Cerpen Nobar Kampung Pohuwayama by Idrus Dama

Cerpen Nobar Kampung Pohuwayama by Idrus Dama


[foto cahayapena.com : Kampung Pantai Pohuwayama - Desa Bangga]

Madrasahku  bukan markas militer. Tapi setiap pagi, ujung rotan yang panjangnya sebahu, selalu saja menyambutku. Padahal kesalahan hanya sederhana, menonton televisi. Tidak lebih! Aku tidak paham,  aturan mana hendak diterapkan si guru yang ditinggal mati istrinya itu. 

Si guru sadis itu pak Hasyim namanya. Dialah pemegang cemeti rotan legendraris. Aku menjulukinya, si tuan takur dari timur. Aturannya aneh bin  kacau.  Sebelum santri masuk kelas, selalu saja ada Sweeping. 

“Tantu dia kira ini torang pencuri, nanti mo sweeping” Keluhku.
Wajah lelaki tua itu mirip sekali dengan tentara masuk desa. Potongan rambutnya yang semi cepak membuatnya seperti baru selesai dari pelatihan militer.

“Cepat! yang menonton semalam, berpisah dari barisan!”Bentaknya mengagetkan seisi lapangan madrasah. “Ingat pesan Rasulullah, katakanlah kebenaran itu walaupun pahit” Pria tua itu memberi warning.

Tahukah kalian? Kata-kata suci yang baru saja terlontar itu sudah dihafal mati oleh santri. Saat apel, kata-kata itu bak roket yang meledak tepat di lubang gendang telinga. Seakan tak ada kalimat ampuh lainnya yang bisa mewakili pendidikan tentang kejujuran di madrasah ini.

Aku jadi tambah penasaran.
“Kinapa guru di sini boti pak Hasyim saja mama. Kan madrasah ini so mulai banyak santrinya?”
Ibu terdiam sejenak.

“Masalahnya bagini, madrasah ini jauh dari kotaan. Mana mau guru kesini. Apalagi kalau harus menyebrang laut” keluh ibu.
“Sungguh terlalu!” aku menanggapi dalam hati.

“Cepat! Mangaku saja!” Aku terbangun dari lamunan. Cerita ibu jadi terputus.
“Kalian lagi, sampai kapan sih kalian melanggar aturan madrasah ini?” katanya kesal “Kalian pindah ke pojok sana dan sisanya silahkan masuk ke kelas!” perintahnya dengan nada kesal. Amarah si guru berwajah tirus itu naik beberapa digit.

Santri nakal itu aku, Sakinah, Salman dan Boker. Kami berempat adalah aktor tak tergantikan di ajang menonton bareng di kampung. Kami dijuluki, hiu tomini. Kenakalan kami cukup banyak popular, tersiar bak jaringan tangan gurita. Tidak hanya soal menonton saja, menyembunyikan kaca mata pak Hasyim, sampai mengunci pria itu di dalam kamar mandi berjam-jam lamanya telah kami lakukan.

Entah mengapa, kebencian kami pada lelaki usia lapuk itu begitu dalam. Setiap kali menatapnya, seketika amarah mencapai ubun-ubun.

Seandainya bisa membela diri, pasti kuajak bertikai si guru itu.
“So suka molempar akan batu muka le tuan Takur ini!” Aku menggerutu, kepala spontan seperti ada jutaan kutu tumpah mengulek rambut hingga terasa gatal menggerogoti.
Nasib… madrasahku anti televisi
***

POHUWAYAMA adalah daerah pesisir Gorontalo. Daerah ini sulit menenukan titik cahaya selain lentera. Kalau pun ada cahaya bola lambu pijar, pasti itu di rumahnya juragan Sagela,  pak Marwan. Seorang pengusaha pengasapan ikan tradisional Gorontalo. Dia adalah jutawan yang ada di kampung kami. Produksi Sagelanya mampu menembus pasar internasional. Herannya, negaraku bahkan tidak tahu persis dimana kampung ini. Namanya besar, tapi nyaris kehidupan penduduk di sini tidak terekspos. Bahkan kartu tanda penduduk saja ada yang tak  memiliki, parah! 

Pak Marwan memang orang kaya. Wajar jikalau rumahnya menjadi mercusur kebanggaan di kampung. Sehabis salat magrib, pasti orang bakal datang berduyun-duyun seperti jamaah haji menuju rumahnya. 

Ngapain? Ya ikut acara nonton bareng, tradisi lama kampung yang hingga kini terjaga. Tidak kenal tua atau muda, bahkan anak-anak pun ikut nimbrung bersama di acara ritual “nobar” ini.
Menonton adalah hal baru bagi kami penduduk pesisir, terutama daerah Pohuyama. Bahkan, kebiasaan menonton ini mengalir bagai darah di setiap nadi, berlanjut hingga generasi selanjutnya. 
Sayang, lelaki tinggi berbadan krempeng, Hasyim, paling anti soal menonton televisi.

Apa mungkin ia berusaha memutus mata rantai ritual menonton bareng?  Ah aku tidak tahu persis. Yang jelas, setiap pagi, kakiku harus bengkak gara-gara ritual moderen ini. Sampai habis minyak kelapa untuk mengolesi kaki setiap malam.

Ibu pernah bercerita, di kampung ini dulu pernah ada perhelatan setiap malamnya.
“Dipoluwo televisi, gambusi u’paling rame to kambungu”

Ibu menggambarkan.
Gambus adalah hiburan paling populer sebelum televisi masuk di kampung ini. Jika gelap telah mendekap, tiap pasang muda-mudi berkumpul di tengah kampung. Duduk sejejajar di hamparan pasir pantai sambil mendengarkan lantunan Pandungi, syair khas daerah Gorontalo. Yang dalam perpektif sastrawan, pandungi adalah puisi lama yang memiliki intonasi yang sama di setiap akhir bait.
Syair yang dilantukan bisa beragam, sesuai pesanan yang hadir saat itu. 

Kalau temanya tentang bujang yang sedang dilanda asmara, maka syair yang dilantunkan pun berkisah tentang pelamaran dan perjodohan. Bahkan, merembes kepada kisah merampas istrinya orang. 
Asali bo raja bau
Asali tola lo pana
Openu hiya lotawu
Wau barani mohama
Ibu mendendangkan sebisa mungkin. 
Kalau diartikan kedalam bahasa melayu akan bermakna, “Meskipun ikan hanya raja Bau, asalkan ikan itu hasil memanah. Meskipun istrinya orang, aku pun berani merampasnya.” 
Semelir angin laut merangkak, menepuk jendela rumah kami. Raungan anjing menambah kengerian malam. Bunyi daun kelapa saling bergesekan di halaman rumah,  terdengar seperti orang menyapu halaman.

“Lalu mengapa pak Hasyim begitu benci dengan acara menonton?” aku penasaran. “Bukankah dengan menonton kita bisa dapatkan ilmu?” tanyaku pada ibu beruntun seperti pak polisi. 
Ibu berdesis. Helaan nafasnya seperti menyimpan tragedi.

“Dulu pernah siswa berzina di dalam kelas”
Mendengar itu, seketika alis mata kananku meninggi. Sepertinya sensisif menerima signal negatif.

“Setelah diperiksa, kedua anak ini ikut menonon film porno di tengah malam. Dulu, jadwal nonton anak-anak diizinkan hanya dibatasi jam sepuluh. Setelah itu barulah dilanjutkan dengan film orang dewasa, ya porno itu!” ibu berusaha membahasakan dengan cara sederhana, versi anak-anak. “Setelah menonton mereka pun melakukan hal yang sama di madrasah!”

“Oooooo, jadi gitu?” aku langsung ngeh  mendengarnya.
Ibu menaik-turunkan dagunya, mengiyakan.
“Apa acara menonton porno masih ada sekarang?”
“Husss…!!” “tokk!” Tangan ibu mendarat tepat di kepalaku.
“Kamu mau menonton yang begitu juga?” Ancamnya, wajahnya garang, segalak mak lampir dalam film gunung merapi.
“Hehe..hehe.. tidak bo ada tanya!” Aku mengelak.
“Awas kalau kau menonton yang bagituan! Ibu hajar kamu!”

Aku menelan luda dan langsung mengingat kejadian ketika dikejar ibu sewaktu mencuri kelapa muda. Kencingnku sampai banjir di celana saat lari terbirit-birit.
“Trus, kenapa pak Hasyim tidak penutup saja kebiasaan menonton di kampung ini?” 

“Ah malam sudah larut. Ambillah sarungmu. Matikan lampunya. Minyak tanah mahal. Nanti jatah untuk besok habis. Ibu akan lanjutkan cerita besok saja” keluh ibu sambil menurunkan kulambu, sehelai kain putih yang lubangnya mirip sutra, yang dililitkan di sebuah tempat tidur. Gunanya adalah untuk  menghindari nyamuk.

Aku bersiap tidur. Tikar kugelar.
Kulihat ayah telah tertidur lelap. Tubuhnya terbungkus dan membungkuk. Ayah tidak seperti lelaki kampung. Dia memilih tidur, dibanding menonton film porno.

Ah! Ingatanku belum bisa kabur dari cerita ibu.
“Pak Hasyim, ternyata itu alasanmu melarangku menonton!”
***
Keterangan :
Pohuwayama : Nama asli Paguyaman dalam bahasa Gorontalo
Kinapa : Mengapa
Boti : Hanya
Mangaku : Akuilah
Molempar : Melempar
Pandungi : Pantun
Sagela : Ikan Asap rowa, kuliner khas Gorontalo.
Kulambu : Kain semalam tirai kain yang mengelilingi ranjang. Dipakai untuk mengindari nyamuk.

Penulis : Idrus Dama Gorontalo (Bang Igo )
Forum Lingkar Pena Universitas Negeri Gorontalo
LihatTutupKomentar