Berkumpul dengan Anak-anak Laut dari Seluruh Indonesia

Kapal Pemuda Nusantara
Peserta Kapal Pemuda Nusantara
Saya hampir saja  membusuk di laut. Sebagai anak yang putus sekolah, menjadi nelayan adalah pilihan terbaik. Sebab  tahun 2006, ekonomi keluarga saya sedang ambruk. Saudara saya nyaris kelaparan dan tidak Ayah nyaris tidak mampu melanjutkan masa depan keluarga. 

"Bo mopo Mangga mosikolah yio, ti ma'a mongo wutatumu hepolanga" kata Ayah. Mendengar itu, saya langsung pasrah. Keputusan untuk mengakhiri cita-cita di bangku sekolahpun harus diterima. 


Saat sedang melaut bersama ayah, badai datang tiba-tiba. perahu kami dihantam tanpa ampun. Bilah papan bergeming, dan sisi kayu penyeimbang nyaris patah. Kemuda sulit untuk diarahkan. Hujan makin keras dan gelombang makin mengganas dan berbusa. Sementara saya, yang posisinya berada di depan, tak pernah berhenti muntah-muntah. Saya mabuk laut saat itu. Ayah tidak bisa mendekat. Beliau fokus mengarahkan perahu ke pulau. 


Saya menggigil. Tubuh saya basah total. Angin yang kencang membuat tubuh saya makin kaku dan sulit bergerak.  Ayah terlihat pucat khawatir. Jangan sampai perahu kami terbalik dan nyawa kami bisa melayang. Dengan lincah ayah mencari akal agar selamat dari amukan badai. Ayah meminta saya mengendalikan kemudi. Sementara ayah, kesana kemari menyeimbangkan perahu. Kadang dia kebelakang, kadang juga dia naik di "Sema-sema" perahu. Dia bergerak lincah dan tangannya bagai kompas penunjuk arah jalan pulang. 

"Tabrak ombaknya, jangan kase turut dengan ombak, mo tanggalam torang" Teriak ayah dari depan. Tangan saya langsung memegang keras tali kendali kemudi. Hampir saja putus, alhamdulillah bertahan.


Perahu saya arahkan sesuai dengan perintah ayah. Sesekali perahu berbelok berlawanan arah menghantam gelombang. Lantas dibelokan lagi menyamping untuk memanfaatkan gelombang menuju daratan. 

Terlihat ayah mulai tenang. Tangannya menunjuk sebuah arah. 

"Pulang Asiangi" itu nama pulau yang menutupi kabupaten Boalemo. Saya begitu bahagia. itu artinya, kami akan tiba di daratan. "Say goodbye untuk gelombang"


Tak berselang lama, badai reda. Seketika Air laut berubah tenang, seperti daratan pasir yang baru saja diaspal, rata dan tanpa riak gelombang. Matahari sore juga sudah menampakkan diri, kuning keemasan. Ayah datang mendekati saya.

"Sabantar somo ta biasa itu" nasehat Ayah sambil mengelus-elus pundakku. Tapi, muntah belum juga surut. Serasa isi perut mau keluar semua tanpa sisa. Melihat kondisi ini, Ayah putuskan istirahat sejenak sambil menenangkan saya sejenak. Saya kemudian bangkit dan menatap matahari yang sebentar lagi pergi menyisahkan gelap.

Sejak kejadian itu, saya tidak mau lagi ke laut. Saya trauma dengan gelombang. 

Tapi kali ini, di Sail Raja Ampat, aktivitas yang sama akan terulang, perjalanan menjelajahi lautan Nusantara. Seketika, saya langsung terbayang kenangan bersama Ayah. Bulu roma berdiri, isyarat mengerikan bakal terjadi. 


Saya berusaha sebisa mungkin menepis segala ketakutan itu. Bersama sahabat saya, Nurhuda, Miftah dan Musfira, saya akan melakukan perjalanan Sail Raja Ampat. Kami tiba di Tanjung Priuk tanggal 6 agustus 2014. Setibanya di maskan Tentara Angkatan Laut, kami langsung melakukan regitrasi dan dilanjtukan dengan sholat Magrib di Masjid yang berada di pojok maskas itu. 

Kapal Pemuda Nusantara
Peserta Upacara 17 Agustus 2014
Sholat Magrib selesai. Saya kembali ke sekretariat dan persiapan Home stay sehari di asrama militer. Saya tidak tahu persis alamatnya. Kami seluruh peserta Kapal pemuda nusantara di kumpulkan di sana. Dengan tujuan menerima pembelakalan dari kementrian dan sedikit pembahasan jadwal pelayaran dan kegiatan Sail Raja Ampat. 

Hati makin dak dik duk. 

"Ya Allah, besok somo nae kapal. Ba ombak ini. Wih, ba munta poli ini ey. 7 tahun tidak pernah naik perahu. Lalu, tiba-tiba mau ke laut? aduh pasti mabok"  Saya makin gundah memikirkan hal itu.

Besok pagi kami berangkat menuju Pelabuhan. Saat turun dari Mobil, saya terkejut. Sebuah kapal besar bertuliskan, Kapal Republik Indonesia yang panjangnya melebihi lapangan bola kaki telah berlabuh. Di sampingnya juga ada kapal logistik dan kesehatan, KRI dR Soharso. Besarnya pun sama, namun kapal logistik terlihat lebih gemuk dan lebar. 

"Kapal ini yang mo pake" tanya saya kepada salah seorang teman peserta. 

"Iya, kapal ini. Besar kan?" 
"Iya, besar skali" saya terkagum-kagum. 
" Kapal ini panjangnya 120 meter, tinggi lima lantai" Jelasnya detail. 

Upacara 17 Agustus 2014 di Peraian Banda 

Malamnya, kami seluruh peserta siap berangkat. Barang-barang telah di naikkan. Peserta yang dapat kamar di lantai dua. Kecuali kami para lelaki yang di luar kamar. Kami ditempatkan di Tank Deck, karena kamar penuh. Lagian kapasitas kapal dengan jumlah 900-an mana cukup. Kurang lebih ada 200-an orang yang tidur pakai alat tidur tentara. 

Tepat di tengah malam, pukul 12.00 Sirene kapal meletup kencang. Suaranya mengagetkan seisi kapal. Perlahan kapal merangkak meninggalkan dermaga Tanjung Priuk. Kami yang berkumpul di tempat ruang terbuka, melihat gemerlapnya kota jakarta dari perairan. Lambat laun, cahayanya menjauh hingga hilang dari pandangan. Kini, bagian kiri dan kanan kapal tidak ada lagi yang terlihat selain gelap. Signal ponsel pun putus, segala komunikasi tidak tersambung, kecuali komukasi kapal dengan daratan. Sebab, kapal memanfaatkan radar.

"Kapal ini tenggelam kalau di tembak. Nanti kalau bocor pasti akan tenggelam" Seorang TNI menakut-nakuti.

Suasana Lantai helikopter di Pagi Hari

Akhirnya, setelah beberapa hari di kapal, rasa takut dengan badai dan gelombang yang mengerikan, hilang. Bayang-bayang mengerikan tentang badai ternyata tidak ada. Meskipun gelombang besar, kapal ini dengan mudahnya melenggang menyusuri lautan Nusantara. Perjalanan yang akan kami tempuh akan melewati rute, Jakarta - Makassar - Sorong - Waisai - Nusa Tenggara Barat- Ambon- Bali - Jakarta. Perjalanan laut itu akan ditempuh dalam beberapa hari. 


Perjalanan Jakarta akassar akan memakan waktu tiga hari di perairan. Lalu setibanya di Makassar, akan menginab bersama warga dan melaksanakan bakti sosial. Setelah itu perjalanan akan kembali dilanjutkan menuju Waisai, Papua Barat, daerah destinasi puncak acara yang akan dihadiri presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rute untuk semua daerah sama, mampir sehari dan ada agenda city tour. Disaat itu peserta akan bersilaturahmi dengan Gubernur atau bupati. Spesial untuk Rute Bali, disediakan khusus untuk jalan-jalan saja. Nanti sesi perjalanan di Bali akan menghabiskan waktu dua hari. 

Sungguh perjalanan yang menginspirasi saya untuk kembali berpetualang. Menjelajahi Indonesia yang kaya akan budaya.  Sebagai penutup, nih lagu dari Tegar yang saya modifikasi sebagai hiburan saja selama pelayaran. 

Ombak yang dulu
bukanlah yang sekarang
Dulu menyeramkan
Sekarang menyenangkan
Dulu-dulu kutakut ombak
Sekarang Aku bahagia…
Cita-citaku menjadi petualang
Hidup di negeri seberang
Kabur dari nasib malang…
,

Comments