/* Posisi Kode di Sini */

Tuhan Menjawab Mimpi Anak Laut

Konten [Tampilkan]

Setiap Insan pasti memiliki kotak-kotak mimpi yang senantiasa terjaga dalam sanubari. Kotak mimpi itu tak akan hancur dan  terhapuskan oleh apa pun.  Sebab, mimpi itu begitu kuat menghujam dalam jiwa raga kita masing-masing.

Tahun 1998, Bangga adalah kawasan pesisir yang terlupakan oleh negeri ini. Sebuah kawasan pesisir yang melengkung tak lebih dari 500 meter di pantai pohuwayama.

Di Sana hidup rakyat yang tak diketahui oleh Negara. Jangankan melihat Mobil, kartu tanda penduduk saja kami tak punya. Orang-orang yang hidup di pesisir ini hanya tahu hal; bagaimana bisa makan dalam sehari dan kemudian berfikir bisa makan lagi di esok harinya.

Aku adalah satu anak yang terlahir di daerah itu. Daerah yang kumuh dan gelap gulita layaknya negeri orang utan. Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

Yang ada hanyalah suara ribut ombak yang saling bersahutan menerba bibir pantai. Meski pun bagitu, kawasan pantai ini tak ubahnya sebuah kota kecil yang tak pernah kehilangan rasa bahagia.

Pasir putihnya mampu menghibur kami rakyat yang mendiaminya. Kalau dibilang, cukuplah untuk menghilangkan perih dalam keterasingan.

Jika malam tiba, segerombolan anak-anak muda pantai ini berduyun-duyun memadati tengah desa. Tak hanya itu, yang tua-tua pun ikutan nimbrung sekadar pengisi waktu tatkala lelah seharian melaut.

Ada beberapa pasang anak muda duduk bersila dan ditemani “Bohito”. Sementara yang lainnya asyik berdampingan bersama pacar mereka.

Tak lama kemudian, sepasang pegambus tengah siap melantunkan pantun-pantun pelipur lara.

Sayori’u kacang Panjang
Tilali’u to dalalo
Wanu cewe mata karanjang
Gambangi gandiyalo
***
Wa’u mondo Buhu
Turusi de hulondalangi
Ti Cewe tulu-tuluhu
Tutubu manya-manyanyi
***
Daun pepaya sambe pa’ato
Kalaulah makan cambur lo bango
Kalau si Nona suka mopalato
Sayalah juga mopobiyongo
***
Dunggo-dunggo to pango
Hemopodeito Tulu
Talala huwa-huwango
Hilepeta popolulu
***
Malu’u’u yilumulu
Bo ma’o to palepelo
Wanu Wa’u ma didulu
Tayapuwa ma’o duhelo

Kata-kata indah itu begitu syarat makna. Pesan yang hendak disampaikan berisi jenaka dan moral kehidupan yang tinggi. Sehingga bagi rakyat yang tinggal di sini, meski pun tidak pernah menikmati bangku sekolah, tetapi dari petikan senar gambus itulah kami memperoleh pelajaran tentang hidup.

Soal sekolah, di pantai ini pernah ada yang namanya sekolah. Namun, setelah kematian seorang guru satu-satunya di sekolah kami, bangunan sekolah yang lebarnya tak lebih dari 10 -14 meter pun lapuk ditelan usia.

Dinding-dindingnya mulai bekaca mata dan atapnya menebus langit. Di sekolah ini, tak ada istilah tingkatan kelas, yang ada hanyalah pelajar.

Terserah mau duduk di kelas mana, Semuanya sama. Parahnya lagi, anak-anak samudra yang sekolah di tempat ini, tidak mesti pakai seragam. Cukup dengan pakain rumah, sandal jepit na’ale, atau bahkan pergi dengan kaki telanjang. Kalau dalam bahasa Ustad Gusdur, “Gitu aja ko’ repot”.

Begitulah anak-anak samudra belajar.

Kami tak mengenal mimpi dan kehidupan masa depan. Yang kami tahu bagimana kami bisa cerdas dan tahu baca dan menghitung. Sebab, kami berfikir, tujuan sekolah adalah agar keluarga kelak tidak ditipu lagi oleh mereka yang cerdas.

Jika dirasa sudah tahu membaca dan menghitung, kami kemudian melanjutkan petulangan menjadi anak samudra yang kesehariannya bermain dengan ombak mencari nafkah bersama ayah.


Bagi kami tak perlu sekolah tinggi, sebab itu hanya diperuntukkan kepada orang kaya. Anak miskin, apalagi daerah pesisir dan terpencil, mustahil bisa go to campus.

Sehingga cita-cita hanyalah seonggok kata-kata indah yang tak bermakan. akibatanya, banyak di antara kami menjadi keturunan anak-anak samudra yang tahunya bagimana menangkap ikan dengan jala serta  pancing milik keluarga.


Usai melaut dan bercengkarama dengan ikan-ikan, tak lupa aku dan kawan-kawan bermain bola di lapangan pasir pesisir. Lapangan ini cukup sulit untuk dipakai untuk bermain bola.

Selain pasirnya menyulitkan kami untuk berlari, mata kami juga seringkali terkena pasir yang diterbangkan angin laut.  Namun, bagi kami itu adalah hal biasa. Terus mau kemana lagi. Ini satu-satunya lapangan terbaik yang ada di daerahku.


Tatkala matahari mulai sirna ditelan gelap, dan semburan cahaya merah membentang di langit. Kami, Anak-anak samudra segera berlarian ke rumah dan bersembunyi.

Kata Ibu, jika langit mulai memerah, itu pertanda para setan-setan dilepas untuk menganggu manusia. Jangan pernah keluar di waktu itu. Sebab akibatnya bisa jadi kematian. Entah benar atau tidak, tapi begitulah yang dipahami oleh kami saat itu.


Ketika kegelapan mencengkram malam, aku biasanya pergi ke puncak lembah dari pantai itu.  Kutatapi Indahnya pentas cahaya yang menembus ruang gelap.

Cahaya lentera kecil yang menyinari rumah-rumah tampak sambung menyambung menebus dinding satu sama lain. Ada garis-garis cahaya yang tembus dari dinding-dinding pitate. Begitu Indah.


Lentera kecil  dari rumah bersahutan dan saling menyambung memberikan seberkas cahaya harapan bagi kawasan pantai ini, kelak suatu saat nanti, akan lahir anak-abak samudra yang mampu menerangi desa ini dengan mimpi-mimpinya.


Kampung tanpa neon itulah adanya. Peduli amat dengan pemerintah. Mereka tidur nyenyak, sementara kami tidur ditemani nyamuk. Kalau pun mereka datang menjenguk kami, eh malah minta makan sama kami dan tidak meninggalkan uang sebagai bantuan.

Mereka mengira kami adalah rumah makan gratis. Padahal, jika mereka tahu, ayah kami harus melawan arus dan derunya ombak untuk bisa mendapatkan sesuap nasi.

Mereka malah datang dengan pakainan dinas dengan tulisan linmasnya lalu meminta kelapa muda, ikan dan lainnya. Tak tahu malu apa? Tapi biarlah, mungkin mereka menganggap kami orang kampung, bodoh dan mudah diakal-akali.


Kampung tanpa neon ini hanya bisa diakses melalui laut.  Selain itu, kawasan ini juga tidak ditemukan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga masyarakat di pantai ini harus mendayung berjam-jam menuju kampung seberang untuk bisa mendapatkan air.

Air yang kami dapatkan itu, tidak lah untuk mandi ria. Air itu itu hanya diperuntukkan untuk masak dan minum. Sementara kalau soal mandi, air laut jadi kolam favorite warga di sini.

Terlebih tatkala hari jum’at tiba. Pantai pasti ramai sekali dengan warga yang mandi untuk persiapan sholat jum’atan.  Walhasil,  tubuh kami hitam pekat.  Apa boleh buat, itulah kondisi yang harus diterima.


Keterbatasan fasilitas, kekurangan biaya dan kondisi hidup di bawah garis kemiskinan telah mendidik kami anak-anak samudra menjadi anak-anak tangguh.

Tangguh dalam menghadapi ujian hidup dan kehidupan. Ketangguhan itu kemudian mampu mengetuk orang tua kami. Orang tua kami oun menyadari bahwa kami bukan hanya sang pemimpi, tapi sosok penggapai mimpi.

Akhirnya lambat laun mulai peduli akan pendidikan anak-anaknya. Mereka sudah memiliki tekas yang kuat untuk menopang mimpinya anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan. Dengan konsekuesi, harus meninggalkan kampung halaman.


Akhirnya, di tahun 2000, kedua orang tuaku pergi merantau mengadu nasib di kota bertasbih Boalemo, tepatnya di pantai Tilamuta.

Bermodalkan jala merah peninggalan kakek, ayah menghidupi keluarga. Di saat itu pula, ayah menyekolahkanku di Sekolah dasar Pentadu barat. Sekolah SDN yang lumayan bagus dibandingkan sekolah Ibtidaiyah tempat belajarku dulu.

Guru hanya satu, sekolah kusam, dan kalau guru tak datang, kami hanya mencatat seluruh isi buku cetak, mulai dari pendahuluan hingga daftar pustaka.

Kami tuliskan buku itu layaknya buku cetak buatan tangan sendiri.  Ah sakit hati ini mengingat hal itu. Betapa pemerintah mengabaikan kami.


Di sini, di Tilamuta, ibu kota dari kabupaten Bertasbih ini, kucoba mengawali mimpi-mimpiku. Aku bertaruh dengan otak-otak jebolan susu dan makanan bergizi lainnya.

Sedangkan otakku jebolan bubur Sada buatan ibu. Tapi, nyali belajar dan semangat untuk mengejar mimpi tetap kugantungkan setinggi mata memandang.


Tuhan akhirnya menjawab mimpiku, kini tingal menghitung bulan, gelar sarjana Bahasa Inggris, jebolan Univeristas Negeri Gorontalo akan segera disematkan tepat di belakang namaku;  Idrus Dama, S.Pd.

Terima kasih tuhan atas berkah dan rahmatmu ini. Untuk itu, saya ingin katakana kepada kalian, “Jika aku bisa, kalian pasti jauh lebih bisa!” selamat bermimpi ria dan sampai jumpa di puncak kesuksesan.
***
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Komentar

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel