7 Desember 2017

Nasib Penjaga Warung dan Uang Rupiah yang Sering Lusuh

View Article

Apa kamu sudah membaca kabar negeri seberang yang uangnya 100 miliar dolar 
hanya bisa membeli 3 butir telur? 
Kalau iya, jangan sampai rupiah bernasib sama!

Pikiran itu terlintas ketika saya menjaga warung mertua. Ada seorang pembeli menyerahkan uang 20 ribu rupiah, tapi sudah penuh tampalan. Di bagian ujungnya, itu diperban dengan selotip bening persis lurus mengenai angka nol. Sehingga uang 20 ribu itu serupa uang 2 ribu saja karena angka nolnya sudah diambutasi.

Nah, sebagai penjual, tentu saya ogah-ogahan dengan uang rupiah yang sudah gembel seperti itu. Jangan mau diterima untuk membeli, dikasih saja saya sudah tak sudi. Uang itu sudah jorok kelihatannya.

Tapi, kali itu saya entah mengapa menerima uang sobek penuh perban itu. Saya terima saja karena pertimbangan  wajah pembelinya begitu memelas dan sungguh mengharap belas kasih. Kebetulan dia tetangga di belakang rumah. Dia hidup seadanya dan setiap hari langganan belanja di warung.

Saya pikir, mungkin itu uang terakhir yang mereka punya. Alhasil saya terima saja. Dengan niat, nanti uang yang rusak saya kumpulin saja dulu sebanyak mungkin, nanti kalau sudah banyak barulah saya tukarkan sekaligus ke Bank. Untuk soal tukar menukar uang rusak sudah biasa. Karena kebetulan sudah menjadi kebiasaan di keluarga, kalau ada uang yang sudah mulai rusak, dan kemungkinan tidak akan lama lagi guna pakainya, pasti kami bawa ke Bank. Dengan begitu, uang yang lusuh tadi menjadi baru.

Sebenarnya gampang saja ke bank menukarkan uang rusak. Bahkan terlampau gampang.  Tidak ada syarat yang memberatkan. Cukup bawa uang rusaknya, asalkan masih bisa dikenali nominal dan keasilannya, pasti diganti.

Hanya saja, hal yang berat adalah, sebagai penjaga warung saya tidak mau menghabiskan separuh umur saya bolak balik ke Bank terus. Dalam kasus yang sama, menukarkan uang rusak di Bank. Apalagi kalau hanya untuk menukarkan uang 10 sampai 20 ribu. Pastinya ongkos pergi pulang ke Bank jauh lebih besar. Bahkan waktu menjaga warung bakal tersita. Rugi pastinya dong! sudah kena tipu uang jelek, harus habiskan waktu bolak balik ke Bank pula. Apa kata dunia!

Oleh sebab itu, sebagai penjaga warung berhati mulia, dan sangat cinta rupiah, saya bakal kasih tips sederhana buat kamu. Harapannya, kamu juga akan berhenti menipu dengan uang rusak, dan pedagang lainnya juga tidak merugi.Tips ini adalah bentuk atau cara kita menjaga uang negara sendiri.
Okey tipsnya adalah:

1. SIMPANLAH UANG DENGAN RAPI
Maksudnya begini. Kalau kamu punya banyak uang, dan sulit menyimpannya, ya sebaiknya membeli dompet yang agak besar. Jangan sampai uang kamu banyak, terus dipaksain masuk dan gontok-gontok uang itu di dalam dompet mungil. Ya akibatnya, uang jadi terlipat-lipat kusut dan lusuh.

Kira-kira kalau saya ibaratkan begini; uang itu seperti beras 60 liter, lalu kamu paksain masuk ke karung khusus ukuran hanya hanya bisa menampung 50 liter. Kebayang ya bagaimana sesaknya?
Ya tentu sesak sekali dong! Maka wajar kalau uangnya jadi lusuh. Rusak sudah pasti.

Kalau memang kamu ngotot tetap memakai dompet kecil tak bermasalah. Hanya saja, kamu boleh taktisi dengan menyimpan uang kamu di ATM saja. Nanti, kalau kamu butuh belanja, ya cukup tarik uang tunainya di ATM atau bisa membayarnya lewat mobile bangking. Apalagi sekarang semua bank sepertinya sudah memberikan layanan itu. Pasti mudah dong! Bayar apa aja pakai rupiah. 

"Tapi kan saya cinta rupiah, masa enggak ada uang tunai kertas di dompet?" 

Yups! salah kaprah dong kalau gitu!

Sebenarnya, cinta rupiah itu bukan semata-mata kamu harus punya uang rupiah yang banyak di kantong. Bukan itu. Wujud cinta rupiah itu, kamu hanya butuh menggunakan rupiah dalam segala transaksi. Misalnya mau beli televisi, lemari, rumah, alat elektronik, gawai dan lainnya. Berusahalah untuk menggunakan rupiah. Jangan tergiur oleh godaan menyimpan uang dalam bentuk dolar. Mau belanja apa saja maunya pakai dolar. Apalagi kalau sudah dikejar rasa takut terkena inflasi, lalu ramai-ramai segera menukar uang ke bentuk dolar. Sekali lagi janganlah! Jangan buru-buru!

Mengapa?

Karena kalau  kamu sudah takut terkena inflasi, dan ramai-ramai menukar uang rupiah, terus berbelanja sudah pakai dolar, maka dipastikan rupiah bakal anjlok di mata dunia. Reputasi rupiah akan semakin hancur dan kemungkinan terburuk bangsa ini tak akan punya mata uang sendiri. Kamu masih ingat bagaimana inflasi yang terjadi di beberapa negara, mata uang mereka mati dan digantikan oleh dolar negeri asing. Pada akhirnya mata uangnya tidak berdaulat di negerinya sendiri. Kan mengerikan kalau itu terjadi di negeri kita. Saya yakin kamu pasti tidak mau Indonesia mengalami nasib serupa! iya kan?

Kalau mata uang rupiah menurun gimana?
Tetap tenang! Mata uang rupiah faktanya masih dalam posisi kuat. Bahkan bisa jadi menguat kalau kita bersikukuh menggunakannya dalam segala transaksi. Apalagi, kalau dilihat dari pangsa pasar, negara ini memiliki wilayah pasar yang luas dengan penduduk terbanyak. Itu artinya kita yang punya pasar, yang datang berdagang di negeri kita, ya mestinya kita yang atur, termasuk segala transaksinya. Dengan begitu kita berdaulat sebagai pemilik pasar terbesar di dunia.

Jadi, intinya simpan uang di dompet seadanya saja, biar rapi. Sisanya silakan disimpan di ATM saja. Nah, soal cinta rupiah tadi saya sudah infokan. Bahwa cinta rupiah tidak mesti bentuk kertas. Simpan dalam bentuk uang elektronik juga tidak masalah. Asalkan masih dalam bentuk rupiah. Itu sudah termasuk kontribusi memperkuat mata uang negara sendiri.

2. SEBELUM MENCUCI PERIKSA UANG DI SAKU CELANA

Nah, kasus ini banyak terjadi. Biasanya uang sisa belanja banyak menumpuk di saku celana. Dan kadang lupa menaruhnya kembali dompet saat kamu berbelanja. Akibatnya, istri kamu yang lagi kebelet nyuci, streeeeet! Main serobot dan copot aja baju-baju yang bergelantungan tanpa cek-cek dulu. Akibatnya, uang malah tercuci. Mau nangis bawang juga ngak akan mengembalikan uang ke bentuk semula. Iya kan?

Akhirnya kamu juga yang harus susah payah menjemur uang, kemudian disetrika dengan penuh penghayatan, dan terakhir diperban bagian sobeknya.

Parahnya lagi, uang itu kemudian bertualang dari tokoh ke tokoh, dari warung ke warung dalam keadaan sakit diperban sana-sini. Pada akhirnya uang itu rusak dengan cepat dan tidak layak pakai lagi. Padahal uang itu uang baru saja dirilis oleh bank. Yang harusnya, uang itu dipakai  dalam jangka waktu yang lama. Tapi karena kelalaian akhirnya uang itu cepat rusak dari prediksi lama penggunaannya.


3. GUNAKAN PENJEPIT KALAU MAU MENGEPAK UANG

Pedagang paling sering menjepit uangnya dengan hekter atau bahasa bulenya Stapler. Biasanya kalau lagi sibuk mengepak uang, eh tah-tahunya asal main tancap aja itu stapler. Akibatnya uang itu jadi sakarat dengan lubang sobekan kecil. Kalau sudah lubang kecil, itu lama-lama melebar. Dan potensi rusaknya juga besar.

Kamu harus pahami bahwa uang itu bukan makalah atau skripsi yang harus dihekter. Jadi, usahakan jangan merusak uang dengan cara begitu. Apalagi di mata uang kita itu terdapat gambar tokoh inspiratif. Ada seperti bung Karno, Bung Hatta, ada Pahlawan Nasional bapak Frans Kaisiepo, bapak Pahlawan Nasional Dr. K.H. Idham Chalid, bapak Pahlawan Nasional Mohammad Hoesni Thamrin, ada Prof.Dr.Ir. Herman Johanes dan tokoh terkenal lainnya. Kok kamu teganya mau menghekter gambar mereka, berarti kamu tak menghargai sejarah dong.

Uang Rupiah Baru Emisi 2016 dengan tampilan para tokoh Inspiratif Bangsa/foto/kaskus

Yups, sebagai warga negara yang baik, perlakukanlah uang itu dengan cara yang bijak. Ambillah penjepit uang yang ramah terhadap kertas. Agar nanti uangnya ngak cepat lecet dan kusut.

Bukankah uang kita sudah kualitas bagus, lalu kenapa cepat rusak?

Saya paham maksud kamu. Memang benar, uang rupiah baru emisi tahun 2016 memang dibuat dengan kuaitas terbaik. Bahkan Bank Indonesia, lewat penuturan pak Suhaedi, uang rupiah terbaru ini memiliki kualitas pengamanan tingkat tinggi di dunia. Karena melelui tahapan keamanan yang cukup ketat dan sangat sulit dipalsukan.

Tapi perlu disadari, uang rupiah itu terbuat dari serat kapas. Memang sengaja dibuat demikian biar tahan dari coretan atau basah oleh air. Berbeda dengan kertas biasa yang kalau terkena air besar kemungkinan langsung sobek. Kalau uang rupiah sekalipun sudah kena air, kertasnya masih bisa bertahan. Tidak langsung sobek. Bahkan masih bisa dikeringkan dan dipakai lagi.

Tapipun demikian, uang itu tetap juga masih jenis kertas. Kalau sering diperlakukan dengan tidak ramah, seperti dihekter, lama-lama juga rusak. Apalagi kalau sering basah atau tercuci. Pasti cepet rusaknya.

Lalu apa istimewahnya uang rupiah sekarang?

Kalau dari segi bahan pembuatannya seharusnya kamu sudah bangga. Karena bahan baku pembuatan uang terbaru 2016 itu sudah setara dengan kualitas uang di negara terbaik di dunia. Kuaalitas pengamanannya sudah canggih. Seperti memberikan memberikan pengamanan efek colour shifting, yang apabila dilihat dari sudut pandang tertentu akan ada warna-warna khusus yang akan memantul, dilengkapi dengan Laten Image; tampilan teks BI dan angka yang tersembunyi; juga menggunakan Blind Code khusus yang tuna netra agar bisa mengenal nominal uang. Lebih kerennya lagi, dilengkapi pengamanan Ultraviolet Feature yang apabila dicek, akan memendarkan 2 warna berbeda di bawah sinar ultraviolet. Selain itu dilengkapi dengan keamanan khusus yang hanya diketahui oleh Bank Indonesia. Jadi, kualitas rupiah terbaru memang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Sekarang kamu sudah tahu. Uang rupiah sudah yang terbaik. Pastinya, usaha keras ini patut kita apresiasi dong.

4. UANG BUKAN ALAT PERAGA KAMPANYE

Kebiasaan buruk dan yang paling parah adalah hal kreasi uang. Saking kebelet pengen jadi bintang, dan terpilih sebagai anggota dewan, uang itu kamu coreti melulu. Seolah-olah uang itu adalah milik kamu untuk selama-lamanya. Kalau memang mau jadi artis, seyogyanya kamu bisa kok pakai alat peraga kampanye paling keren. Semisal video drone di jalanan atau papan iklan di tengah jalan paling besar. Saya jamin pasti terpilih. Kalau pun menemui kegagalan kan tetap bangga. Wajahmu sudah dikenal se dusun. Nah, kalau kampanye di lembar uang seperti gambar di bawah ini, siapa yang tertarik coba? Enggak ada kan?

Jadi, mulai sekarang berkampanyelah di tempat yang layak.



5. JANGAN MEMBUAT UANG SEBAGAI ALAT PENYALURAN KREATIVITAS

Saking hebatnya kita ini, uang saja dijadikan souvernir. Bahkan dijadikan mahar dalam bentuk perahu atau tangkai bunga. Alasannya sih klasik amat. Katanya inilah seni. Tapi setelah mikir-mikir, iya ada benernya. Tapi di sisi lain, perilaku begitu juga kurang pantas. Karena uang itu fungsinya alat transaksi, bukan alat atau bahan baku kreatifitas.


Kalau mau kreatif harusnya kamu ikut jejak pak Warsito, anggota Masyarakat Ilmuan dan Teknologi Indonesia (MITI) yang menciptakan alat penyembuh kangker dengan jaket ciptaanya. Nah, itu baru keren. Melipit-lipit uang itu bukan kreatifitas, tapi merusak. Dan itu tak baik bagi bangsa ini. Coba kamu bayangkan, sebagain besar warga Indonesia, orang-orang berlomba membuat kerajinan tangan dari bahan baku uang kertas, bisa kebayang enggak kacau bangsa ini?

Saya bisa bayangkan betapa sibuknya Bank Indonesia mengganti kurangnya uang beredar dalam masyarakat. Tiap harus menerima uang rusak gara-gara ulah uang yang sering dilipit-lipit. Sebenarnya kalau kami sadar, uang yang rusak itu akan mengurangi jumlah uang beredar. Akibatnya juga akan mempengaruhi sistem perekonomian.

Nah, sebagai generasi cerdas, cobalah terapkan kreativitasmu ke hal yang lebih bermutu daripada uang. Masih banyak kok yang lainnya dan tidak mesti uang kertas yang bisa dijadikan ajang kreativitas. Ya, kalau memang uang yang dipakai sebagai hiasan itu enggak akan dipakai, ya bukan masalah sih. Tapi bagaimana kalau kau kehabisan duit lalu kamu comot uang itu lagi, dan ternyata sobek pas mau mencomotnya. Kan rugi dong!

Okey! Sekarang 5 tips penting tentang merawat uang rupiah sudah saya bagikan. Sebagai penjaga warung yang memiliki rasa nasionalisme,  saya kira wajib berbagi informasi kebagaikan seperti ini. Siapa tahu tulisan ini bisa saja menyentuh hati dan naluri kebangsaan kita.

Seperti kata pak Mohammad Kamiluddin, inspirator LPDP, " Kita tidak pernah tahu, di titik mana kita akan menginspirasi orang lain."

Dasar itulah saya tulisan artikel sederhana ini. Siapa tahu adalah yang terinspirasi dan mengubah pola pikirnya dalam memperlakukan uang rupiah dalam kehidupannya.

Terakhir dari saya, ayuk cintai rupiah.

Gunakan sebagai alat transaksi apapun di dalam negeri.
Kelak suatu hari Indonesia akan berdaulat dan jaya dengan uang bangsa sendiri!
=========================================================

Salam cinta dari saya; penjaga warung di Timur Indonesia!

Sumber gambar: www. google. com dan kaskus. com

29 November 2017

Pertemuan dengan Orang-orang Berhati Bening

View Article

Malam telah memayungi langit Makassar ketika saya baru saja menginjakkan kaki di tanah Daeng ini. Hujan berguguran dari celah mega-mega yang tebal dan gelap. Kilat pun terlihat ganas  menggunting kawanan awan pekat dengan cahayanya.  Hingga hati pun bertanya, beginilah cara kota ini memyabut tamunya?

Saya masih berdiri linglung di  tempat kedatangan penumpang. Tampak di hadapan banyak orang-orang memadati bibir bandara. Mereka pergi dan berlalu dengan ratusan mobil yang menjemput. Sedang yang lainnya masih duduk lesehan dengan setumpuk barang-barang yang teramat banyak.

Saya memerhatikan setiap mobil yang datang dan pergi. Tak ada satupun yang menarik hati untuk segera berangkat. Sebab pikiran belum menentu kemana harus dituju. Kalau sekiranya mau ke kampus, tentu adalah hal yang keliru. Kampus sudah pasti tidak membuka pelayanan di malam hari.

“Lalu, harusnya kemana?”

Sebuah pertanyaan yang menancap tepat di atas ubun-ubun.

Satu jam berlalu masih dalam pergulatan pikiran yang tak tentu kemana akan berkiblat. Masih di tempat yang sama; di bibir jalan bandara.

Di sisi lain, hujan yang datang dengan ramainya ke bumi kali ini,  bukanlah perkara pelik bagi saya. Tidak perlu memaki hujan yang turun hanya untuk memintanya berhenti. Tidak perlu!

Mengapa? Ya karena hujan esensinya adalah sahabat saya sejak kecil. Dia adalah teman bermain. Dengannya saya bisa mengenang kembali masa kecil. Berlarian di tengah kubangan lumpur, sambil berteriak-teriak dengan kuda dari batang daun pisang, atau paling tidak saat dimana saya harus bermain tembak-tembakan dari senapan bambu kecil yang disebut Palapudu dalam bahasa daerah Gorontalo. Sungguh indah!

Hampir 2 jam waktu habis hanya merenung dan memaknai setiap titik hujan yang jatuh terkapar di aspal jalanan. Merenung tentang masa kecil, juga tentang masa depan yang akan dijalani.

Tersadarkan dari renungan panjang, spontan kaki langsung melangkah, mendekati sebuah bus yang melintas persis di pintu keluar bandara. Kaki dengan lihai menyerobot masuk di celah-celah hujan, dan duduk dengan nyaman di sudut kiri bus tujuan kampus Universitas Hasanuddin.

Universitas Hasanuddin, sebuah nama yang tak asing dalam pendengaran saya. Kampus ini begitu terkenal di kawasan sulawesi. Sebuah kampus tertua, dengan wilayah terluas di tanah Makassar.

Namun, kampus ini hanya terkenal di pendengaran saja. Sejatinya, wujud asli dan rupa bagaimana kampus ini belum tergambar persis di pelupuk mata. Ini kali pertama saya harus mendatangi kampus ini. Bahkan tempat pemberhentian bus pun tak tahu akan menurunkan saya di titik UNHAS yang mana.

Mata hanya bisa menerang ke jalanan yang dipadati kendaraan. Jendela mobil yang buram seolah meledek pikiran saya yang juga buram. Tak tahu persis di mana letak UNHAS yang saya tuju.

Ponsel tinggal beberapa persen lagi, dayanya akan habis. Buru-buru saya aktifkan koneksi internet, dan melihat di layar peta gugel, di mana letak persis yang cocok saya harus turun.

Tak begitu percaya dengan peta, saya sempatkan bertanya kepada penumpang lain yang ada di samping.

“Pak, kira-kira kalau mau ke UNHAS, berapa menit lagi baru sampai?”

Seorang bapak langsung kaget. “Aih dek, sudah lewat UNHAS. Pintu depannya sudah jauh.”

Dengan cekatan saya berujar, “Kiri-kiri!”

Sopir bus langsung berhentikan kendaraan.

“Saya turun di sini pak! Terima kasih!”

Saya meloncat keluar bus. Hujan masih setia menemani. Kini malah semakin keras. Butirnya pun semakin membesar. Tubuh yang terkena  hujan serasa ditancapi anak jarum. Titik hujannya membentur badan dengan keras.

Untuk berlindung, saya berusaha mendekati sebuah warung. Saya pikir, sebelum melanjutkan perjalanan, baiknya saya harus makan malam dulu.

Seorang ibu, penjaga warung tersenyum ketika saya mendekati menu makanan. Terdapat beberapa potong daging ayam. Tidak ada pilihan selain menu itu. Bayangan saya ini menu paling enak yang akan saya cicipi malam ini.

“Apa yang tersedia bu?”

“Nasih kuning saja dek?” kata wanita yang kira-kira berumur setengah abad.

“Ya, bu. Saya pesan satu. Saya mohon izin titip barang saya di atas tempat lesehan ini.”

Ibu itu mengangguk.

Pikiran saya kini beranjak tentang nasi kuning. Saya tidak habis pikir, apakah di Makassar nasi kuning adalah makanan favorit juga?

Hal ini cukup kontras dengan apa yang ada di Gorontalo. Nasi kuning adalah makanan pembuka saat sebelum pergi ke sekolah, atau mau bekerja. Hidangan nasi kuning hanya populer di waktu pagi hingga siang.

Amat jarang orang jualan nasi kuning di malam hari. Terutama di Gorontalo. Tetapi, faktanya di Makassar, nasi kuning tersedia di malam hari. Bahkan, amat digemari oleh banyak orang.

Di sini, nasi kuning tidak hanya nasinya saja. Biasanya ada bonus-bonusnya. Ada hadiah seperti kuah yang biasa dipakai untuk hidangan soto.

Kembali lagi, apa pedulinya nasi kuning bagi anak rantau seperti saya. Yang terpikirkan adalah bagaimana saya bisa makan dan sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Itu sudah cukup.

Maka, malam itu saya makan nasi kuning ditemani potongan daging ayam yang empuk.

Setelah itu, barulah saya melanjutkan perjalanan menuju kampus.

UNHAS di malam hari tak begitu cantik. Apalagi kalau sedang hujan. Semua tampak gulita. Lampu yang bertengker di beberapa tiang tak begitu kuat melawan depakan kegelapan. Rasanya saya masuk serupa di sebuah kampung yang redup.

Persis di pintu gerbang, kaki saya merasa pegal bukan kepalang. Di saat itu, masuk pula sebuah pesan singkat dari teman. Dia teman se angkatan dalam program persiapan keberangkaran (PK).

LPDP IKRAM KIDO

Assalamu Alaikum. Akhi, antum malam ini tinggal dulu di masjid UNHAS. Nanti kalau Ana sudah sampai, Ana akan  bantu carikan tempat tinggal.
Sebuah kabar baik, menurut saya. Spontan saya pun merespon dengan cepat.

Siap Akhi. Syukran atas bantuannya.

Selepas membalas pesan, ponsel langsung mati. Sedang arah masjid tidak diketahui persis letaknya sebelah mana. Menurut penjual nasi kuning, kalau mau ke dalam UNHAS, harus naik angkot.

Informasi itu yang menjadi rujukan. Maka, saya menunggu angutan masuk ke dalam kampus. Tak berselang lama, mobil itu datang dan langsung membawa saya.

Tiba-tiba, di jarak kurang lebih 50 meter angkot berhenti. Gelagat supir seolah melupakan sesuatu yang berharga. Dia menoleh ke belakang, “Mau kemana dek?” 

“Masjid UNHAS pak!”

“Apa? Masjid UNHAS? Waduh! Kalau masjid UNHAS di sini banyak dek. Masjid apa dulu namanya?”

“Saya mau turun di masjid kampus UNHAS yang paling besar pak!” Kata saya lantang, melawan riuhnya hujan yang terpental di jalanan.

“Kalau mau turun di masjid besar UNHAS. Berarti harus turun di sini.”

Bagimana mungkin saya harus turun. Baru saja 50 meter sudah sampai tujuan?” pikir saya ketika itu.

Sopir memotong pembicaraan,  “Kalau masjid UNHAS yang besar, sudah yang ini di samping. Turun saja dek. Tidak usah kita bayar!”

Saya turun dengan lugunya. Dasar udik! Rutuk saya ketika itu.

Perbuatan konyol ini yang saya lakukan pertama ketika di UNHAS. Naik mobil gratis dan tidak tahu arah yang dituju. Dasar udik!

Sebagai anak yang tahu balas budi, tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada sang supir, dan saya berlalu dengan pikiran lucu yang baru saja dialami.

Masjid UNHAS sedang ramai dengan anak muda ketika saya memasuki pelatarannya. Saya yakin mereka adalah aktivias dakwah kampus. Karena, di kampus asal saya; Universitas Negeri Gorontalo, mereka para aktivis dakwah kampuslah yang sering mendominasi masjid. Tidak hanya perkara salat, tapi sampai hal teknis kegiatan semua mereka rancang dari dalam masjid.

Saya beranikan diri berkenalan dengan beberapa orang di antara mereka, sekaligus meminta izin untuk istirahat sejenak di masjid.  Mereka mempersilakan dengan senang hati. Saya letakan barang di depan, dan saya segera salat berjamaah. Setelahnya barulah saya mengisi daya ponsel sekedar pemberitahuan ke teman-teman di grup WhatsApp. Saya hanya memberi tahu kalau saya sudah di UNHAS. Dan butuh rumah penampungan sementara.

“Teman-teman, saya Idrus Dama,Gorontalo yang akan ikut PB UNHAS. Saya sudah tiba di Makassar, dan sekarang di masjid Kampus. Mohon bantuannya.”

Baru sekitar beberapa menit, postingan dalam grup itu langsung mendapatkan respon. Teman-teman seangkatan PB segera menawarkan bantuan. Seingat saya, ada 3 orang yang menghubungi saya. Pertama, Bang Jahyid, peserta PB UNHAS yang berasal dari Gowa, Eghy, peserta yang tinggal di Ramsis UNHAS dan terakhir adalah Bang Indra.

Ketiganya bergantian menanyakan posisi saya, dan meminta bersabar sampai datang jemputan. Kira-kira hampir 5 menit kemudian, bang Eghi datang. Dia membawa saya ke Asrama Masiswa UNHAS.

Di ramsis, saya berdialog panjang. Suasana begitu akrab seolah saya dengan mereka adalah teman lama yang baru saya bertemu. Cerita-cerita pengalaman PK sampai keriuhan kelas yang akan saya masuki nantinya.

Saat asyik berbicara, seorang teman datang menjemput. Bang Indra. Dia ingin mengambil bagian untuk mengajak saya ke sebuah kost. Dia berusaha melayani saya sebagai tamu. Dia perlakukan saya semulia mungkin.

Pagi hari ke kampus dijemput, malam hari jalan bersama cari makan, sampai dengan mencari pondokan untuk bisa disewa.

Bahkan, di tengah hujan yang tumpah berantakan, mencarikan dan meluapkan selokan, dia tetap menemani saya untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Kata dia, “memulikan tamu itu harus. Kalau kita kedatangan tamu dari luar, maka kita harus menjemputnya, dan memastikan dia dapat tempat tinggal.”

Saya tidak sempat berpikiran ke sana. Tapi, jika dilihat dari cara dia berpikir, bang Indra adalah sosok sederhana dengan tingkat kepedulian yang besar kepada sesama. Cek dan ricek, beliau ternyata aktivis dakwah kampus. Bergerak di lingkaran tarbiyah HTI. Wajar jika pemikiran tentang memuliakan tamu ada dalam benaknya.

 “Nanti, sementara tinggal di rumah teman saya. Di sana ada kamar yang bisa diapakai. Semala cari-cari kost beberapa hari ini, Antum tinggal mi di tempat teman saya. Nanti saya akan bantu cari-cari kost secepatnya di dekat-dekat PB.” Kata bang Indra.

Sekitar 3 malam saya menumpang di rumah teman bang Indra. Selama itu pula dia terlihat biasa saja. Seperti tak ada beban saya menumpang. Meski begitu, saya merasa tidak enak kalau sudah lama menumpang. Saya tetap berusaha mencari pondokan.

Di dekat UNHAS, begitu banyak pondokan atau tempat kost. Tapi rata-rata untuk perempuan. Khusus untuk laki-laki sangat jarang ditemukan. Kalau pun ada, harganya bisa mencapai 550ribu per bulan dan 800-an ribu per bulan. Itupun minimal harus bayar 3 bulan atau harus bayar 6 bulan. Kalau bayar sebesar itu bisa habis hampir 3 jutaan.

Sulit mendapatkan kost yang bagus dan terjangkau. Bang Indra mengajak saya ke tempat alternatif. Teman bang Indra pernah tinggal di satu pondokan sederhana.Katanya, di sana masih bisa dipertimbangkan.

Kami berdua pun berangkat menuju pondokan terakhir. Hujan kembali deras. Saya yang tak menggunakan alas kepala harus siap menampung air dengan kepala basah. 

“Kalau mau, ada kost teman saya dulu. Dia pernah tinggal di sana. Tapi sekarang sudah pindah. Kalau mau, antum bisa lihat saja dulu kamarnya. Kalau cocok kita pesan untuk 6 bulan.  Tapi rumahnya beralaskan papan. Tapi jangan khawatir, kamarnya di lantai dua.” Kata bang Indra meyakinkan.

Tiba di sana, saya terkesimak dengan permintaan sewaanya.

“Enam bulan 1 juta 250 ribu. Tambah listrik per bulan 60 ribu. Nanti kalau sepakat, saya akan hubungi ibu yang punya rumah.” Kata teman bang Indra.

Saya diberikan kunci untuk melihat kamarnya. Dan, bagi saya ini sudah layak untuk orang sekelas saya. Sudah lebih dari cukup. Sederhana, dan beralaskan papan. Tapi berada tepat di lantai dua.

Saya menghitung, kalau selama 6 bulan sekian juta, berarti per bulan saya hanya membayar 260-an ribu per bulan.

Saya langsung sepakat dan menerima kunci kamar. Permintaan saya ke tuan kost, saya baru bisa bayar untuk 3 bulan. Tuan kost begitu ramah sehingga menerima permintaan saya tanpa ada komentar. Saya menyerahkan biaya kost untuk 3 bulan.

Demi menghemat biaya hidup, saya pastikan jatah makan saya per hari hanya mentok di angka 20 ribu untuk makan siang dan malam. Tidak boleh lebih. Karena bisa-bisa saya kehabisan bekal sebelum cair beasiswa.

KESAN HARI PERTAMA PENGAYAAN BAHASA

Semua teman kelas pengayaan bahasa sangat ramah. Wabil khusus kepada teman-teman sekelas. Meskipun saya anak baru gabung, tapi suasana di kelas seolah-olah mengambarkan kami sudah lama saling mengenal. Tak ada perasaan canggung atau semacam perasaan tidak enak. Bahkan dengan sopannya mereka menyapa saya, kak Idrus. Hanya karena saya sudah menikah, atau memang wajah saya sudah BERMUTU dan layak dipanggil kakak?

Ah, sudahlah. Tak perlu diperdebatkan. Pada intinya saya adalah orangtua di kelas. Karena sudah menikah dan punya anak. Titik. Tidak bisa dibantah lagi. Itu fakta.

Saat ikut kelas Toefl, saya merasakan suasana kebersamaan  begitu indah. Hampir jarang satu kelas  saling tersinggung atau bertengkar. Rata-rata semua suka bercanda dan suka bikin hal-hal yang mengundang tawa.
Kemana-mana kami selalu berjamaah. Melakukan tugas berjamaah. Belajar bahasa Inggris berjamaah, salat berjamaah, bermain juga berjamaah, sampai makan pun berjamaah. Kurang bahagia apa coba dengan teman-teman seperti ini?

 Ah, teman-teman pengayaan bahasa memang sangat menyenangkan. Berteman dengan mereka seperti menemukan keluarga baru. Saling peduli bagi anak rantau seperti saya.

BERTEMU DUA PRIA BERHATI BENING

Dari semua teman pengayaan bahasa Inggris, ada dua yang sosok yang selalu setia setiap waktu membantu saya. Mereka selalu menawarkan bantuan apapun. Termasuk menanyakan kalau biaya hidup saya masih cukup. Dengan senang hati mereka menawarkan uang mereka untuk dipakai.

Kedua orang itu adalah Bang Indra dan Bang Ikram Kido. Keduanya adalah sama-sama aktivis dakwah islam. Satu dari sayap dakwah Wahda Islamiyah, dan satunya aktivis dakwah kampus. Yang membedakan hanyalah; bang Indra belum walimah dan Bang Ikram Kido sudah.

Kesan saya terhadap dua sosok ini sangat banyak. Kalau bang Indra berprinsip ingin memuliakan tamu. Itulah alasan dia berusaha mencurahkan tenaga dan pikirannya agar saya sebagai tamu bisa dapat tempat tinggal yang layak.

Dan bagi saya, mencarikan tempat tinggal itu bukan urusan sepele. Apalagi kalau rela hujan-hujanan di area gang jalan sempit dan bau. Sudah basah, dilengkapi pula dengan bau selokan yang menyengat. Sungguh tidak enak rasanya. Tapi Bang Indra melakukannya, untuk saya pastinya.

Bahkan, setiap pulang dari pengayaan, bang Indra selalu bersedia mengantar saya ke kost. Tanpa ada bayaran apapun. Dengan senang hati dia menawarkan tumpangan pulang. Kalau sedang luang, dia menanyakan kalau mau pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari. Kurang baik apa coba?

Saya pikir, tidak semua orang rela berkorban seperti dia. Hanya orang-orang yang sudah masuk wilayah persaudaraan baru akan mengenal hal-hal seperti ini.

Bang Indra adalah sosok inspiratif. Tapi saya tidak akan ulas tentang dia dalam artikel ini. Saya akan mencoba mengulas tentang dia rubrik Inspirasi nantinya.

Selanjutnya, orang kedua yang paling berkesan adalah Bang Ikram Kido. Setelah tahu saya sudah mendapatkan tempat tinggal, dia langsung buru-buru menyediakan perlengkapan saya.

Dia menyediakan bantal guling, mencarian kipas angin, bahkan meminjamkan saya wadah makan lengkap dengan gelas.

“Antum jangan dulu beli macam-macam. Simpan-simpan saja dulu uangmu. Hemat saja dulu.” Nasehat bang Ikram.

Bang Ikram juga selalu bertanya kalau bekal hidup saya kalau masih cukup untuk hidup di Makassar. Dengan senang hati dia menawarkan bantuan. Tapi saya selalu menolak. Karena, bantuannya teramat banyak dan saya juga tidak enak menerimanya. Tetapi saya yakin betul, bang Ikram adalah sosok inspiratif bagi saya. Karena, dia sudah menikah, dan perjuangannya sama seperti saya ketika membangun rumah tangga di awal-awal pernikahan.

Menurut saya, bantuan yang diberikan bang Indra dan Bang Ikram Kido sungguh luar biasa. Bantuan yang seperti mereka lakukan ini sudah lebih dari sekadar teman. Tingkat Kepedulian seperti ini sudah masuk ranah persaudaraan. Dalam islam dikenal dengan kata Ukhuwah. Sebuah tindakan rela berkorban untuk saudaranya.

Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah, Muhammad Saw bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara seperti halnya satu anggota tubuh. Ketika anggota tubuh lainnya sakit, maka yang lainnya akan ikut sakit.

Artinya, muslim harus senasib sepenanggungan. Itulah pelajaran berharga yang bisa saya petik dari kedua sosok berhati bening ini. Semoga Bang Ikram dan Bang Indra sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya. Amin…

Sampai di sini catatan harian yang bisa saya bagikan. Kalau ada hal yang kurang berkenan, mohon maaf.  Sebab catatan ini hanyalah sebuah refleksi terhadap pengalaman hidup. Tentang pertemuan orang-orang luar biasa dalam hidup saya. Wallahu a’lam bissawab.

23 November 2017

Putri Azizah Dama, Hadiah Pertama Tuhan Dalam Keluarga

View Article

Memiliki anak adalah hal yang paling membahagian bagi setiap orang. Terutama pengantin yang sudah lama menikah. Pasti sangat merindukan buah hati yang akan menghiasi rumah tangga.

Menantikan buah hati adalah hal yang wajar. Selain sebagai simbol kesuksesan dalam berkeluarga, kehadiran anak juga akan menjadi motivasi bagi orangtua bekerja.  Orang-orang menceritakan bahwa ketika mereka lelah, hanya dengan melihat anaknya tersenyum bahagia, terasa segala rasa capek di tubuh hilang seketika. Tawa anak di rumah seperti obat ajaib yang mampu mengusir lelah.

Sekarang kebahagiaan itu sudah saya rasakan.
Setelah sepuluh bulan usia pernikahan, akhirnya istri saya hamil. saya awalnya memang belum yakin sepenuhnya. Karena belum diperiksa secara pasti oleh dokter.

Maka malam harinya saya dan istri langsung ke dokter. Ya, sekadar memastikan.
Istri saya diminta untuk menampung urin di sebuah wadah. Kemudian dokter meletakkan tester kehamilan di dalamnya. Kurang lebih satu menit, hasilnya keluar. Dua garis merah tanda kehamilan telah sempurna.

Saya bersyukur kepada Allah ketika itu. Karena banyak orang meminta punya anak tapi tidak diberi. Saya yang baru saja menikah, Alhamdulillah langsung diberi. Oleh sebab itu, karunia ini harus saya syukuri. Berarti Allah memberikan kepercayaan kepada saya dan istri untuk mendidik hambanya.

Sejak tahu istri hamil, saya tidak mengizinkanya lagi naik motor. Apalagi kalau sudah menempuh perjalanan jauh. Kalau sekadar keliling ke pasar, ke mini market, atau ke Mall, saya kira masih boleh saja. Saya masih memperbolehkannya. Tapi kalau sudah menempuh perjalanan berjam-jam lamanya, saya lebih merekomendasikannya naik mobil. Sebab saya tidak ingin mengambil resiko dia keguguran.

Seiring bulan berganti, istri saya semakin menunjukan tanda-tanda hamil mudanya. Salah satunya dia mulai muntah-muntah. Biasanya setelah selesai subuh dia langsung ke kamar mandi untuk muntah. Meskipun muntahnya hanya air. Selain itu, terkadang dia juga dia muntah saat sedang di sekolah. Kalau sudah merasa tidak enak perut, dia langsung mencari saya sekedar menemani dan menyediakan air minum untuknya.

Anehnya lagi, perasaan ingin muntah itu tidak hanya dialami istri. Dalam beberapa kesempatan, saya juga merasakan pengen muntah. Seperti halnya orang yang mengidam. Orang-orang beranggapan, kalau ayahnya juga muntah, itu kemungkinan anak laki-laki yang akan lahir.

Soal jenis kelamin apa yang akan dilahirkan saya tidak begitu berambisi harus anak laki-laki. Bagi saya, apakah dia anak perempuan atau lelaki, itu sama saja. Toh keduanya juga manusia dan merupakan karunia Allah. Tetap harus dicintai dan dididik dengan baik.

Tujuh bulan sudah berjalan. Janin dalam kandungan istri saya semakin aktif bergerak. Sekali janin itu bergerak, langsung bisa kelihatan di permukaan perut istri. Saya sendiri baru pertama kali merasakan gerakan bayi di dalam perut. Sungguh menakjubkan. Makluk Allah itu hidup selama berbulan-bulan di dalam perut dan berada dalam tabung air ketuban.

Ketika janin itu bergerak sudah pasti istri saya akan merasakan sakit tiada terperih. Tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalani dan menikmati sakitnya. Mau mengeluh su dah pasti salah. Karena sakitnya orang hamil itu sudah dijelaskan Allah dalam Alquran. Sehingga tidak boleh mengeluh. Nanti kurang berkahnya saat hamil.

Kalau saya tidak salah dalam mengutip, gambaran sakitnya saat mengandung dan melahirkan itu Allah jelaskan dalam Alquran, surah Luqman ayat 14.

Hamalathu wahnan ala wahin
Ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah di atas lemah.

Dalam ayat itu digambarkan bahwa betapa perempuan hamil akan merasakan sakit yang berlipat-lipat. Kata Wahnan ala wahin, yang berati lemah di atas lemah. Sebuah ungkapan sakit yang mencapai puncak sakit.

Kamu pasti bisa membayangkan. Ketika buang air besar saja, kalau kotorannya keras, bisa-bisa kamu menangis karenanya. Bahkan ada sebagian orang mengeluarkan darah. Itu baru hal kecil. Tentu saat melahirkan jauh lebih sakit.

Tapi saya selalu mengingatkan istri soal melahirkan. Bahwa sakit yang dirasakan saat melahirkan itu akan mendatangkan keberkahan. Allah sudah menjamin surga bagi setiap perempuan yang akan melahirkan. Saat kemungkinan terburuk pun terjadi, jangan khawatir. Allah menyiapkan surga terbaik tanpa melalui hisab. Karena ibu yang melahirkan adalah mati syahid sama seperti para syuhada yang mati di medan perang. keberkahannya sama persis.

Istri saya semakin tegar mendengar nasihat itu. Sehingga setiap waktu saya terus mengulang-ngulang agar dia paham betul kasih sayang Allah padanya.

TANDA KELAHIRAN

Sampai suatu malam istri mulai merasakan hal aneh. Saat dia berjalan, tiba-tiba saja segumpal darah merembes keluar melumuri lantai. Saya yang melihat itu seketika panik. Karena saya takut terjadi hal buruk padanya. Atau bayangan saya dia bakal melahirkan di rumah.

Merespon tanda kelahiran itu saya langsung siapkan semuanya. Saya masukan beberapa potong pakaian ganti istri, paket pakaian bayi dan beberapa sarung yang akan dipakai menyerap darah ketika melahirkan.

Malam hari sekitar jam 10 saya berburu bentor di jalanan. Saya menemukan sebuah bentor tua yang terparkir di pinggir jalan. Saya menawarkan tumpangan dan beliau setuju. Malam itu bentor segera memboyong kami salah satu rumah sakit swasta. Tapi tiba di sana ruangan malah penuh. Saya pun segera mengalihkan perjalanan ke rumah sakit swasta lainnya.

Saya melihat istri saya semakin pucat dan lemah ketika berjalan. Sementara darah mulai membasahi sarung yang dikenakannya.

Di rumah sakit Swasta yang kedua ini istri saya langsung diterima. Dia langsung dibawa ke ruang pemeriksaan untuk memprediksi jam kelahiran. Sambil menunggu reaksi kelahiran selanjutnya, istri saya kemudian ditempatkan di ruang kelas satu. Di sana istri saya berseblahan dengan satu ibu hamil yang berasal dari Paguyaman.

Kata dokter istri saya harus menunggu sampai pembukaan jalan lahir mencapat tujuh centimeter. Untuk sementara waktu istri saya harus menginap dulu. Prediksi dokter jam enam sore besoknya baru akan lahir. Ternyata sedikit tertunda. Besoknya setelah subuh barulah istri saya menjalani proses melahirkan.

Istri saya mulai mengalami kontraksi sekitar jam 10 malam. Hingga pada jam 3.20 menit anak saya lahir. Seorang perempuan. Rambutnya amat tebal dan bertubuh kecil ukuran 29 cm meter dengan bobot berat 2,9 Kg.

Dokter dan perawat segera membersihkan tubuh anak saya. Suster memakaikan baju dan menhangatkan tubuhnya dengan minyak telon bayi. Dalam beberapa menit, tubuh anak saya yang awalnya pucat saat keluar, akhirnya mulai memerah. 
Saat itulah saya segera mengambil bagian. Sebagai ayahnya saya harus mengazankannya di telinga kanan. Karena saya tidak ingin jin jahat yang akan lebih dulu membisikan keburukan di telinga kirinya.

Beruntung tak berselang lama suara azan subuh dari berbagai masjid terdengar begitu nyaring dari berbagai menara. Seolah azan-azan itu juga memberi sambutan kepada anak saya yang baru lahir.

Azan selesai, anak saya mulai menangis. Suaranya begitu nyaring hingga memenuhi ruangan. Menurut para orangtua, tangisnya bayi saat melahirkan itu berdampak positif. Dengan begitu pita suaranya akan berfungsi bagus. Selain itu, suaranya yang nyaring adalah respon terhadap apa yang dia rasakan pertama kali di alam dunia. Jadi wajar-wajar saja!

MENENTUKAN SEBUAH NAMA

Setiap orangtua pasti mencarikan nama terbaik untuk anaknya. Tidak hanya bagus dalam pengucapan, juga bagus dalam pandangan agama. Kalau menurut islam, nama itu adalah doa. Sehingga dalam memberikan nama tentu akan ada pertimbangan baik buruknya.

Ada beberapa nama yang sempat diajukan ketika itu. Ada saran dari saudara, orangtua, maupun keluarga pada umumnya. Hingga saya bersepakat menentukan beberapa nama.

1. Azizah Azzahra Dama
2. Azizah Zahratunnisa Dama
3. Azizah Fitratunnisa Dama
4. Azizah Jannatulfirdaus Dama
5. Putri Azizah Dama

Waktu itu saya memilih untuk nama yang berada di urutan yang ke empat. Karena dari segi makna nama Jannatulfirdaus adalah surga yang sangat dirindukan manusia. Kelak, saya berharap dan berdoa, anak ini adalah jalan kami sebagai orang tua untuk menemukan jalan surga. Anak ini adalah jalan kami beramal dan berbaki kepada Allah.

Saya menamakanya Azizah Jannatul Firdaus. Akan tetapi, ada beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan. Hingga nama itu dibatalkan dan digantilah nama yang lain. Tetapi masih melekat nama utamanya. Azizah. Tak mau berlama-lama saya langsung memutuskan namanya adalah Putri Azizah Dama. Mudah dalam pengucapan dan indah dalam pemaknaan doa.

Oleh sebab itu, saya menyebut Putri Azizah Dama adalah hadiah Tuhan pertama dalam keluarga saya. Karena karunia anak ini adalah puncak kesuksesan bagi sebuah keluarga. Kalau kesuksesan harta itu bisa didapat seiring waktu. Tapi kalau anak itu tidak bisa diprediksi. Dan hanya Allah yang berkehendak kepada siapa anak itu akan dititipkan.

Hal yang paling berat ketika itu adalah perpisahan. Ketika anak Azizah baru berumur 2 minggu, saya harus berangkat ke Depok demi memenuhi panggilan Beasiswa LPDP. Karena Saya baru saja lulus dan dipersiapkan menuju pendidikan Magister Ilmu Sastra di Universitas gadjah Mada.

Kembali dari Persiapan Keberangkatan, saya harus melanjutkan perjuangan pada program bahasa untuk persiapan Toefl di Universitas Hasanuddin. Waktunya pun lumayan lama. selama enam bulan saya harus menjalani kursus Toefl gratis yang dibiayai pemerintah. Setiap bulannya saya diberi biaya hidup oleh pemerintah 3,3 juta per bulan. Lumayan untuk dikirim ke anak dan istri di kampung.

Baru beberapa minggu pengikuti kursus, saya teringat anak dan istri di kampung. Saya rindu mereka. Nah, untuk mengobati rindu saya berusaha menghubungi  istri via Video Call WhatsApp. Dengan begitu, saya bisa melihat langsung perkembangan Azizah dari waktu ke waktu. Kalau sudah melihat Azizah tertidur, barulah saya juga pamit tidur.

Istri saya hanya tersenyum.
Dalam hati saya bergumam, semoga jarak akan mengajarkan itu hakikat rindu yang sesungguhnya.
Sahabat...
Sampai tulisan ini selesai dibuat, saya masih sedang berjuang belajar Toefl di UNHAS.

Ujung Pandang, 23 November 2017
Ayah Melankolis | Idrus Dama


16 September 2017

Kepada Perempuan yang akan Melahirkan Purnama

View Article

Malam telah menua ketika aku menuliskan catatan ini untukmu.  Aku duduk di pertengahan malam memandangi layar laptop, berusaha merenung. Merenungkan tentangmu dan juga calon purnama yang sedikit lagi akan menambah indahnya rumah kita. Saat yang bersamaan aku pun ingat awal perjuangan kita dalam membangun keluarga. 

Kau pasti ingat. Sejak pernikahan pada april tahun lalu, kita memilih untuk hidup terpisah dari kedua orangtua. Tidak di rumahku, tidak pula di rumahmu. Ini sebuah pilihan yang kemudian kita jalani bersama. Katamu, “Kalau kita hidup dengan orangtua, kapan bisa mandiri? Susah senang, hanya kita yang tahu, meskipun masih menumpang di perumahan negara.” Waktu itu aku hanya bisa mengiyakan. Mengingat pekerjaanku juga belum menetap. Aku menurut saja saranmu.

Bulan berlari begitu cepat hingga mencapai angka dua tahun. Di saat bersamaan, kau juga sedang mengandung anakku yang  berusia delapan bulan. Aku tentu bahagia akan hal itu. Namun, jauh sebelumnya, kau telah mendukungku untuk melanjutkan studi S2. Sehingga di waktu yang bersamaan aku pun diperhadapkan pada pilihan yang sulit. Ketika melanjutkan studi, itu artinya kau akan menjadi titik tumpu hidup anak kita. Aku bisa saja jauh darimu, juga jauh dari purnama yang kau rawat nantinya.

Meskipun kau sendiri sering bercanda, bahwa berjauhan tak masalah bagimu. Asalkan aku mengirimi biaya susu anak kita. Tak tanggung-tanggung kau bercanda, “Wajib 1 juta per bulan kirim kamari!”
Aku sendiri berharap bisa mengirimkan lebih. Tapi menurutku ini bukan soal angka rupiah yang akan dikirimkan. Tapi waktu untuk membersamai kalian berdua; kau dan purnama kita. Soal uang, alhamdulillah kita bisa tutupi, tetapi waktu bersama dalam menimang purnama kita itu yang menjadi beban pikiranku selama ini. Kau selalu mendorong bahwa aku harus melanjutkan pendidikan.
“Kau ini pintar. Rugi tidak sekolah lagi!” katamu dulu.

Aku sendiri tidak takin, apakah aku sepintar itu dalam bayanganmu. Sedang aku hanya merasa bahwa aku hanyalah seorang yang punya hobi belajar. Menyenangi hal yang beraroma kesusastraan. Itu saja, tidak lebih.  Mungkin kau berlebihan menyemangati suamimu ini.

Meski pun begitu rumit nantinya,  kau tetap memilih berpikir untuk mendidik purnama kita sendirian. Kau memperlihatkan bahwa kau sendiri bisa menjalani hari-hari selanjutnya tanpaku. Itu memang pilihan yang tidak mudah. Tetapi, kau terus mendukungku untuk melanjutkan studi.

Seperti suatu malam ketika kita berdebat soal ini. Aku putuskan untuk tidak berangkat ke Makassar karena menimbang kau telah hamil. Malam itu aku menangis seolah anak kecil yang kehilangan permen. Aku merasa tak bisa studi kalau kau sedang hamil. Akan tetapi, kau malah menabrakku dengan sebuah alasan, “Kau ini skolah bukan untuk dirimu. Skolah itu untuk anakmu. Kalau cuman kita berdua, so boleh. Rejeki yang ada so cukup. Insya Allah. Tapi ini demi torang pe anak!” sambil kau meraih tanganku dan meletakkanya di atas perutmu yang telah membesar.

Hati ini luruh juga hingga aku menurut saja apa yang menjadi putusanmu. Besoknya aku pun berangkat ke Makassar untuk ikut seleksi wawancara di gedung kementerian keuangan. Uang pemberianmu sengaja tak aku habiskan berbelanja. Demi menghemat biaya hidup, aku memilih menumpang di masjid. Berbuka di masjid dan sahur dengan sepotong roti yang kubeli di warung di depan kantor. Selama tiga hari berkutat dengan urusan seleksi beasiswa LPDP, yang pada akhir juni kemarin aku dinyatakan lulus beasiswa. Kebahagiaan pun memayungi hati kita berdua ketika itu. Bahkan aku segera berlari ke dapur, memelukmu penuh bahagia ketika sedang asiknya memasak. Kugenggam tanganmu dan mengatakan kalau diriku lulus subtansi Beasiswa LPDP Kementerian keuangan. Siap-siap kuliah. Kau ikut bahagia. Kau segera kabari sanak keluargamu.

Tak habis sampai di situ. Setelah lulusnya beasiswa, ternyata aku semakin dilema. Apalagi Kondisi kehamilanmu semakin mendekati kelahiran. Saat yang sama pula, keberangkatan untuk program beasiswa semakin dekat. Kita terus berdiskusi bagaimana nanti menjawab pertanyaan mertua. Nanti kesannya aku begitu egois, lebih mementingkan studi ketimbang membersamaimu di saat kau butuh pendamping dalam membesarkan purnama kita. Teman-teman sesama guru juga menanyakan hal yang sama. Apakah kau akan baik-baik saja ketika suamimu ini pergi belajar lagi.
Kau hanya bisa tersenyum dan berkata, “Insya Allah, saya sih biasa saja!”

Aku yakin itu berat. Tapi aku terus mengingatkan bahwa studi ini untuk masa depan kita.
Jauh sebelum ini terjadi, sebenarnya ini sudah terbayangkan dalam pikiranku, bahwa kau akan melewati hari-hari yang sulit. Kau akan jauh dari suamimu ini, juga jauh dari keluargamu. Ditambah lagi harus merawat purnama kita. Aku sudah membayangkan itu. Sulit pastinya.

Namun, dibalik itu semua, kau yakinkan aku bahwa kau bukanlah perempuan biasa seperti halnya perempuan kebanyakan di dunia ini. Kau perempuan tangguh, perempuan yang mampu berdiri di kaki sendiri. Sehingganya, ketika kau menuntunku untuk melanjutkan studi, aku pun mengamininya.  Seperti nasihatmu, “Skolah ini bukan untumu, tapi untuk keluarga kecil kita.”
Mengingat kata-katamu itu aku semakin yakin bahwa perjalanan studi ini semata-mata bukan hanya karena memuaskan batin. Tapi lebih kepada memperjuangkan nasib keluarga kecil kita nanti. Aku pun meyakini hal itu.

Olehnya itu, aku ingin berpesan.
Kepadamu, perempuan yang akan melahirkan purnama, mohon untuk tetap tegar. Perpisahan yang akan kita jalani memang akan menguras tenaga dan pikiran. Tetapi, kuyakin, perpisahan sementara waktu akan mengajarkan kita banyak hal. Termasuk cara merindukanmu.

SELAMAT MILAD ISTRIKU I SUNARTI

6 September 2017

Mengejar Matahari di Pulau Saronde

View Article

Cahaya langit mulai redup, yang tersisa hanyalah semburan cahaya di ufuk barat. Bulat, besar dan cahayanya Kuning keemasan. Sepertinya sedikit lagi akan ditelan oleh lautan lepas. Saya dan teman-teman berlarian untuk bisa menyaksikan fenomena alam yang mahal ini. Semuanya seperti dikejar hantu, lari sempoyongan karena kelelahan. Walau akhirnya hanya bisa melihat sepenggal cahaya yang tersisa. Segera kami abadikan sisa cahaya itu dengan kamera seadanya.
  

"Sunset" itulah spot alam yang membuat kami harus ngos-ngosan  mengejarnya. Kami ketinggalan momen itu disebakan terlalu lama mandi di bibir pantai, bagian depan dari pulau Saronde. Saking terlena dengan dinginnya air di sore hari, kami lupa kalau matahari akan terbenam. Beruntung, di saat itu salah seorang teman berteriak, "Woy ada Sunset, Gaga skali capat, somo tenggelam" Pekiknya keras sambil melambaikan tangan

Secepat mungkin, kami berhamburan mengejar mataharinya. Disela-sela pohon pinus dan pohon yang kami lewati, cahaya seperti dinding dan lainnya seperti benang-benang menembus gelap. Hati berdetup kencang. Khawatir kalau sampai tidak bisa mengejar Sunset-nya. Satu,dua, tiga, ah ternyata matahari sudah separuh ditelan air. Parahnya lagi, si pembawa kamera belum juga sampai.

"Waduh, mana kamera ini!" Desah salah seorang dari kami. Padahal matahari akan segera lenyap dari peredarannya menuju belahan bumi yang lainnya. Ya, hasilnya, kami hanya bisa menikmati seluit merah saga yang tersisa. Kecewa? emang sih. Tapi apa boleh buat, kita juga yang salah. Bagaimana mandi sesuka hati di balik pulau, sehingga lupa kalau ada pemandangan mahal di sore hari yang harus diabadikan. 



Gagalnya kami mengejar matahari bukan masalah keasyikan mandi saja. Kami juga terbawa arus cerita yang kami buat sendiri. Di pesisir pantai, saat matahari masih terang benderang, kami berlomba membuat sebuah istana pasir. Saat itu, kami diharuskan membuat tempat dibelahan dunia dan masing-masing harus mendeskripsikan tempat itu. 

Imaginasi saya liar melayang ke mesir, jadilah bangunan piramida. Thirto, ternyata membuat Institut Teknologi tercanggih,yang bangunannya dipahat dengan gelas air mineral. Sementara Imam, orangnya cinta tanah air, jadinya dia membuat jembatan Gorontalo. 

Terakhir, Dosen saya, yang mirip mahasiswa, Mam Tia, begitulah kami menyapanya, Ia membangun Negara Israel. Wow, tahukah anda? begitu rakusnya kekuasaan, semua kapling pantai diuasainya. Benar-benar melambangkan keserakahan Israel dalam merebut tanah milik negara tetangga. Sampai-sampai kapling tanah mesir yang saat itu saya bangun susah payah, juga ikut diembatnya. 

Mulailah kami berbantah-bantahan, bahwa milik siapa yang terbaik, dan dipertunjukanlah kelebihan masing-masing bangunan negaranya. Yang asik adalah presentasi dari negara Israel.

"Negara kami ada radar pendeteksi Bom, jadi teroris tidak bisa menembus kami" Kata, Ibu Tia meremehkan bangunan kami. 

Wajar memang, hampir separuh pasir kami menjadi kaplingnya, tak jarang bangunan kami diakusisi secara cuma-cuma. Melihat hal ini,  Thirto, si pemilik Institut teknologi tercanggih melawan

"Eh, jangan salah, radar kamu yang canggih itu kami yang buat, lalu kenapa sombong" Thirto Menimpali

"Ha..haha...haha...!" Tawa kami lepas, kebanggaan Israel ternyata buatan musuhnya juga. Gara-gara permainan inilah penyebab sunset sampai terlupakan. 

Menyadari hal ini, kami berniat akan tuntaskan pengejaran matahari pada misi besok. Suka atau tidak, kamera kami akan menanggap matahari itu nanti.

Beberapa menit kemudian, terang lenyap di permukaaan, dan jubah gelap membentang luas menutupi bagian bumi yang kami pijaki. Kami semua pergi meninggalkan genangan laut yang tenang itu, dan menyegerakan diri untuk bersih-bersih sambil persiapan makan malam.

Kami merayakan pesta makan malam ini  di bibir pantai. Sungguh tempat ini begitu romantis. posisi pantainya yang melengkung menghadap daratan pelabuhan Kwandang membuat kita seakan berada di istana sendiri. 

Bibir pantai ini  dihiasi dengan pohon yang indah, ada pohon pinus dengan daunnya yang seperti benang dan juga pohon ketapang yang rindang. Yang membuat suasana terasa nikmat lagi, malam ini hanya  disinari dua lentera kecil. Boleh dikata, kembali ke zaman doloe...

Sebagian dari kami ada yang masih sibuk mengganti pakain. Ya meskipun dengan menggunakan cahaya seadanya. Tapi It’s Okay, menurut kami inilah seni yang tidak bisa kami temukan di belahan dunia manapun, kecuali di pulau mungil bernama, Soronde ini.

Kami semua telah berkumpul di depan tenda. Di halaman pantai, dengan pasir putih nan halus, kami bentangkan sebuah terpal putih ukuran 3 x 4 meter. Kami duduk berkumpul sambil bersenda gurau. Sesekali kami melihat kilau cahaya dari perahu neyalan yang berada dekat dengan pulau yang kami huni ini. Terdengar riak gelombang yang mengalun merdu, tapi tidak ribut seperti halnya pesisir pantai lainnya. 

Di belakang dari tempat duduk kami, sebuah meja bundar dan dua buah bangku memanjang yang terbuat dari papan sederhana. Sepertinya sudah lapuk, tapi cukuplah untuk diduduki dua atai tiga orang saja. Di samping kiri kami, Imam, si otaknya perjalanan kami kali sedang asyik membakar ikan cakalang yang kami beli saat di pelabuhan kwandang.

Ikan ini tidak dibakar secara tradisional, menggunkan kayu seadanya dan diguling-guling di pasir sebagaimana biasanya. Alhamdulillah pihak pengelola wisata telah menyediakan alat pembakaran ikan yang moderen. 

Saat itu, saya hanya keasyikan dengan film India yang super sedih. Lagu-lagu Shreya Goshal merdu membelah angin sepoi-sepoi yang bertiup dari arah utara. Saya terpaut oleh sosok yang memiliki suara merdu  dari Bollywood ini, gadis ini memang hampir tidak kelihatan di layar film. Tapi siapa yang menyangka, playback singer yang punya suara merdu itu adalah Shreya Goshal. 

Melihat ulah saya ini, sebagian teman tertawa cekikikan. Mungkin meledek, mungkin juga karena terasa aneh, di pulau malah dengar lagu India. Humzz,,! Tanpa terasa, ikan telah siap disantap, nasih sudah disajikan. 

Saat membuka tempat nasinya, langsung uap itu mengudara mengenai wajah saya. Ya sesaat mengursir hawa dingin yang mengelimuti tubuh. Di meja sederhana itu, tersedia dua ekor ikan bakar besar, sepiring dabu-dabu iris dengan tomat yang mendominasi, dan tak lupa ditemani sepiring besar sayur kangkung.  

Melihat itu, seketika teman-teman lainnya bergegas mengambil piring dan mengambil bagian makannya. Semua tampaknya kelaparan, sampai yang lainnya lupa pakai sendok. Maklum, siang sebelum sampai di pulai ini, kami hanya sarapan nasi kuning. Apalagi tenaga terkuras setelah bermain, berlari riang dan membuat kerajaan pasir di sore hari, tentu membuat kami langsung merasa lapar. 

Tiba-tiba, diantara kami ada yang berhenti makan. Mukanya ada yang merah, sambil menghirup udara lewat mulut. Oh, ternyata pedas, ditambah lagi air tak cukup. Beruntung, salah seorang dari kami segera membeli air mineral di sebuah warung sederhana yang ada di pulau ini. Makan pun akhirnya bisa dilanjutkan. Jika pulau ini masih seperti dulu, mungkin kami akan menderita di pulau ini. 

Saya benar-benar menikmati perjalanan kali ini. Sebelumnya, saya pernah ke pulai ini, ya walau hanya sehari, tapi kali ini berbeda, sebab ada acara nginapnya. Tuhan memberi saya kesempatan untuk menikmati pulau ini bukan hanya di saat terang sambil ditemani sang surya, tapi juga di saat gelap ditemani jutaan bintang yang berhamburan di langit sana. 

Satu per satu diantara kami sudah mulai mengantuk. Saya melihat, waktu telah menunjukkan pukul 20.00 WITA. Beberapa teman saya sudah mulai mengmbil posisi tidur, tepat di bibir pantai dengan alas tidur seadanya. Tahukah kamu? Kami tidur tanpa batas antara langit dan tanah. Tidur lepas dengan mata bebas menerawang ke belahan langit mana saja. 

“Eh, bagimana kalau main domino?” Sahut Imam, salah satu personil jalan-jalan kami. 
“Oke, mantap itu” Sahut saya semengat. “Baru di pulau bagini mo dapa domino dimana?” Jawabku ragu

“Ada dijual di situ!” kilah Imam sambil berlalu. 

Saya lupa, kalau di pulau ini sudah lengkap. Jangankan Domino  kebutuhan makanan baik snack ataupun makanan berat telah disediakan. Bahkan, yang ingin karaokean juga ada. Sebuah Rumah makan bensar terbuka di dekat pintu gerbang masuk pulau ini. Bagi pelancong yang datang menempati Cottage, biasanya sarapan pagi telah disediakan di rumah makan. 

Rumah makan di pulau ini memang diatur se natural mungkin. Semua terbuat dari kayu, meja pun dibuat dari irisan kayu besar. Namun, tetap indah, meja itu dipoles dengan cat kayu yang kinclong. Di sudut rumah makan, ada perahu karet berwarna kuning yang bersandar, di sebelahnya lagi ada perlatan snorkeling. Bagi yang suka melihat kerajaan karang di bawah laut, mungkin peralatan snorkeling bisa jadi alternatif. 

Tempat ini memang sudah mulai bagus dan menjadi objek wisata andalan Gorontalo. Maklum, investor Jepang telah mengadakan “Memorandum of Understanding” dengan pemerintah selama 30 tahun. Semua fasilitas sedang dibenahi. Jadi, bagi kita yang berniat ingin liburan keluarga, tak perlu ragu lagi, kebutuhan makanan sampai tidur sudah tersedia.

Meskipun dikelola asing, namun tidak terlalu membawa kerugian bagi daerah ini. Investor ini, Alhamdulillah berbaik hati menggunakan tenaga kerja dari warga asli Gorontalo. Sehingga, sedikit atau banyak, rakyat Gorontalo bisa mendapatkan penghasilan dari kekayaan alam yang dimilikinya. 

“Maluwo Domino, he’o sapa yang mau barmain”

Kamipun menunggu mata ini teratup sambil bermain domino. Sampai akhirnya malam makin larut dan lainnya pamit satu-satu untuk berlayar ke dunia impian masing-masing. Yang tersisa tinggalah saya, kakak senior saya, Diki Setyawan Abas, dan Flora mahasiswa Jurusan Pariwisata. Kami bertiga masih kuat untuk berpetualang melewati dinginnya angin yang berhembus. 

“Bagimana kalau mau jalan-jalan ke dermaga? Ajak Diki, Senior yang cukup menguasai arena pulau Saronde ini. Kami pun sepakat dan pergi ke dermaga kayu yang memanjang ke laut itu.

Saya mengira, kamilah makhluk-makhluk yang berkeliaran di dermaga nantinya, ternyata di dermaga banyak muda-mudi yang sedang menghibur diri. Meriahnya lagi, lampu kedip layaknya diskotik melingkar panjang di pegangan dermaga.

Cahaya lampu bersinar terang di sepanjang dermaga. Di sana, kami asyik menikmati ikan-ikan yang sedang menari kesana kemari. Ada ikan yang bentukanya seperti layar perahu, ada ikan hias kecil-kecil yang berkejaran, dan ada pula bintang laut yang berhamburan bebas di ke dalaman air sekitar 1,5 meter.

Kami berusaha untuk menelpon teman-teman untuk datang. Sayang, mereka benar-benar kecapean. 
Terpaksa, hanya kami bertiga yang bisa menikmati indahnya dermaga dengan ikan-ikannya. Kami juga bercerita banyak hal, mulai dari kesan kedatangan di pulai ini sampai dengan kebiasaan muda-mudi yang sering datang ke tempat ini. Tak terasa, jarum jam berputar lebih cepat. Mata mulai berat dan menarik kami untuk segera kembali ke tenda.

Kami merebahkan tubuh hanya di sebuah terpal putih. Mata kami melayang tinggi mengangkasa. Hati terasa puas, dan mata ingin sekali mencomot bintang-bintang di langit. Sebelum tidur, kami berniat bangun sebelum matahari terbit, sebab besok akan mengejar mataharilagi, jangan sampai matahari keburu melambung tinggi di atas ubun-ubun. Mata tertutup dan semua merangkai mimpi indah masing-masing. 

***

Esoknya, tepat di wajah kami, cahaya mulai terlihat. Seketika teman-teman yang tidur seperti dikejar serigala. Mereka buang selimut sembarangan, dan berlari ke pesisir pantai sambil  membawa kamera. Jika Sunset telah menorehkan kecewa, kali ini dibayar tuntas oleh Sunrise. 

Semua riang gembira. Ada yang berfoto sambil melompat, ada yang gayanya bak selebriti, bahkan ada yang mengikuti Nyi Roro Kidul di batang pohon besar yang terhampar di bibir pantai. Apapun gayanya, yang penting happy. Mungkin itu kalimat singkat yang mewakili perasaan kami.

Entah mengapa, setiap kali berdekatan dengan air, tubuh seperti diseret untuk terjun ke dalamnya. Teman-teman lainnya telah terjun mandi. Padahal, dinginnya laut di pagi hari bukan kepalang. Yang tersisa tinggallah saya, dan Flora. 

Bukan kami tidak mau mandi, hanya saja kami tidak membawa pakaian lebih banyak untuk dipakai lagi.  Akhirnya kami hanya jadi Tukang foto saja. Tapi, menjadi tukang foto juga menyenangkan. Kami lebih banyak menjadi penikmat lewa kamera. Setiap sudut dari pulau ini tak lupa kami abadikan. 
Sampai sore tiba, kami duduk di dermaga bersiap-siap kembali. Semua berkisah tentang persaannya. Ada yang bercita-cita akan kembali lagi ke pulau ini. Ada pula yang ingin mengajak teman-teman kampusnya untuk berlibur ke sini. Sesaaat kemudian, perahu yang akan mengantarkan kami telah siap. Hanya ada satu kata yang bisa kami tinggalkan di pulau ini, “ I Miss You Saronde, Sometime, I will back  here again!”




4 September 2017

Cerpen | Tuhan Pinjamkan Kami Sepotong Bumi

View Article

Tanah perbatasan Rakhine tiba-tiba mencair. Tanah yang awalnya kokoh itu seketika melunak, hancur karena hentakan ribuan kaki manusia yang berlomba merebut garis batas negara tetangga, Bangladesh. Tanah keras itu hancur, dilebur oleh keringat yang mengalir dari kaki-kaki yang melangkah penuh ketakutan. Penuh rasa was-was yang tidak bisa lagi ditakar dengan angka.

Seorang anak perempuan, berwajah gelap, dengan kerudung hitam yang telah dilumuri bercak lumpur, terlihat begitu antusias. Dia seolah memimpin rombongan untuk menemukan rute perjalanan paling cepat menuju negara tetangga, Bangladesh.

Beberapa menit kemudian, anak perempuan itu menepi di sebuah pohon yang begitu tinggi. Di sana dia melabuhkan bahunya. Lalu, memperkuat ikat perutnya yang sudah beberapa hari belum diisi apapun selain air. Anak itu merintih sakit, bagian pahanya sobek oleh timah panas yang melesat dari moncong senjata. Anak kecil itu terus berlari menuju rerumputan demi mengindari anak peluru yang dilepas brutal oleh orang dari negerinya sendiri.

Timah panas itu bersarang empuk di betis kananya. Darah yang merembes segera dihentikan dengan sobekan kerudungnya yang kusam. Dalam benaknya, dia selalu berharap, negara tujuannya akan sudi meminjamkan sepotong tanah untuk mereka berteduh. Sekadar menghapus air mata yang terus merembes tak ada henti-hentinya.

Fatimah, begitu gadis berusia 12 tahun itu disapa. Dia tampak begitu dewasa. Dia bahkan menjadi barisan terdepan memandu perjalanan. Seolah Tuhan telah memberinya peta rahasia menuju negeri yang akan menjadi tujuan hidup. Dalam keyakinannya, bahwa selama negeri sebelah masih salat, hidupnya bisa tertolong.

Perjuangan Fatimah bukan perkara mudah. Malam yang mencekam, dingin yang mengigit, aroma tubuh yang telah membusuk, darah yang terkucur, dan jerit tangis keluarga yang melihat keluarga lainnya mati lantaran dicekik lapar, sudah dialami Fatimah dalam beberapa hari perjalanan. Namun, Fatimah tetap bersinar, menapaki jalan yang begitu terjal.

Fatimah anak perempuan yatim piatu. Ayahnya dibakar hidup-hidup. Dia sendiri menyaksikan bagaimana ayahnya lari pontang-panting memohon bantuan dalam keadaan tubuhnya bermandikan api yang mengamuk. Sedikit demi sedikit kulitnya melepuh. Lalu berasab, dan jadilah ayahnya seonggok arang hitam, dengan sisa-sisa tulang yang hancur. Api telah menelan ayahnya untuk selama-lamanya. Sedang beberapa orang dengan pakaian seragam pasukan lengkap, senjata di bahu kanan, tertawa lepas melihat ayahnya yang kepayahan hingga tewas.

Mata Fatimah memerah ketika itu. Dia ingin menonjok habis bala tentara yang membakar ayahnya. Namun, tangan mungilnya tak kuasa melawan kekar tangan yang dipersenjatai. Alhasil, matanya hanya bisa merekam semua kejadian kala itu.

Lain lagi dengan ibunya yang sedang mengandung. Juga adik laki-lakinya yang masih belajar berlari. Keduanya mati dengan cara paling biadab. Ibunya yang sedang hamil disetubuhi. Kaki ibunya dikangkangi, lalu secara bergantian mereka menikmati tangis ibu. Adiknya yang menjerit di samping seketika dipisahkan kelapanya dari badan. Darah menyemprot, lalu adiknya tak lagi menjerit untuk selama-lamanya.  Pedih tiada tarah. Hati Fatimah bak karang yang dihantam ombak. Hancur-sehancur-hancurnya.

Fatimah merekam betul kejadian itu. Dia berhasil lari ketika para tentara itu sibuk menangkapi penduduk lainnya. Dia ikut bersama rombongan yang lari ke hutan. Dia berkawan dengan penduduk yang kabur bersamanya. Menolong para wanita yang kepayahan dalam berjalan, hingga mencarikan sumber-sumber air paling dekat bagi kaum ibu.

Fatimah kecil rela menahan lapar berhari-hari. Hanya dengan meminum air beberapa teguk, kaki dan tangannya seolah menemukan gairah hidup lagi.  Dia bertekad akan kembali lagi suatu hari. Dia hanya ingin menjemput jasad kedua orangtunya, lalu membawanya ke negeri yang lebih aman.  Sekalipun yang tersisa dari jasad itu adalah sebutir debu.

Fatimah sendiri pernah mendengar percakapan ketika pembataian kaumnya sedang berlangsung. Bala tentara mereka tak segan membunuh dan melontarkan kata-kata, “You are terorist, you must be killed.”

Fatimah paham betul arti tersebut. Di umurnya yang begitu dini, Fatimah sudah dididik ayahnya tentang islam. Ayahnya bahkan mengatakan, “Terorist is not islam.”  Pelajaran itu yang diyakini Fatimah. Dia sendiri heran, mengapa orang-orang  itu begitu bringas membunuh kaumnya. Padahal tak ada yang namanya islam teroris. Yang ada adalah islam rahmatalil alamin. Hanya itu.

Fatimah pernah mendengar kasus yang sama dari ayahnya. Mereka dihancurkan pasti karena unsur politik. Dia teringat kasus Osama bin Laden. Tokoh yang diangggap teroris kelas atas. Tetapi apa yang terjadi. Bukan Osama yang ditanggap, malah negaranya yang dibakar habis-habisan. Dengan dalih membunuh teroris. Sama halnya dengan mengejar tikus dalam rumah. Yang dicari tikus, yang dibakar rumah. Alasanya membunuh tikus, ternyata niat ingin membakar rumah.

Apa yang terjadi pada negerinya, Fatimah sudah paham. Dia tahu, nasibnya akan sama dengan kisah yang dia dengar dari ayahnya.

Dari gejolak masalah itu,  Fatimah tumbuh dewasa dalam berpikir, bahkan di usinya yang begitu muda. Apakah mungkin masalah akan membuat satu manusia tumbuh dewasa lebih cepat? Entalah. Fatimah sudah melewatinya.

Anak perempuan itu terus melaju, menuju tanah seberang. Lehernya yang kering seketika dilembabkan oleh keringat yang mengalir dari dahi.

Ketika Magrib tiba, Fatimah mengajak rombongan untuk istirahat. Semuanya mencari pohon-pohon besar untuk berteduh. Rinai hujan terasa begitu lembut. Titik demi titik jatuh di atas ubun-ubun. Fatimah menunduk. Kemudian terbayanglah ayahnya, ibunya, adiknya dan orang-orang yang telah terbunuh.

Mungkinkah Tuhan sedang menangis melihat kami?
Fatimah seolah telah tiba di puncak kesabaran. Hatinya membaja. Sebentar kemudian, dia salat berjamah di tengah hutan yang kian meredup.

Gadis kecil itu merebahkan tubuhnya di sebuah pohon. Lalu, menutup matanya sejenak, dan berdoa semoga esok dia masih bisa melihat matahari.  Setiap kali matanya terpejam, seolah ratusan ribu suara menyalak-nyalak di telinganya. Suara orang-orang yang dibantai di depan matanya.

Azan Subuh berkumandang. Fatimah bersama Rombongan segera salat. Di pagi buta seperti itu,  rombongan melanjutkan perjalanan. Perbatasan masih jauh dari pandangan. Mereka harus menakulukan empat puluh gunung lagi. Menyusuri sungai yang begitu dingin. Fatimah membesarkan jiwa.

Pada hari ke delapan, Fatimah dan rombongan tiba di sebuah pagar perbatasan. Pagar yang dikuatkan dengan lilitat kawat berduri. Beberapa laki-laki menerbos masuk. Menghancurkan pagar, dan membuat ruang masuk bagi rombongan. Baru sekitar 100 meter perjalanan, bala tentara negeri yang tetangga mengepung. Fatimah berlari ke depan.

“I am Muslim. Are you muslim?”
Tentara hanya tersenyum, “yes, I am Muslim.”

Serentak, rombongan berteriak, “Allahu Akbar! We are brother!”

Semua berpelukan. Tentara itu pun bahagia menyambut saudaranya. Rombongan dibawa ke perkotaan demi mendapatkan beberapa makanan dan obat-obatan. Mereka telah mendengar kejadian yang telah menimpa saudara mereka yang datang itu. 

Beberapa utusan tentara menghadap presiden. Semua sia-sia. Diputuskan mereka harus mengembalikan rakyat Rohingya. Namun, tentara muslim yang lainnya tak kuasa melihat saudara dikembalikan. Pilihan pahit harus tetap diambil. Rakyat Rohingnya harus dikembalikan ke negaranya, Myanmar.

Ribuan masa itu diboyong ke pesisir laut. Puluhan kapal telah disiapkan. Semua dikumpulkan di sana. Sambil berurai air mata, seorang prajurit muslim berterik, “ Ya muslimun! You are my brother, but I can help you all now. My contry has not a authority to save you.”

Fatimah kecewa mendengar pernyataan bahwa mereka tak bisa ditolong. Perempuan cilik itu pun berlari ke ujung kapal. Dia meneriaki tentara-tentara itu.

“ Kalau kalian muslim? Lalu mengama menolak kami?” Suara Fatimah lantang membelah riuhnya suara tangis dari rombongan.

Seorang tentara menangis, lalu membalas teriakan gadis mungil itu dengan penuh kesedihan.

“Negaramu adalah rumahmu. Negaraku ada rumahku. Kami, tak boleh ikut campur dengan urusan negaramu. Karena itu sama mencampuri urusan rumah tangga orang!” lantang sang tentara berteriak.

Fatimah tertunduk lesu. Tangisnya meledak. Hujan pun segera turun. Angin pun bertiup begitu kencang. Kapal-kapal itu menjauh meninggalkan tanah Bangladesh. Mereka terapung, tak jelas ke mana arah yang dituju. Kemana arah angin bertiup, di sanalah harapan mereka menurut.  Mereka hanya terus berdoa, semoga ada negeri yang siap menampung mereka.

Fatimah menguatkan kakinya. Berdiri lalu berteriakk sekuat-kuatnya. Persis seperti anak yang telah dirasuki ribuan iblis. Amarahnya meledak-ledak sambil berteriak.
“Ya Allah, pinjamkan kami sepotong bumi!”

Fatimah lalu terjun ke laut, dan menghilang di tengah amukan ombak. Rombongan histeris melihat anak itu mengakhiri hidupnya. 😂😂😂

IDRUS DAMA | GORONTALO 5 SEPTEMBER 2017 
ISLAM ADALAH DUNIA TANPA BATAS NEGARA