/* Posisi Kode di Sini */

Narasi Seindah Pelangi

Konten [Tampilkan]
Kubentangkan lagi padamu sepotonng cerita. Isinya tentang gubahan seorang anak yang berusaha untuk mengabadikan kenangan masa kecilnya. Dengan sepotong cerita ini, dia mengumpulkan kepingan kenangan yang berserakan. Dia menjaganya agar tak lenyap dihembas masa. 


CERITA SEINDAH PELANGI



Aku ingin sekali berbicara banyak padamu. Tentang indahnya pelangi di usia remaja. Terlebih lagi soal fantasi kita soal cinta. Ah mungkin terasa jenuh ya ketika membahas soal cinta. 

Karena, kata "cinta" itu sudah jutaan kali dipakai manusia saat memperbaharui status facebook atau twitternya. Bahkan, dalam hitungan detik, nyaris kata itu tak pernah alpa dari bibir manusia. Mungkin kamu juga termasuk yang sering mengucapkannya. Ayuk jangan bohong... Hehehe...hehe...

Hey... kau pastinya sudah pernah menikmati pelangi. Mungkin di sudut pantai, atau di taman yang sunyi, dimana lembab hujan belum kering, lalu kau menatap selaksa warna membingkai langit. Bentuknya setengah lingkaran. 

Kau melihat pelangi itu dengan mata yang takjub. Bahkan, dalam hatimu kau berkata, " Ah siapa ya yang akan mengisi pelangi hatiku?" pertanyaan itu kemudian menyeret pikiranmu. Kau bergerak ingin sekali menuliskan sebuah nama di atas lengkungan cahaya pelangi. 

Langit ketika itu baru saja selesai dari cengkaram hujan. Sedikit bersih dari mega-mega yang mengepul. Kau memperhatikan itu. detail warnanya, bias cahayanya, sampai dengan kepingan awan kecil yang menemani pelangi itu.

Hatimu begitu merasakan kesejukan tak berbilang. Nafasmu keluar masuk menghirup udara lembab. Pun lamat-lamat kau menyebut sebuah nama. Ah aku tak tahu siapa gerangan sosok yang kau sebut itu. Yang pasti, aku tahu kau sedang jatuh cinta. Jelasnya bukan padaku. 

Sejak kecil kita memang bersama. Banyak cerita pernah kita rangkai. Kenangan yang berserakan, kita jahit menjadi sebuah kisah nan apik. Kita seringkali bertemu di bawah pohon rindang di ujung kampung. 

Di sana halamanya masih hijau. Dan di sana pula, kita duduk mulai mengumpulkan cerita. Di kemudian hari, kita selalu berharap cerita itu akan jadi tanda pengingat. Atau semacam diari begitulah. 

Waktu pun berlalu. Tahun berganti cepat. Kini tanpa terasa lagi. Usia kita telah senja. Angka umur kita telah melewati separuh abad. Sedang kita masih hidup di belahan bumi yang berbeda. Cerita yang kita buat tak pernah menemukan akhir yang baik. 

Cerita kita terpotong. Sedang aku masih sangat berharap bisa menyambungnya. Meskipun, aku sendiri tahu kau sudah merangkai cerita itu dengan yang lain. 

Aku terkadang terdiam kaku di sudut kamar. Menatapi lembaran kertas yang menungkan cerita kita. Kini, cerita itu terpisah. Padahal, aku ingin sekali menjilidnya menjadi sebuah buku. Dan kau tahu apa judulnya?" pasti kau tahu. Judulnya, "Seindah Pelangi Remaja". 

Alasannya, kita hanya disatukan oleh pelangi. Pelangi di awan sana dan pelangi yang kita lukis bersama ketika usia remaja dulu. Kuharap kau paham apa maksudku. 

Kawan. Aku di sini menunggu. Bolelah kau berkirim surat meski hanya sebulan sekali. Paling tidak, aku tahu kau bahagia di sana dengan sosok yang menemanimu sekarang. Aku masih tetap berangan-angan, kelak kau tetap seindah pelangi dulu, sampai kita berdua menutup mata untuk selama-lamanya.
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Komentar

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel