannya di saat yang tepat.

Rumah cahaya adalah impian yang telah lama. Ia terlukis dalam ruang kepalaku. Barangkali, dua tahun ke depan dia akan menjadi nyata. Dia akan kubangun bersama kawan-kawan seperjuangan, yang juga memiliki visi pendidikan yang sama. Aku sudah membayangkan, di rumah itu akan ada lemari buku yang berjejer rapi, sebuah taman kecil di depannya, tempatku untuk berdongeng, dan di ruangan  bagian dalam,akan  ada sekumpulan pemuda duduk berdisukusi literasi. Suasana seperti ini pasti sebuah aktivitas yang menyejukkan pikiran. Ini mimpiku.

Aku begitu senang bila nanti kau mampir di kota Tilamuta, tempat dimana rumah cahaya ini berdiri. Itu berarti kau akan sedikit melihat-lihat karya kami di sini. Sebuah karya persembahan tulus anak negeri di pelosok desa. Dan kalau sempat, akan kusediakan panggung untukmu. Berpidatolah kau di sana. Ajak warga di sini ikut membersamaiku. Katakan pada mereka bahwa Ridwan Kamil pernah berujar, " Ngak zaman membangun dunia dengan tangan sendiri." Siapa tahu ada pula yang sadar ketika mendengar pidatomu, lkut aku dalam keluarga besar rumah cahaya.

Ah, barangkali kau membaca tulisan ini sedang menertawaiku. Jangan! ini memang hanya impian. Tapi, kau akan kaget ternyata suatu waktu itu akan menjadi nyata. Untuk sementara waktu, biarlah. Aku izinkan kau tertawa.

Jika benar kau datang, jangan lupa kau sisipkan sebait doa. Apalagi di saat kakimu pertama kali menyentuh gerbang rumah cahaya. Berhentilah sejenak dan berdoalah semoga rumah ini tetap bercahaya dan membawa keberkahan. Sebagai balasannya, maka akan kusediakan secangkir kopi kampung spesial untukmu. Rasanya tiada dua di dunia, dan itu produksi warung kopi rumah cahaya. Kau pasti suka.

Sebentar. Mungkin kau akan bertanya soal rumah cahaya lebih dalam. Dari mana aku memulainya dan bagaimana konsep aktivitas rumah cahaya. Begini. Biarlah kuterangkan sedikit tentang rumah cahaya ini.

Mungkin kau berpikir aku bakal bangkrut. Uangku bakal habis membiayai rumah cahaya ini. Kalau benar kau berpikiran demikian, aku sepakat saja. Bukankah segala impian harus dibayar mahal oleh tuannya? Tapi satu hal yang kau tahu, rumah cahaya bukan rumahku. Itu rumah Allah. Yang secara kebetulan dititipkan agar aku yeng mengelola. Maka kalau soal dana, jangan kau was-waskan hal itu. Memang secara fiansial, rumah cahaya tak punya harta lebih. Semua aktivitasnya digerakkan oleh relawan. Bahkan hanya berbekal Lillahi ta'ala. Namun, aku yakin Allah akan mencukupkan kebutuhan rumah cahaya ini. Sang penguasa jagad raya itu akan mengirimkan manusia-manusia berhati cahaya ke sini. Mereka pasti datang memberikan bantuan. Karena itu sudah gerak dari Allah.

Ingatlah pesan Allah dalam kitabnya : " Barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dari arah yang tak disangka-sangka."

Kalimat itu yang menjadi kitab inspirasiku. Landasan dari segala mimpi yang kubangun di rumah ini. Pasti dan pasti rumah cahaya akan bersinar sampai akhir zaman. Bantu aminkan ya.

Sebenarnya perjuangan rumah cahaya lumayan mudah. Kalau dibandingkan dengan perjuangan Rasulullah Saw, jauh berbeda. Perjuangan Rasulullah Saw malah lebih besar: Beliau membangun rumah peradaban islam. Banyak luka yang ia  temui di setapak perjuangannya. Tapi pun begitu, apakah ujiannya itu berhasil menikam mati cita-citanya? Tentu tidak. Nah, inilah yang kucontoh dari sang baginda. Memimpikan sesuatu yang dianggap mustahil bagi orang lain. Dia terus bergerak membangun rumah peradaban meski sebagian menganggapnya bakal gagal di tengah perjalanan. Aku pun sama. Aku akan membangun rumah cahaya ini sebagaimana Rasulullah.

Nanti, di rumah cahaya, kita tak akan measa kesepian. Rumah ini pastinya akan penuh dengan tawa bahagia, seru-seruan yang dirindukan, geliat pendidikan yang penuh semangat, serta aktivitas sederhana tapi begitu inspiratif. Orang-orang akan rindu datang ke tempat ini, sama rindunya mereka pada pacar di malam minggu.

Di tempat ini pula, aku akan kusediakan paket acara menarik. Pasti kau suka. Seperti pementasan musikalisasi puisi, teater monolog, lagu tradisional, tarian daerah dan sejumlah aset budaya klasik yang lainnya. Pasti menarik. Panggungnya akan penuh dengan gemerlap lilin dan cahaya pedesaan. Meski pun hidup di era moderen, rumah cahaya nanti akan mengangkat isu lokalitas yang kuat. Dan itu menarik. Bukankah?

Sebetulnya, hadirnya rumah cahaya adalah buah dari kegalauanku. Mengingat potensi anak-anak kampung sudah direnggut oleh modernisasi. Kau sudah lihat sendiri. Bagaimana gawai cerdas ( Smartphone atau gadget ) menyeret aktivitas mereka ke dunia maya. Nyaris, dunia nyata hanya seperti tempat aktvitas biasa saja. Mereka lebih senang menyapa teman-teman yang ada dalam media sosial mereka ketimbang teman sebangku sekolah. Aduh! ini memang bahaya. Nanti ketika mereka tumbuh besar, mereka nanti menjadi orang-orang yang apatis. Mereka akan kehilangan kepekaan sosial. Kawan yang meninggal di samping rumah hanya akan dianggap hal biasa saja. Dan parahnya, mereka hanya asyik dengan gawainya, lalu memperbaharui status "Rip and peace kawan!" ya sudah gitu aja.

Dari rumah cahaya, mental itu akan diterangi. Hati mereka akan diberi asupan ukhuwah. Pelajaran tentang kepedulian. Pelajaran tentang kebersamaan. Pelajaran tentang budaya saling menguatkan satu sama lain. Inilah landasan berdirinya rumah cahaya. Apakah itu susah?

Kalau dipikir memang susah. Tapi, kalau niat sudah bulat, ikhtiar sudah maksimal, maka selanjutnya biarlah Allah yang mengatur segalanya. Pasti mudah. Bolehlah kita berkaca terhadap Gol A Gong, seorang presiden taman baca Indonesia. Dia bersama istrinya, berbekal jago nulis, dia bangun rumah cahaya. Yang itu mereka beri nama Rumah Dunia. Sebuah jargon dikampanyekan,  Rumahku rumah dunia. Kubangun dengan kata-kata." Atau semacam motivasi buat diriku, Spirit Gorontalo untuk dunia. Hal itu sederhana saja. Aku bisa melaksanakannya. Allah nanti yang akan membersamai cita-cita mulia ini.

Sekarang aku sedang memikirkan sebuah kalimat yang cocok dengan rumah cahaya. Kata-kata yang hidup dan menghidupkan pergerakan pendidikan. Ah barangkali kau punya usul. Mungkin bisa jadi, rumahku rumah cahaya. Lentera bagi sejuta ummat. Atau semacamnya. Bolelah kau usulkan. Siapa tahu itu akan menjadi sumbangan pikiranmu pada rumah cahaya. Semoga. Inilah pimpiku. Mungkin juga mimpimu.

Aduh! mungkin ceritaku teramat panjang soal mimpi ini. Kalau kau sudah mengantuk, pergi istirahatlah. Besok akan kubuatkan catatan lagi untukmu. Semoga kau diberkahi Allah di sana. Jangan lupa! doakan impian ini nyata adanya di kemudian hari. Wassalam...