Tampilkan postingan dengan label FEATURE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FEATURE. Tampilkan semua postingan

23 November 2017

Putri Azizah Dama, Hadiah Pertama Tuhan Dalam Keluarga

View Article

Memiliki anak adalah hal yang paling membahagian bagi setiap orang. Terutama pengantin yang sudah lama menikah. Pasti sangat merindukan buah hati yang akan menghiasi rumah tangga.

Menantikan buah hati adalah hal yang wajar. Selain sebagai simbol kesuksesan dalam berkeluarga, kehadiran anak juga akan menjadi motivasi bagi orangtua bekerja.  Orang-orang menceritakan bahwa ketika mereka lelah, hanya dengan melihat anaknya tersenyum bahagia, terasa segala rasa capek di tubuh hilang seketika. Tawa anak di rumah seperti obat ajaib yang mampu mengusir lelah.

Sekarang kebahagiaan itu sudah saya rasakan.
Setelah sepuluh bulan usia pernikahan, akhirnya istri saya hamil. saya awalnya memang belum yakin sepenuhnya. Karena belum diperiksa secara pasti oleh dokter.

Maka malam harinya saya dan istri langsung ke dokter. Ya, sekadar memastikan.
Istri saya diminta untuk menampung urin di sebuah wadah. Kemudian dokter meletakkan tester kehamilan di dalamnya. Kurang lebih satu menit, hasilnya keluar. Dua garis merah tanda kehamilan telah sempurna.

Saya bersyukur kepada Allah ketika itu. Karena banyak orang meminta punya anak tapi tidak diberi. Saya yang baru saja menikah, Alhamdulillah langsung diberi. Oleh sebab itu, karunia ini harus saya syukuri. Berarti Allah memberikan kepercayaan kepada saya dan istri untuk mendidik hambanya.

Sejak tahu istri hamil, saya tidak mengizinkanya lagi naik motor. Apalagi kalau sudah menempuh perjalanan jauh. Kalau sekadar keliling ke pasar, ke mini market, atau ke Mall, saya kira masih boleh saja. Saya masih memperbolehkannya. Tapi kalau sudah menempuh perjalanan berjam-jam lamanya, saya lebih merekomendasikannya naik mobil. Sebab saya tidak ingin mengambil resiko dia keguguran.

Seiring bulan berganti, istri saya semakin menunjukan tanda-tanda hamil mudanya. Salah satunya dia mulai muntah-muntah. Biasanya setelah selesai subuh dia langsung ke kamar mandi untuk muntah. Meskipun muntahnya hanya air. Selain itu, terkadang dia juga dia muntah saat sedang di sekolah. Kalau sudah merasa tidak enak perut, dia langsung mencari saya sekedar menemani dan menyediakan air minum untuknya.

Anehnya lagi, perasaan ingin muntah itu tidak hanya dialami istri. Dalam beberapa kesempatan, saya juga merasakan pengen muntah. Seperti halnya orang yang mengidam. Orang-orang beranggapan, kalau ayahnya juga muntah, itu kemungkinan anak laki-laki yang akan lahir.

Soal jenis kelamin apa yang akan dilahirkan saya tidak begitu berambisi harus anak laki-laki. Bagi saya, apakah dia anak perempuan atau lelaki, itu sama saja. Toh keduanya juga manusia dan merupakan karunia Allah. Tetap harus dicintai dan dididik dengan baik.

Tujuh bulan sudah berjalan. Janin dalam kandungan istri saya semakin aktif bergerak. Sekali janin itu bergerak, langsung bisa kelihatan di permukaan perut istri. Saya sendiri baru pertama kali merasakan gerakan bayi di dalam perut. Sungguh menakjubkan. Makluk Allah itu hidup selama berbulan-bulan di dalam perut dan berada dalam tabung air ketuban.

Ketika janin itu bergerak sudah pasti istri saya akan merasakan sakit tiada terperih. Tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalani dan menikmati sakitnya. Mau mengeluh su dah pasti salah. Karena sakitnya orang hamil itu sudah dijelaskan Allah dalam Alquran. Sehingga tidak boleh mengeluh. Nanti kurang berkahnya saat hamil.

Kalau saya tidak salah dalam mengutip, gambaran sakitnya saat mengandung dan melahirkan itu Allah jelaskan dalam Alquran, surah Luqman ayat 14.

Hamalathu wahnan ala wahin
Ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah di atas lemah.

Dalam ayat itu digambarkan bahwa betapa perempuan hamil akan merasakan sakit yang berlipat-lipat. Kata Wahnan ala wahin, yang berati lemah di atas lemah. Sebuah ungkapan sakit yang mencapai puncak sakit.

Kamu pasti bisa membayangkan. Ketika buang air besar saja, kalau kotorannya keras, bisa-bisa kamu menangis karenanya. Bahkan ada sebagian orang mengeluarkan darah. Itu baru hal kecil. Tentu saat melahirkan jauh lebih sakit.

Tapi saya selalu mengingatkan istri soal melahirkan. Bahwa sakit yang dirasakan saat melahirkan itu akan mendatangkan keberkahan. Allah sudah menjamin surga bagi setiap perempuan yang akan melahirkan. Saat kemungkinan terburuk pun terjadi, jangan khawatir. Allah menyiapkan surga terbaik tanpa melalui hisab. Karena ibu yang melahirkan adalah mati syahid sama seperti para syuhada yang mati di medan perang. keberkahannya sama persis.

Istri saya semakin tegar mendengar nasihat itu. Sehingga setiap waktu saya terus mengulang-ngulang agar dia paham betul kasih sayang Allah padanya.

TANDA KELAHIRAN

Sampai suatu malam istri mulai merasakan hal aneh. Saat dia berjalan, tiba-tiba saja segumpal darah merembes keluar melumuri lantai. Saya yang melihat itu seketika panik. Karena saya takut terjadi hal buruk padanya. Atau bayangan saya dia bakal melahirkan di rumah.

Merespon tanda kelahiran itu saya langsung siapkan semuanya. Saya masukan beberapa potong pakaian ganti istri, paket pakaian bayi dan beberapa sarung yang akan dipakai menyerap darah ketika melahirkan.

Malam hari sekitar jam 10 saya berburu bentor di jalanan. Saya menemukan sebuah bentor tua yang terparkir di pinggir jalan. Saya menawarkan tumpangan dan beliau setuju. Malam itu bentor segera memboyong kami salah satu rumah sakit swasta. Tapi tiba di sana ruangan malah penuh. Saya pun segera mengalihkan perjalanan ke rumah sakit swasta lainnya.

Saya melihat istri saya semakin pucat dan lemah ketika berjalan. Sementara darah mulai membasahi sarung yang dikenakannya.

Di rumah sakit Swasta yang kedua ini istri saya langsung diterima. Dia langsung dibawa ke ruang pemeriksaan untuk memprediksi jam kelahiran. Sambil menunggu reaksi kelahiran selanjutnya, istri saya kemudian ditempatkan di ruang kelas satu. Di sana istri saya berseblahan dengan satu ibu hamil yang berasal dari Paguyaman.

Kata dokter istri saya harus menunggu sampai pembukaan jalan lahir mencapat tujuh centimeter. Untuk sementara waktu istri saya harus menginap dulu. Prediksi dokter jam enam sore besoknya baru akan lahir. Ternyata sedikit tertunda. Besoknya setelah subuh barulah istri saya menjalani proses melahirkan.

Istri saya mulai mengalami kontraksi sekitar jam 10 malam. Hingga pada jam 3.20 menit anak saya lahir. Seorang perempuan. Rambutnya amat tebal dan bertubuh kecil ukuran 29 cm meter dengan bobot berat 2,9 Kg.

Dokter dan perawat segera membersihkan tubuh anak saya. Suster memakaikan baju dan menhangatkan tubuhnya dengan minyak telon bayi. Dalam beberapa menit, tubuh anak saya yang awalnya pucat saat keluar, akhirnya mulai memerah. 
Saat itulah saya segera mengambil bagian. Sebagai ayahnya saya harus mengazankannya di telinga kanan. Karena saya tidak ingin jin jahat yang akan lebih dulu membisikan keburukan di telinga kirinya.

Beruntung tak berselang lama suara azan subuh dari berbagai masjid terdengar begitu nyaring dari berbagai menara. Seolah azan-azan itu juga memberi sambutan kepada anak saya yang baru lahir.

Azan selesai, anak saya mulai menangis. Suaranya begitu nyaring hingga memenuhi ruangan. Menurut para orangtua, tangisnya bayi saat melahirkan itu berdampak positif. Dengan begitu pita suaranya akan berfungsi bagus. Selain itu, suaranya yang nyaring adalah respon terhadap apa yang dia rasakan pertama kali di alam dunia. Jadi wajar-wajar saja!

MENENTUKAN SEBUAH NAMA

Setiap orangtua pasti mencarikan nama terbaik untuk anaknya. Tidak hanya bagus dalam pengucapan, juga bagus dalam pandangan agama. Kalau menurut islam, nama itu adalah doa. Sehingga dalam memberikan nama tentu akan ada pertimbangan baik buruknya.

Ada beberapa nama yang sempat diajukan ketika itu. Ada saran dari saudara, orangtua, maupun keluarga pada umumnya. Hingga saya bersepakat menentukan beberapa nama.

1. Azizah Azzahra Dama
2. Azizah Zahratunnisa Dama
3. Azizah Fitratunnisa Dama
4. Azizah Jannatulfirdaus Dama
5. Putri Azizah Dama

Waktu itu saya memilih untuk nama yang berada di urutan yang ke empat. Karena dari segi makna nama Jannatulfirdaus adalah surga yang sangat dirindukan manusia. Kelak, saya berharap dan berdoa, anak ini adalah jalan kami sebagai orang tua untuk menemukan jalan surga. Anak ini adalah jalan kami beramal dan berbaki kepada Allah.

Saya menamakanya Azizah Jannatul Firdaus. Akan tetapi, ada beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan. Hingga nama itu dibatalkan dan digantilah nama yang lain. Tetapi masih melekat nama utamanya. Azizah. Tak mau berlama-lama saya langsung memutuskan namanya adalah Putri Azizah Dama. Mudah dalam pengucapan dan indah dalam pemaknaan doa.

Oleh sebab itu, saya menyebut Putri Azizah Dama adalah hadiah Tuhan pertama dalam keluarga saya. Karena karunia anak ini adalah puncak kesuksesan bagi sebuah keluarga. Kalau kesuksesan harta itu bisa didapat seiring waktu. Tapi kalau anak itu tidak bisa diprediksi. Dan hanya Allah yang berkehendak kepada siapa anak itu akan dititipkan.

Hal yang paling berat ketika itu adalah perpisahan. Ketika anak Azizah baru berumur 2 minggu, saya harus berangkat ke Depok demi memenuhi panggilan Beasiswa LPDP. Karena Saya baru saja lulus dan dipersiapkan menuju pendidikan Magister Ilmu Sastra di Universitas gadjah Mada.

Kembali dari Persiapan Keberangkatan, saya harus melanjutkan perjuangan pada program bahasa untuk persiapan Toefl di Universitas Hasanuddin. Waktunya pun lumayan lama. selama enam bulan saya harus menjalani kursus Toefl gratis yang dibiayai pemerintah. Setiap bulannya saya diberi biaya hidup oleh pemerintah 3,3 juta per bulan. Lumayan untuk dikirim ke anak dan istri di kampung.

Baru beberapa minggu pengikuti kursus, saya teringat anak dan istri di kampung. Saya rindu mereka. Nah, untuk mengobati rindu saya berusaha menghubungi  istri via Video Call WhatsApp. Dengan begitu, saya bisa melihat langsung perkembangan Azizah dari waktu ke waktu. Kalau sudah melihat Azizah tertidur, barulah saya juga pamit tidur.

Istri saya hanya tersenyum.
Dalam hati saya bergumam, semoga jarak akan mengajarkan itu hakikat rindu yang sesungguhnya.
Sahabat...
Sampai tulisan ini selesai dibuat, saya masih sedang berjuang belajar Toefl di UNHAS.

Ujung Pandang, 23 November 2017
Ayah Melankolis | Idrus Dama


16 September 2017

Kepada Perempuan yang akan Melahirkan Purnama

View Article

Malam telah menua ketika aku menuliskan catatan ini untukmu.  Aku duduk di pertengahan malam memandangi layar laptop, berusaha merenung. Merenungkan tentangmu dan juga calon purnama yang sedikit lagi akan menambah indahnya rumah kita. Saat yang bersamaan aku pun ingat awal perjuangan kita dalam membangun keluarga. 

Kau pasti ingat. Sejak pernikahan pada april tahun lalu, kita memilih untuk hidup terpisah dari kedua orangtua. Tidak di rumahku, tidak pula di rumahmu. Ini sebuah pilihan yang kemudian kita jalani bersama. Katamu, “Kalau kita hidup dengan orangtua, kapan bisa mandiri? Susah senang, hanya kita yang tahu, meskipun masih menumpang di perumahan negara.” Waktu itu aku hanya bisa mengiyakan. Mengingat pekerjaanku juga belum menetap. Aku menurut saja saranmu.

Bulan berlari begitu cepat hingga mencapai angka dua tahun. Di saat bersamaan, kau juga sedang mengandung anakku yang  berusia delapan bulan. Aku tentu bahagia akan hal itu. Namun, jauh sebelumnya, kau telah mendukungku untuk melanjutkan studi S2. Sehingga di waktu yang bersamaan aku pun diperhadapkan pada pilihan yang sulit. Ketika melanjutkan studi, itu artinya kau akan menjadi titik tumpu hidup anak kita. Aku bisa saja jauh darimu, juga jauh dari purnama yang kau rawat nantinya.

Meskipun kau sendiri sering bercanda, bahwa berjauhan tak masalah bagimu. Asalkan aku mengirimi biaya susu anak kita. Tak tanggung-tanggung kau bercanda, “Wajib 1 juta per bulan kirim kamari!”
Aku sendiri berharap bisa mengirimkan lebih. Tapi menurutku ini bukan soal angka rupiah yang akan dikirimkan. Tapi waktu untuk membersamai kalian berdua; kau dan purnama kita. Soal uang, alhamdulillah kita bisa tutupi, tetapi waktu bersama dalam menimang purnama kita itu yang menjadi beban pikiranku selama ini. Kau selalu mendorong bahwa aku harus melanjutkan pendidikan.
“Kau ini pintar. Rugi tidak sekolah lagi!” katamu dulu.

Aku sendiri tidak takin, apakah aku sepintar itu dalam bayanganmu. Sedang aku hanya merasa bahwa aku hanyalah seorang yang punya hobi belajar. Menyenangi hal yang beraroma kesusastraan. Itu saja, tidak lebih.  Mungkin kau berlebihan menyemangati suamimu ini.

Meski pun begitu rumit nantinya,  kau tetap memilih berpikir untuk mendidik purnama kita sendirian. Kau memperlihatkan bahwa kau sendiri bisa menjalani hari-hari selanjutnya tanpaku. Itu memang pilihan yang tidak mudah. Tetapi, kau terus mendukungku untuk melanjutkan studi.

Seperti suatu malam ketika kita berdebat soal ini. Aku putuskan untuk tidak berangkat ke Makassar karena menimbang kau telah hamil. Malam itu aku menangis seolah anak kecil yang kehilangan permen. Aku merasa tak bisa studi kalau kau sedang hamil. Akan tetapi, kau malah menabrakku dengan sebuah alasan, “Kau ini skolah bukan untuk dirimu. Skolah itu untuk anakmu. Kalau cuman kita berdua, so boleh. Rejeki yang ada so cukup. Insya Allah. Tapi ini demi torang pe anak!” sambil kau meraih tanganku dan meletakkanya di atas perutmu yang telah membesar.

Hati ini luruh juga hingga aku menurut saja apa yang menjadi putusanmu. Besoknya aku pun berangkat ke Makassar untuk ikut seleksi wawancara di gedung kementerian keuangan. Uang pemberianmu sengaja tak aku habiskan berbelanja. Demi menghemat biaya hidup, aku memilih menumpang di masjid. Berbuka di masjid dan sahur dengan sepotong roti yang kubeli di warung di depan kantor. Selama tiga hari berkutat dengan urusan seleksi beasiswa LPDP, yang pada akhir juni kemarin aku dinyatakan lulus beasiswa. Kebahagiaan pun memayungi hati kita berdua ketika itu. Bahkan aku segera berlari ke dapur, memelukmu penuh bahagia ketika sedang asiknya memasak. Kugenggam tanganmu dan mengatakan kalau diriku lulus subtansi Beasiswa LPDP Kementerian keuangan. Siap-siap kuliah. Kau ikut bahagia. Kau segera kabari sanak keluargamu.

Tak habis sampai di situ. Setelah lulusnya beasiswa, ternyata aku semakin dilema. Apalagi Kondisi kehamilanmu semakin mendekati kelahiran. Saat yang sama pula, keberangkatan untuk program beasiswa semakin dekat. Kita terus berdiskusi bagaimana nanti menjawab pertanyaan mertua. Nanti kesannya aku begitu egois, lebih mementingkan studi ketimbang membersamaimu di saat kau butuh pendamping dalam membesarkan purnama kita. Teman-teman sesama guru juga menanyakan hal yang sama. Apakah kau akan baik-baik saja ketika suamimu ini pergi belajar lagi.
Kau hanya bisa tersenyum dan berkata, “Insya Allah, saya sih biasa saja!”

Aku yakin itu berat. Tapi aku terus mengingatkan bahwa studi ini untuk masa depan kita.
Jauh sebelum ini terjadi, sebenarnya ini sudah terbayangkan dalam pikiranku, bahwa kau akan melewati hari-hari yang sulit. Kau akan jauh dari suamimu ini, juga jauh dari keluargamu. Ditambah lagi harus merawat purnama kita. Aku sudah membayangkan itu. Sulit pastinya.

Namun, dibalik itu semua, kau yakinkan aku bahwa kau bukanlah perempuan biasa seperti halnya perempuan kebanyakan di dunia ini. Kau perempuan tangguh, perempuan yang mampu berdiri di kaki sendiri. Sehingganya, ketika kau menuntunku untuk melanjutkan studi, aku pun mengamininya.  Seperti nasihatmu, “Skolah ini bukan untumu, tapi untuk keluarga kecil kita.”
Mengingat kata-katamu itu aku semakin yakin bahwa perjalanan studi ini semata-mata bukan hanya karena memuaskan batin. Tapi lebih kepada memperjuangkan nasib keluarga kecil kita nanti. Aku pun meyakini hal itu.

Olehnya itu, aku ingin berpesan.
Kepadamu, perempuan yang akan melahirkan purnama, mohon untuk tetap tegar. Perpisahan yang akan kita jalani memang akan menguras tenaga dan pikiran. Tetapi, kuyakin, perpisahan sementara waktu akan mengajarkan kita banyak hal. Termasuk cara merindukanmu.

SELAMAT MILAD ISTRIKU I SUNARTI

4 September 2015

Perpisahan dan Perjalanan Mencari Esensi Hidup

View Article
Tips Sukses Merantau
Merantaulah..
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman..
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang..
Merantaulah..
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan..
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah berjuang. -- Imam Syafi'i
***

Jalanan sore itu semakin ramai. Seorang wanita berwajah keriput, dengan jilbab yang kurang rapi tak sanggup melihat anak lelakinya akan pergi lagi. Padahal, 10 tahun sudah mereka terpisahkan. Sang anak memilih berpisah karena mengejar cita-citanya. Tapi, sore itu kembali hati mereka bersedih-sedih. Mereka akan terpisah lagi karena alasan yang sama. Sang anak mengejar cita-citanya lagi ke pulau Jawa.

Mungkin karena wanita itulah yang merasa lebih berhak menangis. Sebab, dialah yang melahirkan sang anak. Semua orang juga tahu, dari rahim kecilnya, pelukannya yang hangat di malam hari, air susunya yang segar, anak itu tumbuh hingga kini menjadi dewasa. Mungkin itu alasannya. Karena dia ibunya. Benar!

Sejak kecil anak itu tak pernah memimpikan jejak kakinya akan berada di tanah jawa. Tanah yang katanya tersimpan sejuta manusia dalam potongan pulau kecil. Tanah yang katanya menyimpan sejuta adat dan budaya. Tanah yang katanya menjanjikan sebuah kenangan yang jauh lebih romantis di banding tanah lain di negeri ini. Sebab keindahan itulah langkah kaki sang anak semakin kokoh, pijakannya semakin tegar menghadapi segala resiko hidup ke depan.

Sebelum berangkat, sang ibu pernah bertanya pada anaknya. Sekadar memastikan sang anak telah yakin betul akan pilihan hidupnya.

"Nak, nanti kamu tinggal di mana?
Makan di mana?
Siapa yang akan kau datangi?
Trus, nanti kau sakit siapa yang rawat?
Nanti kalau kau dibunuh bagaimana?" tanya ibu dengan gaya bahasa daerahnya.

Tersenyum hati ini mendengar pertanyaan itu. Karena tak lain, anak yang ditanyai itu adalah saya sendiri. Pelan dan penuh kerendahan hati saya mulai berbicara.

"Ibu, masjid adalah tempat tinggal yang paling nyaman. Di sana adalah tempat berkumpulnya orang-orang saleh. Di sana banyak yang akan menolong jika saya susah. Kalau pun nyawa dijemput di tanah jawa, biarlah itu jadi takdir. Tak usah menangisi hal itu. Nyawa ini milik Allah. Dijemput kapan saja itu terserah Dia. Yang saya butuhkan hanya doa. Itu jauh lebih menguatkan dibanding tangisan. Pastinya, saya akan kembali." Terang saya dengan bahasa Gorontalo.

Biar bagaimana pun, hatinya tetap saja bersedih. Saat mau berpamitan, ibu sudah mengurung diri di kamar. Sepertinya tak bisa melepas kepergian saya. Kata ayah, "berangkatlah. Carilah pengalaman sebelum kau menikah. Jaga perilaku di kampung orang. Dan ingat, hujan batu di kampung sendiri masih jauh lebih baik dari pada hujan emas di kampung orang." katanya.

Demi menghibur hatinya, saya urungkan niat berangkat sore itu. Nanti keberangkatan dijadwalkan pagi. Malam itu saya habiskan waktu berkasih-kasih dengan ibu. Terlalu berat rupanya sosok wanita ini merelakan kepergian saya. Bukan hanya sekarang, sejak dulu waktu sekolah di Madrasah Aliyah, ibu seringkali menasehati saya lewat surat-suratnya dari kampung. Apalagi kalau kiriman beras bulanan tak akan ada. Sungguh wanita ini begitu penyanyang.

Paginya saya meminta restu. Ayah dan ibu berdiri di pinggir jalan. Saya salami keduanya dengan hati yang sudah bulat. Saat itu saya tak sanggup menatap wajah ibu. 

Saya pun berangkat.
Jalanan pagi itu masih terlalu sepi. Cahaya matahari juga belum terlalu terang. Udaranya masih segar dan membungkus kulit. Darah sedikit membeku, bulu roma sedikit mengang dan nafas masih menyisahkan uap dingin. Sepanjang perjalanan saya melafaskan doa. Semoga ini bukan perpisahan terakhir.

Saya mengintip dari kaca jendela mobil. 
Sendu terasa melirik kedua sosok yang telah membesarkan saya itu. Ternyata begini rupanya perpisahan.

Dalam hidup memang perpisahan tidak pernah menjanjikan bahagia. Dia selalu menyelipkan tangis, menyisahkan perasaan haru, hingga membuat hati selalu lembab. Perpisahan sudah seperti itu. Maka saya hanya perlu menjadi menjadi sosok yang terlihat kuat agar yang ditinggalkan tidak begitu takut kehilangan. Berpura-pura tegar agar tidak meninggalkan ketakutan yang hebat bagi mereka yang ditinggalkan.

Merantau memang pilihan yang sulit bagi kebanyakan orang. Sebab, banyak hal yang harus dipikirkan. Mulai dari biaya perjalanan, tujuan kemana, apa yang hendak dicari dan apa yang akan diperbuat di sana. Semua itu harus dipikirkan matang-matang.

Saya sendiri tak pernah merangkai rute perjalanan terlalu rinci. Saya hanya berjalan, berjalan dan terus berjalan. Seperti arah angin. Kemana hati hendak berkiblat ke sanalah kaki akan melangkah. Lah kok ngak punya tujuan hidup? ngak juga sih. Tujuan saya bukanlah sebuah tempat, dia bukan sebuah wisata, dia bukan pula sebuah wahana bereuforia. Tujuan saya adalah mencari ketenangan batin. Memungut setiap keping makna hidup di jalanan. Merasakan bagaimana hidup mandiri, hidup tanpa perlu dihantui rasa takut. Atau singkatnya saya bisa menyimpulkan bahwa saya memiliki tujuan yakni "berdiri di kaki sendiri".

Sebelum berpisah, saya sudah menanam janji bahwa petualangan ini hanya setahun atau paling telat dua tahun. Setelah itu saya akan kembali ke kampung. Memutuskan untuk menikah secepatnya. Mengingat kedua orang tua sudah mulai sakit-sakitan. Dan mungkin pernikahan nanti adalah hal terakhir mereka tunggu dari saya.

Bagi saya merantau kali ini adalah sebuah perjalanan suci. Karena setiap langkah akan memberi arti bahwa saya ingin hidup, berjalan dan mengalir seperti air. Saya tidak ingin menjadi manusia yang duduk diam dan membusuk seperti yang diingatkan oleh Imam Syafi;i

"Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan."

Maka, kalau terlalu lama bertahan atau berdiam diri dalam satu tempat, saya yakin betul kreatifitas akan mati, terkubur dan membusuk di kepala. Seyogyanya saya harus bergerak demi menghidupkan kreatifitas itu. Setelahnya baru menikmati buah dari perantauan jika ilmu sudah mumpuni hidup di kampung halaman.

Selain petuah inspiratif, saya juga terinspirasi dari membaca kisah hidup para pengelana. Seperti Gol A Gong, dalam bukunya, " Menggengam Dunia" yang kesemuanya bercerita tentang keberaniannya merangkul tas, meletakannya di punggung dan melayangkan kaki sejauh mungkin. Sosok Agustinus Wibowo juga salah satu tokoh yang saya kagumi dalam berkelana. Tulisannya lewat blog menjadikan saya sedikit lebih berani merantau. Merasakan bagaimana pengalaman bau asab jalanan, sejuknya air di perkampungan yang di lewati dan menuliskan catatan perjalanan dalam sebuah buku. Saya ingin seperti itu, menjadi pengelana dan penulis. Dalam kamus istilah Mas Gol A Gong disebut "I am travel-writer". 

Sore sedikit lagi meredup saat saya menyelesaikan catatan ini. Sepertinya kepala baru saja lepas dari serangan pening. Ah, romantis kalau saja menulis seperti ini ditemani secangkir kopi, dan duduk di teras rumah sambil menikmati cahaya sore saat matahari mulai berpamitan. Saat itu saya harus berkata, " Matahari saja merantau, melintasi seisi dunia dalam sehari. Mengapa aku tak bisa seperti matahari? Pasti bisa!" debatku dalam hati.
*** 

Twitter : @penuliscahaya
Sumber Foto : Idrus Dama | Dokumen Pribadi

25 Agustus 2015

Untukmu yang Sedang Menanti Jodoh

View Article
Menanti Jodoh
Budaya kita memang terkadang kejam. Bilamana anak gadis yang telah berumur, dan belum juga menikah, maka siulan buruk akan terdengar di sudut-sudut kampung. Ia berbunyi layaknya senandung indah di setiap lorong, dan dinikmati pula oleh banyak orang. Tentu hal itu melukaimu hingga membuatmu murung bertahun-tahun. Sungguh menyedihkan! Maka izinkan aku menuliskan topik ini untukmu.

Aku memang sok tahu soal isi hati seorang gadis. Tapi keceriwisanku ini bukan tak beralasan. Aku sudah banyak berpengalaman tentang ini. Pertemuanku dengan banyak gadis nampaknya telah memberiku mata batin baru, melihatmu dari sisi yang berbeda. Dalam pandangan feminist yang kuanut, sikapku ini disebut reading as a women, menjadi seorang yang punya mata batin perempuan. Itu yang kudapatkan di bangku kuliah dulu. Wajar jika aku sedikit cerewet tentang perkara ini.

Sejak kuliah penelitianku membahas tentang isu kekerasan perempuan. Kekerasan berupa fisik, biologis mau pun psikologis. Sedang menurut jenisnya, kekerasan terhadap kalian kaum perempuan itu bisa bersumber dari budaya, instansi atau  media. Nah, kau termasuk dalam kategori kekerasan psikologis. Dimana sosial menjadi hakim atas hidupmu. Kau dicecoki sebuah pemahaman yang sungguh bersilangan dengan kerangka pikirmu. Jelas, aturan mereka memang tak tertulis, tapi mereka cukup kuat untuk mendramatisi kasus Kejombloanmu. Sepertinya kau harus membentengi diri.

Sekarang aku sedikit pede berbicara soal dirimu, gadis yang sedang menanti pujaan hati. Biarlah aku melanjutkan catatan ini. Bismillah! dari hasil riset, kutemukanlah sebuah paradigma baru. Aku menemukan alasan-alasan logis mengapa seorang perempuan selalu dihantui oleh perasaan takut akan menua, hingga menutup usia. Alasan mengapa perempuan disebut cantik, mengapa bunga selalu dikatai cantik dan semua yang indah-indah selalu dikatai cantik. Aku temukan itu, dalam skripsiku.

Jika aku bertanya  padamu, "Mengapa kau dipanggil cantik?"
Aku yakin bisa saja kau tak mampu menjawabnya. Biarlah kuterangkan sedikit. Menurut Oakley, dalam buku karyanya Putnan Tong disebutkan bahwa yang membuat kalian--gadis--menderita itu adalah sosial. Kalian dibentuk oleh sosial, baik itu sikap, sifat hingga gaya hidup. Label cantik itu sudah termasuk di dalamnya. Dari sifat cantik kau diajari bagaimana berjalan lemah gemulai, berdandan ayu, gaya bercakap, dan lain sebagainya. Itu semua bentukan sosial. Sebuah pemaksaan identitas.

Hidupmu memang harus menjalani aturan masyarakat, yang kau sendiri tidak sepakat tentangnya. Aturan yang dipakai adalah sistem ortodoks, kolot dan suka mengunci perempuan dalam kungkungan budaya, bahkan tak sejalan dengan aturan agama. Sringkali aturan budaya itu lebih sakti dibanding dalil alquran, menurut mereka. Sebab itu aku ingin melawan budaya itu dengan caraku sendiri. Termasuk memberimu ruang pemikiran lewat catatan ini.

Dalam kasus ini aku tidak sedang menetang sebuah budaya. Sekali lagi tidak. Catatanku ini hanyalah naluri kepedulian terhadap kau yang sedang menanti pujaan hati. Tetapi selalu tersakiti oleh lingkungan dan asumsi sosial. Tapi biarlah.  Saat ini kau hanya butuh keyakinan bahwa kau tak berjalan di jalan sepi. Ada orang yang sedang memantaumu dari jauh, sekadar berjaga-jaga, jika suatu hari ada banyak hakim sosial yang sok tahu menzalimi. Aku siap jadi benteng pertahan batinmu, jika kau kalah melawan arus budaya ortodoks itu.

Dalam pergumulan banyak kutemui gadis yang sedang gundah. Tak hanya dirimu saja. Hidup mereka penuh dengan cerita haru. Mereka dihiasi perasaan nelangsa sepanjang hari. Ingin keluar rumah, tapi rasanya kaki mereka dirantai. Sejengkal kaki mereka melewati pagar, maka cibiran dari luar akan berhamburan menyerbu telinga. Tentu hal ini sungguh tak mengenakkan bagiku, juga bagimu yang tersakiti. Pun mereka yang di luar sana. Iya kan?

Tak sampai di situ, di kampus banyak kutemukan kasus yang sama. Ketika semester sembilan, aku juga sempat melihat banyak gadis yang dilema. Pangkat mereka telah melambung tinggi, tapi mereka hidup dalam kesendirian. Lebih menyakitkan lagi, mereka dijadikan topik pembicaraan. Dalam meja diskusi kecil-kecil yang tak formal, mereka hangat dibicarakan. Para gadis itu dilabeli sebagai gadis malang, gadis menyedihkan, bahkan dihakimi gadis itu tak laku. Sudah jadi perawan tua dan pasti di usia 30 tahun tak akan punya keturunan lagi. Kalau kau adalah gadis yang dibicarakan itu, aku yakin betul perasaanmu akan seribu kali lipat panasnya melebihi merapi. Bahkan, dendammu bisa saja lebih ganas dari lahar yang sedang meleleh dari sebuah gunung. Tapi apa boleh buat. Topik itu benar adanya. Karena memang kau adalah gadis yang belum menikah. Lalu dengan apa kau membantah?

Maka dalam gambaran seperti ini. Aku ingin menawarkan obat hati dari lukamu yang perih itu. Barangkali, sedikit dari apa yang kusampaikan, dapat juga meredam naluri kesedihan di hatimu. Anggaplah ini nasehat dari seorang kakak, anggaplah begitu. Atau seorang saudara laki-laki yang juga ikut terlibat dalam perjalanan hidupmu. Berikut ini butiran nasehatku.

YAKINLAH KEPADA ALLAH
Dalam hidup ini, tak ada tempat kau berserah diri selain Allah. Dia zat yang maha kuasa, sosok yang akan mendampingimu makakala kau tak sanggup berpijak di atas bumi ini. Terus yakinkan dalam hatimu bahwa jodoh yang kau nanti pasti akan datang di saat yang tepat. Kau hanya perlu menunggu dengan sabar sambil terus memperbaiki diri.

Kau pasti telah mendengar titah agama kita, " Perempuan yang baik akan dipasangkan dengan lelaki yang baik." Kau harus mengimani itu. Tak usah kau memusingkan perkataan buruk orang-orang. Kalau pun dirimu hidup dalam kesendirian, dan menerima takdir untuk tidak menikah seumur hidup, mungkin ada sejuta rahasia Allah yang ingin disampaikan lewat takdir itu. Yang perlu kau lakukan adalah benahi diri dan terus perbanyak silaturahim. Insyaa Allah, sang pangeran datang dengan sendirinya. Semua sudah ada garis takdirnya.

Kau tahu, sebagai kakak, yang juga memiliki saudara perempuan, pernah juga merasakan gelisah. Pertanyaan dengan siapa nanti adikku menikah, bagaimana nanti kehidupan keluarganya, dan kemana nanti dia akan dibawa, sudah berkecamuk dalam ruang kepalaku. Tapi, seiring waktu, ternyata semua baik-baik saja. Pikiran buruk dan was-was ternyata hanya membuat kita putus asa akan rahmat Allah. Itulah mengapa kutuliskan catatan ini agar kuat kesabaranmu.

Aku tak khawatir jika kau tak mendapatkan jodoh. Yang paling kukhawatirkan adalah ketika kau berputus asa dari rahmat Allah. Menuduh sang khalik tak adil, menghakiminya sebagai tuhan yang pilih kasih dan suka menelantarkan orang yang beriman. Itu adalah hal yang sangat kutakuti.

Ingatlah! jodoh itu adalah rejeki. Dan setiap rejeki sudah ada kapling masing-masing. Tak perlu was-was kalau nanti tertukar. Malaikat Allah telah bekerja sepanjang waktu akan hal itu. Teguhkan hatimu agar senantiasa percaya, bahwa Allah tak pernah ingkar akan janjinya. Kau yakini itu kan?

CEMOOH JALAN EVALUASI
Momen ini adalah ujian berat, memang. Tapi jika kau berusaha untuk menjalaninya tanpa mengeluh, maka hampir dipastikan kau akan menjadi muslimah yang berkualitas. Muslimah yang kokoh dan menjadi benteng yang kuat buat keluargamu nanti. Jauh sebelumnya, kau sebenarnya sudah dilantik oleh sang pencipta sebagai nominasi, "Madrasatul Ulaa." Madrasah bagi anak-anakmu. Maka, kalau hari ini kau kalah hanya karena gunjingan, cemooh di masa mudamu, maka kau akan terhitung gagal dalam mempersiapkan sekolah pertama bagi keluargamu.

Cobakah evaluasi diri. Amal apa yang kurang. Atau, cobalah bermuhasabah, siapa tahu ujian kesendirian ini adalah cara Allah untuk mendidikmu menjadi manusia jempolan, atau calon istri berkepribadian kokoh. Satu kata yang harus kukatakan padamu, " Be strong friend!"

JANGAN MENGURUNG DIRI
Biasanya karena terlampau lama menunggu jodoh, kau jadi pemurung, suka menyendiri di kamar. Kau membuat catatan hati di lembar buku, lalu menangis kecil di sudut kamar. Bila kau capek dengan itu, kau beralih mengambil buku, atau quran dan selanjutnya mengaji. Kau jalani itu dengan penuh penghayatan. Duniamu seolah hanya seluas kamar, yang ukurannya tidak lebih 4 x 4 meter. Tidak. Jangan kau lakukan itu. Mengurung diri hanya akan membuatmu tertekan.

Aku ingin mengajakmu untuk keluar dari kunkungan itu. Hapus segala asumsi masyarakat yang selalu menyerangmu ketika melewati pagar rumah. Buktikan kau adalah muslimah ideal, tangguh dan tak bisa jatuh hanya kerena keping-keping cerita negatif yang sedang menyebar ramai. Buktikan pada mereka bahwa dirimu itu adalah sosok yang spesial  yang sedang menanti pujaan hati yang tepat.

Sambil menepis isu negatif yang selalu bersenandung, perbanyak silaturahim. Siapa tahu, datang ke rumah teman, lalu ketemu temannya sang pria. Dan di saat itu malah dia jatuh cinta dan datang melamar. Iya kan?

Jadi intinya aku ingin berpesan, kau harus keluar rumah menjemput jodohmu. Kau jangan beranggapan, " Ah jodoh mah di tangan Allah." Pernyataan itu benar adanya. Sungguh pun begitu, jodoh itu harus jemput. Kalau tidak, ya pasti di tangan Allah terus. Harus ada ikhtiar untuk mengambilnya dari tangan Allah. Kira-kira begitu.

Rasanya aku sok tahu ya soal dirimu. Sudahlah. Begitulah retorika pejuang feminist kalau bicara. Ilmu yang kudapatkan di bangku kuliah telah lekat dalam otakku. Jadi wajarlah jika perasaanku tentang kehidupan perempuan begitu kuat. Itulah mengapa kutuliskan catatan ini padamu. Sekarang! hapus air matamu itu. Jangan kau bersedih lagi. Semoga catatan ini  bisa menguatkan hatinmu yang merapuh itu. Bismillah... Insyaa Allah doamu adalah senjata paling ampuh untuk mengungkap tabir jodoh itu. Lengkapi ikhitiarmu, lalu berserahlah diri kepada Allah. Semoga dimudahkan. Amin..

Salam dari lelaki penulis cahaya.
Twitter : @penuliscahaya
Foto : Kak Dewi Olii | Dokumen Pribadi

23 Agustus 2015

Menulis Buku di Penghujung Usia

View Article
Tips Menulis Buku Mudah
Menulis buku di penghujung Usia
Mungkin aku akan dihakimi sebagai sosok yang aneh. Karena sejak awal menulis, tak pernah terbayangkan dalam untuk menjadi populer. Menerbitkan buku dan hore-hore-an gitu! Padahal banyak penulis yang ingin karyanya meledak di pasaran, lalu menjadi terkenal dan di-nabi-kan kehebatannya. Bagiku itu bukan hal istimewah. Entah bagaimana menurutmu.

Sejak awal menulis cerita, memang niatku hanya untuk menghibur hati. Mencari makna di setiap jejak hidup, dan berusaha menyampaikannya pada dunia luar. Kalau berorientasi materi sepertinya tidak. Dan kalau pun materi itu diperoleh dari menulis, ya itu urusan Allah. Barangkali saja rejeki itu hanya dititipkan oleh Allah lewat menulis. Tapi sepertinya bukan itu tujuan utama. Aku menulis bukan semata karena ingin meraih kemegahan dan keagungan nama seorang penulis. Tapi aku menulis karena suka. Tak ada tendensi lain. Sebab dengan menulis terasa ada kepuasan batin tak berbilang.

Bayangkan ketika otak mandek, pengen teriak dan curhat. Kepada siapa ingin berbagi? Ya kata mereka sih kepada Allah. Bener juga. Tetapi, setelah kepada Allah, biasanya hati kepengen bicara sama seseorang. Nah, dalam kondisi seperti ini, terpaksa bercakap dengan catatan harian. Aku bercerita di sana, di lembar catatan kusam. Kuberi nama buku catatan itu, " Dreams Note". Pada lembar itu dituliskan semua tentang rentetan mimpiku.

Kalau sudah bersama buku catatan harian, biasanya aku nongkrong di tempat sepi. Jauh dari jangkauan banyak orang. Duduk sendiri, menulis, manggut-manggut seperti orang gila, lalu tersenyum lagi. Mungkin sudah gila. Sedikit. Hehe..., Dari sana dirangkailah cerita. Penaku menari anggun, merangkai kata agar segala yang dirasakan segera tumbah dalam cerita.

Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba muncullah sebuah pertanyaan.
Apa yang ingin kuraih dari menulis?
Apakah sebuah nama? Popularitas?
Atau semacam kekayaan materi dari royalti?

Sekali waktu bertanya, lalu diri sendiri juga yang menjawabnya. Seperti pertanyaan barusan.
Pertanyaan itu kemudian menemukan jawabanya sendiri:

Aku menulis bukan untuk itu semua. Aku menulis untuk kebahagiaanku. Bahagia dengan perasaan bebas, ingin bicara pada ruang apa saja. Entah itu pada buku, pada blog dan pada alam. Aku hanya ingin hidup ini terekam oleh waktu. Kelak di kemudian hari ada juga yang membaca kisah ini lewat blog. Siapa tahu mereka menemukan manfaat, lalu diam-diam berterima kasih sambil melantukan doa. Disitulah aku meraih pahala gratis. Iya kan?

Dalam menulis buku, aku hanya memimpikan satu hal. Semasa hidup ingin sekali membuat buku Autobiografi. Menulis tentang kisah hidupku sendiri. Sekarang sudah menyelesaikan naskahnya. Tinggal proses beberapa perbaikan dan penyempurnaan ejaan. Kalau sudah tiba di Jogja, berniat sih ingin menerbitkannya secara indie, ya sekadar koleksi. Kalau pun punya rejeki banyak, nanti bukunya dikirimkan kepada sahabat-sahabat terbaikku. Mungkin sebagai kenangan.

Adalah sebuah kebanggaan bagi diri sendiri memiliki buku. Apalagi sempat terpajang di toko besar.  Tapi nyaris target tak ada sampai di sana. Karena aku sendiri tak begitu pandai menulis. Ya,  aku hanya hebat menulis curhat doang. Cerpen pun hanya beberapa saja. Ngak bagus-bagus amat. Makanya semasa hidup aku hanya memimpikan satu buku Auto biografi, dan itu kisah nak nelayan menjalani hidupnya. Kan asyik jika anak-anakku ( Baca: mimpi) nanti baca. Wah bapak ternyata penulis. Mereka bisa membaca tentang hidupku meski mereka tak hidup di zamanku. Aku sudah membayangkan itu terjadi. Sepertinya itu menarik. Hehe..hehe..

Selain itu aku juga sering bermimpi. Jika suatu saat aku hilang dari dunia ini. Maka aku akan memastikan ceritaku tersimpan di benak sanak keluarga, sahabat terbaik. Dengan begitu mereka selalu ingat padaku dan doa-doa pastinya akan hadir untukku. Biasanya kalau ninggalin kenangan dalam bentuk barang, jika barang itu rusak, atau hilang maka hilang pula kenangan tentang kita. Coba kalau kenangan itu adalah cerita. Pasti dia akan abadi. Sebab, dia tersimpan di hati. Aku ingat persis sabda dari sang penulis legenda, Mas Pramodya Anantatoer, " Menulis membuatmu Abadi." Itu dia yang kuimpikan.

Aku sadar betul hidup ini hanya sementara. Paling bentar umur bisa sampai 65 tahun. Itu pun kalau sampai. Biasanya kurang dan biasanya lebih sedikit. Jadi, angan-anganku tentang dunia telah hilang. Aku hanya ingin hidup sederhana, menjani hidup tanpa harus diperbudak oleh nafsu. Dan itu semua ingin aku ceritakan pada buku nanti. Doakan saja umurku sampai dan cita-cita itu tercapai. Tak usalah mengejar dunia berlebihan. Nanti bisa jadi budak nafsu. Maksudku bukan berarti melupakan dunia. Tapi ngak usah berlebihan. Ya paling cukuplah seperti sesederhananya mimpiku.

Judul buku itu adalah Anak Sejuta Mimpi. Itulah yang sudah kupatenkan sebagai nama blog. Jika misalnya  tak sempat menerbitkan buku itu, paling tidak cerita-cerita tentang hidupku akan ditemui keluarga dan sahabat lewat blog ini. Hehe... ngarep! Biarlah!

Dalam buku itu nanti berkisah tentang negeri kecil di ujung pulau sulawesi, Paguyaman Pantai. Tentang negeri yang terlupakan, tentang anak-anak matahari yang lebih mencintai mata pancing ketimbang mata pelajaran. Tentang suasana desa dengan sekelutmit budaya di sana. Lalu kisah perantauan, meraih mimpi di balik dinding masjid, mimpi kuliah, masa sulit kuliah hingga sarjana kuraih. Syukur-syukur ada cerita calon istri di sana. Hehehe...hehe..

Memang sebagian cerita itu telah kutuliskan dalam perayaan wisudah kemarin. Artikel itu pernah diterbitkan di beranda facebook, "Agap! Anak Nelayan jadi Sarjana!". Tapi itu hanya plot kecil dari petualaganku. Ada banyak episode yang tak pernah kuceritakan sebelumnya. Kecuali pada ibu dan ayah di rumah.

Paling sedikit begitulah plot cerita bukuku nanti. Mungkin kau akan berkata aku ini manusia udik. Biarin! Ya, memang hidupku  sesederhana itu. Tidak muluk-muluk. Bagiku itu sudah cukup. Kalau pun  berkesempatan untuk menulis buku lagi, ya itu barangkali bonus dari Allah. Siapa tahu hidupku hanya sampai besok. Kan aku tak tahu persis umur ini sampai di mana. Iya kan?

Mungkin terkesan sok puitis jika kukatakan aku ingin menjadi buku, yang setiap saat dibaca oleh banyak orang, dan dikenang jika buku itu telah hilang ditelan masa. Ah lebay. Tapi biarlah. Ini sekadar bumbu kenangaku saja. Aku ingin sesedehana itu, menjadi buku. Untukmu dan untuk dunia.

22 Agustus 2015

Senandung Impian untuk Rumah Cahaya

View Article

Kamu mungkin akan tertawa. Jika saja suatu hari kau dan aku duduk di sebuah warung kopi, lalu berbicara tentang impianku ini. Tentang sebuah rumah cahaya: tempat berkumpulnya anak-anak kampung mengasah kreatifitas tanpa batas. Rumah yang akan menjadi bengkel masa depan dalam pendidikan moral anak.

Di sana, akan lahir talenta-talenta baru, impian-impian yang cerah, spirit yang selalu bergelora. Di sana pula, akan lahir  senyum merekah anak-anak negeri, yang selama ini telah direnggut oleh kemalangan. Tempat itu, sudah tertanam di hatiku sejak lama. Namanya rumah cahaya. Orang-orang mengenalnya sebagai sekolah inspirasi anak kampung.

Dalam gambaran impianku, rumah cahaya itu tak perlu megah. Sederhana saja. Yang terpenting cukup untuk duduk lesehan, ada beberapa meja kecil tersedia, sebuah papan untuk menuliskan poin hasil diskusi, dan mungkin warung kopi kecil di sampingnya. Bagiku itu sudah lumayan. Siapa tahu, dari rumah sederhana itu kau dan aku bisa menelurkan banyak ide-ide brilian, dan menetaskannya di saat yang tepat.

Rumah cahaya adalah impian yang telah lama. Ia terlukis dalam ruang kepalaku. Barangkali, dua tahun ke depan dia akan menjadi nyata. Dia akan kubangun bersama kawan-kawan seperjuangan, yang juga memiliki visi pendidikan yang sama. Aku sudah membayangkan, di rumah itu akan ada lemari buku yang berjejer rapi, sebuah taman kecil di depannya, tempatku untuk berdongeng, dan di ruangan  bagian dalam,akan  ada sekumpulan pemuda duduk berdisukusi literasi. Suasana seperti ini pasti sebuah aktivitas yang menyejukkan pikiran. Ini mimpiku.

Aku begitu senang bila nanti kau mampir di kota Tilamuta, tempat dimana rumah cahaya ini berdiri. Itu berarti kau akan sedikit melihat-lihat karya kami di sini. Sebuah karya persembahan tulus anak negeri di pelosok desa. Dan kalau sempat, akan kusediakan panggung untukmu. Berpidatolah kau di sana. Ajak warga di sini ikut membersamaiku. Katakan pada mereka bahwa Ridwan Kamil pernah berujar, " Ngak zaman membangun dunia dengan tangan sendiri." Siapa tahu ada pula yang sadar ketika mendengar pidatomu, lkut aku dalam keluarga besar rumah cahaya.

Ah, barangkali kau membaca tulisan ini sedang menertawaiku. Jangan! ini memang hanya impian. Tapi, kau akan kaget ternyata suatu waktu itu akan menjadi nyata. Untuk sementara waktu, biarlah. Aku izinkan kau tertawa.

Jika benar kau datang, jangan lupa kau sisipkan sebait doa. Apalagi di saat kakimu pertama kali menyentuh gerbang rumah cahaya. Berhentilah sejenak dan berdoalah semoga rumah ini tetap bercahaya dan membawa keberkahan. Sebagai balasannya, maka akan kusediakan secangkir kopi kampung spesial untukmu. Rasanya tiada dua di dunia, dan itu produksi warung kopi rumah cahaya. Kau pasti suka.

Sebentar. Mungkin kau akan bertanya soal rumah cahaya lebih dalam. Dari mana aku memulainya dan bagaimana konsep aktivitas rumah cahaya. Begini. Biarlah kuterangkan sedikit tentang rumah cahaya ini.

Mungkin kau berpikir aku bakal bangkrut. Uangku bakal habis membiayai rumah cahaya ini. Kalau benar kau berpikiran demikian, aku sepakat saja. Bukankah segala impian harus dibayar mahal oleh tuannya? Tapi satu hal yang kau tahu, rumah cahaya bukan rumahku. Itu rumah Allah. Yang secara kebetulan dititipkan agar aku yeng mengelola. Maka kalau soal dana, jangan kau was-waskan hal itu. Memang secara fiansial, rumah cahaya tak punya harta lebih. Semua aktivitasnya digerakkan oleh relawan. Bahkan hanya berbekal Lillahi ta'ala. Namun, aku yakin Allah akan mencukupkan kebutuhan rumah cahaya ini. Sang penguasa jagad raya itu akan mengirimkan manusia-manusia berhati cahaya ke sini. Mereka pasti datang memberikan bantuan. Karena itu sudah gerak dari Allah.

Ingatlah pesan Allah dalam kitabnya : " Barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dari arah yang tak disangka-sangka."

Kalimat itu yang menjadi kitab inspirasiku. Landasan dari segala mimpi yang kubangun di rumah ini. Pasti dan pasti rumah cahaya akan bersinar sampai akhir zaman. Bantu aminkan ya.

Sebenarnya perjuangan rumah cahaya lumayan mudah. Kalau dibandingkan dengan perjuangan Rasulullah Saw, jauh berbeda. Perjuangan Rasulullah Saw malah lebih besar: Beliau membangun rumah peradaban islam. Banyak luka yang ia  temui di setapak perjuangannya. Tapi pun begitu, apakah ujiannya itu berhasil menikam mati cita-citanya? Tentu tidak. Nah, inilah yang kucontoh dari sang baginda. Memimpikan sesuatu yang dianggap mustahil bagi orang lain. Dia terus bergerak membangun rumah peradaban meski sebagian menganggapnya bakal gagal di tengah perjalanan. Aku pun sama. Aku akan membangun rumah cahaya ini sebagaimana Rasulullah.

Nanti, di rumah cahaya, kita tak akan measa kesepian. Rumah ini pastinya akan penuh dengan tawa bahagia, seru-seruan yang dirindukan, geliat pendidikan yang penuh semangat, serta aktivitas sederhana tapi begitu inspiratif. Orang-orang akan rindu datang ke tempat ini, sama rindunya mereka pada pacar di malam minggu.

Di tempat ini pula, aku akan kusediakan paket acara menarik. Pasti kau suka. Seperti pementasan musikalisasi puisi, teater monolog, lagu tradisional, tarian daerah dan sejumlah aset budaya klasik yang lainnya. Pasti menarik. Panggungnya akan penuh dengan gemerlap lilin dan cahaya pedesaan. Meski pun hidup di era moderen, rumah cahaya nanti akan mengangkat isu lokalitas yang kuat. Dan itu menarik. Bukankah?

Sebetulnya, hadirnya rumah cahaya adalah buah dari kegalauanku. Mengingat potensi anak-anak kampung sudah direnggut oleh modernisasi. Kau sudah lihat sendiri. Bagaimana gawai cerdas ( Smartphone atau gadget ) menyeret aktivitas mereka ke dunia maya. Nyaris, dunia nyata hanya seperti tempat aktvitas biasa saja. Mereka lebih senang menyapa teman-teman yang ada dalam media sosial mereka ketimbang teman sebangku sekolah. Aduh! ini memang bahaya. Nanti ketika mereka tumbuh besar, mereka nanti menjadi orang-orang yang apatis. Mereka akan kehilangan kepekaan sosial. Kawan yang meninggal di samping rumah hanya akan dianggap hal biasa saja. Dan parahnya, mereka hanya asyik dengan gawainya, lalu memperbaharui status "Rip and peace kawan!" ya sudah gitu aja.

Dari rumah cahaya, mental itu akan diterangi. Hati mereka akan diberi asupan ukhuwah. Pelajaran tentang kepedulian. Pelajaran tentang kebersamaan. Pelajaran tentang budaya saling menguatkan satu sama lain. Inilah landasan berdirinya rumah cahaya. Apakah itu susah?

Kalau dipikir memang susah. Tapi, kalau niat sudah bulat, ikhtiar sudah maksimal, maka selanjutnya biarlah Allah yang mengatur segalanya. Pasti mudah. Bolehlah kita berkaca terhadap Gol A Gong, seorang presiden taman baca Indonesia. Dia bersama istrinya, berbekal jago nulis, dia bangun rumah cahaya. Yang itu mereka beri nama Rumah Dunia. Sebuah jargon dikampanyekan,  Rumahku rumah dunia. Kubangun dengan kata-kata." Atau semacam motivasi buat diriku, Spirit Gorontalo untuk dunia. Hal itu sederhana saja. Aku bisa melaksanakannya. Allah nanti yang akan membersamai cita-cita mulia ini.

Sekarang aku sedang memikirkan sebuah kalimat yang cocok dengan rumah cahaya. Kata-kata yang hidup dan menghidupkan pergerakan pendidikan. Ah barangkali kau punya usul. Mungkin bisa jadi, rumahku rumah cahaya. Lentera bagi sejuta ummat. Atau semacamnya. Bolelah kau usulkan. Siapa tahu itu akan menjadi sumbangan pikiranmu pada rumah cahaya. Semoga. Inilah pimpiku. Mungkin juga mimpimu.

Aduh! mungkin ceritaku teramat panjang soal mimpi ini. Kalau kau sudah mengantuk, pergi istirahatlah. Besok akan kubuatkan catatan lagi untukmu. Semoga kau diberkahi Allah di sana. Jangan lupa! doakan impian ini nyata adanya di kemudian hari. Wassalam...

21 Agustus 2015

Sepotong Cerita di Bawah Kaki Menara Keagungan Limboto

View Article


Malam telah menggantung ketika seorang teman baru saja menghubungi saya lewat gawai cerdasnya. Suaranya rendah dan sedikit berdana harapan.

"Drus, sibuk malam ini?" kata gadis itu.
Setelah 4 bulan tak ada kabar, gadis itu tiba-tiba menelpon.

"Kalau tidak capek, kitorang mo silaturahim pa ti bunda wua." katanya, lalu percakapan putus dengan sebuah jawaban singkat dari saya.
"Iya, siap. Saya meluncur sekarang, tapi salat isyanya di dekat rumahmu saja. Biar, sehabis itu bisa langsung berangkat."

***

Malam itu, tepat di bawah kaki menara, kami kembali membuka lembaran masa-masa kuliah. Betapa, perpisahan kami telah menumpuk cerita yang banyak. Barangkali, semalam adalah waktu yang teramat singkat bila saya ceritakan padamu kisah tentang malam ini.

Kami memilih duduk di sebuah di taman sambil menikmati lampu berkedip ramai, membingkai tubuh menara Limboto. Saya begitu takjub melihatnya. Konon, kata orang-orang, menara ini adalah menara kebanggaan suku Gorontalo. Bentuknya seumpa Eiffel generasi kedua di atas bumi, tinggih dan indah menawan.

Kau akan temui orang ramai menghibur di menara ini. Sepasang muda-muda yang dilanda asmara, sekelompok keluarga yang menimati secangkir Saraba di taman, dan sekumpulan wahana kecil yang ada di taman.

Disinilah, di kaki menara, saya Rino, dan Bunda Hasna kembali meramu cerita. Kami berseru-seru, sambil meningkahi setiap nada musik yang terdengar dari sudut taman. Lagunya, nyaris menyeret kami ke masa yang sudah-sudah. Semua tentang perjalanan saya yang dinggap pikun, kesialan kami di sesi bazar yang kehabisan sendok, dan harus bolak-bali ke tokoh di saat mendesak, saya yang suka melupakan lembaran foto copy dan kembali lagi hanya mengambil uang kembalian, sedang lembar copy-nya saya tinggalkan. Lalu mencarinya ketika tiba di kampus. Dan ada lagi, tentang pertemuan yang menyebalkan dengan Rino pertama kali, sosok yang susah sekali tersenyum. Semua perjalanan itu indah ternyata, saya tidak menyangka kesialan itu menjadi berkah sehingga persahabatan kecil di antara kami lahir dan mengabadi.

Tetapi, malam ini saya ingin bercerita sesuatu yang berbeda. Kali ini tentang wanita yang dilema dengan sebuah pernikahan. Gadis pemilik nama Olin Harus, alias Rino itu sudah berulang kali dilamar. Tapi selalu saja belum menemukan kekuatan hati untuk memilih hidup dan bersuamikan lelaki yang datang melamarnya.

Saya sendiri bingung dengan jalan pikirannya. Lambat laun, setelah dijelaskan, barulah saya pahami apa yang menjadi titik silang hatinya.

"Ini soal cinta Drus. Buat apa harus buru-buru. Meskipun yang datang bergelimang harta, menjanjikan saya rumah yang megah. Kalau hati saya tidak merasakan cinta, sampai kapanpun, saya akan berdiri sendiri dengan pendirian itu. Meskipun puluhan senjata menghadang di depan, dan siap melepas peluru agar saya mati saja. Saya lebih memilih mati. Saya bahkan lebih siap dari itu. Ini soal pilihan hidup. Lebih baik sendiri daripada menikah dengan sosok yang tidak diharapkan." Kata Rino, gadis kecil berhati cahaya ini.

Rino memanglah orang yang terbuka. Tak ada perasaan ragu bilamana dia bercerita tentang sisi hidupnya yang pelik. Hal ini yang membuat saya begitu menyukai gadis ini. Hal yang seharusnya, oleh kebanyakan orang ditutup-tutupi, dia malah membukanya ke publik. Malah dia berharap, dari keping cerita hidupnya, ada juga ditemukan manfaat, walau sedikit.

Awalnya, saya juga takut membuat catatan ini. Tapi, setelah ditanyakan kalau dia keberatan, eh malah dia yang meminta untuk dituliskan.

'Baru anti pe nama ana motulis dalam cerita nanti?"
"Terserah kau." Ia menanggapi, santai dan sepertinya tanpa beban sama sekali.

Sejak Kecil Rino hidup di lingkungan berbahaya. Tempat yang dia tinggali adalah lingkaran prositusi. Banyak ditemukan pelanggaran asusila di sana. Tak jarang polisi sering menggelah rumah-rumah yang tak jauh dari rumahnya. Tak hanya itu, juga pembunuhan rutin terjadi di sini. Nyawa manusia telah sama dengan anak tikus, yang kapan saja boleh dibunuh. Kadang, kalau konflik sedang memanas, gedung-gedung kafe kecil di sana sudah bermandikan api.

Pernah suatu waktu, cerita Rino. Sepulang dari kuliah, seorang abang bentor menghadangnya. Pasalnya, dia dikira sejenis dengan wanita lainnya di kompleks itu. Abang bentor itu menariknya, layaknya seorang pacar. Entah kekuatan dari mana, gadis ini kuat juga nyalinya. Dia melawan dan akhirnya bisa meloloskan diri. Allah ternyata memberinya kesempatan untuk menjaga diri. Sejak kejadian itu, lalu Rino pun bercerita banyak tentang sisi hidupnya yang selalu dihantui rasa was-was.

Cerita Rino mengalir tanpa bisa dibendung. Katanya, dia sedikit risih dimana dia tinggal sekarang. Barangkali, di lingkungannya, dialah gadis yang memakai jilbab besar dan taat beragama. Ini bukan soal dia merasa saleh atau tidak. Tapi dia ingin mengungkap, bahwa hidupnya seperti tinggal dalam kubangan lumpur hitam. Yang sekali waktu bisa saja mencelupkan dirinya hingga ke dasar bumi. Saya hanya bisa menikmati kisah petualangannya. Yang jelas itu semua masa lalu.

Saat malam mulai menua, kini Rino mulai berkisah tentang lamaran dari seorang lelaki kaya. Dia dijanjikan rumah mewah, bahkan warisan, yang sekalipun dia tak bekerja semasa hidup, bisa mencukupi hidupnya. Tapi dia menolak kemewahan itu. Dia menolak kekayaan yang sudah di depan mata. Entah apa alasannya.

Sampai saya menanyakan, "Kenapa tidak trima saja?"
" Ana (Saya) sudah berusaha untuk Istikharah. Tapi, entah mengapa. Dalam setiap selesai salat, hal buruk yang terbayang. Saat itu, air mata jatuh terurai, tak bisa ditahan. Betapa hati ini belum bisa menerima bayang-bayang buruk yang nampak. Seolah Tuhan sedang menyampaikan bahwa dia yang datang itu bukan jodoh yang tepat."

Gadis itu terseyum. Tapi, saya sudah paham. Senyum tipis itu menyimpan tekanan batin yang dahsyat. Maka, malam ini, saya pun bersedia menjadi gelas kosong baginya. Menanti kepingan cerita lain yang keluar bait demi bait. Sungguh gadis ini punya banyak cerita yang membuat saya haus akan kisahnya.

Sejenak kami tinggalkan cerita masa lalu. Kami beralih kisah tentang masa depan. Karena kami tahu, lembaran masa depan itu masih kosong. Kami siap membubuhkan kerangka cerita di sana. Ini soal dengan siapa nanti kita akan menikah, apakah sudah ada persiapan tentang itu, bagaimana nanti kehidupan keluarga, dan lain-lain. Di saat pertanyaan itu muncul, saya jadi sasaran tembak.

"Kau kapan monikah?"
Pertanyaan itu langsung mencegat nafas saya beberapa saat. Itu seolah sebutir peluru yang meleset tak sengaja dari moncong senjata. Sesak nampaknya untuk menanggapi. Tapi saya kuatkan hati untuk menanggapi juga. 'Inyaa Allah umur 27 tahun saya akan menikah." suara saya agak berat.

"Dengan siapa?" serobot mereka berdua secara bersamaan.
"Entahlah. Saya tak tahu. Dengan siapa dan dimana. Yang jelas, saya yakin Allah telah mempersiapkan cara terbaik untuk bertemu dengan jodoh itu. Dan siapa tahu dia adalah salah satu di antara kalian."

Wajah kedua sahabat saya ini memberi isyarat geli. Dan ternyata benar. Dalam beberapa detik kemudian mereka langsung tertawa terpingkal-pingkal. Tangan mereka meremasi perut yang nyaris meledak gara-gara gelak tawa lepas tanpa batas, bahkan mengisi ruang kosong malam itu. Bahkan suara lantunan musik yang menerobos di ujung lapangan kalah dibuatnya. Ah, malam ini kami sungguh terbuai dengan cerita kami sendiri. Kami yang menulisnya, kami pula yang membacanya. Seolah cerita ini hanya untuk kami bertiga.

"Kamu boleh menikah dengan kami berdua. Asal, saya mau jadi istri pertama. Tak mau jadi yang kedua." Kata Rino.
Tak mau ketinggaalan, Bunda pun menanggapi, "Saya juga tak mau yang kedua".

Pernyataan ini seolah ultimatum. Atau sebuah pasal kehidupan yang tak terbantahkan hukumnya. Terpaksa saya harus mengulang kembali materi pelajaran tentang mendua. Yang dalam bahasa keren masa kini adalah "Poligami". Barulah saya menanggapi santai.
"Bagaimana nama kalian berdua disingkat saja, Rihana. Kepanjangan dari Rino Hasna. Jadi, sekali sebut dalam satu akad."

Spontan, Hasna langsung menolak. Katanya, Nama Rino menjadi huruf terdepan, jadi dia istri pertama. Dan itu melanggar aturan. Komentar mereka memanas. Suasana semakin kacau.Tapi....., kawan..., tak usah kau tanggapi serius soal ini. Karena ini hanyalah guyonan para pemuda yang sedang dilema dengan pilihan-pilihan semu. Tentang jodoh yang belum terbaca. Tentang masa depan yang masih diraba-raba. Jadi penasaran, entah siapa nanti yang akan lebih dulu memegang buku nikah di antara kami bertiga.

Pertemanan kami sungguh unik. Ada aturan yang harus dijalani. Terlebih lagi soal hubungan personal. Sejak awal pertemanan, kami telah berjanji. Tak ada istilah pacaran di antara kami. Sebab, kami tahu persis, pertemanan yang diselipi pacaran hanya akan menghacurkan ikatan yang ada. Dan Alhamdulillah kami bisa tuntaskan dengan baik. Selama 5 tahun berjalan. tak kami temui walau sedikit pun, goresan yang nampak d dalam bingkai persahabatan kami. Langgeng kelihatannya. Tapi itulah cara kami mencari rasa nyaman, berteman tanpa harus dirusak oleh perasaan semu yang tak beralamat pasti.

Saat pikiran saya memikirkan umur dari persahabatan itu. Rino kembali menarik alur cerita. Dia berceloteh tentang lelaki yang dia impikan. lelaki itu sederhana dan sangat penyanyang, katanya. Namun, seperti khayalan, lelaki itu nampaknya bersikap acuh. Sampai Rino pun memutuskan untuk mengubur harapan tentang lelaki itu selama-lamanya.

"Ini bukan kegundahan tentang wanita yang menunggu Drus. Tapi ini sebuah dilema yang panjang, tentang sebuah pilihan yang datang. Tapi, belum juga menemukan kecocokan hati. Yang sederhana, seperti dia adalah lelaki yang menjadi harapan. Yang datang selalu memperlihatkan sisi buruk. Jadi, ini membuat saya dilema. Ini soal masa depan, dengan siapa nanti memutuskan hidup bersama. Kalau pun mendapatkan pasangan hidup yang buruk, setidaknya itu adalah pilihan sendiri. Dan Ane ( saya) siap menjalaninya sampai mati." tutur wanita ini.

Saya merasakan rona keteguhan yang dalam dari sosok wanita ini. Selayaknya Fatimah yang rela menanti sang pujaan hati. Sosok yang tabah menyimpan perasaannya hingga iblis pun tak tahu. Tapi begitulah. malam ini saya hanya bisa menjadi kaset perekam semua cerita tentang gadis ramah ini. Biar bagaimana pun, sahabat ini telah banyak makan asam garam kehidupan dibanding saya. Meskipun, umur saya lebih tua darinya, tapi soal pengalaman hidup, nampaknya saya harus berguru banyak padanya. Kematangan jiwanya lahir dari petualangan hidupnya yang hebat. Saya salut dengan cerita-ceritanya.

Malam semakin pekat membungkus kehidupan kota. Kami bertiga mulai letih dan mata mulai lemah sedikit demi sedikit. Sampai kami pun berpisah di bawah kaki menara Limboto, melepas pergi satu sama lain. Dan masing-masing membawa bingkisan cerita malam ini sebagai pengantar tidur. Semoga kami bertiga dipertemukan dalam satu adegan mimpi yang sama, lalu tertawa menceritakan adegan mimpi itu di dunia nyata.

Cerita Tiga Serangkai : Rino--Hasna,--Idrus

19 Agustus 2015

Pernah Jatuh Cinta, lalu?

View Article

Barangkali kamu menganggap saya gila. Selama kuliah, 5 tahun lamanya, nyaris 2 kali saja jatuh hati pada gadis. Satu gadis Sumatra ketika saya ke sana di tahun 2013. Dan yang kedua gadis kelahiran Gorontalo. Kamu tahu, itu alhamdulillah berjalan dalam tempo singkat. Setelah itu cerita tamat. Pun soal tamat tak ada kabar, kapan putusnya.

Setelahnya, semua kembali normal. Saya merasa baru saja bangun tidur ketika menyadari bahwa saya memilih untuk sendiri, bahagia dengan segala aktivitas yang saya tekuni di kampus.

Kamu mungkin adalah "The legend of Playboy at your campus". Bisa punya koleksi pacar berpuluh-puluh. Bahkan kau memberi saya sedikit teori.

"Sebagai anak sastra, harusnya kau banyak pacar. Sebab, anak sastra malu kalau berstatus jomblo. Bukankah kau memiliki syair yang indah, puisi yang romantis. Mengapa kau tak gunakan itu sebagai senjatamu." kata kamu suatu hari.

Saya hanya tersenyum. Lalu, kamu melanjutkan "Teori cintamu".
"Dalam hubungan cinta, kamu harusnya melewati beberapa fase.

1.Koleksi. Nah, pada tahap ini kamu bisa mengoleksi sebanyak mungkin pacar. Jangan sok setia pada satu orang. Karena kau sendiri tak tahu dia sedang selingkuh dengan siapa. Maka, harus punya banyak stock pacar. Biar kalau yang satu ngambek, bolelah ada pacar alternatif. Bukan begitu?

2. Seleksi. Tahap ini kita masuk jenjang memilih. Karena koleksi banyak paling tidak kau sudah punya satu yang fokus untuk dipilih. Seleksi ini akan ada kalau kau punya koleksi. Bagaimana mungkin kau mau melakukan seleksi sedang kau tak ada koleksi. Jadi, perbanyaklah koleksi ( Red Playboy)

3. Resepsi. Ini buah dari ketabahanmu melewati tahap demi tahap setiap tangga hidupmu. Kau akhirnya memilih satu yang terbaik. Hasil seleksi itulah yang benar-benar kau niatkan untuk dinikahi. Kan, asyik udah punya pacar banyak lalu mendapatkan yang terbaik pula.

Seperti halnya pemilihan putra dan putri kampus. Yang jelas, yang cantik, tampan dan bagus itu yang dipilih. Nah, dalam hal resepsi kau adalah juri tunggal. Hak untuk menentukan siapa gadis yang menang dalam kompetisi memenangkan hatimu. Itu hak yang tak bisa diganggu gugat.

4. Moseksi. Nah kalau ini tak perlulah kujelaskan. Umurmu sudah cukup untuk memahaminya. Nanti kau tanya soal itu sama mas Google. DIa paling paham soal teori yang satu ini. Nanti aku dicap porno lagi. Yang jelas, itulah rentetan yang kau harus lalui dalam bercinta.

Bagaimana denganmu?" kata kamu ke saya.
Saya manggut-mangut ketika itu. Perlahan saya meyakinkan hati.

"Caraku menjemput cinta tidak dengan jalan seperti itu. Dan Allah punya cara terbaik untuk mempertemukan saya dengannya. "
"Nah kalau kau berpegang prinsip itu, kamu bakal jomplo seumur hidup bro." kembali kamu menyerangku. " Kau tahu jodoh itu di tangan Allah. Tapi kalau tidak jemput, ya tetap di tangan ALLah terus."

Saya membantah teori kamu.
"Sayang, caraku jatuh cinta tak perlu fase itu. Kalau tiba saatnya, langsung nikah. Ngapain bohong melulu sama anak gadis. Apalagi harus ikut seleksi buat memenangkan hatimu. Ah, lebay, kau kira wanita serendah itu? Bro, cinta mereka yang tulus itu tak perlu seleksi. Dia datang dengan cara baik-baik.

Kau harus tahu, cinta itu adalah rejeki, yang setiap orang punya jatahnya masing-masing. Allah sudah mengatur. Apa kamu percayaTuhan?

Kamu langsung berdiri minggat dan meninggalkan saya dengan sepotong kalimat.
Dengan tegas kau berkata:

"Susah ya berteman dengan makhluk kampung."
Saya ingin sekali menjawab, " Biar anak kampung, yang jelas tahu etika pergaulan dalam islam.". Cerita pun berlalu dan usai sampai di situ.

*Untuk yang sedang jatuh cinta.
* Bijaklah dalam bercinta. Biasa saja....