Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

4 September 2017

Cerpen | Tuhan Pinjamkan Kami Sepotong Bumi

View Article

Tanah perbatasan Rakhine tiba-tiba mencair. Tanah yang awalnya kokoh itu seketika melunak, hancur karena hentakan ribuan kaki manusia yang berlomba merebut garis batas negara tetangga, Bangladesh. Tanah keras itu hancur, dilebur oleh keringat yang mengalir dari kaki-kaki yang melangkah penuh ketakutan. Penuh rasa was-was yang tidak bisa lagi ditakar dengan angka.

Seorang anak perempuan, berwajah gelap, dengan kerudung hitam yang telah dilumuri bercak lumpur, terlihat begitu antusias. Dia seolah memimpin rombongan untuk menemukan rute perjalanan paling cepat menuju negara tetangga, Bangladesh.

Beberapa menit kemudian, anak perempuan itu menepi di sebuah pohon yang begitu tinggi. Di sana dia melabuhkan bahunya. Lalu, memperkuat ikat perutnya yang sudah beberapa hari belum diisi apapun selain air. Anak itu merintih sakit, bagian pahanya sobek oleh timah panas yang melesat dari moncong senjata. Anak kecil itu terus berlari menuju rerumputan demi mengindari anak peluru yang dilepas brutal oleh orang dari negerinya sendiri.

Timah panas itu bersarang empuk di betis kananya. Darah yang merembes segera dihentikan dengan sobekan kerudungnya yang kusam. Dalam benaknya, dia selalu berharap, negara tujuannya akan sudi meminjamkan sepotong tanah untuk mereka berteduh. Sekadar menghapus air mata yang terus merembes tak ada henti-hentinya.

Fatimah, begitu gadis berusia 12 tahun itu disapa. Dia tampak begitu dewasa. Dia bahkan menjadi barisan terdepan memandu perjalanan. Seolah Tuhan telah memberinya peta rahasia menuju negeri yang akan menjadi tujuan hidup. Dalam keyakinannya, bahwa selama negeri sebelah masih salat, hidupnya bisa tertolong.

Perjuangan Fatimah bukan perkara mudah. Malam yang mencekam, dingin yang mengigit, aroma tubuh yang telah membusuk, darah yang terkucur, dan jerit tangis keluarga yang melihat keluarga lainnya mati lantaran dicekik lapar, sudah dialami Fatimah dalam beberapa hari perjalanan. Namun, Fatimah tetap bersinar, menapaki jalan yang begitu terjal.

Fatimah anak perempuan yatim piatu. Ayahnya dibakar hidup-hidup. Dia sendiri menyaksikan bagaimana ayahnya lari pontang-panting memohon bantuan dalam keadaan tubuhnya bermandikan api yang mengamuk. Sedikit demi sedikit kulitnya melepuh. Lalu berasab, dan jadilah ayahnya seonggok arang hitam, dengan sisa-sisa tulang yang hancur. Api telah menelan ayahnya untuk selama-lamanya. Sedang beberapa orang dengan pakaian seragam pasukan lengkap, senjata di bahu kanan, tertawa lepas melihat ayahnya yang kepayahan hingga tewas.

Mata Fatimah memerah ketika itu. Dia ingin menonjok habis bala tentara yang membakar ayahnya. Namun, tangan mungilnya tak kuasa melawan kekar tangan yang dipersenjatai. Alhasil, matanya hanya bisa merekam semua kejadian kala itu.

Lain lagi dengan ibunya yang sedang mengandung. Juga adik laki-lakinya yang masih belajar berlari. Keduanya mati dengan cara paling biadab. Ibunya yang sedang hamil disetubuhi. Kaki ibunya dikangkangi, lalu secara bergantian mereka menikmati tangis ibu. Adiknya yang menjerit di samping seketika dipisahkan kelapanya dari badan. Darah menyemprot, lalu adiknya tak lagi menjerit untuk selama-lamanya.  Pedih tiada tarah. Hati Fatimah bak karang yang dihantam ombak. Hancur-sehancur-hancurnya.

Fatimah merekam betul kejadian itu. Dia berhasil lari ketika para tentara itu sibuk menangkapi penduduk lainnya. Dia ikut bersama rombongan yang lari ke hutan. Dia berkawan dengan penduduk yang kabur bersamanya. Menolong para wanita yang kepayahan dalam berjalan, hingga mencarikan sumber-sumber air paling dekat bagi kaum ibu.

Fatimah kecil rela menahan lapar berhari-hari. Hanya dengan meminum air beberapa teguk, kaki dan tangannya seolah menemukan gairah hidup lagi.  Dia bertekad akan kembali lagi suatu hari. Dia hanya ingin menjemput jasad kedua orangtunya, lalu membawanya ke negeri yang lebih aman.  Sekalipun yang tersisa dari jasad itu adalah sebutir debu.

Fatimah sendiri pernah mendengar percakapan ketika pembataian kaumnya sedang berlangsung. Bala tentara mereka tak segan membunuh dan melontarkan kata-kata, “You are terorist, you must be killed.”

Fatimah paham betul arti tersebut. Di umurnya yang begitu dini, Fatimah sudah dididik ayahnya tentang islam. Ayahnya bahkan mengatakan, “Terorist is not islam.”  Pelajaran itu yang diyakini Fatimah. Dia sendiri heran, mengapa orang-orang  itu begitu bringas membunuh kaumnya. Padahal tak ada yang namanya islam teroris. Yang ada adalah islam rahmatalil alamin. Hanya itu.

Fatimah pernah mendengar kasus yang sama dari ayahnya. Mereka dihancurkan pasti karena unsur politik. Dia teringat kasus Osama bin Laden. Tokoh yang diangggap teroris kelas atas. Tetapi apa yang terjadi. Bukan Osama yang ditanggap, malah negaranya yang dibakar habis-habisan. Dengan dalih membunuh teroris. Sama halnya dengan mengejar tikus dalam rumah. Yang dicari tikus, yang dibakar rumah. Alasanya membunuh tikus, ternyata niat ingin membakar rumah.

Apa yang terjadi pada negerinya, Fatimah sudah paham. Dia tahu, nasibnya akan sama dengan kisah yang dia dengar dari ayahnya.

Dari gejolak masalah itu,  Fatimah tumbuh dewasa dalam berpikir, bahkan di usinya yang begitu muda. Apakah mungkin masalah akan membuat satu manusia tumbuh dewasa lebih cepat? Entalah. Fatimah sudah melewatinya.

Anak perempuan itu terus melaju, menuju tanah seberang. Lehernya yang kering seketika dilembabkan oleh keringat yang mengalir dari dahi.

Ketika Magrib tiba, Fatimah mengajak rombongan untuk istirahat. Semuanya mencari pohon-pohon besar untuk berteduh. Rinai hujan terasa begitu lembut. Titik demi titik jatuh di atas ubun-ubun. Fatimah menunduk. Kemudian terbayanglah ayahnya, ibunya, adiknya dan orang-orang yang telah terbunuh.

Mungkinkah Tuhan sedang menangis melihat kami?
Fatimah seolah telah tiba di puncak kesabaran. Hatinya membaja. Sebentar kemudian, dia salat berjamah di tengah hutan yang kian meredup.

Gadis kecil itu merebahkan tubuhnya di sebuah pohon. Lalu, menutup matanya sejenak, dan berdoa semoga esok dia masih bisa melihat matahari.  Setiap kali matanya terpejam, seolah ratusan ribu suara menyalak-nyalak di telinganya. Suara orang-orang yang dibantai di depan matanya.

Azan Subuh berkumandang. Fatimah bersama Rombongan segera salat. Di pagi buta seperti itu,  rombongan melanjutkan perjalanan. Perbatasan masih jauh dari pandangan. Mereka harus menakulukan empat puluh gunung lagi. Menyusuri sungai yang begitu dingin. Fatimah membesarkan jiwa.

Pada hari ke delapan, Fatimah dan rombongan tiba di sebuah pagar perbatasan. Pagar yang dikuatkan dengan lilitat kawat berduri. Beberapa laki-laki menerbos masuk. Menghancurkan pagar, dan membuat ruang masuk bagi rombongan. Baru sekitar 100 meter perjalanan, bala tentara negeri yang tetangga mengepung. Fatimah berlari ke depan.

“I am Muslim. Are you muslim?”
Tentara hanya tersenyum, “yes, I am Muslim.”

Serentak, rombongan berteriak, “Allahu Akbar! We are brother!”

Semua berpelukan. Tentara itu pun bahagia menyambut saudaranya. Rombongan dibawa ke perkotaan demi mendapatkan beberapa makanan dan obat-obatan. Mereka telah mendengar kejadian yang telah menimpa saudara mereka yang datang itu. 

Beberapa utusan tentara menghadap presiden. Semua sia-sia. Diputuskan mereka harus mengembalikan rakyat Rohingya. Namun, tentara muslim yang lainnya tak kuasa melihat saudara dikembalikan. Pilihan pahit harus tetap diambil. Rakyat Rohingnya harus dikembalikan ke negaranya, Myanmar.

Ribuan masa itu diboyong ke pesisir laut. Puluhan kapal telah disiapkan. Semua dikumpulkan di sana. Sambil berurai air mata, seorang prajurit muslim berterik, “ Ya muslimun! You are my brother, but I can help you all now. My contry has not a authority to save you.”

Fatimah kecewa mendengar pernyataan bahwa mereka tak bisa ditolong. Perempuan cilik itu pun berlari ke ujung kapal. Dia meneriaki tentara-tentara itu.

“ Kalau kalian muslim? Lalu mengama menolak kami?” Suara Fatimah lantang membelah riuhnya suara tangis dari rombongan.

Seorang tentara menangis, lalu membalas teriakan gadis mungil itu dengan penuh kesedihan.

“Negaramu adalah rumahmu. Negaraku ada rumahku. Kami, tak boleh ikut campur dengan urusan negaramu. Karena itu sama mencampuri urusan rumah tangga orang!” lantang sang tentara berteriak.

Fatimah tertunduk lesu. Tangisnya meledak. Hujan pun segera turun. Angin pun bertiup begitu kencang. Kapal-kapal itu menjauh meninggalkan tanah Bangladesh. Mereka terapung, tak jelas ke mana arah yang dituju. Kemana arah angin bertiup, di sanalah harapan mereka menurut.  Mereka hanya terus berdoa, semoga ada negeri yang siap menampung mereka.

Fatimah menguatkan kakinya. Berdiri lalu berteriakk sekuat-kuatnya. Persis seperti anak yang telah dirasuki ribuan iblis. Amarahnya meledak-ledak sambil berteriak.
“Ya Allah, pinjamkan kami sepotong bumi!”

Fatimah lalu terjun ke laut, dan menghilang di tengah amukan ombak. Rombongan histeris melihat anak itu mengakhiri hidupnya. 😂😂😂

IDRUS DAMA | GORONTALO 5 SEPTEMBER 2017 
ISLAM ADALAH DUNIA TANPA BATAS NEGARA

10 Agustus 2015

Cerpen - Kakak kembalilah! Jika kau Letih

View Article

Ah entah dari mana penulis ingin memulai hikayat ini. Telah habis kata untuk mencerikan padamu kisah anak gadis. Kini dia hidup berlinang-linang air mata. Bertahun-tahun tanpa mengeluh. Mungkin penulis bisa membentangkan hikayat ini dengan sebuah kalimat: " Kakak kembalilah! Jika kau Letih"

Sembilan tahun lalu, kau dipinang seorang lelaki. Lalu, kau dibawa pergi dengan sejuta angan. Kau pun berpisah dari kami. Berteduh di rumah barumu. 

Sembilan tahun lalu pula. Aku tahu persis. Kau begitu cantik. Rambutmu masih hitam berkilau. Lenganmu masih mulus. Hatimu pun begitu tulus.
Tahun berganti, begitu cepat. Kenyataan itu kini semua terbalik.

Ada apa? Beri aku satu pemahaman.
Kakak! sejak kau bernak dua. Tubuhmu nampaknya makin tipis, belulang. Wajahmu tirus, seolah kau tak makan.


Apa suami tak memberimu nafkah?

Kau hanya memalingkan wajah. Menghapus sebutir bening di bola matamu. Ah kakak. Saat itu kau berbisik.

"Dua anak ini yang membuat kakak kuat. Tak ada suara indah di dunia ini selain tangis dua anak ini." begitu katamu. Kau tersenyum. Tapi bola matamu berkaca-kaca.

Aku menangis perih, melihatmu. Air mataku titih satu-satu.
Lalu, tangan halusmu, mengapus air mata di pipiku.


Kau bilang, " Jangan bersedih. Kakak masih kuat di sini."

Bukan hanya itu. Kata tetangga, suamimu bahkan tidak perduli.
Malah kau membanting tulang setiap hari. Mencari sesuap pagi, sesuap petang.


Setiap pagi kau berangkat ke kebun tetangga. Menjadi pekerja harian. Kau tak meminta uang, kata mereka. Kau hanya butuh beras jagung beberapa liter. Demi mengisi perut dua anakmu.


Kakakku sayang...
Bertahun-tahun kau berkawan malang. Kesedihan tak pernah bercerai dari hidupmu.
Masih juga kau bertahan pada satu lelaki? Yang hanya menjadikanmu sapi perah?


Kakak! aku tak berniat buruk. Hendak memutus tali pernikahanmu.
Tapi, coba pikirkan. Lelaki ini melebihi dajal. Kau hanya memalingkan wajah. Menatap dua anakmu.
Mereka tersenyum. Kau pun ikut tersenyum. Tapi kutahu dengan pasti. senyum itu palsu. Kau bohong seolah kau bahagia.


Masih kuingat jawabanmu.
 

" Semua demi dua anak ini. Jika kakak pergi. Kepada siapa nanti dua anak ini hendak memanggil ayah, memanggil ibu. Itulah yang membuat kakak bertahan. Pahit manis, sudah biasa dalam hidup ini. Toh sedikit lagi kita pamit juga di dunia ini. Iya kan?" katamu.

Kau tahu kakak.
Sehebat apapun kau sembuyikan sakitmu. Tetap jua kan aku rasakan. Bukankah kita lahir dari rahim yang sama? Bahkan, hati kita dibuat dari saripati yang sama. Tak usah kau menutupi ratapanmu

Kakakku sayang....
Sekali lagi. Kembalilah jika kau letih. Rumah kita masih terbuka. Kalau perlu, bawalah anak-anakmu.


"Tidak. Kakak takut. Nanti, kedua anak ini akan menambah beban makan ibu dan bapak. Kau sendiri tahu. Ayah kita sudah tua. Mereka saja, makan susah sangat. Bukankah yang menikah harus menyiapkan piring sendiri untuk anak-anaknya?"

Ah kakak. Beratnya hatimu. Aku sanggup jadi tulang punggungmu, jika suamimu saja tak mampu jadi sandaran. Andai saja kedua anak ini tahu, kalau ayahnya seorang pemabuk. Tentu mereka akan ikut bersamaku, ke rumah kita. Kakak. Lelakimu tak cukup kuat bahunya jadi sandaran.
Uangnya habis mabuk dan berjudi.
Apalagi yang kau kejar?


"Tidak adikku. Biarlah mati menjemputku di sini. Asalkan aku bisa menemani hari-hari akhir bersama anakku." katamu tegar, seolah kau kokoh hati. Hal menyakitkan lagi, kau seringkali batuk-batuk.

Di telapak tanganmu, berleleran darah kental. Aku hanya bisa memelukmu, erat sekali, saat itu.
Tetapi kuasaku tak mampu menggerakkan hatimu. Hanya satu kalimat yang bisa kusampaikan.


"Kembalilah, jika kau letih. Aku menunggumu di rumah kita, rumah tempat dulu kita dibesarkan. " kataku. Kau tak lagi membalas. Kurasakan getar nafasmu telah berhenti untuk selamanya.
Sejak itu, aku selalu rindu. Aku rindu tawamu, rindu pula candamu. Terlebih lagi, mengingat lebaran sudah tiba. Kita masih sempat tertawa bahagia kala ibu membelikan baju berwarna kembar bagi kita.

Ah kakak. Andai kau tahu apa yang ada di hatiku. Pasti kau akan kembali, bersamaku, selamanya hingga mati bertamu di depan rumah kita. Sekarang janganlah kau bersedih di sana. Kedua anakmu akan jadi tanggunganku. Apa yang kumakan, itu yang mereka makan. Kecuali aku tak makan, mereka pun tak akan dapat makan. Janjiku padamu...

Cerpen Kakak Kembalilah Jika Kau Letih - Bang Igo - Gorontalo 2015