Cerpen - Kakak kembalilah! Jika kau Letih


Ah entah dari mana penulis ingin memulai hikayat ini. Telah habis kata untuk mencerikan padamu kisah anak gadis. Kini dia hidup berlinang-linang air mata. Bertahun-tahun tanpa mengeluh. Mungkin penulis bisa membentangkan hikayat ini dengan sebuah kalimat: " Kakak kembalilah! Jika kau Letih"

Sembilan tahun lalu, kau dipinang seorang lelaki. Lalu, kau dibawa pergi dengan sejuta angan. Kau pun berpisah dari kami. Berteduh di rumah barumu.

Sembilan tahun lalu pula. Aku tahu persis. Kau begitu cantik. Rambutmu masih hitam berkilau. Lenganmu masih mulus. Hatimu pun begitu tulus.

Tahun berganti, begitu cepat. Kenyataan itu kini semua terbalik.

Ada apa? Beri aku satu pemahaman.
Kakak! sejak kau bernak dua. Tubuhmu nampaknya makin tipis, belulang. Wajahmu tirus, seolah kau tak makan.

Apa suami tak memberimu nafkah?

Kau hanya memalingkan wajah. Menghapus sebutir bening di bola matamu. Ah kakak. Saat itu kau berbisik.

"Dua anak ini yang membuat kakak kuat. Tak ada suara indah di dunia ini selain tangis dua anak ini." begitu katamu. Kau tersenyum. Tapi bola matamu berkaca-kaca.

Aku menangis perih, melihatmu. Air mataku titih satu-satu.
Lalu, tangan halusmu, mengapus air mata di pipiku.

Kau bilang, " Jangan bersedih. Kakak masih kuat di sini."

Bukan hanya itu. Kata tetangga, suamimu bahkan tidak perduli.
Malah kau membanting tulang setiap hari. Mencari sesuap pagi, sesuap petang.

Setiap pagi kau berangkat ke kebun tetangga. Menjadi pekerja harian. Kau tak meminta uang, kata mereka. Kau hanya butuh beras jagung beberapa liter. Demi mengisi perut dua anakmu.

Kakakku sayang...
Bertahun-tahun kau berkawan malang. Kesedihan tak pernah bercerai dari hidupmu.
Masih juga kau bertahan pada satu lelaki? Yang hanya menjadikanmu sapi perah?

Kakak! aku tak berniat buruk. Hendak memutus tali pernikahanmu.
Tapi, coba pikirkan. Lelaki ini melebihi dajal. Kau hanya memalingkan wajah. Menatap dua anakmu.
Mereka tersenyum. Kau pun ikut tersenyum. Tapi kutahu dengan pasti. senyum itu palsu. Kau bohong seolah kau bahagia.

Masih kuingat jawabanmu.

" Semua demi dua anak ini. Jika kakak pergi. Kepada siapa nanti dua anak ini hendak memanggil ayah, memanggil ibu. Itulah yang membuat kakak bertahan. Pahit manis, sudah biasa dalam hidup ini. Toh sedikit lagi kita pamit juga di dunia ini. Iya kan?" katamu.

Kau tahu kakak.

Sehebat apapun kau sembuyikan sakitmu. Tetap jua kan aku rasakan. Bukankah kita lahir dari rahim yang sama? Bahkan, hati kita dibuat dari saripati yang sama. Tak usah kau menutupi ratapanmu

Kakakku sayang....
Sekali lagi. Kembalilah jika kau letih. Rumah kita masih terbuka. Kalau perlu, bawalah anak-anakmu.

"Tidak. Kakak takut. Nanti, kedua anak ini akan menambah beban makan ibu dan bapak. Kau sendiri tahu. Ayah kita sudah tua. Mereka saja, makan susah sangat. Bukankah yang menikah harus menyiapkan piring sendiri untuk anak-anaknya?"

Ah kakak. Beratnya hatimu. Aku sanggup jadi tulang punggungmu, jika suamimu saja tak mampu jadi sandaran. Andai saja kedua anak ini tahu, kalau ayahnya seorang pemabuk. Tentu mereka akan ikut bersamaku, ke rumah kita. Kakak. Lelakimu tak cukup kuat bahunya jadi sandaran.
Uangnya habis mabuk dan berjudi. Apalagi yang kau kejar?

"Tidak adikku. Biarlah mati menjemputku di sini. Asalkan aku bisa menemani hari-hari akhir bersama anakku." katamu tegar, seolah kau kokoh hati. Hal menyakitkan lagi, kau seringkali batuk-batuk.

Di telapak tanganmu, berleleran darah kental. Aku hanya bisa memelukmu, erat sekali, saat itu.
Tetapi kuasaku tak mampu menggerakkan hatimu. Hanya satu kalimat yang bisa kusampaikan.

"Kembalilah, jika kau letih. Aku menunggumu di rumah kita, rumah tempat dulu kita dibesarkan. " kataku. Kau tak lagi membalas. Kurasakan getar nafasmu telah berhenti untuk selamanya.

Sejak itu, aku selalu rindu. Aku rindu tawamu, rindu pula candamu. Terlebih lagi, mengingat lebaran sudah tiba. Kita masih sempat tertawa bahagia kala ibu membelikan baju berwarna kembar bagi kita.

Ah kakak. Andai kau tahu apa yang ada di hatiku. Pasti kau akan kembali, bersamaku, selamanya hingga mati bertamu di depan rumah kita. Sekarang janganlah kau bersedih di sana. Kedua anakmu akan jadi tanggunganku. Apa yang kumakan, itu yang mereka makan. Kecuali aku tak makan, mereka pun tak akan dapat makan. Janjiku padamu...

Cerpen Kakak Kembalilah Jika Kau Letih - Bang Igo - Gorontalo 2015