Cinta dan Persahabatan di Sudut Kota Metropolitan


Wisata_Alam_Manggrove_Jakarta

Sepertinya, kenangan adalah alasan mengapa kita selalu membuat cerita menarik tentang hidup ini. Kita ingin menjadi bagian dari cerita siapa pun. Kelak, di kemudian hari kenangan itu bisa diingat-ingat di masa akan datang. 
* * *

Ungkapan itu terasa ketika tiba di Jakarta, saat melepas rindu bersama sahabat-sahabat yang tinggal di kota padat penduduk ini. Mereka tinggal di daerah Cengkareng, Jakarta Barat. Sebutlah nama mereka: Ratih Cahaya Pustpita, Eva Siti Nurmala, dan Abangku Elmawan Ramdhani. Mereka adalah manusia unik di kota Jakarta. Paling tidak dilihat dari perspektif saya. Alasanya sederhana. Mereka begitu peduli terhadap saya, si anak kampung yang sedang merantau ke pulau Jawa ini. Padahal, kalau dipikir-pikir, saya tak memiliki hubungan darah dengan mereka. Kami hanya berkenalan dalam satu program kepemudaan, lantas hubungan itulah yang menjadikan kami selalu merasa seperti saudara. Hingga kini, tahun telah berulang 2 kali, hubungan itu tetap terjaga.

Ketika saya kabari mereka bahwa saya akan ke Jakarta, dengan antusias mereka menyambut. Sampai-sampai Eva, harus pusing karena khawatir, nanti saya akan nyasar di kota metropolitan ini. Malam itu mereka sedang gelisah.

“Eva sampai pusing bang. Kasihan bang Idrus Nyasar lagi.” Kata bang Elmawan, menceritakan betapa gelisahnya Eva menunggu saya yang tak kunjung tiba.

Malam semakin larut hingga pukul 11 malam, saya harus muter-muter di Jakarta. Saya tak bisa menghubungi mereka karena Handphone saya mati. Dan itulah yang membuat mereka khawatir. Beruntung, malam itu saya masih hafal betul arah jalan ke rumah Ratih. Saya putuskan naik ojek arah Cengkareng, Samsat STNK.

Kagetnya, rumah mereka telah tertutup, lampu sudah dimatikan. Saya tetap berusaha memberi salam tepat di depan pintu rumahnya. Dan ternyata bapak Ratih masih terjaga, mempersilakan saya tanpa sungkan. Betapa bahagianya saya malam itu. Akhirnya sampai juga.

Seperti hari-hari yang pernah saya lalui bersama mereka. Betapa mereka memperlakukan saya dengan baik. Mereka mengajak saya jalan-jalan. Maka dalam potongan cerita ini, biarlah saya ceritakan padamu tentang petualangan kami selama 2 hari itu.

PERJALANAN KE KEBUN DAN ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR
Setiap kali saya ke Jakarta, selalu diajak plesiran oleh Ratih dan Bang Elmawan. Hari pertama, tanpa rencana yang matang, kami langsung plesiran ke kebun raya Bogor dan ke Masjid Kuba Mas Depok. Kami memulai petualangan itu dari statiun Rawa Buaya. Kami bertiga beli kartu tiket, 12 ribu bertiga, rute Bogor.

Kami hore-horean di kereta api. Dan kau pasti tahu, ini kali pertama saya naik ke kereta. Tentu tak begitu paham soal rute kereta dan alur transit. Saya diajari bang Elmawan untuk memahami rute perjalanan. Kebetulan, di bagian atas pintu keluar-masuk kereta terdapat gambar rute kereta Api Jabotabek. Di sana tertera bagaimana alurnya, transitnya, dan prosedurnya.

Kau tentu akan tertawa betapa udiknya diri saya. Tapi tak apalah. Daripada anak kampung sok tahu, kan jelek image-nya ya. Mending saya katakan saya memang tak paham soal rute kereta Api Jabotabek.
“Dalam kereta, ada memang kursi prioritas. Ibu-ibu yang hamil, bawa anak, atau wanita, selalu jadi prioritas. Laki-laki harus ngalah.” Kata Bang Elmawan.

Saya manggut-manggut.
“Pernah, “kata Bang Elmawan. “ada bapak-bapak yang ngak mau keluar dari tempat duduknya. Langsung tuh dikatai sama ibu-ibu banci. Eh langsung berdiri mereka.”

Bang Elmawan terus bercerita, tentang Jakarta, tentang kotanya yang padat, tentang kereta api yang telah menjadi solusi kemacetan Jakarta.

“Saya tidak bisa bayangkan Bang kalau Jakarta ngak ada kereta. Betapa susahnya pasti.” Keluh lelaki yang sering disapa Elmo itu.

Kereta terus melaju, cerita kami pun mengalir. Saya melihat adik (Ratih) sudah tertidur. Saya tersenyum melihatnya. Bang Elmawan juga ikut tersenyum.

“Ratih emang gitu bang. Anaknya Pelor, suka nyandar dikit molor dia.” Bang Elmawan menjelaskan karakter si Ratih, sosok kecil yag kini akan menjadi istrinya itu.

Saya teringat satu tahun lalu ketika pertama kali bertemu mereka. Keduanya adalah sahabat karib. Sangat dekat dan kalau ada acara selalu bersama. Sejak itu saya mulai berdoa diam-diam semoga mereka jodoh di suatu hari. Ternyata doa saya terkabulkan. Dua tahun saya kembali lagi ke Jakarta, mereka sudah dalam persiapan pernikahan. Pada 4 oktober 2015, mereka akan resmi menjadi pasangan suami istri.

Hati saya bahagia. Ternyata Allah menjodohkan mereka juga.

Kalau dilihat sih, mereka sangat cocok. Mereka berdua emang selalu kompak dalam segala hal. Ide-ide mereka selalu selaras dan saling menopang.

“Dulu Bang,” seru bang Elmo, “waktu pertama bangun usaha E-loundry, Ratih yang nyuci, saya yang bagian membilas. Kami lakukan berdua. Tapi, setelah hasilnya lumayan, kami mulai berpikir untuk merektrut karyawan. Sekarang kami sedikit bebas untuk beraktivitas.” Terangnya, mengenang masa-masa sulit dia membangun usaha sendiri.

Saya begitu salut dengan kedua sosok ini. Kemandirian mereka terbangun sejak dini. Mereka bekerja dengan senang hati, mulai buka usaha Es Kopyor, bangun usaha E-loundry, hingga travel Altenatif kepulauan Seribu. Mereka bersama-sama. Saya salut dengan kekompakan itu.

Keduanya bukanlah orang kaya seperti halnya jutawan Jakarta. Tapi mereka selalu pandai bersyukur, dan itulah yang membuat mereka selalu tampak bahagia.
Wisata_Alam_Manggrove_Jakarta

Ratih pernah berkata kepada saya, “Bang, kalau hidup ini bisa dibuat mudah, ngapain harus dibuat susah. Jalanin aja. Hidup sudah susah kok dibuat susah. Iya kan?” katanya, memotivasi saya untuk memahami hidup ini sesedehana itu.

Matahari telah mengabarkan siang, kami masih di dalam kereta. Cerita masih terus berlanjut. Hingga kami tiba di stasiun Bogor.

Kami naik angkot menuju kebun raya. Cukup bayar 10 ribu kami bertiga langsung diantar tepat di depan kebun raya. Sebelumnya, kami salat di musallah, di samping kantor pos. Kami lanjutkan dengan makan siang sambil terus bercerita tentang hidup di pulau Jawa itu seperti apa.

WISATA KEBUN RAYA DAN ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR 

Jalanan luas terbentang layaknya sebuah karpet hitam. Pandangan tertuju jauh ke ujung jalan kebun raya Bogor ini. Sebelah kiri, terlihat gedung besar, dengan gaya khas peninggalan Belanda, bertuliskan LIPI. Tidak jauh dari tempat itu, sebuah istana besar kepresidenan berdiri dengan megah. Tiang-tiang bangunannya masih kokoh seperti halnya zaman dulu, ketika gedung ini masih bernama, Buitenzorg, atau Sans Souci.


Kami terus berjalan sambil memotret-motret area istana dan kebun raya Bogor ini.

Dalam sejarah, diterangkan istana Bogor ini ditepati oleh 38 gubernur Jendral Belanda, dan satu jendral Inggris. Gedung ini dibangun pada bulan agustus 1744. Tidak semua orang bisa masuk ke instana ini. Nanti, setelah Presiden Soeharto, barulah Istana dan Kebun raya Bogor ini dibuka untuk umum.

Kami melangkah, mengeksplorasi wisata kebun raya dan istana kepresidenan Bogor ini. Baik sejarahnya, keunikannya dan apa saja yang menarik di tempat ini. Saya melihat-lihat arah yang terpampang di setiap rute jalan. Di sana tertulis, arah meseum hewan purbakala, tanaman langka, taman, dan lainnya. Bagi kita yang berkunjung ke sana, pasti tak akan salah jalan.

Tetapi, kunjungan kami kali itu hanya tertuju pada Zoo museum. Berjalan sedikit di dekat pintu gerbang, belok kanan, dan masuk ke kiri, akan menemukan Zoo museumnya. Dalam museum itu, kami melihat deretan miniatur hewan badak, burung-burung langka, jenis-jenis kupu-kupu, miniatur ikan hiu dan pari, serta harimau. Masih banyak lagi hewan di sana yang sudah diabadikan. Semuanya lengkap dan tersimpan di dalam kaca bening. Setiap yang datang bisa langsung melihantanya lebih dekat.
Tak mau ketinggalan momen, kami terus mengabadikan potret hewan langka itu dalam lensa kamera. Bahkan badak besar tak lepas dalam dokumentasi kami.

Keluar dari museum, kami menuju taman. Tidak jauh dari situ, kami menemukan beberapa pasang kekasih bercengkrama. Mereka bermain dengan anak-anak mereka. Berlari-lari sambil tertawa riang. Saya merasakan, betapa bahagia itu ternyata sesederhana aktivitas mereka. Wajah mereka di taman itu begitu berseri-seri. Berbeda dengan wajah-wajah yang saya temukan ketika di dalam kereta. Wajah yang saya temui di kereta lebih banyak murungnya. Seolah hidup ini terlalu berat untuk mereka jalani. Padahal, harusnya peliknya hidup bisa diringankan dengan senyum dan ikhlas menjalaninya. Wajah mereka, adalah wajah kotaan yang tercekik kesibukan dunia, barangkali.  Tapi sudahlah. Itu kehidupan mereka, yang mungkin ada cerita di balik itu wajah itu. Bisa jadi saya tak bisa membacanya dengan hanya sekadar menatap wajahnya satu-satu.


Di sini, di taman kebun raya Bogor, saya menemukan kebahagian yang begitu sederhana. Sekumpulan orang merayakan kebahagiannya dengan duduk di bangku kecil menghadap danau, ada yang duduk sambil bersantai ria di taman, ada yang keliling menikmati sejuknya pohon-pohon besar dan ada pula yang berjejer. Kebun raya ini, seperti menjadi taman bermain bagi orag yang sedang jenuh akan kemacetan kota, jenuh akan tumpukan pekerjaan, jenuh ada ramainya polemik hidup.

WISATA ALAM MANGGROVE JAKARTA
Hari terakhir saya di Jakarta dihabiskan jalan-jalan di wisata Alam Manggrove Jakarta. Masuk ke Kawasan Manggrove, kami membayar tiket masuk 25 ribu per orang. Kami memarkirkan motor di bagian dalam, are khusus yang sudah disediakan. Tepat di pos jaga kedua, ada pringatan untuk tidak membawa kamera besar, DSLR yang khusus photografer gitu. Kalau bawa kamera handphone sih biasa saja. Tidak dilarang.

“Kalau bawa kamera besar, itu ada bayaran khusus. Karena itu sudah komersil.” Kata bang Elmawan, saudara yang mengajak-jalan-jalan ini.

Kami berjalan memasuki manggrove yang padat. Jalanan lurus dan bercabang masuk ke area tertentu manggrove. Di sana kami melihat bagaimana reklamasi pantai dilakukan. Lautan diratakan dengan tanah, ditimbun hingga berdirilah bangunan-bangunan baru. Itulah perusahaan yang menjadi cikal bakal industri yang akan memadati kota Jakarta lagi. Saya sendiri tak begitu paham soal reklamasi pantai itu. Tapi, paling tidak saya paham sedikit dari penjelasan Bang Elmawan.

“Ini Bang yang membuat rakyat Jakarta menolak reklamasi. Belum ada reklamasi saja Jakarta sudah terjadi banjir, apalagi kalau sudah ada reklamasi seperti ini. Bisa tenggelam Jakarta.” katanya.

Di ujung jalan wisata alam Manggrove, proses reklamasi terlihat jelas. Bangunan mulai tumbuh layaknya sebuah pohon. Banyak bertebaran dan meninggi, menghiasi atap langit Jakarta yang sudah sumpek.

Selepas berdiksusi tentang reklamasi, kami menuju menara pengintai burung. Samping kanan, dari jembatan yang kami lewati, terdapat menara setinggi 20 meter. Kami berempat: Saya, Eva Siti Nurmala, Ratih dan Bang Elmo naik ke menara itu. Melihat biayak yang bergerombol masuk ke ranah tepi manggrove. Selain itu, kami juga melihat gedung Jakarta dari pesisir Manggrove. Sungguh indah Jakarta dari sudut Manggrove ternyata.

Sorenya, saat matahari mulai meredup, kami menuju jembatan romantis. Di sana, kami berfoto-foto, loncat-loncat kegirangan sekadar membuat foto-foto gokil. Saya memperhatikan, ada juga yang menganggap kami aneh ribut-ribut di tengah jembatan manggrove. Tapi siapa peduli, kami datang ke wisata ini memang untuk liburan kok.

Tepat di ujung jalan, kami berbelok masuk ke area rumah-rumah kecil di sepanjang bibir manggrove. Di sini, berjejer rumah-rumah kecil ini seumpama hotel, begitulah. Kapasitas rumahnya cukup berdua saja. Kalau mau yang besar, ada tuh yang di ujung jembatan manggrove yang lebih besar. Tapi, saya tak sempat menanyakan harga nginapnya berapa. Nanti saya dikira mau nginap.

Wisata_Alam_Manggrove_Jakarta

Parade rumah kecil ini mirip wombohe, kalau kata orang Gorontalo. Beratap sederhana, dan berukuran kecil. Kalau menginap di sini sepertinya lumayan. Fasilitasya juga lengkap. Kalau mau makan, hanya perlu berjalan sedikit keluar ke jalan utama, sebelah kirinya ada kafe, dan rumah makan. Kalau misalnya mau buat acara besar, juga disediakan aula untuk kegiatannya. Asyiknya lagi, di sebelah deretan rumah kecil, tersedia masjid cantik. Arsiteknya terbuat sederhana dengan ukiran kayu nan elok. Pelatarannya semua terbuiat dari kayu. Bagian depan masjid, ada teras luas yang bisa dipakai lesehan kalau mau diskusi. Ya, di sana juga bisa melihat sunset, dengan pesona warna matahari yang teduh.


Pulangnya, kami mampir di sekolah cina, Tzu Primary School. Lokasinya tidak jauh dari wisata manggrove tersebut. Suasananya hampir mirip dengan di cina. Jadi, kalau pengen narsis ria, sepertinya ngak usah ke Cina. Ke sini saja sudah cukup merasakan bagaimana suasana sekolah cina.

Saat malam tiba, barulah kami tiba di Rumah Ratih. Salat magrib, terus melaju mengejar jadwal keberangkatan saya ke Jogja. Kami naik kereta lagi dari Rawa Buaya, menuju stasiun Duri, dari sana kami transit ke kereta satunya dan melanjutkan naik angkot menuju stasiun senen untuk menukar tiket di mesin cetak yang disediakan. Cukup memasukan kode booking, langsung keluar print out tiketnya.


Tepat di pintu masuk penumpang, kami berdiri kaku. Saatnya saya harus berpisah dengan mereka. Hati saya begitu rindu akan mereka. Tapi saya berusaha tersenyum. Dalam hati saya berujar, Yaa Allah, berilah saya rejeki lebih, agar saya bisa datangi pesta pernikahan Ratih dan Elmawan. Kebaikan mereka telah banyak, dan cukup berat tampaknya harus melewati hari bahagia mereka itu.

Saya memeluk Bang Elmawan dengan erat. Bersalam perpisahan dengan kedua gadis cantik: Ratih dan Eva Siti Nurmala. Kami berpisah. Lambaian tangan mengiringi langkah saya menuju area tunggu keberangkatan kereta api tujuan Jakarta- Jogja kota.

Dalam hati saya terus berbicara pada diri sendiri. Tentang mereka, sahabatku, juga saudaraku. Ternyata, sesederhana itu makna Cinta dan persahabatan yang kupahami di sudut kota Metropolitan ini. Satu hal yang ingin kusampaikan, salam kangen buat kalian yang ada di sudut kota sana. Saya mencintai kalian. Bismillah!
Wisata_Alam_Manggrove_Jakarta