Bertemu Pak Nurdai, Peraih Kalpataru Zaman Soeharto

Nurdai sedang diskusi bersama Soeharto, Presiden RI tentang Swasembada Pangan Pada Acara Penyerahan Kalpataru tahun 1989 di Istana Negara Jakarta.

Pertemanan kadangkala menjadi jalan kita bertemu orang-orang hebat. Pada tahun 2018 yang lalu saya menjalani masa pendidikan bahasa di Universitas Hasanuddin.

Dari pendidikan bahasa itu saya bertemu sahabat bernama Djahid. Dia adalah perantara saya bertemu sosok yang hebat bernama Nurdai, ayah dari Djahid sendiri.

Darinya saya menelusuri jejak sejarah. Ayahnya hidup di zaman Soeharto. Sebagai tenaga medis pembantu di Mannanti.

Seiring waktu tantangan di masyarakat semakin membuatnya sedih. Sebab, setiap kali pasien yang datang berobat tak punya uang membayar. Kalau begitu terus bakal tak punya ongkos beli obat lagi.

"Kalau ada yang sakit datang, saya malah tambah sakit. Karena yang sakit itu tidak punya uang bayar obat. Terus saya mau bagaimana?" Kenang pak Nurdai, saat berkisah masa awal dia bertugas di Mannanti, Sinjai.

Bagi pak Nurdai, Kondisi itu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Dia tahu warga sangat miskin ketika itu. Makan saja rakyat masih kesusahan apalagi mau mengongkosi kesehatan mareka sendiri.

Semua serba salah. Di satu sisi pak Nurdai punya keluarga yang wajib untuk dibiayai, tapi di sisi lain rakyat yang sakit juga tidak bisa ditolak, apalagi hanya karena tak punya biaya.

Berhari-hari pak Nurdai memeras ide, tentang bagaimana menyelesaikan persoalan masyarakat tempat dia bertugas.

Lantas dia melihat-lihat hal yang bisa dimanfaatkan demi rakyat. Tercetuslah ide membuat saluran air yang bersumber dari Balampesoang. Dengan begitu masyarakat terbantukan soal pasokan air.

Lalu, Pak Nurdai mulai bertani dari pekarangan sederhana. Dia kembangkan bibit unggul dengan teknik okulasi. Setelah berhasil membuat bibit, lalu pria ini membagikan bibitnya secara cuma-cuma kepada masyarakat. Tanpa bayaran apapun.

Dari bibit itulah banyak petani makin bersemangat membuka lahan baru. Mereka mengikuti arahan pak Nurdai, hingga akhirnya, Mannanti menjadi desa penghasil buah yang cukup popular.

Hasil panen buah di Mannanti mulai merambah ke kota. Para pedagangpun datang berduyun-duyun memborong hasil tani mereka. Perekonomian pun berumbuh.

Berkat usaha Pak Nurdai ini, dia kemudian dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan Kalpataru. Sebuah penghargaan  kepada aktivis lingkungan yang telah membawa perubahan dalam masyarakat. Pak Nurdai pun diundang langsung ke istana kepresidan.



Lalu, apa sebenarnya Kalpataru itu?
Dalam definisinya, Kalpataru dimaknai pohon kehidupan, yang reliefnya pertama kali ditemukan di Candi Mendut, Jawa Tengah. Tujuan penghargaan ini adalah motivasi untuk terus berpartipasi dalam memelihara tatanan lingkungan.

Dalam kategorinya, Kalpataru diberikan kepada tiga kriteria yakni 1) Pengabdi Lingkungan, 2) Pembina Lingkungan, 3) Penyelamat Lingkungan, 4) Perintis Lingkungan.

Mendapatkan penghargaan Kalpataru bukan sembarang saja. Syaratnya haruslah 10 tahun atau lebih di bidang pengabdian pada amasyarakat dan lingkungan.

Beratnya syarat itu juga menjadi ujian bagi aktivis apakah benar-benar konsisten dalam memberdayakan masyarakat dan lingkungan.

Seleksi ketika itu pun berat. Sebab setelah diyantakan lulus oleh panitia, lalu kemudian pemerintah langsung meninjau kontrbusi nyata saat itu.

Jadi, Kalpataru adalah murni sebuah penghargaan bukan sebuah kompetisi. Ini adalah sebuah apresiasi kepada mereka yang tengah berjuang membangun masyarakatnya.

Dan, Nurdai adalah satu dari pejuang lingkungan itu.

Related Posts

Load comments

Comments