Menulis Buku di Penghujung Usia

Menulis buku di penghujung Usia 


Mungkin aku akan dihakimi sebagai sosok yang aneh. Karena sejak awal menulis, tak pernah terbayangkan dalam diriku untuk menjadi populer. Menerbitkan buku dan hore-hore-an gitu. Padahal banyak penulis yang ingin karya meledak di pasaran, menjadi terkenal dan di-nabi-kan kehebatannya. Bagiku itu bukan hal istimewah. Entah bagaimana menurutmu.

Sejak awal aku menulis cerita hanya untuk menghibur hati. Mencari makna hidup dan berusaha menyampaikannya pada dunia. Kalau berorientasi materi sepertinya tidak. Dan kalau materi itu diperoleh dari menulis, ya itu urusan Allah. Barangkali rejeki dititipkan oleh Allah lewat menulis. Tapi sepertinya bukan itu tujuan utama. Aku menulis bukan semata karena ingin meraih kemegahan dan keagungan nama seorang penulis. Tapi aku menulis karena aku suka. Tak ada tendensi lain. Sebab dengan menulis aku merasakan kepuasan batin tak berbilang.

Bayangkan ketika otakku mandek, pengen teriak dan curhat. Kepada siapa aku ingin berbagi? Ya kata mereka sih kepada Allah. Bener juga. Tetapi, setelah kepada Allah, biasanya hati kepengen bicara sama seseorang. Nah, dalam kondisi seperti ini, aku terpaksa bercakap dengan catatan harian. Aku bercerita di sana, di lembar catatan kusam. Kuberi nama buku catatan itu, " Dreams Note. Pada lembar itu kutuliskan semua tentang rentetan mimpiku.

Kalau sudah bersama buku catatan harian, biasanya aku nongkrong di tempat sepi. Jauh dari jangkauan banyak orang. Duduk sendiri, menulis, manggut-manggut seperti orang gila, lalu tersenyum lagi. Mungkin sudah gila. Sedikit. Hehe..., Dari sana aku merangkai cerita. Penaku selalu menari, merangkai kata agar apa yang dirasakan segera tumbah dalam cerita.

Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba muncullah sebuah pertanyaan.
Apa yang ingin kuraih dari menulis?
Apakah sebuah nama? Popularitas?
Atau semacam kekayaan materi dari royalti?

Sekali waktu bertanya, lalu aku sendiri yang menjawabnya. Seperti pertanyaan barusan. Pertanyaan itu kemudian menemukan jawabanya:

Aku menulis bukan untuk itu semua. Aku menulis untuk kebahagiaanku. Bahagia dengan perasaan bebas, ingin bicara pada ruang apa saja. Entah itu pada buku, pada blog dan pada alam yang bisu. Aku hanya ingin hidup ini terekam oleh waktu. Kelak di kemudian hari ada juga yang membaca kisahku lewat blog. Siapa tahu mereka menemukan manfaat, lalu diam-diam dia berterima kasih sambil melantukan doa. Disitulah aku meraih pahala gratis. Iya kan?

Dalam menulis buku. Aku hanya memimpikan satu.  Semasa hidup aku ingin sekali membuat buku Autobiografi. Aku ingin menulis tentang kisah hidupku sendiri. Sekarang aku sudah menyelesaikan naskahnya. Tinggal proses beberapa perbaikan dan penyempurnaan ejaan. Kalau sudah tiba di Jogja, aku ingin menerbitkannya secara indie, ya sekadar koleksi. Kalau pun punya rejeki banyak, akan aku kirimkan kepada sahabat-sahabat terbaikku. Sebagai kenangan.

Adalah sebuah kebanggaan bagi diri sendiri memiliki buku. Apalagi sempat terpajang di toko besar.  Tapi nyaris targetku tak ada sampai di sana. Karena aku sendiri tak pandai menulis. Ya, paling aku hanya hebat menulis curhat doang. Cerpen pun hanya beberapa saja. Ngak bagus-bagus amat. Makanya semasa hidup aku hanya memimpikan satu buku Auto biografi, dan itu Kisah Anak Nelayan Menjalani hidupnya. Kan asyik jika anak-anakku ( Baca: Maaf mimpi) nanti baca. Wah bapak ternyata penulis. Mereka bisa membaca tentang hidupku meski mereka tak hidup di zamanku. Aku sudah membayangkan itu. Sepertinya itu menarik. Hehe..hehe..

Selain itu aku juga sering bermimpi. Jika suatu saat aku hilang dari dunia ini. Maka aku akan memastikan ceritaku tersimpan di benak sanak keluarga, sahabat terbaik. Dengan begitu mereka selalu ingat padaku dan doa-doa pastinya akan hadir untukku. Biasanya kalau ninggalin kenangan dalam bentuk barang, jika barang itu rusak, atau hilang maka hilang pula kenangan tentang kita. Coba kalau kenangan itu adalah cerita. Pasti dia akan abadi. Sebab, dia tersimpan di hati. Aku ingat persis sabda dari sang penulis legenda, Mas Pramodya Anantatoer, " Menulis membuatmu Abadi." Itu yang kuimpikan.

Aku sadar betul hidup ini hanya sementara. Paling bentar umur bisa sampai 65 tahun. Itu pun kalau sampai. Biasanya kurang dan biasanya lebih sedikit. Jadi, angan-anganku tentang dunia telah hilang. Aku hanya ingin hidup sederhana, menjani hidup tanpa harus diperbudak oleh nafsu. Dan itu semua ingin aku ceritakan pada buku manti. Doakan saja umurku sampai dan cita-cita itu tercapai. Tak usalah mengejar dunia berlebihan. Nanti bisa jadi budak nafsu. Maksudku bukan berarti melupakan dunia. Tapi ngak usah berlebihan. Ya paling cukuplah seperti sesederhananya mimpiku.

Judul buku itu adalah Anak Sejuta Mimpi. Itulah yang sudah kupatenkan sebagai nama blog. Jika misalnya, aku tak sempat menerbitkan buku itu, paling tidak cerita-cerita tentang hidupku akan ditemui keluarga dan sahabat lewat blog ini. Hehe... ngarep!

Dalam buku itu nanti berkisah tentang negeri kecil di ujung pulau sulawesi, Paguyaman Pantai. Tentang negeri yang terlupakan, tentang anak-anak matahari yang lebih mencintai mata pancing ketimbang mata pelajaran. Tentang suasana desa dengan sekelutmit budaya di sana. Lalu kisah perantauan, meraih mimpi di balik dinding masjid, mimpi kuliah, masa sulit kuliah hingga sarjana kuraih. Syukur-syukur ada cerita calon istri di sana. Hehehe...hehe..

Memang sebagian cerita itu telah kutuliskan dalam perayaan wisudahku kemarin. Artikel itu pernah kuterbitkan di beranda facebook, "Agap! Anak Nelayan jadi Sarjana!". Tapi itu hanya plot kecil dari petualaganku. Ada banyak episode yang tak pernah kuceritakan sebelumnya. Kecuali pada ibu dan ayah di rumah.

Paling sedikit begitulah plot cerita bukuku nanti. Mungkin kau akan berkata aku udik. Biarin. Ya, memang hidupku  sesederhana itu. Tidak muluk-muluk. Bagiku itu sudah cukup. Kalau pun  berkesempatan untuk menulis buku lagi, ya itu barangkali bonus dari Allah. Siapa tahu hidupku hanya sampai besok. Kan aku tak tahu persis umur ini sampai di mana.

Mungkin terkesan sok puitis jika kukatakan aku ingin menjadi buku, yang setiap saat dibaca oleh banyak orang, dan dikenang jika buku itu telah hilang ditelan masa. Ah lebay. Tapi biarlah. Sekadar bumbu kenangaku saja. Aku ingin sesedehana itu, menjadi buku. Untukmu dan untuk dunia.