Puisi Tentang Ibu yang Membuatmu Sedih

Puisi Tentang Ibu

Puisi Ibu - Setiap kita pastinya punya cara tersendiri dalam mengungkapkan rasa cinta dan sayang kepada ibu. Terkadang ekspresi itu lewat musik, pantun, bahkan puisi. Admin seribupena kali ini akan mengekpresikanya dalam bentuk puisi dengan judul Puisi tentang Ibu

Puisi ini ditulis dengan bahasa yang sederhana dan tidak membuat pembaca bingung dengan makna kandungan puisi. Cukup membacanya dan menikmati alur puisinya apa adanya. 

Nantinya kamu akan tahu sendiri keindahan puisi dan makna kiasan di dalamnya. Berikut kami sajikan puisi tentang ibu untuk sahabat dan keluarga. 

Puisi Tentang Ibu Tersayang

Ibu
Ikatan qalbu
Rindu selalu beradu
Dalam sunyi yang sembunyi
Di keping sajadah kecil
Tumpah air mata tanpa bunyi

Ibu
Dalam dekapanmu
Alam menjadi tenang
Gelap menjadi benderang
Cinta semakin gemilang
Selalu Menang

Ibu
Usiamu kini dalam pelukan senja
Hari-harimu melayang tanpa jeda
Namun lipatan senyummu tak berbeda
Anggun selalu ada

Ibu
Dalam lelapnya malam
Jiwamu belum tenggelam
Tanganmu masih memeluk pencipta alam
Sebab kau yakin kapan saja hidup akan karam
Baktimu kepada Ilahi teramat dalam

Ibu
Masa kecilku tak pernah fakir cinta
Meski hidup kita banyak digilas derita
Katamu, perih dan manis cukup jadi cerita
Hanya di antara kita

Ibu
Dalam garis wajahmu ada duka berjuta
Namun tipis senyummu mampu menghapus jejak luka
Ayah yang tampan begitu rupa
Harus diseret abadi dalam lupa
Selamanya

Ibu
Anak-anakmu ini telah menikah
Mendayung hidup mecari berkah
Melepas semua sampai pucuk rindu merekah
Dan, tanyamu lembut, 'nak lebaran ini pulangkah?'
Ruang udara mendadak senyap

Puisi Tentang Ibu dan Ayah

Rindu ayah dan ibu

Sampan kecil dikayuh
Anada di rantau sempat layu
Jauh dari ibu dan ayah yang pandai merayu
Saat tangis manja mendayu-dayu

Ibu... Ayah...
Ananda menabur doa dalam irisan malam dan siang
Kelak ananda bisa membawa hidup yang gemilang
Membuat ayah dan ibu tertawa riang
Hingga mimpi berebut melayang-layang
Menuju batas dunia dan Tuhan

Ibu yang tabah
Ayah yang gagah
Kupeluk dalam doa yang tak pernah alpa
Bisik pada sebaris angin di jendela
Peluk cium untuk ayah dan ibu
Pergilah...

Ibu
Di rantau hidupku jadi babu
Mencari secangkir berkah di jalanan berdebu
Hati kadang ditampar sendu
Ingin pulang tapi nasib kalah beradu
Dalam himpitan bisnis candu
Yang membunuh
Jujur bisa dibunuh
Terpaksa berdagang peluh

Ayah...ibu...
Ananda ingin pulang
Menata kembali ruang
Cinta dan kasih yang hilang
Sebelum kita semua hilang
Abadi di tahta kiamat

Puisi Tentang Ibuku Sayang, Ibuku Malang

Ibuku sayang, Ibuku Malang 
Ibu dan sunyi telah berjodoh
Kebersamaan pamit pergi
Begitu cepat merebut membajak
Cintanya yang putih

Ibu dan sunyi berkawan dengan kepergian abadi
Ayah yang memikul segala keluhnya
Telah menuju perjalanan abadi
Yang tak seorang pun tahu ujung tujuan
Hanya rindu yang dilangitkan

Dari serpihan doa yang jatuh di atas sajadah
Ibu dan sunyi telah mengisi rumahku
Saat menatap jendela kenangan menampar
Wajah ibu tersunggur layu
Kata-katanya mandul
Hanya bening di tepian mata meloncat ramai
Kasihani dia Tuhan

Pada ibu yang kini memeluk kenangan
Bangkitlah dari gulita harapan
Hidupmu harus berlanjut
meski badai mengamuk di dadamu

Kutahu ibu kau tegar
Bahkan dunia tegak karena cintamu
Tanpamu dunia akan kehilangan senyum generasi baru

Ibu
Aku padamu
Selamanya sampai
Tuhan memutuskan hukum
Kita bersama atau berpisah selamanya

Puisi Tentang Ibu dan Segala Perjuangannya

Ibu, Aku Mencintaimu


Siang malammu silih bertukar tanpa jeda
Tangismu beriring detak jam dan jantung
Pucat pasi menghiasi wajahmu
Hidup seolah menuju babak akhir

Saat purnama telah di puncak bumi
Kulihat kau tertidur di pembaringan rumah sakit
Titih air mataku saat mendapati air mata mengering di ujung pipi
Bekasnya belum hilang sampai tidur hinggap di atas kelopak mata

Subuh telah bertamu sakitmu belum juga pamit
Aku masih terjaga dengan mata yang masih bertenaga
Menatapmu dengan rasa iba yang tak berkesudahan


Malam berganti dan sakitmu mulai menjadi
Kau genggal lenganku begitu kuat
Sampai degup jantungku ingin rontok
“Nak, anak ini akan lahir!” katamu panik
Aku menatap lurus matamu
Layu, lemas, cemas


Bayi itu lahir meraung ingin bernaung dalam kasihmu
Pelukanmu membuat bayi itu tenang dan menang
Akhirnya dia sampai di bumi
Perjalanan yang akan banyak menagih air mata dan sabar

Ibu, mungkin begitu luka saat kau melahirkanku
Mulai hari ini aku tak akan dekil lagi
Mulai hari ini aku tak akan membuatmu terluka
Aku mencintaimu
Selamanya sampai diri ini berkalang tanah

Putri Azizah Tilamuta, 21 Juli 2021

Itulah puisi tentang ibu yang begitu singkat dan sedih. Semoha kami bisa banyak menulis puisi berbagai tema di blog ini. Makasih sudah berkunjung. 

Puisi Tentang Ibu : Sedih dan Menyayat Hatimu