Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

17 Juni 2016

Puisi : Gitar, Buku dan Sebuah Kenangan

View Article

Ramadhan pertama adalah rindu.
Ramadhan pertama adalah sepi.
Sebab yang dicinta kala itu sedang jauh dari pandangan. Ia pergi ke rumah sang ibu, memulai bulan suci dengan keluarga. Sedang aku, terkunci sendiri, di ruang sepi. Ini kutulis bukan untuk mengeluh. Tapi, ini adalah bahasa rinduku, padanya, yang di ujung sana.

Kubuatkan puisi ini untukmu kekasih. Bacalah dengan hatimu yang tenang. Bismillah....

Gitar, Buku dan Sebuah Kenangan

Hanya kita yang tahu.
Sebab kita adalah pelakonnya.
Kenangan ini menguap ke langit-langit rumah.
Diam, tapi bergema dalam bait syair lagumu
Kalau kau bersenandung, merdunya tiada dua
Walau pun kutahu pasti suaramu agak serak

Hanya kita yang tahu
sebuah malam, tentang impian
Kelak ada lagu yang menjadi cerita
Kita ikat dalam melodi kisah
Kita dendangan dengan nada ketulusan

Lagi, hanya kita yang tahu
di lembaran buku, di utas-utas tali senar.
Tersimpan sejuta kenangan
Dan, hanya kita yang tahu.
Pejamkan matamu, dan sebutlah
"Cinta, kumerindukanmu"  

* Puisi untuk Istri : Narty Aza ( 06 - 06 - 2016 )
* Saat Kita Terpisah, Rindu adalah Jembatan Hati

12 Agustus 2015

Berbalas Sajak dengan Sang Guru

View Article

Suatu hari saya iseng saja menulis sebuah sajak di beranda Facebook. Ya, maksud hati hanya sekadar melatih imajinasi untuk bermain diksi dalam fiksi. Mungkin lebay atau apalah namanya. Yang jelas, saya menuliskannya karena saya suka. Saya menuliskan sajak ini pada jam 12 malam. Berharap, orang-orang pada tidur ketika saya menerbitkan lewat beranda Facebook. Nyatanya, sang Guru, Pak Erman Hubu, masih terjaga. Dia langsung merespon sajak itu dengan kata-kata yang begitu indah. Nah, untuk lebih jelasnya mungkin saya kembali terbitkan sajak itu di laman blog ini lengkap dengan sajak berbalasnya. 

KITA MASIH DI LANGIT YANG SAMA KAN?


Beberapa hari ini kau menghilang. 

Kabarmu seolah lenyap dan digenggam sunyi
Kucoba mengintip catatan hariannmu 
Tapi tak kutemukan sepotong cerita di sana.
Diam-diam kutatap layar handphone 
Kucoba melihat nomormu di sana 
Berharap, masih ada. Dan ternyata ada 
Tapi, kok rasanya ada yang hilang ya? 
Ah mungkin hanya perasaanku saja

Dinda... 

Kadang kuberpikir
Mengapa pula aku harus merindukanmu
Bukankah sejak dulu kita memang makhluk terpisah? 
Rasanya terlalu tiba-tiba rindu mengepungku
Maka perlahan kutuliskan sajak ini
Biar kau tahu bahwa rindu ini telah melangit
Setelahnya kubercakap pada diri sendiri

Hati berbisik " Tenanglah kita masih di langit yang sama 

Bulan pun masih tetap yang kemarin,
Pun matahari masih tetap yang sama kan? 
Tapi kok serasa kau berpisah jauh 
Ber mil-mil hingga batas pandangan hilang
Perlahan aku mulai menepis rindu ini 
Aku yakinkan hati bahwa kita hanya berpisah sementara. 

Pun kalau kau rindu.

Coba pandangilah bulan 
Lalu pikirkan aku pun menatap bulan yang sama
Di sana pandangan kita bersatu
Dan jangan lupa kiaskan doa ke cahayanya 
Hingga harapan-harapan kita bersatu di sudut sana.

Adinda...

Barangkali sajak ini teramat panjang. 
Singkatnya aku hanya ingin berkisah tentang rindu 
Perasaan yang begitu sederhana 
Yang belakangan ini begitu menyiksa. 
Kucoba mencari obatnya
Sayang belum juga kutemukan 
Sampai aku bersandar di sebuah batu besar
Di hadapan danau kecil yang teduh Aku berujar pelan pada danau itu.  
"Tiada obat rindu selain pertemuan."

Lantas aku pun bergegas ke kamar 

Menutup jendela rapat-rapat
Dan sebelum tidur aku berharap sangat
Mimpi yang akan mempertemukan kita 
Ya walau hanya semenit.
Bagiku pertemuan di mimpi kali ini cukup penting 
Sebab dia akan menghapus rindu satu abad lamanya
Aku pun menutup mata
Pelan-pelan hingga setitik bening menembus kelopak mata.
"Dinda rindu ini untukmu" bisikku pelan.


Balasan Pak Erman : 
Tak cukuplah rindumu terobati dengan sajak,
Cepatlah engkau beranjak,
Agar rindumu tak terinjak,
Hingga engkau pun kehilangan jejak,
Kuatkan niatmu dalam sucinya langkah agar kerinduanmu senantiasa dalam barakah dengan nama Allah engkau jemput senyumnya yang merekah

Balasan Saya :  
Pesan guru amat mulia 

Begitu dalam melukiskan sisi dunia 
Ananda bingung, kepada siapa harus setia 

Andai Tuhan buka sedikit tabirnya 

Tentu akan mudah menjemputnya 
Nyatanya, dia masih mengejar cita-citanya 
Tak elok bila mana merusak rencananya
Biarlah sajak jadi jembatan untuk bertaut hati 
Mungkin besok akan hadir sebuah simpati 
Dalam ikatan sebuah janji Suci...

Balasan Pak Erman  

Hehehehe,,,,tak elok jika kau hanya menunggu 
Karena hal itu hanya menumpuk rasa ragu 
Kau bukanlah sosok yang gagu 
Bergeraklah atas cinta-Nya, kelak cintamu kokoh bagai tugu

Balasan 
Saya :  

Niat telah kokoh membaja 
Namun hati ini masih terjajah 
Cinta pun belum bisa jadi raja 
Sebab rindu ini memang tak sengaja
Bila pun hati tetap rindu 
Biarkan dia terkunci di balik pintu 
Meski rasa sakit ini membiru 

Lelaki kecil itu masih menguatkan rencana 

Agar pilihannya tak akan jadi bencana 
Yang pasti, dia akan dijemput dengan kereta kencana dengan mahar yang sederhana.
Itu pun kalau Allah telah berencana...

Balasan Pak Erman :

Jika engkau telah miliki rencana, maka bismillah 
Baik dan buruknya pasrahkan kepada Allah 
Agar rindu dan cintamu tak akan pernah salah 
Hingga para syetan menangis dan kalah Engkau adalah imam,
Maka haruslah berani segera Jemputlah dia sang seruni
Doa dan zikirmu kuatkan hati nurani
Hingga kelak kau bahagia dalam mahligai cinta yang bersimfoni.

Pada bagian akhir ini saya kalah. Tak tahu lagi harus menjawab bagaimana. Hehe.. he..hehe.. Baiklah sahabat. Cukuplah sajak ini sampai di sini. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi asupan hati. 


25 Juli 2015

Kusampaikan Sajak ini Padamu

View Article
Seperi kata Kang Benny Arnas, perlu jatuh cinta dan kecewa barulah seorang penulis bisa menulis apa itu sedih, apa itu galau, apa itu rasa sakit ditinggalkan. Mungkin benar mungkin juga tidak. Tapi, sebagian besar, apa yang penulis sampaikan, tak bisa dipungkiri telah dibingkai oleh sisi hidup pribadi penulis.
Suatu saat...
Wajah indah itu akan Mengerut, Keriput Menua.
Andai ukuranmu wajah, maka perasaanmu pun ikut menua
Bersama lipatan waktu


Suatu saat....
Kau akan paham betul
Eloknya paras bisa menyulap orang jadi tak waras
Angan-angan akan selalu melangit
Bahkan harapan di luar nalar akan menjadi-jadi
Menuntut lebih


Suatu saat...
Di hari tua kau akan sakit.
Kau sendiri tak yakin
Kelak dia akan setia duduk di sampingmu atau tidak
Berdoalah dia ada hingga kisahmu tamat



Suatu saat....
Kau akan tahu
Bahwa mencintai tak cukup di waktu muda
Kau harus mencintai hari tuanya
Di hari itu, semua keindahan akan memudar
Di situlah kadang kau butuh ketebalan hati



Suatu saat...
Kau akan paham maksud aksara ini....
Percayah ada seseorang yang menantimu di ujung senja.
Dia sedang duduk setia di sana.

Di bibir pantai
Menatap langit yang dilukis mega-mega
Sampai malam menggatung di langit.



Suatu saat...
suatu saat...
Suatu saat...
Kau akan tahu
Dialah sosok yang akan menemani usia senjamu.
# Sajak Lepas | Saat Usia Senja | Gorontalo, 12 Juli 2015