Melirik Eksotika Desain Masjid Agung Baiturrahman Limboto

Masjid Agung Baiturahmah Limboto Gorontalo

SORE HARI setelah diguyur hujan di perjalanan, saya sempatkan untuk sholat Ashar di Masjid Agung Baiturrahman Limboto. Saat itu suasana masih mendung. Awan-awan tampak mengepul hitam dan menggulung-gulung. Saya tertarik mengamati sebuah corak gambar abstrak dengan komposisi warna yang cukup memukau. Lantas warna awan yang ada di langit sana itu sepadan kemudian menyatu dengan warna yang mengihiasi dinding Masjid Agung, putih dan abu-abu. 

Saya sedikit menjatuhkan pandangan dari langit, lalu mengamati desain sebuah masjid kebanggaan Gorontalo yang begitu menggoda. Masjid ini nyaris terlihat layaknya mahkotanya Limboto. Arsitek bangunannya yang indah, yang merupakan perpaduan antara arsitek bangunan arab dan nusantara ini benar-benar melukiskan kharimastik sebuah bangunan yang menawan. Hal ini bisa kita lihat dari perpaduan atap utama yang berbentuk limas dan di sekelilingnya terdapat tujuh kubah berbentuk bulat.

Setelah puas di luar, saya masuk masjid melalu pintu belakang. Saya kembali dikejutkan dengan desain belakangnya yang seperti pintu sebuah rumah sebuah pondok dengan atap runcing. Sementara lantainya cukup bersih dan mengkilap. Wajar, lantainya dilapisi ubin yang mahal dan besar-besar. lima meter dari pintu masuk bagian belakang, separuh lantai beralaskan kaca. Uniknya lagi, di dalam kaca tersebut dipelihara ikan-ikan.



"Lantai kaca dengan ikan ini, terinspirasi dari tahta kerajaan Sulaiman" tutur Ali Yusuf, sahabat saya yang ketika itu menemani saya dalam perjalanan dari Boalemo.

Biasanya, kita hanya menemukan Masjid dimana ikannya dipelihara di kolam masjid. Tapi memelihara ikan di dalam kaca dan berada tepat di lantai sebuah masjid, sepertinya ini adalah hal yang pertama dalam hidup saya. Jarang lhoe masjid punya aquarium ikan di pelataran masjid, dimana manusia lalu lalang di sana.


Masjid Agung Baiturrahman adalah masjid hasil renovasi. Dulu, masjid yang berada di  jalan Cokroaminoto kelurahan kayubulan ini, masih sangat memprihatinkan. Lalu, pemerintah mulai meliriknya  sebagai masjid pusat agenda besar perayaan hari besar ummat islam. Sehingga kini, masjid ini bisa berdiri kokoh dan megah di tengah Kota.

Masjid ini memang cukup besar; luas bangunannya sekitar 22.500 m2 dan berdiri kuat di atas bidang tanah yang luasnya mencapai 62.500 m2. Masjid ini didirikan pada tahun 1979 di atas tanah wakaf. Dari luas tanah tersebut di buatlah kapling yang rapi terdiri dari Parkir, Taman, Tempat Penitipan Sepatu/Sandal, Ruang Belajar (TPA/Madrasah), Perpustakaan, Kantor Sekretariat, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu, Sarana Ibadah. Bangunan masjid ini dua lantai sehingga spase untuk sholat bisa menampung jama'ah sekitar 2500-an.



Masjid ini terbilang aktif. Kegiatan-kegiatan keagamaan begitu ramai. Adapun kegiatanatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarnya mencakup, pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu

Jika masuk ke dalam masjid, kita akan melihat dinding masjid nan megah. Di bagian depan, terdapat sebuah mimbar besar dan tinggi. Desain kayu yang hitam dan dilumuri corak warna keemasan yang memberi pesona keindahana yang maha agung. Bagian atas mimbar terdapat kuba kecil dan bercorak batik nusantara.



Melirik ke samping kiri dan kanan, dining masjid dibaluti kayu hitam dengan potongan desain kaligrafi, memeluk erat dinding-dining. Terlihat seperti pagar kecil yang berlukiskan emas. Jika melihat sedikit ke belakang, 4 buah tiang raksasa penyangga yang mewah menopang masjid raya ini. Empat tiang ini, menurut keterangan adalah simbol empat sahabat nabi yang menopang perjuangan dakwah islam. Sehingga, dibuatlah empat tiang raksasa, bukti bahwa empat tokoh; Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, Ali Bin Abu Thalib dan Abu Bakar as siddiq memegang peran penting dalam mengibarkan bendera kejayaan islam.



Empat tiang masjid itu tidak hanya berdiri begitu saja. Di bagian atasnya pun dihiasi warna corak emas. Bentuknya  bulat dan terlihat seperti lingkaran cincin yang mirip scrub. Keempat tiang itu seperti lambang kemakmuran bagi ummat manusia, khususnya yang berada di Limboto.

Mihrab pada Masjis Agung Baoturrahman ini dibedakan dengan menggunakan relief dinding berbentuk kotak dengan ragam hias kaligrafi dan motif batik. Kombinasi warna emas dan hitam menjadikan mihrab terlihat mewah. Tepat di depan mihrab terdapat mimbar yang di desain seperti mimbar Ar-Raudah, yakni mimbar yang pernah digunakan Nabi Muhammad SAW untuk  berdakwah di Masjid Nabawi. Tiang mimbar mimbar menggunakan ragam hias ukiran segi lima dan motif bunga dengan jumlah lima buah. Angka lima ini menyimbolkan lima kerajaan yang ada di Gorontalo ( Sumber : Simbi Kemenag)




* Sumber Gambar : Gambar adalah koleksi Pribadi penulis