Pertemuan dengan Orang-orang Berhati Bening

Februari 06, 2017
Malam telah memayungi langit Makassar ketika saya baru saja menginjakkan kaki di tanah Daeng ini. Hujan berguguran dari celah mega-mega yang tebal dan gelap. Kilat pun terlihat ganas  menggunting kawanan awan pekat dengan cahayanya.  Hingga hati pun bertanya, beginilah cara kota ini memyabut tamunya?

Saya masih berdiri linglung di  tempat kedatangan penumpang. Tampak di hadapan banyak orang-orang memadati bibir bandara. Mereka pergi dan berlalu dengan ratusan mobil yang menjemput. Sedang yang lainnya masih duduk lesehan dengan setumpuk barang-barang yang teramat banyak.

Saya memerhatikan setiap mobil yang datang dan pergi. Tak ada satupun yang menarik hati untuk segera berangkat. Sebab pikiran belum menentu kemana harus dituju. Kalau sekiranya mau ke kampus, tentu adalah hal yang keliru. Kampus sudah pasti tidak membuka pelayanan di malam hari.

“Lalu, harusnya kemana?”

Sebuah pertanyaan yang menancap tepat di atas ubun-ubun.

Satu jam berlalu masih dalam pergulatan pikiran yang tak tentu kemana akan berkiblat. Masih di tempat yang sama; di bibir jalan bandara.

Di sisi lain, hujan yang datang dengan ramainya ke bumi kali ini,  bukanlah perkara pelik bagi saya. Tidak perlu memaki hujan yang turun hanya untuk memintanya berhenti. Tidak perlu!

Mengapa? Ya karena hujan esensinya adalah sahabat saya sejak kecil. Dia adalah teman bermain. Dengannya saya bisa mengenang kembali masa kecil. Berlarian di tengah kubangan lumpur, sambil berteriak-teriak dengan kuda dari batang daun pisang, atau paling tidak saat dimana saya harus bermain tembak-tembakan dari senapan bambu kecil yang disebut Palapudu dalam bahasa daerah Gorontalo. Sungguh indah!

Hampir 2 jam waktu habis hanya merenung dan memaknai setiap titik hujan yang jatuh terkapar di aspal jalanan. Merenung tentang masa kecil, juga tentang masa depan yang akan dijalani.

Tersadarkan dari renungan panjang, spontan kaki langsung melangkah, mendekati sebuah bus yang melintas persis di pintu keluar bandara. Kaki dengan lihai menyerobot masuk di celah-celah hujan, dan duduk dengan nyaman di sudut kiri bus tujuan kampus Universitas Hasanuddin.

Universitas Hasanuddin, sebuah nama yang tak asing dalam pendengaran saya. Kampus ini begitu terkenal di kawasan sulawesi. Sebuah kampus tertua, dengan wilayah terluas di tanah Makassar.

Namun, kampus ini hanya terkenal di pendengaran saja. Sejatinya, wujud asli dan rupa bagaimana kampus ini belum tergambar persis di pelupuk mata. Ini kali pertama saya harus mendatangi kampus ini. Bahkan tempat pemberhentian bus pun tak tahu akan menurunkan saya di titik UNHAS yang mana.

Mata hanya bisa menerang ke jalanan yang dipadati kendaraan. Jendela mobil yang buram seolah meledek pikiran saya yang juga buram. Tak tahu persis di mana letak UNHAS yang saya tuju.

Ponsel tinggal beberapa persen lagi, dayanya akan habis. Buru-buru saya aktifkan koneksi internet, dan melihat di layar peta gugel, di mana letak persis yang cocok saya harus turun.

Tak begitu percaya dengan peta, saya sempatkan bertanya kepada penumpang lain yang ada di samping.

“Pak, kira-kira kalau mau ke UNHAS, berapa menit lagi baru sampai?”

Seorang bapak langsung kaget. “Aih dek, sudah lewat UNHAS. Pintu depannya sudah jauh.”

Dengan cekatan saya berujar, “Kiri-kiri!”

Sopir bus langsung berhentikan kendaraan.

“Saya turun di sini pak! Terima kasih!”

Saya meloncat keluar bus. Hujan masih setia menemani. Kini malah semakin keras. Butirnya pun semakin membesar. Tubuh yang terkena  hujan serasa ditancapi anak jarum. Titik hujannya membentur badan dengan keras.

Untuk berlindung, saya berusaha mendekati sebuah warung. Saya pikir, sebelum melanjutkan perjalanan, baiknya saya harus makan malam dulu.

Seorang ibu, penjaga warung tersenyum ketika saya mendekati menu makanan. Terdapat beberapa potong daging ayam. Tidak ada pilihan selain menu itu. Bayangan saya ini menu paling enak yang akan saya cicipi malam ini.

“Apa yang tersedia bu?”

“Nasih kuning saja dek?” kata wanita yang kira-kira berumur setengah abad.

“Ya, bu. Saya pesan satu. Saya mohon izin titip barang saya di atas tempat lesehan ini.”

Ibu itu mengangguk.

Pikiran saya kini beranjak tentang nasi kuning. Saya tidak habis pikir, apakah di Makassar nasi kuning adalah makanan favorit juga?

Hal ini cukup kontras dengan apa yang ada di Gorontalo. Nasi kuning adalah makanan pembuka saat sebelum pergi ke sekolah, atau mau bekerja. Hidangan nasi kuning hanya populer di waktu pagi hingga siang.

Amat jarang orang jualan nasi kuning di malam hari. Terutama di Gorontalo. Tetapi, faktanya di Makassar, nasi kuning tersedia di malam hari. Bahkan, amat digemari oleh banyak orang.

Di sini, nasi kuning tidak hanya nasinya saja. Biasanya ada bonus-bonusnya. Ada hadiah seperti kuah yang biasa dipakai untuk hidangan soto.

Kembali lagi, apa pedulinya nasi kuning bagi anak rantau seperti saya. Yang terpikirkan adalah bagaimana saya bisa makan dan sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Itu sudah cukup.

Maka, malam itu saya makan nasi kuning ditemani potongan daging ayam yang empuk.

Setelah itu, barulah saya melanjutkan perjalanan menuju kampus.

UNHAS di malam hari tak begitu cantik. Apalagi kalau sedang hujan. Semua tampak gulita. Lampu yang bertengker di beberapa tiang tak begitu kuat melawan depakan kegelapan. Rasanya saya masuk serupa di sebuah kampung yang redup.

Persis di pintu gerbang, kaki saya merasa pegal bukan kepalang. Di saat itu, masuk pula sebuah pesan singkat dari teman. Dia teman se angkatan dalam program persiapan keberangkaran (PK).

LPDP IKRAM KIDO

Assalamu Alaikum. Akhi, antum malam ini tinggal dulu di masjid UNHAS. Nanti kalau Ana sudah sampai, Ana akan  bantu carikan tempat tinggal.
Sebuah kabar baik, menurut saya. Spontan saya pun merespon dengan cepat.

Siap Akhi. Syukran atas bantuannya.

Selepas membalas pesan, ponsel langsung mati. Sedang arah masjid tidak diketahui persis letaknya sebelah mana. Menurut penjual nasi kuning, kalau mau ke dalam UNHAS, harus naik angkot.

Informasi itu yang menjadi rujukan. Maka, saya menunggu angutan masuk ke dalam kampus. Tak berselang lama, mobil itu datang dan langsung membawa saya.

Tiba-tiba, di jarak kurang lebih 50 meter angkot berhenti. Gelagat supir seolah melupakan sesuatu yang berharga. Dia menoleh ke belakang, “Mau kemana dek?” 

“Masjid UNHAS pak!”

“Apa? Masjid UNHAS? Waduh! Kalau masjid UNHAS di sini banyak dek. Masjid apa dulu namanya?”

“Saya mau turun di masjid kampus UNHAS yang paling besar pak!” Kata saya lantang, melawan riuhnya hujan yang terpental di jalanan.

“Kalau mau turun di masjid besar UNHAS. Berarti harus turun di sini.”

Bagimana mungkin saya harus turun. Baru saja 50 meter sudah sampai tujuan?” pikir saya ketika itu.

Sopir memotong pembicaraan,  “Kalau masjid UNHAS yang besar, sudah yang ini di samping. Turun saja dek. Tidak usah kita bayar!”

Saya turun dengan lugunya. Dasar udik! Rutuk saya ketika itu.

Perbuatan konyol ini yang saya lakukan pertama ketika di UNHAS. Naik mobil gratis dan tidak tahu arah yang dituju. Dasar udik!

Sebagai anak yang tahu balas budi, tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada sang supir, dan saya berlalu dengan pikiran lucu yang baru saja dialami.

Masjid UNHAS sedang ramai dengan anak muda ketika saya memasuki pelatarannya. Saya yakin mereka adalah aktivias dakwah kampus. Karena, di kampus asal saya; Universitas Negeri Gorontalo, mereka para aktivis dakwah kampuslah yang sering mendominasi masjid. Tidak hanya perkara salat, tapi sampai hal teknis kegiatan semua mereka rancang dari dalam masjid.

Saya beranikan diri berkenalan dengan beberapa orang di antara mereka, sekaligus meminta izin untuk istirahat sejenak di masjid.  Mereka mempersilakan dengan senang hati. Saya letakan barang di depan, dan saya segera salat berjamaah. Setelahnya barulah saya mengisi daya ponsel sekedar pemberitahuan ke teman-teman di grup WhatsApp. Saya hanya memberi tahu kalau saya sudah di UNHAS. Dan butuh rumah penampungan sementara.

“Teman-teman, saya Idrus Dama,Gorontalo yang akan ikut PB UNHAS. Saya sudah tiba di Makassar, dan sekarang di masjid Kampus. Mohon bantuannya.”

Baru sekitar beberapa menit, postingan dalam grup itu langsung mendapatkan respon. Teman-teman seangkatan PB segera menawarkan bantuan. Seingat saya, ada 3 orang yang menghubungi saya. Pertama, Bang Jahyid, peserta PB UNHAS yang berasal dari Gowa, Eghy, peserta yang tinggal di Ramsis UNHAS dan terakhir adalah Bang Indra.

Ketiganya bergantian menanyakan posisi saya, dan meminta bersabar sampai datang jemputan. Kira-kira hampir 5 menit kemudian, bang Eghi datang. Dia membawa saya ke Asrama Masiswa UNHAS.

Di ramsis, saya berdialog panjang. Suasana begitu akrab seolah saya dengan mereka adalah teman lama yang baru saya bertemu. Cerita-cerita pengalaman PK sampai keriuhan kelas yang akan saya masuki nantinya.

Saat asyik berbicara, seorang teman datang menjemput. Bang Indra. Dia ingin mengambil bagian untuk mengajak saya ke sebuah kost. Dia berusaha melayani saya sebagai tamu. Dia perlakukan saya semulia mungkin.

Pagi hari ke kampus dijemput, malam hari jalan bersama cari makan, sampai dengan mencari pondokan untuk bisa disewa.

Bahkan, di tengah hujan yang tumpah berantakan, mencarikan dan meluapkan selokan, dia tetap menemani saya untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Kata dia, “memulikan tamu itu harus. Kalau kita kedatangan tamu dari luar, maka kita harus menjemputnya, dan memastikan dia dapat tempat tinggal.”

Saya tidak sempat berpikiran ke sana. Tapi, jika dilihat dari cara dia berpikir, bang Indra adalah sosok sederhana dengan tingkat kepedulian yang besar kepada sesama. Cek dan ricek, beliau ternyata aktivis dakwah kampus. Bergerak di lingkaran tarbiyah HTI. Wajar jika pemikiran tentang memuliakan tamu ada dalam benaknya.

 “Nanti, sementara tinggal di rumah teman saya. Di sana ada kamar yang bisa diapakai. Semala cari-cari kost beberapa hari ini, Antum tinggal mi di tempat teman saya. Nanti saya akan bantu cari-cari kost secepatnya di dekat-dekat PB.” Kata bang Indra.

Sekitar 3 malam saya menumpang di rumah teman bang Indra. Selama itu pula dia terlihat biasa saja. Seperti tak ada beban saya menumpang. Meski begitu, saya merasa tidak enak kalau sudah lama menumpang. Saya tetap berusaha mencari pondokan.

Di dekat UNHAS, begitu banyak pondokan atau tempat kost. Tapi rata-rata untuk perempuan. Khusus untuk laki-laki sangat jarang ditemukan. Kalau pun ada, harganya bisa mencapai 550ribu per bulan dan 800-an ribu per bulan. Itupun minimal harus bayar 3 bulan atau harus bayar 6 bulan. Kalau bayar sebesar itu bisa habis hampir 3 jutaan.

Sulit mendapatkan kost yang bagus dan terjangkau. Bang Indra mengajak saya ke tempat alternatif. Teman bang Indra pernah tinggal di satu pondokan sederhana.Katanya, di sana masih bisa dipertimbangkan.

Kami berdua pun berangkat menuju pondokan terakhir. Hujan kembali deras. Saya yang tak menggunakan alas kepala harus siap menampung air dengan kepala basah. 

“Kalau mau, ada kost teman saya dulu. Dia pernah tinggal di sana. Tapi sekarang sudah pindah. Kalau mau, antum bisa lihat saja dulu kamarnya. Kalau cocok kita pesan untuk 6 bulan.  Tapi rumahnya beralaskan papan. Tapi jangan khawatir, kamarnya di lantai dua.” Kata bang Indra meyakinkan.

Tiba di sana, saya terkesimak dengan permintaan sewaanya.

“Enam bulan 1 juta 250 ribu. Tambah listrik per bulan 60 ribu. Nanti kalau sepakat, saya akan hubungi ibu yang punya rumah.” Kata teman bang Indra.

Saya diberikan kunci untuk melihat kamarnya. Dan, bagi saya ini sudah layak untuk orang sekelas saya. Sudah lebih dari cukup. Sederhana, dan beralaskan papan. Tapi berada tepat di lantai dua.

Saya menghitung, kalau selama 6 bulan sekian juta, berarti per bulan saya hanya membayar 260-an ribu per bulan.

Saya langsung sepakat dan menerima kunci kamar. Permintaan saya ke tuan kost, saya baru bisa bayar untuk 3 bulan. Tuan kost begitu ramah sehingga menerima permintaan saya tanpa ada komentar. Saya menyerahkan biaya kost untuk 3 bulan.

Demi menghemat biaya hidup, saya pastikan jatah makan saya per hari hanya mentok di angka 20 ribu untuk makan siang dan malam. Tidak boleh lebih. Karena bisa-bisa saya kehabisan bekal sebelum cair beasiswa.

KESAN HARI PERTAMA PENGAYAAN BAHASA

Semua teman kelas pengayaan bahasa sangat ramah. Wabil khusus kepada teman-teman sekelas. Meskipun saya anak baru gabung, tapi suasana di kelas seolah-olah mengambarkan kami sudah lama saling mengenal. Tak ada perasaan canggung atau semacam perasaan tidak enak. Bahkan dengan sopannya mereka menyapa saya, kak Idrus. Hanya karena saya sudah menikah, atau memang wajah saya sudah BERMUTU dan layak dipanggil kakak?

Ah, sudahlah. Tak perlu diperdebatkan. Pada intinya saya adalah orangtua di kelas. Karena sudah menikah dan punya anak. Titik. Tidak bisa dibantah lagi. Itu fakta.

Saat ikut kelas Toefl, saya merasakan suasana kebersamaan  begitu indah. Hampir jarang satu kelas  saling tersinggung atau bertengkar. Rata-rata semua suka bercanda dan suka bikin hal-hal yang mengundang tawa.
Kemana-mana kami selalu berjamaah. Melakukan tugas berjamaah. Belajar bahasa Inggris berjamaah, salat berjamaah, bermain juga berjamaah, sampai makan pun berjamaah. Kurang bahagia apa coba dengan teman-teman seperti ini?

 Ah, teman-teman pengayaan bahasa memang sangat menyenangkan. Berteman dengan mereka seperti menemukan keluarga baru. Saling peduli bagi anak rantau seperti saya.

BERTEMU DUA PRIA BERHATI BENING

Dari semua teman pengayaan bahasa Inggris, ada dua yang sosok yang selalu setia setiap waktu membantu saya. Mereka selalu menawarkan bantuan apapun. Termasuk menanyakan kalau biaya hidup saya masih cukup. Dengan senang hati mereka menawarkan uang mereka untuk dipakai.

Kedua orang itu adalah Bang Indra dan Bang Ikram Kido. Keduanya adalah sama-sama aktivis dakwah islam. Satu dari sayap dakwah Wahda Islamiyah, dan satunya aktivis dakwah kampus. Yang membedakan hanyalah; bang Indra belum walimah dan Bang Ikram Kido sudah.

Kesan saya terhadap dua sosok ini sangat banyak. Kalau bang Indra berprinsip ingin memuliakan tamu. Itulah alasan dia berusaha mencurahkan tenaga dan pikirannya agar saya sebagai tamu bisa dapat tempat tinggal yang layak.

Dan bagi saya, mencarikan tempat tinggal itu bukan urusan sepele. Apalagi kalau rela hujan-hujanan di area gang jalan sempit dan bau. Sudah basah, dilengkapi pula dengan bau selokan yang menyengat. Sungguh tidak enak rasanya. Tapi Bang Indra melakukannya, untuk saya pastinya.

Bahkan, setiap pulang dari pengayaan, bang Indra selalu bersedia mengantar saya ke kost. Tanpa ada bayaran apapun. Dengan senang hati dia menawarkan tumpangan pulang. Kalau sedang luang, dia menanyakan kalau mau pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari. Kurang baik apa coba?

Saya pikir, tidak semua orang rela berkorban seperti dia. Hanya orang-orang yang sudah masuk wilayah persaudaraan baru akan mengenal hal-hal seperti ini.

Bang Indra adalah sosok inspiratif. Tapi saya tidak akan ulas tentang dia dalam artikel ini. Saya akan mencoba mengulas tentang dia rubrik Inspirasi nantinya.

Selanjutnya, orang kedua yang paling berkesan adalah Bang Ikram Kido. Setelah tahu saya sudah mendapatkan tempat tinggal, dia langsung buru-buru menyediakan perlengkapan saya.

Dia menyediakan bantal guling, mencarian kipas angin, bahkan meminjamkan saya wadah makan lengkap dengan gelas.

“Antum jangan dulu beli macam-macam. Simpan-simpan saja dulu uangmu. Hemat saja dulu.” Nasehat bang Ikram.

Bang Ikram juga selalu bertanya kalau bekal hidup saya kalau masih cukup untuk hidup di Makassar. Dengan senang hati dia menawarkan bantuan. Tapi saya selalu menolak. Karena, bantuannya teramat banyak dan saya juga tidak enak menerimanya. Tetapi saya yakin betul, bang Ikram adalah sosok inspiratif bagi saya. Karena, dia sudah menikah, dan perjuangannya sama seperti saya ketika membangun rumah tangga di awal-awal pernikahan.

Menurut saya, bantuan yang diberikan bang Indra dan Bang Ikram Kido sungguh luar biasa. Bantuan yang seperti mereka lakukan ini sudah lebih dari sekadar teman. Tingkat Kepedulian seperti ini sudah masuk ranah persaudaraan. Dalam islam dikenal dengan kata Ukhuwah. Sebuah tindakan rela berkorban untuk saudaranya.

Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah, Muhammad Saw bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara seperti halnya satu anggota tubuh. Ketika anggota tubuh lainnya sakit, maka yang lainnya akan ikut sakit.

Artinya, muslim harus senasib sepenanggungan. Itulah pelajaran berharga yang bisa saya petik dari kedua sosok berhati bening ini. Semoga Bang Ikram dan Bang Indra sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya. Amin…

Sampai di sini catatan harian yang bisa saya bagikan. Kalau ada hal yang kurang berkenan, mohon maaf.  Sebab catatan ini hanyalah sebuah refleksi terhadap pengalaman hidup. Tentang pertemuan orang-orang luar biasa dalam hidup saya. Wallahu a’lam bissawab.

Related Posts

Load comments