Serunya Jalan-jalan Bersama SOS Children's Village Bali


Menjelang siang, saya baru tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Tiga official dari SOS Children's Villages Indonesia: Kak Nanda, Kak Lolly dan kak David menjemput saya. Di antara mereka, Kak Nanda adalah sosok yang saya kenal lebih dulu. Soalnya yang belikan tiket pesawat dan memberi informasi keberangkatan itu Kak Nanda yang urus.

Sebelum menuju desa anak binaan SOS Children's Village Bali, kami bertiga seru-seruan di rumah makan. Awalnya sih kami jaga image. Tapi, sejam perkenalan mengubah praduga saya tentang mereka. Kirain sih mereka itu orang-orang kantoran yang kaku dan formal begitu. Eh, tahunya, kita malah tambah gila-gilaan. Candaan kami mengalir sepanjang perjalanan ke desa anak.

Saya masih ingat persis, ketika kami di Bandara, masih sempat-sempatnya bercanda, bermain puisi romantis yang bertemakan anggota tubuh. Bayangkan lhoe, mereka ngasih tantangan kata-kata romantis dengan tema rambut, terus gigi dan terakhir dengkul. Hahaha...hahaha...

Menjelang malam barulah  blogger asal Jakarta dan Palembang tiba. Lalu berangkat bersama menuju SOS Children’s Village Bali di Tabanan. Kami tinggal di salah satu rumah di kawasan desa anak. Malam itu kami langsung istirahat. Soalnya semua sudah pada tepar, lelah karena menempuh perjalanan dari Bandara kurang lebih 2 jam.

Pagi harinya, kami memulai perkenalanan dengan anak-anak SOS Children’s Village Bali. Menyapa mereka yang tengah bersiap-siap berangkat ke sekolah. Saya melihat wajah-wajah mereka cukup antusias. Dari yang kecil hingga anak remaja.

Aktivitas berlanjut pada sesi keliling area SOS Children’s Village Bali. Merasakan aroma sejuk desanya, kicau burungnya yang masih merdu, gemerisik air yang mengalir dari sebatang pohon di taman kolam, dan matahari yang meninggi di ujung timur. Saya merasakan desa anak ini benar-benar seumpa desa bahagia, dan penuh cinta.

Catatan tentang kehidupan di sini sudah saya tulisakan dalam artikel : SOS Children’s Village Bali dalam bingkai Cerita Mas Agung. 

Untuk itu, saya dalam artikel ini ingin bercerita sesi jalan-jalan dan kegiatan yang kami lakukan lainnya. Okey!
 

Wisata Danau Bratan, Bedugul Bali
Siangnya kami tiba di puncak danau yang terkenal di Bali. Namanya danau Bratan yang terletak di kawasan Bedugul, Candikuning, Kabupaten Tabanan. Tempat ini cukup populer di dunia. Keindahan alamnya menjadi ikonik wisata Bali. Tamannya yang sejuk, gedung pementasan yang unik beraroma budaya lokal, dan danaunya yang teduh, membuat siapa saja yang datang serasa menikmati sejuknya kampung halaman yang segar dan menyehatkan.

Saya masuk ke dalam area danau, saya menemukan begitu banyak turis yang sedang asyik berfoto-foto. Mereka berasal dari berbagai negara. Saya perhatikan mereka begitu bersemangat mengabadikan kedatangannya di tempat ini. Kamera mereka nyaris tak pernah istirahat jempret sana-sini. Saya paham, tetu liburan ke tempat ini adalah hal yang menyendangkan bagi mereka. Buktinya, mereka rela buang biaya besar hanya untuk datang ke danau nan indah ini.

Tempat wisata danau Bratan ini nyaris terpajang di setiap sudut kota bali. Bahkan, di Bandara, saat keluar menuju parkiran mobil, persis di depan pintu itu terpajang besar-besar baliho tentang danau Bratan beserta Pura dengan atap bertingkat.

Dalam sejarahnya, kata Mas Agung, menara-menara bertingkat itu namanya Pura Ulun Danu. Menara itu memiliki atap bertingkat-tingkat. Ada yang bertingkat 3, 9 sampai 11 tingkat.

Di daerah bedugul nih tidak hanya keindahan danau, tapi juga puranya. Nah, kawasan Bedugul iini terdapat 4 area pura yakni: Pura Lingga Petak, Pura Penataran Pucak Mangu, Pura Terate Bang, Pura Dalem Purwa. Masing-masing memang memiki sejarahnya.

Mas Agung, kepala desa SOS Children’s Village Bali bercerita bahwa wisata Ulun Danu ini menjadi tempat fovorite banyak wisatawan dunia. Itulah mengapa, kata mas Agung, ada salah satu anak binaannya di SOS Children’s Village Bali yang sukses di bidang pariwisata. Anak itu awalnya hanya sebagai sopir. Tapi, dari situ dia mencari modal dan membangun usaha sendiri. Kini dia sudah membeli mobil untuk melayani wisata di Bali.

“Dari Bandara ke bedugul ini kira-kira 1,5 jam. Jadi, kalau ke sini lebih murah kalau banyak. Jadi, biaya trasportasi bisa saling patungan. Kalau sendiri agak malal. Kalau mau ajak temen ke sini, hubungi ajak dia.” Kata Mas Agung, lelaki yang menjadi teman perjalanan kami ini.


Alas Kedaton, Sebuah Istana kera di Tabanan Bali
Usai bermain-main di danau Bratan, kami melanjutkan perjalan blogger ke Alas kedaton. Tempat ini berlokasi di kabupaten Tabanan Bali. Tempat ini adalah tempat meditasi para raja atau datuk. Hal menarik, di tempat ini dihuni oleh ribuan monyet. Mereka berkeliaran bebas seumpama warga Bali.

Monyet-monyet itu berlari-lari di halaman pura, di pohon-pohon, pagar dan tempat pemandian kecil di arena pura. Monyet ini seolah menjadi sahabat bagi warga setempat. Mereka bahkan berani bermain dengan turis yang datang ke situ. Bahkan tak jarang monyet itu naik di atas punggung para wisatawan. Dengan imbalan, monyet itu diberi makan kacang bungkus yang telah disediakan para pawangnya. Cukup dengan membeli kacang harga 2 ribu rupiah, kita yang datang sudah bisa bermain dengan segerombolan monyet.

Dalam menjelajahi istana monyet di sini, kami dilarang untuk memberi makan monyet sembarangan. Takutnya sih monyetnya keracunan. Dan juga jangan sampai monyet menjadi ganas tiba-tiba. Kalau monyet mulai nakal, sang pawang akan mencoba mengamankan para pendatang dengan sepotong rotan. Biar para wisatawan tetap aman.

Kata pawangnya, monyet di sini ada ribuan. Mereka terpisah menjadi lima kawanan besar. Terkadang mereka berkelahi layaknya sebuah perkumpulan. Masing-masing memiliki kawasan. Kalau ada yang cari gara-gara, monyet ini seringkali sering menyerbu satu sama lain.

Dalam cerita sang pawang, monyet di sini makin lama makin banyak. Tetapi banyak juga yang sudah meninggal. Setiap monyet yang mati, warga Bali setempat yang mengurusi wisata ini segera menguburkannya ke tengah hutan. Mereka dikuburkan layaknya seperti manusia pada umumnya.

Keluar dari kawasan monyet yang bermain di pura, kita juga bisa singgah untuk sekadar belanja di warung-warung kecil di sekitar pintu gerbang. Di sini menjual berbagai maca suvernir baik itu gelang, kalung, patung-patung kecil, kaos Bali dan beberapa hiasan ciri khas Bali lainnya. Jangan kaget ya, kios-kios suvernir ini tertutup dengan kawat-kawat. Sengaja dilakukan demikian, karena bayak monyet yang sering masuk dan mengambil barang-barang. Jadi, kalau mau beli, silahkan menghubungi penjualnya, barulah warung suvernirnya dibukakan.

Menyapa Anak-anak SOS Children Village
Kegiatan blogger trip di hari terakhir adalah menyapa anak-anak SOS Children’s Village Bali. Kami datangi rumah mereka dan mengenal pretasi mereka dari tingkat nasional hingga Internasional. Deretan piala memenuhi rak rumah anak-anak SOS Children’s Village. Prestasi mereka melegenda ke tingkat Internasional. Hal ini tentu menjadi motivasi bagi anak-anak negeri di seluruh Indonesia. Paling tidak, ini jadi bukti bahwa SOS Children’s Village Bali telah sukses mendidik dan mengasuh ana-anaknya dengan baik.
Kehidupan anak-anak di sini cukup menyenangkan. Setiap hari mereka punya aktivitas yang padat. Mulai dari hari senin hingga hari sabtu.

“Di sini ibunya sangat perhatian. Segala fasilitas dilengkapi. Mulai beli buku, perawatan sekolah, diajak jalan-jalan dan diajarkan berdagang juga.” Kata Evita, salah satu anak SOS Children’s Village Bali yang kini sedang menempuh studi di SMP Tabanan.
Dalam seminggu, acara SOS Children’s Village Bali cukup padat. Hari senin, anak-anak di sini belajar pramuka, selasanya belajar menari, rabunya belajar Yoga, kamisnya kerja Bakti, sedang sabtunya ada kegiatan menggambar. Kata Evita.



Malamnya, sebelum pemenang blogger #CatatanAnakBangsa pulang, perpisahannya dimeriahkan dengan pentas seni budaya. Anak-anak SOS Children’s Village Bali menampilkan tarian khas daerah, Yoga ( Tarian kelenturan tubuh), juga tarian moderen ala barat. Anak-anak di sini benar-benar membuat kami kagum. Talenta mereka tumbuh di bawah pengasuhan yang baik dan tepat. Wajar jika potensi mereka melejit.

Acara malam itu juga dimeriahkna oleh bapak Blogger Indonesia, Mas Enda Nastuion dan Shef Juna, salah satu master memasak di Indonesia. Kami blogger pemenang dan Mas Enda Nasution mengisi blogging Class bersama anak-anak, sedang Shef Juna mengisi training Coocking Class. Siangnya barulah acara selesai.
Aktivitas yang singkat itu ternyata begitu mengesankan. Dari trip ini saya bisa lebih mencintai dunia pengasuhan anak. Bagaimana cara mendidik karakter anak, prosedur layaknya pengasuhan yang baik, dan tahu lebih dalam bagaimana perjalanan SOS Children Villages di Indonesia.

Perjalanan mengikuti blogger trip SOS Children’s Village Bali ini memberi saya banyak pengalaman. Dengan ini pun saya sudah memiliki tekad akan mendidik generasi saya, wabil khusus anak-anak saya nanti, dengan pengasuhan yang baik. Sebab, pada dasarnya dunia anak-anak itu adalah masa keemasan bagi tumbuhnya setiap manusia. Gagal mengasuhnya di usia kecil akan berdampak secara psikologis kepada pribadinya dewasa nanti.

Mas Agung mengatakan, “Anak yang dididik di lingkungan kekerasan dan suasa suara yang sering keras. Biasanya anak-anak itu tumbuh menjadi anak pemarah. Karena dia mencontih orang-orang di sekitarya. Dan itu tidak bisa dirubah sampai mati. Maka dari itu, hati-hatilah mengasuh anak sejak kecil.”
Sorenya, kami para blogger pulang ke daerah masing-masing. Mas Agung dan saya menuju Jakarta, sedang Mas Ilham kembali ke kampung halamannya, di Palembang.

Alhasil, di penghujung cerita ini saya ingin berpesan kepada anak-anak seluruh Indonesia agar tetap semangat belajar. Seburuk apa pun kondisi kita, harus tetap berprestasi. Berikan karya terbaikmu selama hidup. Yakinlah dunia akan berada dalam genggalaman jemarimu. Semoga! Amin…